Minggu, 12 Agustus 2018

Klaim Garansi Suspensi PCX, Suspensi Baru Terpasang! (Part 3)

Setelah menunggu cukup lama, dijanjikan 14 hari kerja, tapi akhirnya hanya dalam 6 hari kerja part pengganti suspensi yang bisa di klaim itu datang di AHASS Sentra Armada Motor. Lebih cepat dari yang seharusnya, entah karena saya dua kali hubungin AHM lewat Astra Honda Care baik di Twitter dan Facebook, atau memang karena lebih cepat aja enggak tahu deh. Berikut saya ceritakan sedikit banyak dari Episode terakhir klaim suspensi PCX.

Untuk yang belum baca episode sebelumnya, silahkan baca di:
1. Klaim Garansi PCX, Kira-kira bisa ga ya?
2. Klaim Garansi PCX, Tinggal tunggu 14 Hari kerja

Part pengganti suspensi yang tergores koil

Waktu menunggu part, tentu ada pikiran, mungkin enggak bisa diganti dan dibatalin. Tapi ternyata setelah di telepon sama AHASS Sentra Armada Motor (SAM) saya jadi sedikit lebih lega. Kenapa sedikit, karena permasalahanya bisa aja menimpa suspensi baru ini. Toh saya enggak tahu dimana sebetulnya masalahnya, tapi yang pasti cover as suspensinya tergores koil/spring suspensi. Sebagai konsumen sih, saya maunya ya dibenerin aja, gimanapun caranya. Kalo harus ganti ya ganti, kalo bisa diperbaiki ya diperbaiki, yang jelas diperbaiki. Kalo dari saya pribadi sih, saya lebih percaya kalo ini memang murni desain suspensi yang bermasalah, entah memang semuanya bermasalah, atau hanya produksi bulan tertentu saja yang memang bermasalah.

Oke, saya lanjutkan cerita kronologinya, hari senin minggu lalu, tanggal 6 Agustus setelah menunggu satu minggu atau sekitar 6 hari kerja, akhirnya dihubungi pihak SAM. Tapi yang menghubungi duluan malah pihak Honda Daya Adicipta Motora sebagai main dealer jawa barat. Ditanya apakahsudah dihubungi SAM atau belum, tapi karena belum ya saya jawab belum. Selang beberapa menit (mungkin sekitar satu jam) baru pihak SAM menghubungi. Apa karena diingatkan buat hubungi saya, baru mereka menghubungi ya? Ya, sudahlah dibiarkan saja menjadi misteri. Akhirnya saya membuat janji untuk melakukan pemasangan hari Sabtu pagi sekitar pukul 9, seperti janjian sebelumnya waktu pemeriksaan klaim juga saya jam 9 ke AHASS SAM.

Selang beberapa hari, sehari sebelum saya ke-bengkel, ada telepon lagi masuk, nomor telepon Bandung. Saya pikir ini dari Daya Adicipta Motora lagi nih, mau menanyakan lagi, apakah sudah dihubungi lagi atau belum. Ya, betul dari Daya Adicipta Motora, tapi ternyata kali ini ada perwakilan dari sana yang sekalian ingin berkunjung. Wah, bisa sampai seperti itu ya, jauh-jauh dari bandung ke Jakarta buat ketemu saya, Rasa-rasanya kok Daya Adicipta Motora ini sangat memanjakan konsumen AHM ya, jadi senang. Sayangnya kalau pukul 9 mereka masih ada acara di Karawanga (kalo enggak salah inget), makanya minta diundur waktu pemasangan suspensi saya jadi jam 1 atau jam 2. Ya, karena sudah jauh-jauh nyempetin dateng, ya saya oke-in aja lah.

Hari Sabtu-nya saya datang jam 2, ya... karena perjalanan jauh, mereka biar istirahat dulu lah, dari Bandung-Karawang-Jakarta kan jauh ya, jadi saya kasih waktu setengah jam istirahat. Sayangnya, waktu saya sampe mereka belum dateng.

Di AHASS SAM saya ketemu lagi sama Pak Sarbini yang kemarin memeriksa klaim suspensi saya. Bapak Ramah ini menjelaskan kalo suspensinya sudah datang, tapi yang dari Daya Adicipta Motora belum datang, masih dalam perjalanan dan nyasar ke Margonda (atau manalah), jadi sambil nunggu ada pit kosong (pantesan penuh, pelayananya luar biasa enak ini), saya masuk ke ruang tunggunya yang berpenyejuk ruangan.

Saya pikir yang dari Daya Adicipta Motora bisa sampai setelah motor selesai, tapi ternyata belum ada tanda-tanda, jadi saya tambah lah pekerjaanya. Sekalian minta tolong bersihin CVT (tertulis di ruang tunggu kalo bersihin CVT 25 ribu). Setelah bersihin CVT pun ternyata belum dateng, untung ada adik sepupu yang nemenin, jadi enggak kerasa nunggunya.

Muncul lah 2 orang Satunya dari divisi teknik namanya pak Sukarna dan dari Costumer Care... Saya lupa. Maaf ya mas, harusnya saya rekam kemarin, hehehe.

Pak Sukarna banyak njelasin tentang suspensi ini, pernyataan dari pihak Honda dan Daya Adicipta Motora sama ternyata, suspensi bengkok itu hanya Visual, selama performa tidak berubah ya tidak masalah. Tapiii.... ada tapinya nih. Suspensi saya ini dari sisi Visual memang seperti itu, tapi seharusnya koil tidak menyentuh dan menggerus cover as-nya. Kalau sampai menggesek Cover, menimbulkan bunyi (seperti punya saya), atau performa suspensi berubah (belakangan saya juga merasa kalo memang ternyata beda performa suspensi yang ini dengan yang kemarin diganti), ini baru masalah.

Menurut pak Sukarna, dari pengamatan visual ada perbedaan antara suspensi dari motor saya dengan yang baru dipasang itu, tapi tentunya pak Sukarna tidak mau berkata banyak, karena suspensi harus dikirim dulu ke laboratorium AHM untuk mengetahui secara detil apa yang berbeda dengan suspensi saya ini. Sebetulnya kedatangan pihak Daya Adicipta Motora ke SAM ini untuk mengambil suspensi saya untuk dikirimkan ke AHM, tapi juga sekalian silaturahmi dengan konsumen Honda (saya) untuk menjelaskan mengenai layanan Honda, termasuk diantaranya Klaim ini.

Setelah ngobrol agak panjang, saya diminta untuk nyoba motor saya dulu nih. Saya tes muter-muter, mencari jalan rusak dan dipakai hingga kecepatan 40km/jam, dan ternyata ada perbedaan di performa suspensi belakang lho. Yang ini peredamanya lebih bagus. Rebound mungkin sama, tapi peredaman ini yang terasa berbeda. Waktu saya coba pakai boncengan dengan istri, komentarnya, ini seperti baru lagi. 'Waktu baru kan kena marka kejut juga enggak kerasa' katanya. Saya juga mikir, iya juga sih, ternyata signifikan ya kalo suspensi bermasalah seperti ini.

Dari Pihak Daya Adicipta Motora dan Sentra Armada Motor sendiri sih bilang, kalo ada masalah lagi, tolong segera beri tahu lagi. Kalau ada masalah dengan motornya lagi segera beri tahu, biar nanti segera di followup, termasuk suspensi penggantinya ini. Awalnya sih saya mau ganti suspensi yang lebih baik, tapi kalau seperti ini, saya jadi pengen tahu sejauh apa AHM akan memperbaiki motor saya kalau dikemudian hari ternyata suspensinya bermasalah lagi.

Untuk mencapai tahap bermasalah ini, saya perlu 8500 km dengan 80% dibawa sendiri (ke kantor+mudik). Nah, kalau nanti di 17000 km bermasalah lagi, kira-kira masih mau terima klaim-nya enggak ya Daya Adicipta Motora dan Astra Honda Motor?

Kepala mekanik SAM turun langsung

Untuk saya pelayanan Sentra Armada Motor dan Daya Adicipta Motora ini dapat bintang 5 dari 5 bintang. Sepupu sendiri sampe bilang, Ternyata pelayanan di Jawa Barat lebih bagus dari di tempat dia. Bukan cuma dalam hal klaim garansi, tapi juga tempat servis-nya dengan ruang tunggu ber penyejuk udara. Mudah-mudahan layananya bisa tetap terjaga dan pelangganya makin banyak yang puas. Nice!

Kamis, 09 Agustus 2018

Telkom-4 Mengorbit, Misi Merah Putih SpaceX, Sukses.



Ada yang tahu kalo tanggal 7 Agustus 2018 lalu, satelit Telkom-4 atau Satelit Merah Putih ini berhasil diluncurkan menggunakan roket Falcon 9 milik SpaceX? Yup, dengan biaya yang 25% lebih murah, yang artinya selisih 50 juta dollar dibanding peluncuran satelit Telkom-3S yang meluncur Februari Tahun lalu. Biaya satelit mungkin sama ya, tapi biaya peluncuran ini disinyalir karena roket SpaceX yang lebih canggih dan roket tahap pertamanya dapat digunakan kembali untuk penerbangan selanjutnya.

Satelit Telkom-4 atau Satelit Merah Putih ini adalah satelit komunikasi yang ditempatkan pada orbit geostasioner milik Indonesia yang ada di 108 derajat bujur timur. Diluncurkan dari Cape Canaveral pada pukul 1.18 malam, berjalan sukses, baik pendaratan kembali roket tingkat 1 Falcon 9 ataupun pelepasan satelit dari Geostationary Transfer Orbit (GTO), yang kemudian Satelit akan melanjutkan perjalanan sampai di Geostationary orbit. Perjalananya akan memakan waktu 11 hari untuk sampai ke orbit, akan diperkirakan tiba pada tanggal 18 Agustus 2018 dan akan mulai beroperasi mulai tanggal 15 September 2018.

Yang menarik dari peluncuran ini, Roket yang digunakan adalah roket yang sudah pernah digunakan sebelumnya. Merupakan roket Blok 5 yang pertamakali digunakan kembali setelah sebelumnya mengorbitkan satelit Bangabandhu-1 milik Bangladesh. Layaknya pesawat terbang yang sudah mendarat dan terbang lagi, roket bekas ini bukan berarti kualitasnya buruk, masa iya kita mau pake pesawat terbang yang selalu baru kalo terbang? Kan jadi mahal tiketnya...

Roket Blok 5 sendiri merupakan varian terbaru roket milik SpaceX yang punya daya dorong lebih besar, sehingga mampu membawa muatan yang lebih berat menuju orbit, baik Orbit Rendah Bumi, ataupun Orbit Transfer Geostationary. Sebelumnya SpaceX juga sudah beberapa kali menggunakan kembali roket tingkat satunya dan peluncuran kembali ini sampai saat ini selalu sukses. Bahkan jika digabungkan dengan peluncuran lain tanpa percobaan pendaratan kembali roket tingkat 1, persentase keberhasilan SpaceX mencapai 96,7% tidak jauh dibandingkan dengan roket Soyuz milik rusia yang sudah lebih dari 1700 peluncuran, persentase kesuksesanya mencapai 97,4% yang saat ini dengan 97,4% itu Soyuz termasuk roket yang paling berhasil lho. Kalau SpaceX mempertahankan kesuksesanya, bisa jadi mencapai 99%. Roket Tingkat 1 nya dapat digunakan kembali dalam rata-rata waktu sekitar 2 bulan, meliputi penggantian sparepart yang habis pakai, pengecekan kembali uji terbang dan pengisian bahan bakar. Wah, cukup punya 2 roket bisa dipake buat sebulan sekali berangkat ngorbitin satelit nih, hemat juga ya, dari pada tiap mau ngorbit harus bikin lagi dari awal, kan...

Sukses buat Telkom dan SpaceX, semoga semakin langgeng kedepanya. Biaya satelit turun, biaya telekomunikasi juga ikut turun kan? Hehehehe...




Jumat, 27 Juli 2018

Klaim Garansi Suspensi PCX, Tinggal Tunggu 14 Hari Kerja (Part 2)

Sabtu pagi ini, tepatnya tanggal 28 Juli 2018 saya mengunjungi AHASS Sentra Armada Motor (SAM) di Jalan Pengasinan sesuai dengan instruksi di artikel sebelumnya (part-1). Pengalaman lumayan berharga sih klaim garansi ini, jadi saya sempatkan buat menulis. Sayangnya tadi sambil bawa anak, pengen cepet-cepet beli es krim katanya, jadi enggak bisa banyak ngobrol sama chief mechanic nya. Langsung kronologisnya ya.

Buat yang belum baca sebelumnya, intinya saya klaim garansi suspensi bengkok baret bagian cover as-nya. Saya menghindari kata tidak lurus, karena nanti dibilang 'cuma visual' sama AHM. 'Cuma Visual' ini adalah pernyataan blunder yang akan terus saya sebut, karena ini satu-satunya pernyataan AHM yang enggak cocok di hati, jadi saya akan menghindari kata bengkok, tapi banyak menggunakan kata 'visual' saja.

Setelah menghubungi Astra Honda Care di Facebook dan dihubungi melalui telepon oleh main dealer jawa barat (Daya Adicipta Motora) dan ditanyakan kapan dan dimana saya akan mengunjungi AHASS, saya datang sesuai janji Hari Sabtu ini. Hasilnya? Sabar cak (kok jadi IWB), saya ceritakan pelan-pelan.

Datang bareng anak, saya pikir sudah disiapkan mekanik khusus untuk pemeriksaan klaim garansi ini, tapi ternyata kata mba yang saya enggak ngeh namanya (bagian servis) didaftarkan saja dan harus tunggu 3 motor. Waaaa, lama, si Sulung bisa-bisa bosen nunggu di bengkel nih, jadi akhirnya saya putuskan buat ditinggal. Udah bilang mau ditinggal, eh si sulung minta 'ngecek' ruang tunggunya, mau main-main ke ruang tunggunya, kan ruang tunggu Honda lumayan ya standarnya, banyak yang bisa dilihat.

Jam operasional AHASS Sentra Armada Motor

Fasilitas ruang tunggu

Di ruang tunggu ada tempat main anaknya, walaupun kecil, tapi seenggaknya si kakak bisa main di situ sebentar. Ya, saya juga enggak mbayangin si sulung bisa nunggu service 3 motor sih, rencananya mau diajak jalan-jalan. Eh, dilalah pas lagi ambil dompet di motor, chief mechanic Honda Sentra Armada Motor (SAM) lagi lihat-lihat PCX saya. Dia bilang, ini motor yang hubungin saya ya? Tanya dia. Saya bingung sih, saya enggak merasa hubungin dia, tapi maksudnya saya hubungin Astra Honda Care, Astra Honda Care hubungin Honda Daya Adicipta sebagai main dealer Jawa Barat, kemudian Daya Adicipta menghubungi Sentra Armada Motor memberitahukan untuk melakukan pengecekan motor saya. Waaaa, langsung di cek sama kepala mekanik ini.

Alhamdulillah antrian 3 motor enggak jadi, malah langsung ditanganin sama Pak Sarbin. Di cek secara visual aja, enggak sampe di bongkar, saya tunjukin bagian yang baretnya kanan dan kiri. Kebetulan juga ada PCX lain yang service, pak Sarbin langsung bandingin sama PCX putih itu, enggak ada baretan di cover suspensinya. Nah, langsung deh pak Sarbin bilang 'kita pesenin dulu, minta fotokopi KTP sama STNK-nya aja' katanya. Wooo, langsung dipesenin ini ternyata.

Tadinya sih mau ke tempat fotokopi, tapi ternyata bisa di foto aja. STNK dan KTP di foto, dan selesailah sudah. Baru mau lanjut ngobrol si sulung udah minta jalan. Tapi bisa dipending sebentar dijanjiin foto didepan bengkel, hehehe.


Nah, sampai saat ini, baru segini ceritanya, nanti saya coba ceritain lagi pas penggantian. Pemesanan suspensinya katanya 14 hari kerja, setara dengan satu bulan... lama juga ya... keburu patah enggak ya itu suspensi :| Yasudah lah, kalo patah ya, di anggurin dulu di rumah aja. Demikian sedikit laporan tentang keluhan saya ke AHM tentang suspensi bengkok baret bagian cover as yang kemungkinan tersenggol spring atau koil suspensinya.

Jangan lupa follow @awp_agni atau subscribe blog-nya ya. :D

Minggu, 22 Juli 2018

Klaim Garansi Suspensi PCX, kira-kira bisa ga ya? (Part 1)

Suspensi kelihatan bengkok? Udah lama sih, tapi baru tahu kalo ternyataa dua-duanya yg kelihatan bengkok. Ini masih pake 'kelihatan' ya, soalnya, apa lah mata saya ini dibanding mata-nya AHM yang sudah pakai alat presisi untuk pengukuranya? Nah, tiba-tiba waktu lagi cuci motor akhir pekan, lihat kok ada bekas baret di cover as suspensinya, pertanda koil alias spring yang bagian luar menyentuh bagian dalam penutup plastiknya ini. Wah, kalo diterusin bisa nyenggol as-nya terus bisa bikin bengkok suspensinya nih.

Rencana saya sih memang mau ganti aftermarket, tapi entar-entaran. Tapi kalo kejadianya kaya gini, saya enggak bisa tinggal diam (*intense music started). Akhirnya saya hubungi Astra Honda Care di facebook dengan alamat facebook @AstraHondaCare menggunakan pesan facebook. Ternyata enggak sampe satu hari langsung ditanggepin, walaupun rasanya salah tangkep adminya sama yang saya maksud, tapi yasudah lah, toh nanti akan ada yang hubungin dan meriksa perihal suspensi ini, jadi saya jelasin nanti lagi aja. Jadi intinya nanti akan ada pemeriksaan lebih lanjut, pemeriksa nanti akan menentukan apakah ini dapat di klaim atau tidak, apakah ini biasa saja alias normal, atau perlu perbaikan atau penggantian.

Silahkan di klik untuk perbesar gambar.

Kurang jelas ya, ini gambar yang saya zoom:


Tuh, cover yang saya maksud, terlihat tergerus kan? Nah, saya cuma khawatir aja, ini cover lama-lama menipis, lepas, terus springnya kena as-nya, terus bengkok.

Masalah bengkok yang ditanggapi AHM sebagai penampilan visual saja ini mengganggu secara visual sih, tapi ya apa boleh buat kalo emang enggak di recall. Katanya sih enggak mengganggu performa suspensi. Nah, kalo modelnya macem saya ini, kira-kira berapa lama sampai akhirnya mengganggu? Apa nunggu sampe pelindung plastiknya habis, nyenggol as-nya kemudian dalam 2 tahun suspensi jadi bekerja tidak normal? Nah, ini juga jadi pertanyaan saya nih, kira-kira berapa lama sih usia suspensi yang diharapkan AHM? Apakah maksudnya dengan penampakan visual bengkok ini dapat tetap digunakan sampai batas usia minimum penggunaan suspensi? Ah, makin banyak pertanyaan yang saya enggak akan bisa jawab, dan rasanya tanya ke AHM belum tentu dijawab juga. Jadi, kita lihat aja gimana nanti komentar tim yang memeriksa ya.

Sekarang memang masih proses, baru selesai ditanya mengenai suspensi ini, dminta data lengkapnya, dan nantinya katanya akan dihubungi Honda Daya Adicipta Motor perihal pemeriksaan, apakah ini akan dapat di klaim atau tidak. Barusan ini (23 Juli 2018) juga di telpon lho sama main dealer bogor, intinya masalahnya apa, biasa servis dimana, dan nanti bilang aja kalo udah di telpon sama main dealer bogor untuk segera melakukan pemeriksaan suspensi belakang ini. Dan rencananya sih saya sabtu mau ke AHASS deket rumah untuk melakukan pengecekan.

Kalo harapan saya sih bisa diperbaiki bentuk Visualnya ini, tapi kalo enggak termasuk garansi ya apa boleh buat. Pengalaman klaim ini jarang-jarang saya alami, karena saya percaya kalo sudah di jual produk sudah melewati banyak Quality Control atau QC, jadi tingkat kecacatanya bisa sedikit. Nah, karena kurang beruntung, saya dapat yang secara penampilan tidak sesuai dengan yang saya harapkan.

Bagaimana kelanjutanya? Nanti kita tunggu hari Sabtu ya.

Silahkan di follow blog-nya dengan mengiis alamat email di kanan atas, atau twitter di @awp_agni

Selasa, 17 Juli 2018

Apa BBM Bisa Basi?

Kira-kira BBM bisa basi enggak ya? Kalo basi jadi apa ya? Begitu kira-kira pertanyaan yang tiba-tiba muncul di benak saya di perjalanan tadi. Nah, setelah browsing-browsing, akhirnya ketemu nih artikel yang judulnya Does Gasoline Go Bad? Bisa langsung di klik judulnya buat ke artikel aselinya. Kata Pakde James Speight, seorang konsultan energi dan penulis buku "Handbook of Petroleum Refining", sangat sulit menggeneralisir. BBM dapat disimpan hingga berbulan-bulan bahkan tahunan tergantung pada lingkunganya, seperti panas, tingkat oksigen, dan kelembaban sangat mempengaruhi kualitas BBM. Lha kok yang ada di dalam bumi bisa tahan jutaan tahun? Itu blm diolah pakde, kalo udah beda banget sama yang diminum kendaraan.



Dalam pengolahanya, BBM ini dimurnikan, memisahkan bahan-bahan lain yang terkandung dalam minyak bumi. Kemudian ditambahkan substansi untuk meningkatkan oktan. Sudah dibahas ya tentang oktan di artikel Tentang Angka Oktan dan Kompresi di artikel kemarin-kemarin. Hasilnya, ada ratusan zat additive yang dicampurkan dalam BBM sehingga mencapai kualitas yang diinginkan untuk mesin kendaraan.

Masih di artikel yang sama, kata Richard Stanley, mantan insinyur kimia di Fluor Corporation, kalo BBM didiemin gitu aja, lama-lama enggak bekerja seperti yang kita pikirkan alias bahasa sini-nya basi. Ini lantaran zat hidrokarbon yang lebih ringan mulai menguap meninggalkan si cairan BBM ini. Lha kalo zat yang lebih ringan ini pada menguap, mesin mobil enggak bisa bekerja optimal dengan BBM yang tersisa ini kalo BBM didiemin terlalu lama. Masih kata Stanley, BBM ini kaya anggur, begitu dibuka dari botol, BBM akan mulai teroksidasi. Sebagian Hidrokarbon menguap yang lainya bereaksi dengan oksigen di udara, kemudian mulai memadat yang kita sebut sebagai gum. Kalo BBM basi ini masuk ke pipa-pipa, ini kaya kolesterol, mulai menyumbat saluran, misalnya saluran pompa bensin. Kesimpulanya, bensin harus disimpan di tempat yang dingin dengan oksigen yang rendah, yang kalo di SPBU biasanya disimpen di bawah tanah (tangkinya di tanam di bawah tanah).

Tapi, banyak banget faktor yang menentukan ini, jadi enggak bisa dibilang berapa lama BBM ini Basi, intinya sih, bukan hal yang bagus menyimpan BBM terlalu lama di tempat yang tidak disesuaikan untuk nyimpen BBM.

Nah, dari sini, coba pikir-pikir lagi, kalo di pertamini gitu kira-kira nyimpen BBM-nya dimana? Di jemur (kena panas), jangan-jangan botolnya tadinya lembab, atau udah berapa lama itu BBM disimpen di situ? Ya, BBM bisa basi, tapi variabel yang menentukan kebasi-anya itu banyak banget, enggak bisa kita nentuin 1 bulan, atau 1 tahun, tapi yang pasti, enggak baik nyimpen BBM di tempat yang tidak sesuai.

Senin, 16 Juli 2018

Batal Ngefans Gara-gara Oktan

Judulnya rada-rada click-bait ya, jadi tak jelasin di paragraf pertama, ini gara-gara browsing buku manual KTM yang ternyata butuh oktan ROM 95 atau PON 91, jadi batal ngefans KTM.

Awal cerita ketika liat-liat youtube, di sarankan buat nonton video KTM adventure 1290 baru. Agak kurang sreg sih sama model lampunya, tapi cukup unik... tapi emang biasanya motor-motor adventure itu unik-unik sih. Dalam hati bilang 'wah keren ya, suatu saat kalo ada rejeki jadi pengen punya motor sport KTM ah' setelah lihat produk KTM yang lain termasuk Duke dan RC.

Sebenernya sih dulu pernah pengen, tapi harganya mahal bianget, terus sekarang harganya kan turun tuh, jadi mahal aja (enggak bianget), jadi adalah kepengen buat nyobain seperempat liter kalo ada rejekinya. Sayangnya waktu itu inget kalo KTM itu minimal RON 95, tapi waktu itu lihat di halaman web KTM untuk pasar eropa sih, nah barang kali kan beda tuh untuk pasar sana dan asia tenggara. Tapi sayangnya enggak.


Performa Tinggi Oktan Tinggi

Tentunya motor performa tinggi perlu oktan tinggi juga, pastinya kan kompresinya tinggi. Kalo enggak oktan tinggi, bisa terjadi knocking kan, bikin mesin terlalu panas, ujung-ujungnya mesin enggak awet. Makanya penggunaan bahan bakar yang cocok ini penting.

Biasanya oktan yang tinggi berhubungan dengan performa mesin yang tinggi. Dengan kompresi tinggi dan volumetrik efisiensi yang tinggi menyebabkan kompresi mesin riil tinggi, memerlukan oktan yang tinggi juga. Jadi maklum lah kalau mesin dengan power luar biasa besar dengan kapasitas mesin yang relatif kecil memerlukan oktan yang relatif lebih tinggi.

Jadi harusnya biasa donk, klo KTM pake oktan tinggi? Ya, tapi paling enggak lebih tinggi dari premium dan bisa pake pertamax. Tapi nyatanya enggak gitu.

RON (Research Octane Number)

RON 95 ini susah lho di cari. Saya belum survey sih, tapi paling enggak dalam 50 km perjalanan luar kota, susah buat dapetin RON 95 ini, khususnya di Pantura. Bahkan sepanjang perjalanan mudik kemarin cuma ada 1 tempat sepanjang Indramayu-Cirebon yang jual oktan diatas 95 (RON98), itu pun cuma di sisi sebelah kiri (dari arah Indramayu). Mungkin ada yang lain, tapi enggak ngeh mungkin.

Jadi kalo pake motor dengan minimal RON 95, cuma bisa dipake di dalam kota. Lah terus kalo lagi jarak jauh enggak bisa dipake nih motor... waaah, moso motornya udah bagus, tapi langsung pensiun motoran jauh-nya. Akhirnya motor mahal banget yang sekarang jadi mahal aja itu jadi enggak bisa masuk dalam impian punya motor sport seperempat liter lagi.

Dan sepertinya semua mesin motor sport eropa seperti ini. BMW G310R juga ternyata punya oktan minimal 95. Motor eropa enggak bisa jalan jauh di Indonesia berarti nih, kecuali direncanakan nanti isi BBM-nya di titik-titik tertentu karena enggak semua SPBU sedia ron diatas 95. Karena masalah ini, pilihanya jadi balik lagi ke Jepang nih.

Sebagai acuan, Honda masih ngasih minimum RON 88 hampir di setiap motornya, sayang kejadian kemarin bikin ill-feel. Untuk Suzuki, juga sebagian besar lineupnya masih diatas RON 88 lho. Kalo Yamaha saya enggak tahu. Ini satu-satunya produk yang masih alien buat saya, belum pernah punya... Untuk kawasaki, beberapa produknya minimal ron 91, jadi harus pertamax. Pertamax cukup banyak kok sepanjang pantura sampe Prambanan, jadi masih ga masalah.

Kembali ke Jepang, Eropa masih jauuuh...


Sabtu, 14 Juli 2018

Pengukur kecepatan yang lebih presisi: Speedo, GPS atau dihitung?

Banyak yang ngetes top speed di jalanan, bahaya bro! Lagian penggunaan speedometer enggak presisi-presisi amat lho. Bisa sampe selisih 20 km/jam dari pengukuran GPS. Nah, apa pengukuran GPS paling presisi? Enggak juga sih. Pengkuran paling presisi adalah dengan dihitung, dari RPM mesin diterjemahkan ke km/jam. Gimana caranya? Gampang, nih tak kasih tau caranya. Eh, mungkin udah pernah ada di artikelnya motogokil.com, soalnya saya juga tau gara-gara lihat rumus yang dikasih om motogokil.com di excel buat ngitung power motor di artikel sebelumnya.

Nah, gimana caranya?

Presisi Speedo vs GPS

Speedometer mengukur kecepatan dalam KMPH dengan mengukur putaran, entah itu di roda atau di sprocket. Dengan begitu, pergantian ban akan mempengaruhi akurasi, semakin kecil total ukuran ban, semakin cepat poros yang dikur berputar. Belum lagi biasanya pabrikan sengaja menampilkan kecepatan yang sedikit lebih tinggi di speedometer dibanding kecepatan sebenarnya (atau biasanya sih dibandingin sama GPS). Mengukur kecepatan pada speedo, tentu butuh tempat. Entah di mesin dyno (kalo sensornya di sprocket), standar tengah, atau harus dilarikan riil di jalanan.



Sementara GPS menggunakan satelit penunjuk posisi yang kemudian komputer menghitungkan kecepatanya dengan mengukur perubahan posisi dan dibandingkan dengan waktu sehingga diperoleh kecepatan pergerakan pengguna GPS-nya. Lebih presisi? Tentu saja sangat tergantung dengan satelit, perangkat penerima sinyal GPS-nya dan kecepatan komputasi dari perangkatnya. Kalo hari terang, langit cerah, tidak ada gedung tinggi, bisa sangat presisi pengukuranya. Kalo mendung, ya tergantung alat penerimanya, kalo ada delay, tentunya penghitungan kecepatan jadi terganggu. Apa lagi kalo pengukuran melewati terowongan panjang, bisa dipastikan perangkat tidak akan menerima sinyal GPS.

Selain menggunakan ponsel pintar, pengukuran kecepatan menggunakan satelit ini biasanya juga menggunakan perangkat khusus agar penerimaan sinyal GPS lebih baik. Perangkat yang dikhususkan untuk mengukur kecepatan biasanya dapat menerima sinyal GPS lebih baik dari pada perangkat pada ponsel pintar.

Pengukuran menggunakan GPS mau tidak mau dilakukan secara langsung, artinya memerlukan jalur panjang. Kalo bisa sih kosong, tapi banyak juga yang ngetes di jalanan umum ya. Selain berbahaya untuk penguji-nya, berbahaya juga untuk pengguna jalan lain.

Nah, untuk melihat topspeed ada juga sih caranya tanpa melakukan pengetesan di jalanan dan presisinya jauh lebih tinggi. Yaitu menghitung langsung dengan mengkonversi RPM mesin ke kecepatan dibandingkan dengan kecepatan putar roda belakang.

Menghitung Kecepatan melalu RPM

Seperti yang kita tahu, penunjuk RPM pasti presisi donk, karena menggunakan sensor dan menjadi patokan pengapian ECU (iya kan ya?). Nah, RPM pada mesin ini akan kita konversikan ke RPM pada roda. Kalo diketahui rpm pada roda, dihitung keliling rodanya, maka kita bisa tahu berapa jarak yang ditempuh si roda dalam 1 jam kan.

Misalnya kita ambil contoh CBR150R Streetfire ya. Diketahui sepert ini spek-nya:



Dari data diatas, yang dilingkari merah adalah ukuran ban, dan yang akan kita ukur ban belakang ya. 17 inci adalah diameter, jadi rumusnya π *d, tapi ini belum keliling terluar ya, kan masih ada roda yang belum di hitung. Keliling keseluruhan perlu ditambah dua kali ketepalan roda. Nah, mengukur ketebalan roda untuk kasus ini berarti 70% dari 130mm yaitu 90mm atau dua kalinya jadi 180 mm. Ukuran velg juga kita ubah ke mm jadi 431,8 mm. Dengan demikian keliling ban adalah 1929,1 mm.

Nah, sekarang kita akan ukur ketika mesin berputar 1000 kali, berapa kali roda berputar? Caranya dengan menghitung reduksi atau penguranganya. Misal kita hitung pada gigi 6 1000 RPM, maka untuk mencari kecepatanya 1000 rpm dibagi reduksi primer, dibagi reduksi akhir, dan dibagi reduksi gigi ke 6, hasilnya 3,7 km/jam hampir 4 km/jam Nah, kalo dibuatkan rumusnya di excel hasilnya seperti tabel di bawah nih.


Nah, tinggal dilihat deh tuh, kalo RPM mentok di 9000 berarti kecepatan di gigi 6 ya 112,92 km/jam di speedo pasti lebih tinggi kan.

Klo dari sini, mau naikin topspeed, gampang, tinggal ganti aja gir belakang ke yang lebih kecil. Masalah mesinya sampe apa enggak ke RPM yang sama, ya beda lagi. Kalo enggak sampe, gampang,  tambahin aja powernya. Pake ECU programmable, sendalpot resing, gampang... (gampang nulisnya, prakteknya kalo enggak terukur ya bisa bikin mesin jebol)

Yah, sekian artikel enggak jelas ini, jangan lupa follow blog (belum ada yang follow T_T) dan twitter di @awp_agni

Oh iya, mungkin artikel ini ada yang mirip di motogokil.com karena emang aslinya file yang ada pengukuran ini dari om motogokil. Makasih ya om. :D

Kamis, 12 Juli 2018

Beda Kompresi, Berapa Selisih Powernya?

Komentar sepupu di facebook tiba-tiba membrikan inspirasi artikel :D sebetulnya kalo ada satu mesin yang sama, bahkan kompresinya sama, tapi satunya bisa minum BBM RON 88 satunya minimal RON 92, kira-kira berapa besar ya perbedaan powernya? Nah, dengan sebuah rumus excel yang dikasih sama om motogokil.com saya bisa sedikit memberikan simulasi nih antara mesin yang disetel bisa minum RON 88 vs RON 92 dengan spesifikasi yang identik.

Pada artikel 'tentang angka oktan dan kompresi' saya sudah sedikit memberikan catatan tentang kompresi yang tertera pada brosur dan kompresi kenyataan pada kendaraan. Di artikel itu saya juga sudah menulis kalau kompresi riil ini berhubungan dengan Volumetric Efficiency atau VE yang satuanya menggunakan persen (%). Semakin tinggi VE-nya, semakin dekat kompresi riil mesin dengan kompresi yang dihitung saat piston pada TMB dan TMA.

Untuk memudahkan dan mensimulasikan se-mendekati mungkin dengan kenyataan, saya akan ambil data dari kendaraan yang sudah ada dengan kompresi yang lumayan besar, tapi katanya tetap bisa menggunakan oktan dengan RON 88 atau bahasa gampangnya premium ready.

Metode mencari variabel dari mesin Sonic 150 ini adalah dengan melihat spesifikasi yang ada, diameter dan langkah piston, kompresi serta powernya. Kemudian menebak VE-nya yang kira-kira menghasilkan CR (compression Ratio) riil nya kurang dari 9. Kemudian menentukan rasio bahan bakar dan udara sehingga powernya sesuai dengan yang ada di brosur atau di website AHM.

Dari data yang ada, dapat saya simpulkan kalau memang premium ready, VE honda Sonic ini sekitar 78% dan menghasilkan CR riil 9 (saya anggap premium ready ya). Dengan VE seperti itu, untuk mendapatkan kekuatan mesin 16 ps, memerlukan rasio udara-bbm sekitar 11,6. Eng... kok enggak pas ya, kalo 11,6 : 1 ini udah dibawah 12 : 1 yang katanya rasio output maksimal dari mesin berbahan bakar bensin. Jadi kalo saya perbaiki rasionya AFR jadi 12, yang saya dapet powernya cuma 15,42 ps dan kalo saya naikin kompresinya riilnya biar dapet power 16 ps, CR riil naik ke 9,3:1 dan ini enggak jadi premium ready donk. Tapi karena fokus-nya ke premium ready saya pake yang rasio bahan bakarnya berlebihan banget, ya.



Setelah data tersebut masuk semuanya, barulah saya mulai menaikan VE yang tentunya akan menaikan CR. VE saya naikan agar mesin hanya bisa menggunakan Pertamax Only, yang katanya RON 92 itu digunakan untuk mesin kompresi maksimal 10:1 Maka hasilnya power akan naik sampai 18,41 ps seperti dibawah ini. Kalo di presentasikan, power sudah naik sekitar 15 persen dengan peningkatan VE lho, belum lagi kalo power maksimalnya dinaikan ke RPM yang lebih tinggi, wah makin besar ya... dan ubahan-ubahan ini lah yang dilakukan di balap motor sehingga mereka lebih ngacir dari motor produksi masal.



Kesimpulanya, walaupun Rasio Kompresi besar, sebaiknya tetap kembali dan jangan malas baca buku panduan untuk tahu spesifikasi bahan bakar minimal yang dibutuhkan. Sedikit lebih tinggi boleh, lebih rendah jangan. Terlalu tinggi ya jangan juga, tapi kalo mesin sekarang terutama yang CR di brosurnya tinggi saya yakin sudah bisa pakai oktan umum paling tinggi (98), enggak kaya kendaraan dulu yang mungkin CR-nya enggak sampai 9 :D

Perhitungan ini akan lebih bener kalo semuanya dihitung, tapi karena peralatanya enggak ada dan saya males ngitungnya, jadi di prediksi aja. Mudah-mudahan hasilnya enggak jauh berbeda dari kenyataanya.

Cuplikan buku manual Sonic 150, spek komponen sengaja ditunjukan, siapa tau ada yang mau ngecek di buku manualnya

Jadi, kompresi besar RON 88? Bisa aja sih...

Jangan lupa follow blog ini dan twitter @awp-agni ya :D

Tentang Angka Oktan dan Kompresi

Di suatu grup (kayaknya hampir semua grup otomotif) rame dengan kenaikan BBM, banyak yang hawatir biaya hidup akan naik karena kenaikan BBM ini, maka banyak yang merasa harus beralih dari oktan yang tadinya dirasa cukup ke oktan yang lebih rendah. Karena itu banyak pertanyaan "Kalo pake oktan 90 apa gpp?" beberapa saya ikut jawab sih, malah ada yang salah persepsi juga dengan jawaban saya. Makanya saya bikin artikel aja sekalian deh.

Mesin 4 Langkah / 4 Tak atau 4 Stroke

Mesin 4 langkah adalah mesin dengan 4 langkah kerja seperti yang ada di gambar dibawah. Langkah 1 adalah langkah hisap, yaitu mesin menghisap campuran udara dan bahan bakar ke ruang mesin. Pada langkah ini, piston bergerak dari titik mati atas (TMA) ke titik mati bawah (TMB).

Sumber : www.richardwheeler.net

Langkah berikutnya adalah langkah kompresi. Pada saat kompresi, campuran udara dan bahan bakar ditekan keatas ketika piston bergerak dari titik mati bawah menuju titik mati atas. Pada langkah ini temperatur campuran udara dan bahan bakar akan meningkat.

Langkah ketiga adalah pembakaran. Campuran udara-bahan bakar yang sudah dikompresi tadi diledakan dengan Busi (kalau mesin bensin) atau dengan tekanan itu sendiri (kalo diesel). Langkah ini merubah energi kimia pada bensin yang bercampur dengan udara menjadi energi panas dan gerak turun piston.

Setelah pembakaran, langkah berikutnya adalah buang. Gas sisa pembakaran akan dibuang menggunakan gerak piston dari TMB ke TMA menuju katup keluar. Setelah gas sisa hasil pembakaran dibuang, maka piston akan siap memulai lagi langkah pertamanya, dan begitu seterusnya.

Nah, semakin tinggi kompresi, tentunya panas yang dihasilkan dari pembakaran semakin tinggi, karena kompresi yang tinggi akan meningkatkan suhu campuran udara dan bahan bakar. Setiap siklus tentunya akan meningkatkan suhu mesin juga, itulah sebabnya mesin memerlukan pendingin, baik berupa kisi-kisi, radiator oli, atau radiator cairan lain agar suhu mesin tetap optimal (Tidak terlalu dingin, tapi juga tidak terlalu panas).

Nilai Oktan dan Kompresi

Nilai oktan ukuran standar dari kinerja bahan bakar mesin. Semakin tinggi oktan, semakin tidah mudah terdetonasi dengan tekanan dan bisa digunakan dengan bahan bakar dengan kompresi yang lebih tinggi yang artinya performa juga lebih baik. Semakin tinggi kompresi, tentu semakin tinggi juga power mesinya. (Nanti kita bahas lebih lanjut)

Jika oktan yang lebih rendah dari spesifikasi yang diperbolehkan, apa yang terjadi? Setelah langkah hisap pertama pada penjelasan diatas, piston mulai melakukan kompresi naik dari TMB ke TMA. Karena oktan rendah, sebagian campuran bahan bakar sudah mulai terbakar sebelum TMA (sebelum piston ada di ujung atas), padahal piston masih bergerak keatas, tapi sudah ada sebagian campuran yang mulai terbakar dan mendorong kebawah. Jadi ketika langkah pembakaran, hanya sedikit campuran yang benar-benar menghasilkan tenaga, jadi tenaga drop.

Bukan cuma drop karena itu, tapi karena saat piston naik harusnya tidak terjadi pembakaran, campuran yang sudah terbakar juga mengurangi laju piston, membuat tenaga total yang tersalurkan berkurang. Karena pada saat piston bergerak naik sudah ada detonasi yang mendorong kebawah, ada kemungkinan lama kelamaan stang piston akan bengkok, atau bahkan patah.

Bahaya kan. Nah, terus, taunya dari mana kendaraan kita harus pakai bahan bakar yang mana? dari grafik di bawah ini:


Tunggu, baca dulu sampe habis tentang kompresi ini. Kompresi yang tertera pada brosur kendaraan adalah kompresi yang dihitung dengan membandingkan area kosong saat piston ada di Titik Mati Bawah (TMB) dan Titik Mati Atas (TMA) makanya perbandinganya menjadi 10:1 misalnya. Ukuranya seperti di bawah ini:

dari motogokil.com

Memilih Bahan Bakar

Nah, diatas itu adalah cara menghitung rasio kompresi yang tertera pada brosur, tapi sayangnya kebutuhan oktan bahan bakar tidak menggunakan rasio kompresi itu, mempengaruhi, tapi tidak serta merta rasio itu yang dipakai. Ada hal lain yang mempengaruhi rasio kompresi sebenernya dari sebuah kendaraan (Perlu pembahasan pro ini) rasio kompresi yang sebenarnya ini sangat tergantung dengan VE atau Volumetric Efficiency dari mesin itu. Nah, bisa saja suatu kendaraan memiliki kompresi 11.1:1 tapi tetap dapat menggunakan bahan bakar dengan oktan 88 misalnya, ini karena rasio kompresi riilnya tidak lebih dari 9:1.

Imbasnya apa punya kompresi besar VE kecil, memungkinkan minum premium? Ya power yang berada jauh dibawah potensi dari mesin itu. Powernya relatif lebih kecil dibanding kendaraan yang menggunakan VE lebih tinggi walau misalnya raiso kompresinya lebih kecil. VE 60% dengan kompresi 10:1 mungkin akan kalah dengan mesin VE 100% dengan kompresi 9:1 dengan CC yang sama (walau perlu banyak sekali variabel yang harus dipertimbangkan)

Terus tau dari mana kebutuhan bahan bakar kita? Ya tentunya dari buku manual donk, atau beberapa perusahaan juga memunculkan kebutuhan oktan minimalnya pada situs mereka. Biasanya mereka menyebutkan nilai oktan minimal atau misalnya hanya menyebutkan BBM tanpa timbal saja, yang artinya boleh premium :D

Untuk kendaraan roda dua produsen Jepang yang diproduksi di Indonesia untuk market Indonesia kebanyakan sih masih bisa pake oktan 88 lho. PCX sekalipun masih bisa pake oktan 88 lho, jadi enggak usah hawatir kalau mau pakai Shell Reguler (RON 90), Revvo 89 (RON 89), REVVO 90 (RON90) atau Total Performance 90 (RON 90), karena memang didesain untuk nilai oktan yang lebih rendah.

Tapi hati-hati buat yang pake mesin skyactiv dari Mazda, enggak bisa turun ke RON 90, tertera di web Mazda 2 dengan kompresi 13:1 itu minimal RON 91 lho. Atau pengguna KTM Duke 200 yang kalo di web-nya tertulis RON 95 lho, di buku manual juga kan? Hayo ngaku nih yang punya mesin KTM :)

Senin, 09 Juli 2018

Tentang Transmisi CVT (Continuous Variable Transmission)

Transmisi otomatis yang disebut CVT sudah sangat banyak di Indonesia, entah berapa juta yang pakai di motor dan mobil. Klo di mobil otomatis ya otomatis, manual ya manual, mau otomatis kaya apa, itu dapur lah, kebanyakan pengemudi taunya ya transmisinya naik turun sendiri. Kalo di motor, transmisi otomatis ya CVT, jarang ada yang tau kalo ada juga transmisi otomatis DCT (Dual Clutch Transmission) yang cara kerjanya sangat jauh berbeda dengan CVT. Saya coba membuat sedikit catatan tentang CVT, seperti apa gambaran cara kerjanya, keunggulan dan kerugianya.

Cara Kerja

Cara kerja umum transmisi CVT adalah menggunakan dua buah kerucut Drive Pulley dan Driven Pulley yang akan menggerakan rantai atau sabuk yang menghubungkanya dan merubah percepatan. 


Biar gampang, seperti diatas ini lah kira-kira gambarnya. Jadi dengan naiknya kecepatan, rasio giginya akan berubah sesuai dengan seberapa jauh pergeseran drive dan driven pulleynya. Yang biru itu Drive Pulley yang satunya driven pulley. 

Kalo gitu dimana yang dikasih pelumas? yang menghubungkan driven pulley ke roda ada reduksi gigi lagi, dan itu yang direndam pelumas baik untuk mengurangi gesekan atau meredam gesekan. kalo untuk gambar di bawah ini, CVT itu di tutup oleh cover berwarna silver itu, di bawah filter udara.


Selain driver dan driven pulley, ada juga yang namanya kopling lho. Kopling ini menghubungkan antara driver dan driven pulley dengan poros yang menggerakan roda gigi yang kemudian menggerakan roda belakang. Waktu itu mekanik AHASS pernah bilang kalo itu namanya kopling ganda seperti gambar di bawah ini.


Seiring dengan naiknya rpm mesin, kopling akan membuka karena gerakan sentrifugal kemudian mencengkeram rumah kopling yang akan memutar roda gigi yang roda giginya kemudian memutar ban. Seiring dengan penggunaan, tentu kampasnya akan habis dan perlu diganti karena kampas ini menterjemahkan tenaga mesin menjadi torsi pada putaran rendah, sekaligus membuat pergerakan awal kendaraan jadi halus (harusnya halus).

Oh iya, semua yang menghubungkan dua bagian untuk menyalurkan tenaga itu disebut kopling, atau dalam bahasa inggris coupling. Kopling ini seharusnya tidak terlepas saat mesin bekerja, tapi yang diatas namanya torque limiting coupling, jadi kalo torsinya pada batas tertentu, dia akan slip atau bahkan terlepas (saat kendaraan iddle atau saat akselerasi di awal). Dengan pembatasan torsi ini, mesin akan naik ke rpm yang lebih tinggi sampai torsi yang dibutuhkan atau torsi optimum untuk menggerakan kendaraan.

Karakteristik

Dengan cara kerja yang sudah dijabarkan diatas, maka CVT punya karakteristik yang cukup menarik nih. Saya buat pointer biar lebih gampang, dan kalo kurang nanti ditambahkan dikemudian hari kalo inget, :) Karakteristik akan saya bagi dua, kelebihan dan kekurangan. Untuk yang pertama akan saya bahas kelebihanya dulu.

Kelebihan

  • Torsi dan tenaga yang datar di setiap kecepatan. Dengan pengaturan yang pas ini bisa tercapai. Pengguna tinggal buka gas aja, langsung secara mekanis transmisi menyajikan rpm mesin yang pas untuk berakselerasi.
  • Dengan toris dan tenaga yang datar di setiap kecepatan tentunya akselerasi akan lebih baik. Wait! Pasti ada yang protes, kok akselerasi lebih bagus? Iya, bener, enggak salah baca. Akselerasi lebih bagus. CVT yang dibenamkan pada kendaraan umum adalah CVT umum, tentunya menyeimbangkan antara konsumsi bahan bakar dan akselerasi. Bisa kok kalau diset agar akselerasi luar biasa.
    Misalnya dengan menaikan batas torsi sebelum kopling bekerja, sehingga diperoleh kendaraan berakselerasi setelah di gas agak dalam. Masalahnya konsumsi bahan bakar akan sangat boros. Mesin akan terkesan 'ngeden' padahal saat di rpm yang ditentukan si kendaraan akan ngacir.
    Pasti ada yang bilang, kalo emang lebih bagus, kenapa enggak buat balap? Karena DILARANG. Iya Dilarang. Ada salah satu tim Formula 1 yang mengembangkan transmisi CVT, tapi kemudian dilarang. Toh kalo sekarang diperbolehkan pasti bermasalah dengan pembatasan bahan bakar yang hanya boleh 100kg itu.
  • Halus, tidak terasa perpindahan gigi. Ya iyalah, kan Continuous, ya enggak kerasa sama sekali.
  • Transmisi terlihat compact, tidak terlalu rumit seperti transmisi manual. Dan karena penyaluran tenaga langsung menggunakan sabuk atau belt yang digunakan untuk menggerakan pulley, maka tidak perlu penyalur tenaga lain (terutama pada kendaraan 150cc kebawah)

Kekurangan

  • Boros bahan bakar yang pertama kali saya identifikasi. Wait! Pasti ada yang sewot lagi nih bilang, itu kok bisa irit si PCX150... dan kawan-kawanya. Dengan performa transmisi yang disesuaikan (ditingkatkan atau disamakan) tentu bahan bakar yang terkoreksi akan lebih banyak kalo pake CVT. Waktu gas naik, ada jeda RPM naik tapi kendaraan belum jalan pada transmisi CVT, ini pemborosan. Waktu transmisi naik, tapi kecepatan roda masih rendah kopling akan selip, dan selip kopling yang tidak terkendali ini mempengaruhi borosnya bahan bakar juga. Sementara pada transmisi manual, slip kopling ini bisa diminimalisir dengan menggunakan rpm dan gigi yang lebih rendah (sesuai kebutuhan). Jadi dengan performa yang disetarakan, transmisi CVT lebih boros dibanding transmisi manual.
  • Performa underpower dibanding transmisi manual jika memperhatikan pemakaian harian atau konsumsi bahan bakar.
  • Enggak asik, kalo ini sih pribadi aja. Hahaha, enggak asik karena udah powernya terasa lemah dibanding sport 150cc dan enggak ganti gigi.
  • Minim engine break, bukan berarti enggak ada ya. Ada engine brake, tapi karena disesuaikan dengan posisi gigi-nya, ya jadi minim. Kaya kendaraan manual kecepatan rendah gigi tinggi (tapi belum mati mesin). Ini bisa masuk kekurangan atau kelebihan ya... pokoknya saya taro sini lah.

Kesimpulan dan Saran

Kesimpulanya, setiap jenis transmisi mau yang CVT, Otomatis dengan torque converter (kalo di mobil), DCT atau Manual, semuanya punya kelebihan dan kekurangan sendiri-sendir. Nah, tinggal pabrikan yang menyesuaikan kapan transmisi ini digunakan pada produk mereka yang seperti apa.

Transmisi CVT ini juga bisa lho overpower dan menarik, kalo dipadukan dengan mesin listrik. Rugi-rugi yang terjadi saat kecepatan rendah dan RPM mesin rendah tugasnya digantikan oleh mesin listrik. Sementara itu pada RPM yang cukup, mesin bensin baru mulai ikut menjalankan kendaraan. Nah pada saat menjelajah, naik turun kecepatan sedikit baru deh pakai transmisi CVT-nya.

Catatan terbaru setiap hari bisa dilihat lewat facebook saya, twitter @awp-agni atau ikuti blog ini dengan mencantumkan alamat email di sebelah kanan kemudian klik submit. (kaya ada yang mau aja) hahaha...

Sabtu, 07 Juli 2018

Motor Listrik Idaman

Sampai saat ini motor listrik di Indonesia belum ada yang serius dan menggantikan motor peminum bensin. Kalo dibandingkan yang udah ada sekarang, skuter entry level aja powernya enggak ada yang kurang dari 4 kW di roda, sementara skuter listrik yang udah ada di pasaran powernya cuma 0,8 kW, enggak ada seperempatnya. Karena power mesin cuma segitu, top speed dan akselerasi pun pasti kalah donk. Jarak dalam satu kali isi daya juga enggak tembus 100km, sementara skutik entry level bisa antara 120 - 150 km dalam satu kali isi BBM. Sampai kapan pun kalo speknya seperti ini enggak akan saya lirik lah kendaraan listrik ini. Nah, ini catatan yang mungkin bisa memberi gambaran seperti apa sih kira-kira bisa menarik saya sebagai pengguna roda dua antusias.



Kapasitas Baterai dan Jarak Tempuh

Kapasitas baterai mempengaruhi jarak tempuh, tapi bukan satu-satunya yang mempengaruhi jarak tempuh. Efisiensi mesin listrik juga bisa menjadi kunci untuk meningkatkan jarak tempuh. Nah, untuk kapasitas baterai kira-kira berapa yang cocok?

Kapasitas Baterai

Merujuk ke tangki bahan bakar PCX (karena adanya ini di rumah) yang 8 liter, dan kepadatan energi baterai lithium antara 400an Wh per liter (Tepatnya 250-600an), berarti bisa dibenamkan 8 x 400 Wh jadi sekitar 3,2 kWh menggantikan tangki bensin. Karena ada pengurangan bak oli untuk mesin bensin, ruang untuk silinder dan piston yang nanti akan diganti dengan mesin listrik, targetnya akan kita tambah volume penyimpanan untuk baterai 3 liter. Jadi kira-kirar bisa kita pakai baterai sekitar 4,4 kwh lah kira-kira.

Baterai 4,4 kwh ini sudah mirip sama punya gesits lho, dan dengan sasis dan body PCX masih mempertahankan kapasitas kargo-nya, enggak seperti PCX electric yang kargonya harus dikorbankan untuk tempat baterai.

Jarak Tempuh

Karena hanya menggunakan 4,4 kwh baterai, artinya kita memerlukan efisiensi di tempat lain, misalnya dengan menggunakan regenerative breaking yang dapat dikendalikan menggunakan micro controller. Otomatis kita akan menggunakan perangkat motor generator untuk mesin listriknya, bukan mesin listrik biasa.

Motor-generator ini akan berubah menjadi generator ketika melambatkan kendaraan, baik ketika melakukan pengereman atau mensimulasikan engine brake. Bahkan di beberapa motor listrik motor-generator-nya bisa digunakan untuk menghentikan laju kendaraan, jadi bisa dikemudikan tanpa menginjak tuas rem.

Untuk memaksimalkan kenyamanan berkendara, tentunya motor-generator ini dapat disetel menggunakan dua mode. Yang pertama generator akan secara otomatis mengurangi kecepatan dan memproduksi energi listrik hasil pelambatan itu saat tuas gas di tutup. Yang kedua generator akan mengurangi kecepatan saat tuas rem di tarik. Menggunakan algoritma yang disesuaikan, komputer akan memutuskan kapan rem belakang hanya menggunakan generator saja atau perlu tambahan dari rem mekaniknya. Dengan demikian, kampas rem juga bisa dihemat kan?

Dengan 10kW motor-generator-unit tentunya cukup untuk bikin berkendaraan nyaman, dan regenerative breaking bekerja baik.

Pengisian Daya

Dengan kapasitas baterai 4,4 kw, pengisian daya di rumah sepertinya bisa memakan waktu 8 jam, sementara untuk penggunaan SPLU (kalo daya yang diberikan 5kw) bisa 1 jam saja. Itu pun kalau memungkinkan membuat alat pengisi daya dengan kemampuan menyalurkan 5kw dalam 1 jam.

Sebelum ada tempat pengisian daya khusus untuk kendaraan listrik, belum bisa mengisi daya 80% dalam 30 menit atau lebih cepat lagi. Untuk saat ini, infrastruktur di Indonesia, cuma ada SPLU seadanya.

Jarak Tempuh

Jarak tempuh kendaraan imajinasi saya ini diprediksi dapat menempuh 60an km dengan kecepatan 120km/jam tanpa pengereman regenerative. Jika diaktifkan, saya yakin jaraknya akan 3 kali lipat dan menyentuh 180km dengan kecepatan rata-rata 60an km/jam. Jadi untuk penggunaan dalam kota bisa sampai 200 km lebih (karena di dalam kota kan rata-rata kecepatanya paling 30 km/jam)

Kalau pengisian daya di rumah membutuhkan waktu 8 jam, dan jarak tempuh dalam kota 200 km, artinya pengisian daya dalam 1 jam dapat memperoleh 25 km. Lumayan lah.

Harga

Dengan jarak tempuh real dalam kota atau sesuai dengan ECE-R40 mencapai 200 km (perkiraan saya sih), ada rasa ingin beli kalo harganya sekitar 30-40 jtan. Sayangnya untuk produksi dalam jumlah kecil harga segitu susah sih dengan fitur seperti diatas. Harga baterai aja saat ini sekitar 3,5 juta per kwh, berarti untuk baterai 4,4 kwh 15,4 jt untuk baterai aja. Motor-generator, controller, sasis, dan lain-lain dihargai 20jt sepertinya masih susah ya..

Jumat, 06 Juli 2018

Review Tas - Mantera 2.0

Jadi ceritanya tas ini dibeli udah agak lama. Sebetulnya udah lebih lama lagi perlu tas, tapi rasanya kok enggak terlalu penting ya punya tas kecil, sampe akhirnya ada kamera kecil yang mampir dikehidupan saya (halah). Nah, kalo lagi tugas kantor dan harus bawa kamera ini, repot kalo bawa tas gede, alhasil beli lah tas kecil untuk kamera. Awalnya tanya-tanya ke temen, kira-kira tas kaya apa yang muat buat kamera mirorless plus lensanya ini, ada yang kekecilan, ada yang kegedean, ada yang cukup juga. Nah, berbekal dari dimensi yang cukup inilah saya browsing lewat aplikasi belanja online shopee tas yang kira-kira bagus, unik, dan... entah kenapa saya lagi pengen beli yang produk dalam negeri. Setelah browsing sekian lama, munculah beberapa nama, salah satunya brand yang sepertinya baru berdiri 2015 lalu, namanya Marka Indonesia.

Namanya cukup menggelitik, 'Marka Indonesia' dan karena tergelitik saya mampir lah ke toko online mereka yang ada di Shopee itu. Produknya belum banyak, ada tas ransel, beberapa jenis tas kamera dan tas kecil. Nah, berbekal dimensi yang saya perlukan, saya menemukan dua tas yang sepertinya cocok, yaitu Mantera 1.0 dan Mantera 2.0 (ini nama jenis tasnya ya). Tadinya mau ambil yang 1.0, tapi kok dilihat-lihat yang 2.0 ini ada sekat, bisa buat memisahkan kamera dan benda-benda lain di tas (biar kameranya enggak lari-lari).

Dari tulisan penjualnya sih bagus (ya pasti lah di bagus2in) apa lagi kalo masalah bahan saya enggak ngerti nih bahan tas yang namanya apa seperti apa bentuknya. Dijanjikan produk yang bagus, saya masih ragu sih, jadi masih cari-cari yang lain. Sampai akhirnya konsul ke suhu fotografi yang jenis tas-nya sudah beragam yang websitenya lagi offline (kapan online mas?), lupa tepatnya dia bilang apa, tapi intinya, ya enggak apa-apa, coba aja gung, gitu lah kira-kira.

Seperempat nekat, akhirnya saya beli lah tasnya.

Exterior

Bentuknya kotak, udah gitu aja.



Ya pokoknya seperti yang terlihat lah, kalo dari atas kotak, kalo dari samping trapesium karena bagian belakangnya lebih tinggi sedikit dari bagian depanya, kalo dari depan dan belakang kotak. Dengan papan nama (atau merk atau apalah namanya) menyebutkan 'Marka Indonesia' di bagian kiri bawah tas (kalo dilihat dari depan), bentuknya terlihat simpel. Ada satu kantong depan tas bagian depan yang bisa di tutup dengan ritsleting, cocok untuk naro tiket pesawat, tiket kereta, tiket bus, dan tiket-tiket lainya (termasuk tiket tilang).

Di bagian belakang juga ada kantong kecil tanpa ritsleting, cocok untuk menyelipkan sementara. Saya pernah naro hp di sini, karena lupa ditaro di sini jadi panik sendiri dikira ilang :D Bisa juga buat naro potongan tiket yang sudah enggak kepake, atau kertas lain yang perlu disimpan sementara, misalnya KTP waktu pemeriksaan di pintu masuk peron kereta atau bandara atau lain-lain lah.



Ada 4 titik kait yang bisa dikaitkan ke tali tas, dua di atas dan dua di bawah. Kalo dikaitkan di atas, bisa kita pake di pundak, dipasang di seberang diagonalnya, tas bisa digunakan menyilang. Duh susah jelasinya, intinya ada empat pengaitlah, ntar kalo sempet diedit lagi deh.

Seperti yang saya jelasin diatas, saya enggak ngerti bahanya, tapi cukup kuat sih. Jadi ada kain bagian luar, busa, baru ada kain lagi bagian dalam. Sepertinya cukup untuk meredam guncangan-guncangan kecil. 

Interior

Interior tasnya bagus.


Di tutup tas bagian atasnya ada jaring-jaring untuk nyimpen, struk pembelian :D atau bisa juga buat nyimpen baterai kamera, atau apalah. Nyimpen pulpen juga bisa, tapi bisa njeblos kebawah karena sekatnya jaring-jaring.

Gratis penyekat untuk kamera dan semacam kantong lensa yang buat kamera mirrorless cukup sih, tapi kalo kamera besar sepertinya kurang. Kelihatanya kecil, tapi muatanya lumayan banyak kok. Sudah termasuk dompet, tempat kacamata, lensa telefoto, lensa lebar dan kamera, dan kawan-kawannya. Biasanya kalo berangkat kerja bagi masih muat untuk dimasukin kemeja (karena berangkat pake kaos), hardisk dan kabelnya serta chargeran (yang enggak ke foto).

Isinya dikeluarin

Kalo barang-barangnya dikeluarin semua, muat lho buat satu kamera NEX VG (Kaykanya 900), berikut dua baterai cadanganya. Dompet kalo enggak terlalu tebal masih bisa diselipin juga. Jadi simpel, tas selempang plus tripod sudah siap buat ngeliput acara nikahan.

Harga

Harganya 225 ribu di shopee, dan saya bukan resellernya jadi silahkan kunjungi situsnya di markaindonesia.com aja kalo mau tau lebih banyak. Kalo enggak salah sih waktu tulisan ini dibuat produknya sudah habis untuk yang Matera 2.0 ini.

Kesimpulan

Tas yang lumayan untuk menyimpan segala macam pernak pernik fotografer kelas plankton yang tidak terkenal seperti saya. Mudah-mudahan bisa membantu buat yang lagi lihat-lihat tas kamera.

Saya merekomendasikan tas ini untuk bepergian ringan dengan kamera kecil. 

Rabu, 04 Juli 2018

Tips Motoran Jauh

Setelah kemarin menempuh perjalanan panjang Mudik dan Balik dengan PCX, berikut saya berikan garis besar, kira-kira apa aja sih yang perlu diperhatikan kalo mau perjalanan jauh? Oh iya, perjalanan jauh ini buat yang enggak kuat biasanya pake nginep di hotel gitu karena merasa kejauhan, tapi buat saya, enggak lah. Enggak pake hotel kalo cuma jarak 12 jam-an mah :D Pengguna motor antara 100 - 250 cc pasti udah sering tidur 1 - 2 jam di pinggir jalan, terus lanjut lagi. Pengguna diatas 250, ya ngehotel palingan kalo capek xixixi...

Perlengkapan Pakaian

Jaket Respiro yang anti angin, tapi enggak anti air, cukup nyaman untuk riding harian, atau jarak jauh waktu udara puanas bianget. Ini cuma contoh, brand lain juga banyak kok.
Maksudnya yang kita pakai ketika dalam perjalanan. Kalo bisa, lihat juga perkiraan cuaca disepanjang jalur perjalanan, paling enggak di setiap kota yang dilewatin. Kalo ada kemungkinan hujan, jangan lupa bawa pakaian hujan-nya. Kalo enggak, ya jas Hujan bisa diselipin agak dalem di dalem tas, jadi kalo darurat masih bisa make, tapi kalo pun enggak kepake enggak banyak makan tempat karena dilipet rapih (sampe susah dikeluarin dari tas).

Pilih jaket yang sesuai. Kalo lagi musim panas, enggak pernah hujan, suhu sampe 37 derajat, baiknya pake jaket jangan yang terlalu tebel, enggak perlu waterproof, cukup yang windproof aja, atau yang ada sedikit sirkulasinya biar enggak terlalu kepanasan. Lihat jalur juga lewat google plus, kalo banyak macet, sirkulasi di jaket ini jadi penting, biar enggak kringetan kebanyakan yang bisa mengakibatkan dehidrasi.


Helm

Pilih helm yang enak. Kalo misalnya pas beli helm ada rasa keteken di bagian kepala tertentu (biasanya sih telinga) coba cari model lain. Masalahnya kalo cuma sebentar oke, kalo kelamaan ini lama-lama jadi beban buat badan karena harus nahan sakit yang makin lama makin kerasa, terutama dalam perjalanan jauh dan pemakaian helm yang sangat lama.

Ada tekanan sedikit di bagian kepala yang kurang nyaman sedikit bisa bikin seluruh perjalanan enggak nyaman lho. Ditambah lagi angin yang neken helm juga kan semakin kenceng kalo di jalan lebar, terutama di Pantura.

Tas Punggung

Kalo pake tas punggung, pastiin tasnya enak. Malahan kalo bisa di ulur aja itu yang nyantol ke pundak sampe tas punggungnya duduk di boncengan belakang. Jadi ibaratnya tali yang ke pundak itu cuma kaya nyantol biar enggak jatoh aja, biar jok belakang yang nahan bobot tasnya.

Kalo bisa tasnya yang ada sirkulasinya di bagian belakang (tempat ketemu sama punggung), biar bagian punggung enggak terlalu panas dan bikin gerah. Kalo bisa juga jangan terlalu berat, walau cuma digantungin di pundak, tetep aja semakin berat semakin terasa.

Earphone

Ada yang nyaranin pake earplug sih, karena suara angin diperjalanan itu cukup bikin capek juga. Ada yang bilang tekanan angin yang masuk ke helm dan neken telinga dan bikin suara angin itu juga neken bagian dalem telinga. Akibatnya kelamaan bisa bikin pusing. Makanya pake earplug.

Tapi karena saya enggak punya earplug, pake headset membantu kok. Sayangnya waktu perjalanan kemaren lupa enggak bawa headset atau earphone, jadi sedih deh di jalan wkwkwk..
Kebetulan saya pake ini, yg penting earphone/earset sih.

Dengan Earphone atau Earset juga memungkinkan kita komunikasi lho, ada aplikasinya di Google Play Store aplikasi komunikasi lewat bluetooth macem interkom gitu. Jadi kalo riding kelompok bisa ngobrol kalo misalnya, perlu isi bensin, berhenti sebentar atau sekedar ngobrol aja. Juga bisa dipake buat dengerin google maps ngoceh, terutama kalo lagi perjalanan mudik dan lewat kota yang agak besar, ini membantu. (Hampir nyasar di Semarang gara-gara enggak bisa denger si google)

Posisi Berkendara

Gunakan semua jenis posisi mengemudi. Kalo di PCX, kaki di selonjorin di depan, di tekuk agak racy, punggung dicondongin kedepan, punggung di kebelakangin, semua harus dipake bergantian biar badan enggak diam dalam waktu yang terlalu lama. Paling enggak dengan ganti posisi, kita bisa bikin otot yang bekerja menahan tubuh ini gantian nahanya. Secara ilmu enggak tau lah gimana, tapi secara praktek, pokoknya kalo cape sama satu posisi, coba ganti posisi lain. Geser bokong ke depan, geser bokong ke belakang, semua jenis posisi berkendara ini membantu lho. Kalo capek juga, bisa gantungin kaki ke bawah dilurusin (kalo enggak nabrak aspal)

Enggak perlu kaya gini sih. Sumber: motorplus.gridoto.com


Istirahat

Jangan lupa istirahat! Ini penting, karena kadang waktu motoran kita terlena dan kadang males istirahat. Seenggaknya 3 jam, tapi kalo saya 2 jam. Setiap dua jam sempetin istirahat 15 - 30 menit. Kalo lebih juga enggak apa-apa sih. Di waktu istirahat ini gunakan buat berdiri atau terlentang, kan kita udah kelamaan duduk, jadi ya berdiri atau terlentang jadi pilihan bagus buat mengganti suasana badan.

Lakukan peregangan dengan berjalan sebentar, tarik tangan keatas, atau gimana pun yang bikin otot-otot meregang lah. Setelah itu baru tiduran lurus (jangan lupa buka helm dulu). Dengan begitu beban badan enggak terlalu besar, jadi enggak terlalu capek banget pas sampe tujuan.

Selama istirahat ini jangan lupa minum air ya. Dehidrasi adalah musuh dari pengendara motor jarak jauh. Begitu sadar dehidrasi, biasanya sudah terlambat, jadi seenggaknya secara reguler minum air. Enggak harus air putih doank sih, yang ada warna-warnanya juga boleh (bukan cat ya). Yang ada nutrisinya juga bisa, pokoknya minum air secara reguler untuk menjaga cairan di dalam tubuh.

Bersihkan Visor

Bersihkan Visor atau kaca helm kalo mulai kotor. Jangan dibiarin aja. Kotoran yang nempel dalam perjalana ini terus nambah lho, jadi paling enggak setengah atau seperempat perjalanan harus bersihin helm. Bukan cuma helm, mika lampu utama juga harus dibersihin, terutama kalo kondisinya sedikit hujan. Kurangnya cahaya lampu depan ini karena pelan-pelan kadang enggak kerasa, tibat-tiba udah enggak terlalu terang aja.



Barang Bawaan

Bawa seperlunya

Nentuin ini kadang bingung, terutama kalo punya pikiran: lebih baik bawa tapi enggak butuh tapi butuh pas lagi enggak bawa... Kalo pake pikiran kaya gitu ya pasti jadi banyak yang dibawa kan. Jadi kita harus bener-bener milih, mana yang kira-kira enggak perlu banget enggak usah dibawa. Kalo kita iyain semua kita perluin, ya akhirnya kebanyakan lah yang kita bawa. Kebanyakan bawa barang juga nyusahin diperjalanan, kan? Menuhin tas, nambah beban kendaraan, ujung-ujungnya jadi cepet capek dan bahan bakar lebih boros (karena bawaan lebih berat)

Jangan cuma bawa yang diperluin

Nah, berlawanan sama yang diatas, ya... Maksudnya sih, kalo saking banyaknya yang enggak masuk di daftar bawaan, menyisakan pakaian ganti doank, ya itu keterlaluan. Jangan lupa bawa paling enggak kunci2, kalo di PCX kunci cadangan buat buka jok, obeng, kunci busi atau semua yang kita dapet dari toolkit gratisan itu. Paling enggak kalo ada baut kendor, kita bisa benerin sendiri tanpa harus nyari bengkel dulu kan. Spion kendor misalnya, juga bisa langsung dibenerin.

Tambahan lainya yang mungkin perlu, tang, senter, botol minum dan snek. Jangan lupa juga powerbank atau charger hp, biar kalo pas berhenti bisa sambil charge hp kan.

Bagasi dan tas tambahan

Karena PCX bagasinya gede, dimaksimalkan penggunaan bagasinya, misalnya bawa tas yang lemes, jadi enggak makan tempat. Masukin bagasi, teken-teken sampe ngikut bentuk bagasinya. Kalo enggak muat, ya apaboleh buat di gendong sisanya.

Kalo pake motor sport, maksimalkan tank bag dan tail bag, keduanya bisa mengurangi beban punggung. Kalo ada side bag atau saddle bag, ya boleh pake juga, asal jangan terlalu lebar biar enggak mengganggu pengguna jalan lain.


Oke, cukup sekian.

Jangan lupa follow twitter @awp-agni dan youtube agung prasetya agni 

Jumat, 29 Juni 2018

Penunjuk rerata konsumsi bahan bakar: kmpl atau l/100km

Ini tiba-tiba menggelitik ketika salah satu vloger kondang bilang, 'Kenapa harus l/100km sih, kenapa enggak dihilangkan saja ini, mendingan km/l aja.' dan saya langsung enggak setuju. Kenapa begitu? Saya mau coba ungkapkan uneg-uneg saya, susah gampangnya memakai dua satuan rerata konsumsi bahan bakar ini.

Km/l (Kilometer per liter)

Jarak dibagi volume bahan bakar, artinya jarak yang dapat ditempuh kendaraan dalam satu liter bahan bakar. Volume ini tentunya akan beda-beda setiap bahan bakar, ya, siapa tahu ada bahan bakar yang campuranya lebih bagus, jadi 1 liternya bisa lebih berat dari bahan bakar lain, dan penggunaanya bisa lebih irit (Makanya di F1 pakenya kg bukan liter).

Pendekatan satuan ini adalah jarak yang bisa ditempuh dalam 1 liter bahan bakar. Cara pengetesanya mudah, masukan satu liter bahan bakar, reset odometer, dan pakai kendaraan sampai bahan bakar tadi habis. Jadilah jarak yang ditempuh odometer adalah yang bisa ditempuh dengan 1 liter bahan bakar. Membayangkan keseluruhan jarak yang mungkin bisa ditempuh dalam kondisi tangki bahan bakar penuh tentunya mudah, misalnya saja kalau bahan bakar 10 liter, konsumsinya 40 km/liter artinya jarak yang bisa ditempuh adalah 400 km (kira-kira).
  • Keunggulanya? Tentunya lebih presisi. Misalnya 53,3 km/liter artinya dalam 2 liter kita bisa menempuh 106,6 km.
  • Kerugianya? Coba deh, tanpa kalkulator hitung bahan bakar yang sudah dikonsumsi kalo kasusnya misal konsumsi bbm 53,3 km/l jarak yang sudah ditempuh 100km, berapa bahan bakar yang sudah terpakai? Udah, ga usah dihitung, jawabanya 1,8761... dibuletin ya jadi 1,88.

L/100km (Liter per 100 kilometer)

Satuan ini jarang atau hampir enggak pernah digunakan di Indonesia, karena susah buat nyombong irit-iritan, hehe. Karena memang satuan ini pendekatanya menurut saya bukan buat irit-iritan atau boros-borosan, tapi memprediksi berapa banyak bahan bakar yang sudah terpakai. Karena liter taruh di depan dan dibagi dengan suatu konstanta jarak, maka dengan mudah kita bisa menghitung berapa liter kira-kira bahan bakar yang sudah terpakai.

Langsung ke keunggulan dan kerugianya aja ya:
  • Keunggulanya? Mudah menentukan bahan bakar yang sudah dikonsumsi. Misal kita pake contoh diatas, odometer menyentuh angka 100 sementara di rata-rata konsumsi bahan bakar tertulis 1,9, ya berarti kira-kira ditangki sudah habis 1,9 liter. Kalo tangki 6,6 berarti masih ada 4,7 liter lagi. Coba deh yang sedikit susah, misalnya kita sudah menempuh jarak 130 km, panel menunjukan 2,2 l/100km, bisa kita itung kalo bbm terpakai hampir 3,3 (saat 150km berarti sudah 3,3) Artinya saat 150 km nanti bbm di tangki tinggal 3,3 liter dan konsumsi saat ini, ya sekitar 3 literan dan di tangki masih ada sekitar 3,6 liter. Coba kalo pake km/l, yang ditunjukan 45,5 km/l odometer 130 km, artinya dihitungnya: 130 dibagi 45,5 (coba berapa kalo ga pake kalkulator) jawabanya sih 2,857 atau dibulatin jadi 2,9 tapi ini pake kalkulator ngitungnya.
  • Kerugianya? Ya enggak terlalu presisi hitunganya, tapi paling enggak kita tahu kira-kira konsumsinya sudah berapa liter.
Begitulah menurut saya kenapa km/l enggak lebih baik dari l/100km dan sebaliknya. Dua-duanya punya keunggulan masing-masing. Kalo saya, kalo mau nyombong pakenya km/l, biar kelihatanya jaraknya jauuh gitu tiap liternya. Kalo lagi di jalan pakenya l/100km, buat ngira-ngira udah habis berapa ini di tangki.

Maaf ya ga ada gambar, takut keburu menguap ini idenya. :D

PCX 150 kembali ke Indramayu dari Kebumen

Sampe di Karanggedang, Kebumen, muter-muter silaturahmi, istirahat, dan besok paginya langsung pulang ke Indramayu. Dari sekian banyak perjalanan sebelumnya, perjalanan ini yang paling asik. Enggak ada batas waktu, karena memang sengaja pengen waktu istirahat setelah sampe-nya agak panjang, jadi bisa agak santai di jalan. Santai itu hatinya, tapi karena jalanan longgar dan cukup lebar, ya tetep aja kita deketin sama topspeed yang kemarin, hehe. Mendekati ya, tapi enggak menyentuh, karena menyentuh topspeed enggak semudah di... ah, nyebut brand sebelah yang udah dijual ke adek lagi deh wkwkwk...


Jalanya cukup menantang, ada beberapa tempat yang berkelok-kelok terutama setelah Ajibarang. Ada satu tempat yang biasanya macet, kalo enggak salah sih deket stasiun kretek, sekarang udah pake lintas terbang alias flyover, jadi simpangan dengan rel kereta ini udah enggak bikin macet... Tapi malah tempat lain yang bikin macet, hahaha. Biasa lah, habis lebaran banyak yang wisata.

Beberapa pembangunan infrastruktur masih menghambat perjalanan, di jalur yang saya tempuh, ya apa boleh buat sih, jalanya sempit, cuma ada jalan ini yang bisa dipakai dari selatan menuju utara atau. Ditambah ada beberapa objek wisata yang kadang parkirnya kelebihan muatan, jadi memakan fungsi jalan.

Untuk arus mudik ataupun balik, saya enggak punya saran untuk pemerintah. Yang ada sudah maksimal, mungkin perlu inovasi pembangunan jalan dan infrastruktur untuk mendukung jalan terutama untuk mudik dan baliik lebaran, tapi saya enggak ada ide.

Oke, karena impresi PCX sudah dibahas di artikel awal jadi sekarang cerita tentang perjalananya aja, ya. Total jarak tempuh perjalanan 7 jam 49 menit (kata google) dengan jarak tempuh 307 km. Diawali dengan jalan yang agak lengang yang macet disetiap pertemuan dengan kota ataupun perempatan dengan lampu merah. Sepanjang jalur selatan sampai setelah kebasen (kata google alfamart klapagading), banyak sekali perempatan, pasar dan semacam pusat kota kecil. Ada ruas lengang sih beberapa kali, termasuk tempat yang banyak jual cendolnya (mau mampir tapi kok enggak mood ya). Mungkin nanti kalo bareng keluarga pengen mampir ke sini...

Akhirnya berhenti di Alfamart setelah 2 jam lebih bermotor. Beli cemilan dan lanjut jalan lagi sampe di sebuah mesjid namanya mesjid Baitur Rossad, dan mengistirahatkan diri di sini. Ketemu pemudik lain di sini, termasuk yang pakai mobil dan motor. Ini kok pemudik mobil juga ikutan pada tiduran ya, mobilnya enggak nyaman kali ya...

Setelah beberapa saat, lanjut lagi, menurut google jam 11.18 melanjutkan perjalanan. Kali ini perjalanan dihadapkan dengan jalan berkelok, beberapa titik macet yang termasuk macet ghaib, karena enggak tau apa penyebabnya. Overall, pemandanganya oke, enggak se oke kalo lewat sempor sih, tapi sudah cukup untuk ukuran jalan utama.

Menikmati pemandangan dari Ajibarang sampai Songgom, saking asiknya, sampe keterusan malah naik flyover kearah tegal. Waktu naik enggak sadar, pas udah turun baru ngeh, lho kok ini belok ke kanan ya, harusnya kan kiri. Baru sampe bawah flyover, lihat peta dan bener aja, kelewatan beloknya. Akhrnya ya balik lagi.

Setelah balik lagi, baru deh ketemu jalan pinggir kali, entah ini daerah apa namanya. Ada yang bilang brebes, tapi saya lebih suka nyebut pinggir kali. Daerah ini dulu sering lihat banyak batu bata di tumpuk untuk dikeringkan dan dibakar, tapi entah kenapa sekarang kok enggak lihat lagi ya. Apa mungkin sudah enggak ada yang bikin bata lagi, atau mereka sudah pake teknik lain yang enggak memerlukan di jemur.

Karena pemandangan tepi sungai tidak terlalu menarik, saya tarik tuas gas sampai akhirnya capek dan sudah masuk waktu zuhur. Berhenti di Indomaret buat istirahat, makan siang, dan solat. Pokoknya indomaret yang deket sama mesjid dan ada di daerah pinggir kali ini lah pokoknya. Waktu istirahta, lihat peta, lho kok sebentar lagi udah keluar nih, masuk pantura, Cirebon, kemudian Indramayu. Baru jam 2 sudah sampe sini ini, pasti bisa cepet sampe nih (tapi kemudian ngeh kalo ini harusnya sekitar 3-4 jam lagi)


Sempet istirahat satu kali lagi waktu di jalan pinggir pantai, dan lagi-lagi menyesal enggak banyak ambil gambar. Mungkin lain kali. Mudik lain kali coba banyak ambil gambar, menikmati perjalanan dari pada memburu waktu. Karena mudik kemaren tanpa ambil cuti tambahan, full cuti dipaksa, jadi ya sempit banget waktu setelah lebaranya.

Rabu, 27 Juni 2018

PCX150 - Balik Bareng GSXR150 dan CB150R


Sampai di prambanan pukul 10 malem itu enggak langsung tidur, baru bisa tidur jam 11 an, dan paginya tepatnya jam 8.35 langsung berangkat ke Kebumen bareng 2 adik yang keduanya pake DOHC Overbore 150 cc yang satu pake sendalpot resing satunya masih ori, tapi yang ori ini real racing machine yang dulu saya pake :D

Rute-nya, dari rumah embah yang di prambanan masuk ke Yogyakarta lewat lingkar utara. Waktu itu kondisi jalan ramai lancar. Di sini, saya dengan PCX masih bisa lah bergantian di depan sama duo sport itu. Akselerasi awal bisa dibilang cukup baik sampai 60km/jam. sampai 80 lumayan, diatas itu, ya nasibnya SOHC 2 klep dengan CVT di setel irit ya begitulah. Untungnya masih banyak macet, masih ada lampu merah yang membendung topspeed dua anak muda ini.


Waktu itu jalanan ramai lancar disertai kemacetan di beberapa tempat karena persimpangan jalan, terutama lampu merah. Kepadatan kendaraan plus lampu merah pastinya bikin jalan jadi merayap. Buat roda empat pasti sangat menyiksa, tapi buat roda dua enggak terlalu. Mudik kali ini sangat ramah terutama buat kami pengendara roda dua.


Perjalananya juga cukup cepet, cukup 1 kali istirahat buat isi bensin (mungkin bisa enggak pake istirahat juga).

Setelah perjalanan berkelok-kelok sedikit, sampailah kita di jalan lurus terus yang sekarang sudah rapih tanpa lubang, jalan yang sering disebut jalan Deandels. Yup, untuk topspeed langsung lah ketinggalan, tapi untuk akselerasi, juga ketinggalan lah sama GSXR150, tapi sama CB masih bisa lah sedikit, mungkin skill ridernya juga yang kurang ini, soalnya doi sering ganti gigi di RPM rendah, padahal kan itu motor overbore DOHC.

Mengeksplore kecepetan adalah bukan hal yang enak untuk PCX150. Mentok di 110 km/jam karena angin dan bobot pengendara dan barang bawaanya, jadi rasanya malah cenderung ke membosankan daripada terpicu adrenalinya. Mungkin saya harus diet biar bisa sampai 120 pada speedometer.

Jalan lurus tak berujung ini bukan tanpa macet, ternyata ada beberapa tempat yang membuat kendaraan terhambat, entah hanya perempatan, atau semacam tempat beli oleh-oleh yang pengunjungnya banyak yang parkir sembarangan. Alhasil, walau kecepetan tinggi bisa diperoleh, tetep aja sampenya 3 jam lebih.



Jalan kearah utara dari jalan lurus ini juga ada rusak di beberapa tempat, terutama jalan Petanahan-Karanganyar. Memang bukan jalan utama sih, jadinya mungkin memang kurang diperhatikan. Harus melambat biar bokong enggak dibuat menghantam jok keras PCX. Bahkan jalan yang kelihatanya rata pun ternyata bergelombang. Entah sampai kapan jalan ini akan terus seperti itu tidak diperbaiki. Tapi ya sudah lah, saya make setahun sekali dari tahun kemarin masih begini aja sih.

Setelah sampe, istirahat sebentar, kemudian ada acara silaturahmi ke beberapa tempat. Karena kecapekan jadi numpang mobilnya om Toto bareng anak-anak kecil (ini rasanya kaya mobil jemputan sekolah gitu yang bawa anak-anak banyak banget)

Begitulah petualangan hari kedua lebaran. Satu lagi di hari ketiga, lanjut nanti lagi ya. Jaaa...

Kunjungi Postingan Lainya