Minggu, 29 April 2018

Drama F1 di Azerbaijan

Karena ada yang enggak nonton, jadi akhirnya kepikiran buat nulis jalanya balapan kamarin malem. Oke, langsung aja, gini nih jalanya balapan.
Lap 1: Vettel start dengan baik, disusul Hamilton terus di belakangnya Bottas. Duo Redbull di belakang Bottas, Ricciardo dan Verstapen. Kontak (lupa siapa sama siapa), serpihan puing dimana-mana. Tikungan tiga, Raikonen di sisi dalam, Ocon sisi luar, baru setengah bodi, Ocon masuk ke dalem menyambut tikungan, 'Brak' Ocon kelempar ke tembok, sayap bagian depan Raikonen rada somplak bagian kisi-kisinya, safety car keluar.
Lap 2: Raikkonen masuk pit, ganti wing. Vettel memimpin, Hamilton kedua, kemudian Bottas, Ricciardo, Verstappen, Sainz, Stroll, Perez, Hulkenberg kemudian Gasly. Alonso masuk pit, ganti ban dan sayap depan karena ban bocor.
Lap 3 masih ada safety car.
Lap 4 masih safety car (Pada mungutin puing yang jaga trek)
Lap 5 Vettel ngeluh banyak puing di trek. Ricciardo masih OK pake supersoft.
Lap 6 Race mulai lagi, Vettel masih di depan Hamilton kedua, Bottas ketiga. Verstappen senggolan sama rekan setim di belokan ke-2. Sainz nyalip Ricciardo dan langsung merangsek ndeketin Verstappen, tapi gagal. Sementara Ricciardo langsung jadi targetnya Gasly dengan Hulkenberg urutan 8 di belakangnya.
Lap 7 Raikkonen urutan 11
Lap 8 Sainz lagi-lagi nantangin Verstappen, tapi enggak bisa lewat. Hulkenberg berhasil nyalip Gasly (tapi lupa gimana ya)
Lap 9 Sainz akhirnya berhasil nyalip Verstapen. Saat ini Vettel, Hamilton, Bottas, Sainz, Verstappen, Hulkenberg, Ricciardo, Stroll, Lecrec, terakhir Raikonen. Hulkenberg dikasih tau Verstappen baterainya habis (ga tau deh ini kok tau)
Lap 10 Hulkenberg berhasil nyalip Verstapen jadi urutan 5. Dibelakang Verstappen (deket-deketan) Ricciardo, Stroll, Lecrec dan Raikkonen.
Lap 11 Ricciardo mulai attack Verstappen, tapi gagal. Hulkenberg banya bocor Kalo ga salah karena nyerempet tembok.
Lap 12 Ricciardo dan Verstappen lagi-lagi bikin drama, tapi Verstappen masih di depan.
Lap 13 - 14 Vettel memimpin 3,5 detik di depan Hamilton. Lap 13 Ricciardo nanya gimana caranya ngecharge baterai, lap 14 dikasih tau kalo baterainya udah penuh tapi habis waktu stright...
Lap 15 Raikkonen nglewatin Stroll jadi urutan ke 8 di depanya sekarang Leclerc.
Lap 16 Sainz masuk pit dari posisi 4, Verstappen naik. (Sainz ganti Soft). Saat ini Vettel memimpin diikuti Hamilton, Bottas, Verstappen, Ricciardo.
Lap 17 Raikkonen ambil alih posisi Leclerc, jadi urutan 6. Vettel kelihatan nyaman di depan dan sekarang memimpin 4,6 detik di depan.
Lap 18 Zona DRS 1 enggak otomatis, manual override diperbolehkan.
Lap 19 Hamilton Fastest lap gap berkurang jadi 4,2 detik.
Lap 20 Ericsson pinalti 10 detik lupa kenapa.
Lap 21 Hamilton fastest lap
Lap 22 Hamilton kepeleset, melebar jauh di tikungan. "These tyres are done" katanya.
Lap 23 Hamilton pit, ganti ban soft, keluar di depan Verstappen yang ada di posisi 3.
Lap 24 Perez dapet pinalty 5 detik gara-gara overtaking sebelum safety car line saat mulai restart balapan.
Lap 25-26 Vettel di depan Bottas 11,6 detik
Lap 27 Ricciardo overtake Verstappen, tapi doi langsung menggila dan ambil alih lagi. Ricciardo fastest lap.
Lap 28-29 Bottas mendekat, sudah tinggal 9,9 detik lagi. Grosjean posisi 8 ngejar perez yang cuma terpaut 0,9 detik.
Lap 30 Vettel sama Bottas masih belum masuk pitstop (sampe kapan coba). Raikkonen bilang banya lock mulu.
Lap 31 Vettel pit duluan, ganti ban soft cuma 2,3 detik. Bottas memimpin. Vettel keluar didepan Hamilton, seems good.
Lap 32 Sementara 10 besar Bottas, Vettel, Hamilton, Verstappen, Ricciardo, Raikkonen, Peres, Grosjean, Sainz.
Lap 33 belum ada perubahan.
Lap 34 Bottas masih memimpin.
Lap 35 Ricciardo kembali menyerang dan mengambil alih posisi Verstapen.
Lap 36 Ricciardo memimpin 1 detik di depan rekan setimnya.
Lap 37 - 38 Ricciardo ganti ban setelah overtake Gasly, sekarang pake Ultrasoft, siap tempur nih kayaknya. Ini gayanya macam pengendara metik yang nyalip kanan terus tiba-tiba langsung ke kiri gak pake sen. Rici keluar di posisi 5 di depan Raikkonen
Lap 39 giliran Verstappen yang masuk pit, pake ultrasoft juga, dan keluar di depan Ricciardo.
Lap 40 Ricciardo nyoba nyalip Verstapen setelah stright. Ricciardo late breaking, sementara Verstappen macem anak muda ugal2an, kiri-kanan-kiri-kanan, Bruk! Ricciardo nabrak Verstappen dan bendera kuning. Safety car keluar.
Lap 41 safety car keluar dan akan lewat pitlane sementara puing-puing di trek di bersihin. Raikkonen ganti ban, Bottas memimpin.
Lap 42 masih di belakang safety car, Bottas memimpin diikuti Vettel, hamilton, Raikkonen, Perez, Grosjean, Sainz, Leclerc, Stroll dan Alonso di 10 besar.
Lap 43 Grosjean nabrak tembok gegara manasin ban.
Lap 44 safety car lanjut, Grosjean gpp.
Lap 45-47 masih nyapuin puing. Mobilnya Grosjean diangkut truk, masih safety car Lap 47 race mulai lagi.
Lap 48 Bottas memimpin, hamilton mengejar Vettel. Vettel nyoba late brake mendahului Bottas, Vettel lock, tapi berhasil recovery, langsung turun di posisi 4. Mercedes 1-2 di depan.
Lap 49 Duar! Ban Bottas meledak kena puing di straight dan melambat. Hamilton meimpin. Perez tiba-tiba nyalip Vettel jadi posisi ke 3 (alah, ini kenapa lagi Vettel sampe bisa didahului Perez.
50-51 Hamilton memimpin Raikkonen kedua, Perez ketiga. sampe akhir lap enggak ada perubahan.
Akhirnya posisinya Hamilton, Raikkonen, Perez, Vettel, Sainz, Leclerc, Alonso, Stroll, Vandoorne, Hartley, Ericsson, Gasly, Magnussen. Sisanya, DNF

PCX Hybrid, Kurang Hybrid

Wah, ternyata artikel enggak terbit-terbit, jadi udah banyak yang ngulas PCX Hybrid nih. Jadi sekarang harus ganti judul T_T... Dikenalkan di ajang IIMS, PCX disebut sebagai motor hybrid pertama di dunia. beneran? Enggak lah, kita lihat dulu definisi teknologi hybrid dan kita lihat tingkatan teknologi hybrid ini, dan kita sebut mana saja yang sudah hybrid. Saya mau sedikit bahas dulu tentang teknologi hybrid, soalnya ada yang takut kalo pake teknologi hybrid perawatanya jadi makin sulit...

Hybrid

Teknologi hybrid pada dasarnya adalah penggunaan motor listrik untuk meningkatkan baik performa maupun efisiensi dari sebuah kendaraan, baik motor atau mobil. Efisiensinya dari mana saja?
  • Energi terbuang karena mesin langsam atau idle. Di mesin bensin tidak memungkinkan mesinya mati total dan bisa dimulai lagi tanpa bantuan motor listrik atau starter. Jadi dengan menggunakan mesin listrik atau motor starter, kita bisa meningkatkan efisiensi dengan mematikan mesin saat berhenti, baik itu setelah 3 detik, 5 detik, atau tergantung bagiamana pabrikan mendesain sistem hybrid mereka.
  • Fungsi starter yang sekaligus menjadi generator dapat mengubah energi kinetik menjadi listrik dan disimpan dalam baterai. Energi ini diambil hanya jika tuas rem di tarik menggunakan sebuah alogritma (komputer yang menentukan kapan regenerative breaking bekerja, kapan pengereman mekanik bekerja)
  • Energi slip kopling dapat diminalisir atau bahkan dihilangkan kalau akselerasi awal hanya menggunakan mesin listrik saja. Artinya, bisa lebih irit lagi.
Selain efisien apa lagi? Performa.
  • Performa tentu meningkat dengan torsi mesin listrik yang sudah tinggi dari rpm 0, tentunya akan menambah tarikan awal. 
  • Power juga akan meningkat donk, tapi ini tergantung performa mesin bensinya juga. Jadi kalo misal mesin listriknya satu poros atau terintegrasi dengan mesin bensin, power tertinggi dari mesin listrik belum tentu ada di power tertinggi mesin bensin. Misal power mesin listrik pada 3000 rpm dengan power 1kw, sementara power mesin bensin 10kw pada 8000 rpm, maka total power maksimalnya enggak 11kw. tetep 10kw. :D tapi kurva-nya lebih tajam di bawah terutama sampai RPM 3000 (termasuk torsinya ya)
Apa semua hybrid seperti deskripsi di atas? Belum tentu lah, sangat tergantung tingkatan hybridnya.

Tingkatan Hybrid

Ada 4 tingkatan hybrid, dari yang paling kecil sampai yang paling besar adalah plugin hybrid. Paling rendah kendaraan hybrid hanya menggunakan mesin listriknya untuk memutar kembali mesin saat berhenti di lampu merah atau lebih dari beberapa waktu. Paling tingginya, kalo jarak dekat bisa pakai listrik terus dan di isi menggunakan pengisian listrik untuk kendaraan, biasa disebut plugin hybrid.


Micro Hybrid

Adalah tingkat hybrid paling rendah, yaitu menghemat bahan bakar dengan mematikan mesin bensin saat berhenti dalam waktu yang lama. Dengan demikian akan lebih hemat kan, enggak ada bensin yang kebuang saat idling. Di motor Honda namanya Idling Stop System, atau Smart Start Stop kalo di Yamaha. Keunggulan mesin dengan micro hybrid, ya itu tadi, tidak ada bahan bakar yang terbuang saat mesin enggak ngapa-ngapain.

Mini Hybrid

Sebetulnya ada juga artikel (yang bukan wikipedia) menyebutkan kalau micro hybrid itu sudah mengekstrak energi pengereman ke baterai. Yang hanya menggunakan start-stop saja masuk ke mini hybrid. Tapi saya merujuk artikelnya ke wikipedia, jadi mengesampingkan kelas mini hybrid ini. (Mini bukanya harusnya lebih besar dari micro ya?)

Mild Hybrid

Lebih canggih dari Micro Hybrid, Mild hybrid selain idling stop juga mengambil energi saat mengurangi kecepatan atau yang biasa disebut dengan regenerative breaking. Nah, sepertinya ini yang nanti akan digunakan PCX Hybrid ini. Dengan menyimpan energi dari hasil pengereman, energi ini dapat digunakan saat melakukan akselerasi atau saat ingin mencapai kecepatan paling tinggi. Tentu saja idling stop atau start stop tetap akan digunakan dalam tingkatan hybrid yang ini.

Full Hybrid

Dapat menggunakan motor listrik sepenuhnya untuk bergerak tanpa bantuan mesin bensin. Mesin bensin akan menyala hanya jika daya baterai pada titik tertentu atau ketika menjelajah pada kecepatan tinggi dan dirasa mesin listrik sudah tidak lagi efisien dibanding mesin bensin. Dengan full hybrid, kondisi macet tentunya mesin listrik yang akan bekerja, karena mesin listrik bekerja sangat baik pada kondisi ini. Saat berakselerasi, kedua mesin akan bekerja sama untuk mendapatkan daya dan torsi maksimal. Ketika kecepatan sudah tidak bertambah atau dalam mode jelajah, mesin listrik akan berhenti membantu mesin bensin dan membiarkan mesin bensin yang menjaga kecepatan. Dengan begitu, performa lebih baik, efisiensi bahan bakar juga tentunya akan lebih tinggi karena memaksimalkan keuntungan kedua jenis mesin ini.
Tingkat hybrid ini juga memungkinkan mode charge depleting, atau hanya menggunakan mesin listrik saja sampai batas terendah daya listrik, baru menggunakan mesin bensin.

Plugin Hybrid

Adalah tingkat paling tinggi dari teknologi mesin hybrid. Dengan plugin hybrid, baterai dapat diisi ulang seperti layaknya kendaraan listrik, tapi tanpa diisi ulang juga tetap dapat digunakan layaknya kendaraan Full Hybrid. Keunggulanya, ketika kita menembus kemacetan dalam kota, kita bisa saja pakai elektriknya saja dan setiap sampai rumah atau sampai kantor di isi daya baterainya. Kalau ingin jarak jauh, baru gunakan mesin bensin layaknya sistem full hybrid. Intinya plugin hybrid ini memberikan kenyamanan perpaduan kendaraan listrik dan bensin.

PCX Hybrid

Mild Hybrid

Terus gimana dengan PCX Hybrid? Saya menduga yang digunakan adalah Mild Hybrid dengan tujuan utama meningkatkan performa. Saya menduga peningkatan performanya jauh terasa dibandingkan peningkatan efisiensi bahan bakarnya.
Mild Hybrid pada PCX saya lihat paling mudah penerapanya pada PCX, terutama karena sebelumnya PCX ini memang sudah Micro Hybrid. Tinggal ganti ACG-starter dengan MGU dan tambah daya baterai saja. Untuk mengendalikan torsi dan power dari mesin listriknya, tinggal tambah sensor throttle saja yang akan menyampaikan ke mesin listrik seberapa besar energi yang dikeluarkan atua daya yang digunakan untuk menggerakan roda belakang. Yang lainya tidak perlu ada yang dirubah.
Dari beberapa artikel yang saya baca, Honda PCX dibekali dengan baterai lithium 0,2 kwh dan motor listrik 1,4 kW pada 3000 rpm dan torsi 4,3 Nm pada rpm yang sama. Artinya ada tambahan 4,3 Nm sampai 3000 rpm, itu gede lho. Pada layar instrumen juga terlihat ada indikator baterai dan indikator charge/assist, artinya hanya ada charge pada saat mengurangi kecepatan dan assist pada saat akselerasi dan tidak ada mode charge depleting.

Kesimpulan

Dengan meningkatkan PCX dari Micro Hybrid ke Mild Hybrid tentunya akan meningkatkan performa PCX dibanding kompetitor. Dengan selisih harga mencapai 10 juta dengan PCX reguler, tentu juga jadi bahan pertimbangan. Tadinya saya pikir PCX akan mengelurkan versi Full Hybridnya, tapi sepertinya belum. 10 juta untuk mesin listrik yang lebih besar dan 0,2 kwh baterai? Saya belum terlalu tertarik sih.
Sebagai pertimbangan, harga baterai kendaraan listrik saat ini sekitar 250-300an dolar per kwh, artinya untuk baterai 0,2 kwh yang kalau dihitung saya dapatkan harga sekitar 900an ribuan atau kalo kita masukan biaya jadi 2 kali lipat sekitar 2 jutaan. Motor listrik sebesar 1,4 kw nah saya enggak tahu nih harganya, tapi kayaknya bisa lah selisihnya 5 jt aja dari yg ABS, di 38an gitu.
Kalo mau Full hybrid, Honda perlu desain satu kopling lagi antara mesin listrik dengan mesin bensin, jadi mesin listrik bisa berputar tanpa memutar mesin bensin. Nah, klo udah Full hybrid, harga di 40an juta lebih dikit, masih setuju lah.

Kamis, 12 April 2018

Memilih Spesifikasi Ban Motor yang Sesuai

Biasanya di forum motor, selain oli, pasti ada yang tanya, ban apa yang cocok buat motor anu atau motor ini? Karena motor ada banyak, saya ambil contohnya PCX saya ya, untuk yang lain bisa menyesuaikan. Gimana caranya memilih spesifikasi ban yang sesuai? Sebetulnya yang pertama samain aja sama spesifikasi awal banya yg kedua di pas-pas in deh (trial and error) kira-kira kalo digedein nyangkut enggak ban nya di swingarm, rantai, atau perangkat lain yang memeluk ban. Nah, walaupun mau pake ban yang sama, biasanya masih bingung juga, gimana sih spesifikasinya? Caranya lihat kode ban-nya. Ada apa aja kode ban motor? Mari kita bahas.
Di ban sepeda motor biasanya ada beberapa kode yang terlihat misalnya 120/80 Z R 17 62S Sayangnya enggak ada standar, apa aja yang ditampilkan dan ditampilkan kodenya seperti apa (yg mana duluan) tapi secara garis besar seperti ini:
  • Dimensi Ban
    • 3 digit angka pertama menunjukan lebar paling luar dari ban dalam milimeter. Kalo tulisanya 120 ya berarti lebar ban-nya 120 mm atau 12 cm. Kalo 130 ya 13cm kalo 150 ya 15cm dan seterusnya.
    • Digit pertama diikuti dengan tanda / (biasa dibaca per) kemudian angka 2-3 digit yaitu rasio tinggi ban dengan lebarnya. Misalnya tulisan 120/80 artinya ban tersebut punya lebar 12 cm dengan tinggi 80% dari 12cm yaitu 9,6 cm.
    • Nah, kalo udah tau kan bisa beli ban yang misalnya masih bisa lebih lebar tapi enggak pengen lebih tinggi. kalo ban awal 90/90 berarti tingginya 8,1 cm, bisa pakai ban 120/70 yang tingginya 8,4 cm, naik dikit sih, tapi enggak terlalu tinggi dibanding pake 120/80 kan? atau klo dirasa masih bisa lebih besar lagi bisa pake ukuran 140/60 artinya tingginya tetap 8,4 cm tapi sekarang lebarnya jadi 140... Wah, sudah terlihat gambot.
  • Berikutnya adalah angka opsional (kadang ada kadang enggak) yang menunjukan kerangka ban.
    • B untuk Bias, artinya bagian dinding dan bagian tapaknya punya material yang sama (terjemahan dari wikipedia hahaha, belum ngerti tentang thread ban sebenernya)
    • D untuk diagonal
    • dan R untuk Radial
    • Kalau tidak ada berarti cross ply. Untuk yang ini, kayaknya bisa saya jadikan artikel lain biar yang ini enggak terlalu panjang.
  • Setelahnya biasanya dua digit angka menunjukan diameter bagian dalam ban yang biasnya disesuaikan dengan diameter rim atau velg. Biasanya tulisanya 12 untuk velg 12 in, 13 untuk 13 inci, 14 untuk 14 inci dan seterusnya.
  • Dua digit nomor berikutnya adalah indeks bobot yang mampu di emban si karet bundar. Dua digit ini adlaah kode, jadi ada terjemahanya. Kalo tulisanya 22 bukan berarti 22 kg bobot maksimumnya ya, tapi 85 kg.
    Load Index atau Index Beban ban sepeda motor
  • Yang terakhir 1 atau 2 digit adalah speed rating. Jadi enggak semua ban bisa dipake buat ngebut ternyata. Menggunakan ban dengan speed rating rendah pada kecepatan tinggi, bisa membahayakan nyawa pengendaranya. Berikut tabelnya di bawah.
    Tabel Speed rating
  • Ada satu kode lagi, kode tahun dan minggu pembuatan, biasanya terdiri dari 4 digit angka memuat 2 digit di depan menunjukan jumlah minggu sementara 2 digit di belakang adalah tahun. Jadi kalo ada tulisnaya 0618 Artinya dibuat pada minggu ke enam tahun 2018, atau sekitar minggu pertama atau kedua bulan Februari tahun 2018. 
Ambil gambar dari Otorider.com, tapi enggak tahu ban apa.
Nah, ini contoh bannya, jadi kita bisa tahu seperti ini:
  • 90/90 Artinya lebar ban dari sisi ke sisi adalah 9 cm, sementara tingginya adalah 90% dari 9 cm yaitu 8,1 cm.
  • Angka 14 menunjukan diameter velg yang bisa diterapkan pada ban tersebut.
  • M/C katanya ini tanda bahwa ini ban motor, tapi saya enggak dapet penjelasan lebih lanjut tentang ini.
  • 46P ini 46 merujuk pada tabel index beban di atas, berarti mampu menopang 146kg bobot, sementara P merujuk pada indeks kecepatan, artinya bisa digunakan untuk kecepatan maksimal 150 km/jam. Ini maksimal ya, klo mau dipake di 80km/jam aja ya gpp. Apa lagi klo topspeed misalnya cuma 115, ya aman berarti :D
Nah, untuk ban PCX seperti apa ya? ... Nanti klo udah ada fotonya saya tambahin lagi artikelnya :D

Jalan-jalan ke Hutan Pinus Mangunan

Jadi pada suatu ketika ada kesempatan jalan-jalan ke mangunan. Diawali dengan kunjungan ke rumah Mbah di Prambanan, terus di ajak jalan-jalan sama Bapak-Ibu ke Hutan Pinus mangunan. Jarak Hutan Pinus Mangunan dari kota Jogja ini sekitar 23-25 km, tergantung jalurnya. Kalo dari Candi Prambanan, Jaraknya sekitar 27 km, atau sekitar satu jam perjalanan kalau tidak macet, ya kalo biasanya sih enggak macet, klo libur ya beda lagi. Lokasi tepatnya ada di bawah sini nih
Apa sih daya tarik hutan pinus mangunan ini? Setelah dateng, baru tau kalo ini semacam wisata fotografi. Intinya, objek wisata yang sudah indah ini diperindah lagi sehingga menjadi 'wisata-able.' Beberapa tempat dimanipulasi biar enak di foto, sebagian ditambahi bunga-bunga, lalu ada semacam tempat di atas pohon untuk berpose... Yang sebetulnya saya pikir ini agak mengerikan ya, bisa jadi pembuatnya 'kira-kira' aja biar kuat gimana bikinya.
Di hampir setiap spot foto yang sengaja dibangun (tidak alami) ditempatkan semacam kotak sumbangan dengan tulisan 'seiklasnya' kalo enggak salah inget. Di beberapa tempat juga ada semacam 'live demosntration' pembuatan tempat berpose ini (dibuat langsung saat pengunjung ad adisekitarnya).
Secara umum, tentu aja ini tempat yang sangat bagus untuk berfoto. Jalan santai bareng keluarga sambil menikmati segarnya udara Mangunan, ini luar biasa. Bunga-bunga yang bermekaran di desain agar indah dilihat dipadukan dengan latar belakang hamparan hutan luas.
Sayang saya enggak bawa EOS M10, jadi mengandalkan dual kamera dari Mi A1. Bokeh diciptakan dengan memadukan dua lensa kamera Android 1 besutan Xiaomi ini. Satu lensa merekam gambar blur dan kamera lain merekam gambar fokus, mencitapakan kombinasi Bokeh yang 'hampir' alami, tapi tetap keren.
Apa aja yang tersedia di Hutan Pinus Mangunan?

  • Tempat parkir yang... berantakan sih, tapi ada juru parkirnya. Juru parkir cukup baik mengarahkan pengemudi, jadi bagi yang jarang parkir mobil, saya rasa masih bisa parkir dengan baik di sini.
  • Tempat Jajan di sekitar parkiran, walaupun agak mahal, tapi cukup lah untuk sebuah objek wisata yang jauh dari pusat kota. Tempat jajanan ini adanya di luar objek wisatanya, jadi kalo mau makan dulu diluar, ya. Setelah makan baru jelajah Hutan Pinus-nya.
  • Toilet, tersedia tapi saya enggak sempet nyobain.
  • Tempat foto yang melimpah tentunya. Spot-spot bagus menyebar di sekitar tempat wisata, jadi pinter-pinter pengunjungnya mau ambil gambar di sebelah mana.
Kesan saya, menyesal! Menyesal saya enggak bawa M10-nya. Pengen kesana lagi jadinya. Waktunya juga kurang lama, keburu capek. Lain waktu harus siapkan fisik dulu biar bugar dan bisa jalan-jalan lama di sana. Saya belum sempat nyobain sampe ke pelosok sudut Hutan Pinus Mangunan-nya, tapi setidaknya sudah 'pernah' ke sana dan ambil beberapa sampel foto bersama keluarga.

愛子
麗奈 Sebetulnya klo yg ini enggak ada kanjinya... :D


Cucu, buyut dan embah
Enggak siap jalan-jalan, pake sendal.

Ayunan di Hutan Pinus Mangunan. Talinya kena efek dual kamera T_T
Ibu dan anaknya


Kamis, 05 April 2018

Spesifikasi Oli Mesin

Kalo masuk grup facebook motor baru tuh pasti ada aja yang nanya, oli apa sih yang cocok? Terus ada yg jawab oli ini aja nih, pake ini ngacir, mesin alus dll dst dsb. Tapi belakangan banyak juga yang bilang 'baca manualnya,' dan ini menandakan minat baca sudah membaik :D Jadi, gimana kita mencari spesifikasi oli mesin yang sesuai? Pertama-tama cari di buku petunjuk bagian oli mesin, baru cari spesifikasinya. Nah, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, kebetulan sekalian mau bahas oli mesin PCX nih, jadi contoh kasusnya PCX 2018 aja ya.
Nah, langsung saya bahas ya, apa saja yang perlu diperhatikan dalam pemilihan oli mesin.
Dari situs www.machinerylubrication.com

SAE J300

SAE J300 atau biasanya disebut SAE saja di kemasan oli adalah standar kekentalan atau viskositas atau kerekatan oli. Semakin tinggi, artinya oli semakin kental dan semakin redah, oli semakin encer. Kenapa harus kental dan encer? Nah, saya bahas sedikit dibawah.
  • Semakin tinggi nilai SAE, molekul oli akan semakin sulit barlarian atau bahkan terurai atau menguap. Kemungkinan mendinginkan mesin juga tentunya semakin tinggi, karena bisa menyimpan kalor lebih banyak sebelum berubah wujud jadi uap. Artinya SAE tinggi bisa jadi lebih dingin mesinya.
  • Semakin tinggi, semakin kuat kerekatan antar molekulnya, berarti oli tidak bisa masuk ke celah-celah yang lebih sempit. Nah, klo motor di desain dengan kerapatan antar part tinggi, otomatis bagian-bagian itu akan sulit terlumasi, bisa bikin cepet aus, atau malah mesin ambrol. Kadang desain pompa oli juga disesuaikan agar viskositas oli tertentu saja yang bisa digunakan di mesin. Kalo nilai viskositasnya dibawah standar, bisa juga oli yang masuk ke ruang bakar jadi lebih banyak melalui sela-sela ring piston.
Untuk PCX, oli yg dianjurkan adalah 10w-30. Huruf w pada angka 10w maksudnya adalah winter, artinya visoksitas oli pada saat musim dingin (salju), artinya oli ini harus memiliki dua kekentalan atau viskositas. 10w pada suhu rendah dan 30 pada suhu biasa. Pada kendaraan lain biasanya ada tabel yang disertakan mengenai gambaran oli yang dapat digunakan pada suhu ruangan tertentu, memudahkan penggunanya memilih SAE yg lebih tinggi misalnya kalau digunakan di gurun pasir pada siang hari atau musim panas. Sementara kalau di gunakan di musim hujan atau di dataran tinggi yang suhunya hanya sekitar 10-20 derajat Celcius bisa pakai oli yang lebih kental. Tapi berhubung desainer mesin PCX menyatakan gunakan yang 10w-30 ya hanya gunakan yang itu saja. Angka depan bisa berubah-ubah, karena di Indonesia suhunya biasanya tidak sampai suhu musim dingin di eropa, jadi perhatikan angka belakangnya saja.

JASO T 903

Seperti membahas SAE, membahas JASO ini juga bisa panjang, tapi saya mencoba buat yang pendek aja ya. JASO T 903 atau yang di kemasan oli hanya disebut JASO saja adalah standar oli mesin motor 4 langkah. Berbeda dengan SAE, standar JASO ini memberikan standar friksi atau gaya gesek pada oli. JASO MA yang secara khusus dibagi lagi menjadi MA1 MA2 dan MA, memiliki indeks gaya gesek sesuai standar JASO. Fungsinya apa index gaya gesek ini?
  • Gaya gesek tinggi diperlukan pada mesin 4 tak dengan kopling basah.
    Pada kopling basah, kopling yang menyalurkan energi dari putaran mesin ke roda direndam oli, kalau gaya geseknya rendah, pastinya terjadi selip kopling kan? Nah, kopling selip ini tentunya buruk untuk kendaraan kan.
  • Tingkat gaya gesek yang diperlukan berbeda.
    JASO MA yang bertingkat ini berhubungan dengan tingkat gaya gesek yang dibutuhkan pada setiap mesin, tentunya semakin tinggi power membutuhkan lebih banyak penyaluran energi, membutuhkan tingkat friksi yang lebih tinggi juga.
Nah, untuk PCX gimana? PCX menggunakan kopling kering, jadi tidak memerlukan spesifikasi ini. Untuk motor pasti muncul spesifikasi JASO MB seperti pada gambar. Tapi kalo enggak ada gimana? Ya menurut saya enggak apa-apa, mekanisme oli pada mesin PCX lebih seperti mesin mobil yang menggunakan kopling kering. Jadi pake oli mobil juga enggak apa-apa asal spesifikasinya sesuai.

API Service

API Service yang biasanya hanya disebut API saja di kemasan oli merupakan standar lain yang digunakan sebagai spesifikasi oli mesin. API dibagi menjadi 2, untuk bahan bakar bensin dan bahan bakar diesel. Untuk karakteristiknya sendiri... saya males bacanya, hahaha. Tapi yang pasti standar API untuk mesin bensin ini ada antara SA-SB, SC, SD, SE, SF, SG, SH, SJ, SL, SM dan SN. Huruf di belakangnya menentukan tingkatan, jadi kalo ada tulisasn, gunakan pelumas mesin minimal API SG artinya bisa pakai SG, SH, SJ, SL, SM atau SN. Kebetulan untuk PCX ini menggunakan minimal API SG.
Oh iya, tapi katanya tidak boleh menggunakan oli dengan tulisan Resource Conserving atau Energy Conserving, alasanya saya belum tahu, tapi mudah-mudahan dapat jawaban segera dari Astra Honda Care, kenapa enggak boleh pake yang itu.

Kesimpulan

Jadi, sekarang sudah jelas ya, apapun brand-nya, yang penting sesuai dengan spek-nya. Untuk PCX, spesifikasinya: SAE 10w-30 (kecuali wilayah-wilayah yang biasa dapet suhu mendekati 0 atau dibawahnya, perhatikan angka 30-nya saja) JASO MB (Atau tanpa JASO ya gpp) dan API SG keatas (SG, SH, SJ, SL, SM, SN).
Oh iya, jangan lupa perhatikan volumenya ya, untuk PCX 800ml untuk penggantian berkala dan 900ml untuk penggantian dengan pembersihan saringan kasa. Kurang lebihnya bisa di lihat di buku panduan, ada juga cara melihat apakah olinya masih cukup atau perlu di tambah.
Tinggal cari brand yang sesuai dan testimoni penggunanya ya...
Selamat berkendaraan, semoga kita semua selamat sampai tujuan.

Rabu, 04 April 2018

Impresi komuter dengan PCX 2018

STNK PCX baru hadir beberapa hari lalu, tepatnya hari selasa baru bisa dipakai buat test commuter. Nah, baru deh ketahuan 'rasa' atau impresi dari PCX 2018 ini kalo dipake komuter. Untuk konsumsi bahan bakar, belum bisa dibilang representasi paling pas, karena waktu awal-awal masih pake metode eco-riding, jadi harus ada pengujian lebih lanjut untuk masalah konsumsi bahan bakar ini. Jarak tempuh pengujian tepatnya 64,9 km dimulai dari stasiun pengisian bahan bakar Shell Pondok Indah, diakhiri di Kalisuren.

Kualitas berkendaraan

Ada beberapa faktor menurut saya yang berkaitan dengan kualitas berkendaraan. Diantaranya sebagai berikut:
  • Jok
    Keras! Jok nya terlalu keras dan enggak bisa dibilang nyaman. Akan lebih baik kalo di 'empuk'-in dikit aja... Masalah, tapi enggak terlalu besar buat saya, karena sudah pernah pakai GSX dan sebelumnya Vario juga cukup keras. Ini jadi masalah karena PCX ini yang ditawarkan kenyamanan lho, tapi kok dikasih jok keras begini...
    Jok yang keras ini dilengkapi dengan semacam penyangga lumbar di belakang. Buat saya, cukup membantu ada rasa nyaman dan meningkatkan kenyamanan saat menaruh bokong, seperti socket USB yang cocok, langsung ma 'slep' gitu. Jangkauan lengan saya cukup jauh, jadi kalau bokong di pas-in sampai penyokong lumbar, kaki di lurusin, jalan lancar, rasanya bisa sampe Indramayu cruising dengan 100km/jam dengan tingkat kelelahan yang jauh lebih rendah dari waktu pakai motor sport.
  • Getaran Kendaraan
    Getaranya tidak banyak terasa di area lain selain tangan yang cukup terasa, terutama pada saat RPM rendah. Kalo akselerasi dimantapkan di RPM yang agak tinggi, getaran stangnya ga terlalu terasa, tapi jadi overkill kalo dipake setelah lampu merah atau sedang padat merayap. Jadi untuk kondisi padat merayap seperti wilayah Simprug pagi hari, rasanya sedikit mengganggu. Hanya sedikit juga kok, enggak banyak.
    Tapi ada suatu kejadian agak janggal pada PCX ini, ketika di geber di 60km/jam atau lebih, gejala getarnya seperti disulap hilang. Yang ada tinggal wush, halus, cocok banget buat melintas lingkar luar karawang sampai Cikampek. Tepatnya di RPM tertentu sih, kalo kita buka tuas gas sampai putaran tertentu dan berakselerasi, getaranya juga hilang sama sekali. Entah itu fitur, atau memang PCX saya saja yang agak aneh, tapi yasudah, saya anggap fitur, fitur khusus buat saya, hahaha.
  • Ergonomi
    Banyak yang mengeluhkan ergonomi kaki enggak bisa buat selonjoran, saya malah bingung kalo ini dijauhin lagi dan kakinya lurus, nyetirnya kayaknya jadi enggak enak deh... Buat saya segini saja cukup sih. Sudah pas sekali ergonominya. Tanpa penambahan tinggi windshield, saya rasa cukup, toh saya tidak menjelajah di kecepatan lebih dari 80km/jam. Saya malah berfikir, enak sepertinya kalo PCX ini dibuatkan versi sporty-nya dengan pijakan kaki agak sedikit kebelakang, mungkin platform lain dengan mesin PCX, kalau PCX, ergonomi ini sudah sangat nyaman.
  • Pengereman dan Engine Break

    Pengeremanya saya beri nila A walau traksi ban-nya kalau hujan sepertinya bisa lebih baik lagi dengan ban lain, misalnya michelin pilot street, hehe. Rem depan bisa dengan mudah porsinya ditakar, tidak toel dikit langsung pakem atau tarik dikit enggak pakem, banyak baru pakem. Ada rasa Bybre di Nissin ini.
    3 piston kaliper di depan nya seperti yang sudah banyak dibahas portal berita otomotif, diaktifkan dengan menarik tuas rem kanan dan kiri. Kalau hanya kanan saja, hanya dua yang beraksi di rem depan, sementara satu piston yang di tengah diaktifkan bersaam dengan piston kaliper rem belakang. Pada aspal kering, pengereman sangat baik, sampai kadang saya malah ngeri ke sundul dari belakang. Mungkin sasis juga berpengaruh ya terhadap pengereman ini.
    Satu lagi yang unik, engine break sangat terasa saat gas di lepas. Jadi untuk mengurangi kecepatan yang bekerja pertama engine break, baru rem depan yang langsung dilanjut CBS dan perpaduanya, Mantab.
  • Akselerasi
    Tidak luar biasa seperti sport 150cc, tapi cukup baik. Saya belum bisa bilang kalo akselerasinya wah, karena pengujian kemarin masih hati-hati buka tuas gas-nya. Mungkin lain waktu saya akan coba agak sedikit berbeda. Tapi dari satu atau dua kali nyoba akselerasi sih hasilnya cukup baik dan meluncur lurus.
  • Kestabilan di tikungan
    Cukup baik. Dengan pusat gravitasi agak kebelakang bawah dipadukan dengan panjang wheelbase-nya, membuat kendaraan agak understeer dibanding Vario atau motor sport yang pernah saya pakai, tapi dengan sedikit penyesuaian, bisa mudah di kendalikan kok. Toh ini pengalaman saya bersama skuter gambot dengan tangki depan dan rangka dengan tulang punggung.
  • Lampu
    Lampu-lampu cukup terang, nyaman rasanya berkendaraan di tempat tanpa penerangan menggunakan lampu PCX ini. Luas sudut pancaran cahanya dan cukup terang. Lampu jauhnya karena ditempatkan di tengah benar-benar menambah jarak jangkauan sorot lampu.
  • Display
    Sajian display selain speedometer ada trip meter, konsumsi bahan bakar... sepertinya udah banyak yang bahas juga ya. Tapi yang paling keren adalah warna cahaya belakangnya menyejukan mata. Menatap bagian display ini saat berkendaraan seperti menatap display kendaraan futuristik. Oh iya, ada jam juga yang sangat membantu buat saya.
  • Konsumsi bahan bakar
    Konsumsi bahan bakarnya ternyata cukup irit untuk sebuah mesin 150cc murni dengan transmisi CVT bisa menorehkan 41,8 km/liter menembus kemacetan Jakarta. Ini bicara kemacetan Jakarta di peak hour jam 8 pagi, lho.

    Tampilan display PCX dengan trip meter 64,9 km dan konsumsi 41,8 km/l

Kesimpulan

Saya nilai baik untuk sebuah transportasi komuter dalam kota Jakarta. Nyaman dan asik. Sampai banyak yang terlewat kemarin waktu diminta mampir ke beberapa tempat, jalan terus buat menikmati nyaman dan asiknya naik skuter 150 cc ini. Berharap semoga bisa melintas pantura ke Indramayu dengan skuter ini, mungkin nanti waktu bulan puasa, karena biasanya isteri mudik duluan dengan anak-anak, saya pakai motor menyusul :D
Jangan lupa follow saya di twitter @awp_agni dan youtube channel yang masih kosong di Agung Prasetya Agni

Selamat berkendaraan, semoga kita semua selamat sampai tujuan.

Selasa, 03 April 2018

Sayangi nyawamu, periksa brake pad setiap minggu

Brake pad, atau bahasa kita-nya kampas rem, adalah perangkat yang didesain habis pakai berfungsi untuk menghentikan laju kendaraan dengan mekanisme gesekan... ya kira-kira begitulah artinya. Berarti klo enggak ada brake pad atau kampas rem, enggak bisa berhenti donk? Bisa aja sih... tapi antara butuh waktu yang agak lama atau energi geraknya harus disalurkan jadi energi kinetik (tabrakan sama tembok atau benda lain yang cukup kuat untuk menerima hantaman kendaraan). Pokoknya, kampas rem ini penting banget di hampir setiap kendaraan (mungkin ada yang berhenti tanpa kampas rem, misalnya pake medan magnet).
Masalahnya, kapan sih kampas rem ini harus diganti? Ada yang bilang sekian ribu KM atau sekian puluh ribu KM, atau entah lah berapa, tapi ada yg ngeluh lho 4 bulan ganti kampas. Mungkin dipikirnya kampas remnya bisa dipake selamanya kali, atau setahun sekali gantinya. Sebetulnya sih kampas diganti ya kalo udah habis, kalo brake wear indicator-nya sudah tercapai, atau bahasa lokalnya indikator penggunaan kampas remnya sudah menunjukan 'habis.' Nah seperti apa sih break wear indicator ini?
Silakan klik gambar untuk memperbesar, itu ada buletan merah, itu break wear indicator di Honda PCX
Ini gambar diagramnya, lebih jelas. Tapi untuk lihat langsung ya seperti di atasnya, di foto dari bagian depan cakram.
Berapapun kilometernya, berapapun waktunya, asalkan sudah mendekat ke indikator, segera ganti aja. Karena rem ini bukan berdasarkan jarak atau waktu, tapi berdasarkan penggunaan. Kalo jarang dipake ya lama habisnya, kalo sering dipake ya cepet habisnya. Kira-kira yang mempengaruhi penggunaanya diantaranya sebagai berikut:

  • Perlambatan
    Berapa besar perlambatanya atau deselerasinya jadi salah satu penyebab kampas rem cepat habis. Kalo sering ngerem telat, beban rem tentunya akan semakin besar. Misalnya sering akselerasi kecepatan tinggi, kemudian ngerem tiba-tiba, tentunya kampas rem lebih cepet habis. Ya, semkin agresif berkendaraan semakin cepat habis kampas remnya.
    Kalo suka ngebut, ya baiknya ini di cek, enggak mau kan tiba-tiba blong gara-gara kampas ompong dan enggak nggigit?
  • Beban
    Semakin besar bobotnya, tentunya semakin besar energi yang dibutuhkan untuk menghentikan atau melambatkan kendaraan. Semakin banyak energi yang dikonversi menjadi panas dan semakin banyak juga penggunaan rem-nya. Jadi kalo sering bawa beban berat, kampas rem lebih cepat habis dari pada yang bawaanya enteng.
  • Cuaca
    Klo yg ini cuma kira-kira saya aja sih, tapi kira-kira cuaca yang berubah-ubah bikin kampas rem bekerja ekstrim di suhu yang berbeda. Kemungkinan akan mempengaruhi penggunaan kampas juga.
  • Masalah teknis/kualitas
    Kendali kualitas tentunya 'harus' di semua jenis perusahaan, tapi kalo ada yang nyelonong keluar yang kualitasnya kurang bagus, ya bisa aja terjadi sih. Atau memang menggunakan produk aftermarket yang kendali kualitasnya rendah. Diantara keduanya, bisa jadi kampas yang digunakan memang secara materaial lebih cepat habis. Ya, klo dapet yang begini, lebih baik cepet-cepet ganti aja... Dari pada masalahnya jadi tambah panjang dan lebar.
Harga kampas rem ini antara puluhan sampai ratusan ribu, tapi bisa menyelematkan nyawa dan meningkatkan kenyamanan berkendaraan. Kalo saya sih enggak mau nyawa dan kenyamanan berkendaraan ditukar dengan untung beberapa ratus ribu.
Brake indikator ini biasanya ada di buku manual, jadi jangan lupa baca buku manualnya, ya...
Pemeriksaanya enggak harus setiap minggu sih, setiap hari juga boleh, tapi kalo sebulan sekali, ya balik lagi tergantung penggunaanya, klo sering bakai baiknya diseringin lagi pengecekanya.

Selamat berkendaraan, semoga kita semua selamat sampai tujuan.

Senin, 02 April 2018

Jayakarta Premium: kelas ekonomi yang bukan ekonomi

Setelah rumah lama dibakaran, karena antara sengaja dan ga sengaja digabung jadi sebuah kejadian unik, akhirnya bisa juga migrasi ke Blogger.com, lebih murah, tapi tetap gaya, hehehe... Ternyata artikel pertama di blog ini urusanya berhubungan sama kereta, karena kebetulan dalam beberapa hari yang lalu saya sekeluarga melakukan perjalanan menggunakan Kereta Api karena di todong anak yang, mungkin sudah lama banget belum pernah naik kereta lagi. Kebetulan kemarin naik Jayakarta Premium jurusan Surabaya-Jakarta, ini kereta berangkat dari jam 3 sore, sampe di Jakarta, Jatinegara kemarin sekitar jam 5.30 atau jam 6 gitu. Tapi sebelumnya mohon maaf, karena enggak niat-niat banget review, lupa ambil foto, ditambah akomodasi yang ternyata kurang untuk anak-anak, jadi agak repot. Jadi, seperti apa yang didapat dari kereta api Jayakarta Premium, berikut saya deskripsikan menggunakan kata-kata ya.

Di Stasiun

Awal cerita mau mengunjungi mbah bareng bapak-ibu dan keluarga kecil saya, tapi si sulung pengen banget naik kereta, jadi direncanakan beramgkat bareng bapak-ibu naik mobil, pulang naik kereta (sebelumnya sempat bingung antara berangkatnya atau pulangnya yg naik kereta). Kebetulan memang mencari tanggal dengan liburan akhir pekan panjang ditambah cuti, tapi ga ngeh kalo akhir pekan artinya tiket kereta juga susah... Hampir g dapet tiket, singkat cerita kita dapet tiket Jayakarta Premium, tiga tiket umum dan 1 bayi (kayaknya kalo beli 4 tiket lebih nyaman lho, salah perkiraan).
Singkat cerita setelah bingung ke stasiun dengan kendaraan pribadi karena agak ruwed jalanya, Kami sampe sekitar jam setengah tujuh, padahal kereta baru berangkat sekitar jam setengah sembilan malam.
Khawatir si sulung rewel nunggu di stasiun, saya sudah memantapkan hati untuk ngajak dia main di stasiun, tapi ternyata kenyataan berkata lain. Ada tempat main untuk anak di stasiun. Enggak besar, tapi cukup untuk dia ketemu sama temen-temen baru sambil berkomplot membuat kesepakatan jahat untuk menguasai area tempat bermain. Walaupun mainanya beberapa ada yang rusak, tapi masih bisa dipakai.

Kereta datang!

Jam 8 pas, saya panggil si Sulung, tadinya mau ajak jalan-jalan, tapi ternyata jadwal keretanya tepat waktu. Jam delapan lebih sedikit kereta udah siap di peron, jadi enggak terlalu lama main di stasiunya, kami langsung naik ke kereta.

Gerbong Ekonomi Premium

Gambar diambil dari KAORI Nusantara di www.kaorinusantara.or.id

Impresi pertama masuk gerbong baru buatan INKA ini: bersih, kompak dan terasa lebih luas akomodasi setiap seat nya dibanding kereta ekonomi biasa. Kamar mandi dengan kloset duduk buat aya memberikan kesan sempit di kamar mandinya, tapi ternyata di sisi lain gerbong kamar mandinya jongkok, jadi memang ada pilihan kamar mandi jongkok atau duduk di satu gerbong. Pencahayaan cukup dengan lampu utama berawrna putih yang pada malam hari dikurangi intensitas cahanya (hanya dinyalakan sebagian lampu) sementara bagi yang masih ingin membaca bisa pakai lampu baca di atas tempat duduk. Dengan lampu berwarna kuning, cukup sejuk di mata dan cukup terang. Rak bagasi kabin juga cukup tinggi, cukup baik mengakomodasi tas-tas ukurang sedang seperti tas yang saya bawa. Yang saya senang, pintu antar gerbongnya terlihat terpelihara, mekanismenya sederhana tapi mudah dioperasionalkan, mungkin pengalaman INKA mendesain gerbong sudah makin baik, atau tingkat kecerdasan penggunanya sudah meningkat ya?
Karena perjalanan malam dan si sulung dan bungsu tidur, jadi saya tidak sempat jalan-jalan ke dapur atau kereta makan. Pengenya sebetulnya perjalanan siang, tapi tiketnya kehabisan.
Desain eksterior gerbongnya sepertinya PTKAI ingin mengembalikan warna gerbongnya seperti dulu, kereta ekonomi diwarnai nuansa Jingga. Dengan sistim pendinginan kabin terpusat dan terpadu di setiap gerbong, tidak modular seperti kereta ekonomi yang ditambah 'modul' penyejuk ruangan, pendinginanya jadi lebih sempurna, bahkan bikin kedinginan. Perlu ada standar ini untuk menentukan berapa suhu optimal penyejuk ruangan yang sesuai untuk 'manusia' agar merasa nyaman. Kalo ada yang diluar standar, ya silahkan menyesuaikan dengan membawa jaket atau pakai kaos yang tipis. Kalo sudah sesuai standar kan, saya enggak komplain dan tentunya akan dan harus bawa jaket setiap perjalanan dengan Kereta Api.

Fast Response Online CS

Tentang suhu udara ini ada kejadian lumayan penting dalam perjalanan. Ceritanya suhu udara cukup baik waktu saya naik, tapi Istri saya dengar ada yang ingin di dinginkan lagi, tapi karena belum terasa saya belum komplain. Waktu udara jadi semakin dingin, baru saya komplain, lagian buat apa sih penyejuk udara di set 24°C di malam hari, itu pasti dingin banget paginya. Kedinginan dan dengan kacamata saya-pun tidak bisa melihat nomor telepon CS perjalanan KA waktu itu karena agak jauh, saya langsung komplain di twitter ke KAI 21.

Tahu berapa cepat responya? Rentang setengah jam Costumer Services langsung mendatangi saya. Kemungkinan dia tahu saya karena saya menggunakan akun twitter dengan nama mirip di tiket dan melakukan pengecekan data penumpang di gerbong tersebut sesuai nama pada tiket. CS langsung mendatangi kursi saya. Salah saya juga, di twitter enggak bilang maksudnya kedinginan atau kurang dingin, jadi dari 121 dianggap kurang dingin, CS mengkonfirmasi, apakah kurang dingin, saya jawab: Kurang? Enggak pak, kedinginan ini. Dan suhu udara langsung disesuaikan. Mantap kali ini pelayanan 😍

Setelah suhu dinaikan, dalam beberapa menit para penyewa selimut mulai melepas selimut mereka, saya jadi berfikir, ternyata bukan saya aja yang kedinginan.

Kedatangan agak terlambat.

Kedatanganya sekitar pukul 6, terlambat antara sekitar 30an menit kalo enggak salah ingat. Mungkin karena keberadaan jalur yang masih tunggal di beberapa tempat, jadi kereta harus menunggu kereta lain mengosongkan jalur. Tapi dengan kenyamanan dan kecepatan jelajah KA Jayakarta Premium, saya cukup puas dengan harga tiket liburanya.



Kunjungi Postingan Lainya