Rabu, 04 April 2018

Impresi komuter dengan PCX 2018

STNK PCX baru hadir beberapa hari lalu, tepatnya hari selasa baru bisa dipakai buat test commuter. Nah, baru deh ketahuan 'rasa' atau impresi dari PCX 2018 ini kalo dipake komuter. Untuk konsumsi bahan bakar, belum bisa dibilang representasi paling pas, karena waktu awal-awal masih pake metode eco-riding, jadi harus ada pengujian lebih lanjut untuk masalah konsumsi bahan bakar ini. Jarak tempuh pengujian tepatnya 64,9 km dimulai dari stasiun pengisian bahan bakar Shell Pondok Indah, diakhiri di Kalisuren.

Kualitas berkendaraan

Ada beberapa faktor menurut saya yang berkaitan dengan kualitas berkendaraan. Diantaranya sebagai berikut:
  • Jok
    Keras! Jok nya terlalu keras dan enggak bisa dibilang nyaman. Akan lebih baik kalo di 'empuk'-in dikit aja... Masalah, tapi enggak terlalu besar buat saya, karena sudah pernah pakai GSX dan sebelumnya Vario juga cukup keras. Ini jadi masalah karena PCX ini yang ditawarkan kenyamanan lho, tapi kok dikasih jok keras begini...
    Jok yang keras ini dilengkapi dengan semacam penyangga lumbar di belakang. Buat saya, cukup membantu ada rasa nyaman dan meningkatkan kenyamanan saat menaruh bokong, seperti socket USB yang cocok, langsung ma 'slep' gitu. Jangkauan lengan saya cukup jauh, jadi kalau bokong di pas-in sampai penyokong lumbar, kaki di lurusin, jalan lancar, rasanya bisa sampe Indramayu cruising dengan 100km/jam dengan tingkat kelelahan yang jauh lebih rendah dari waktu pakai motor sport.
  • Getaran Kendaraan
    Getaranya tidak banyak terasa di area lain selain tangan yang cukup terasa, terutama pada saat RPM rendah. Kalo akselerasi dimantapkan di RPM yang agak tinggi, getaran stangnya ga terlalu terasa, tapi jadi overkill kalo dipake setelah lampu merah atau sedang padat merayap. Jadi untuk kondisi padat merayap seperti wilayah Simprug pagi hari, rasanya sedikit mengganggu. Hanya sedikit juga kok, enggak banyak.
    Tapi ada suatu kejadian agak janggal pada PCX ini, ketika di geber di 60km/jam atau lebih, gejala getarnya seperti disulap hilang. Yang ada tinggal wush, halus, cocok banget buat melintas lingkar luar karawang sampai Cikampek. Tepatnya di RPM tertentu sih, kalo kita buka tuas gas sampai putaran tertentu dan berakselerasi, getaranya juga hilang sama sekali. Entah itu fitur, atau memang PCX saya saja yang agak aneh, tapi yasudah, saya anggap fitur, fitur khusus buat saya, hahaha.
  • Ergonomi
    Banyak yang mengeluhkan ergonomi kaki enggak bisa buat selonjoran, saya malah bingung kalo ini dijauhin lagi dan kakinya lurus, nyetirnya kayaknya jadi enggak enak deh... Buat saya segini saja cukup sih. Sudah pas sekali ergonominya. Tanpa penambahan tinggi windshield, saya rasa cukup, toh saya tidak menjelajah di kecepatan lebih dari 80km/jam. Saya malah berfikir, enak sepertinya kalo PCX ini dibuatkan versi sporty-nya dengan pijakan kaki agak sedikit kebelakang, mungkin platform lain dengan mesin PCX, kalau PCX, ergonomi ini sudah sangat nyaman.
  • Pengereman dan Engine Break

    Pengeremanya saya beri nila A walau traksi ban-nya kalau hujan sepertinya bisa lebih baik lagi dengan ban lain, misalnya michelin pilot street, hehe. Rem depan bisa dengan mudah porsinya ditakar, tidak toel dikit langsung pakem atau tarik dikit enggak pakem, banyak baru pakem. Ada rasa Bybre di Nissin ini.
    3 piston kaliper di depan nya seperti yang sudah banyak dibahas portal berita otomotif, diaktifkan dengan menarik tuas rem kanan dan kiri. Kalau hanya kanan saja, hanya dua yang beraksi di rem depan, sementara satu piston yang di tengah diaktifkan bersaam dengan piston kaliper rem belakang. Pada aspal kering, pengereman sangat baik, sampai kadang saya malah ngeri ke sundul dari belakang. Mungkin sasis juga berpengaruh ya terhadap pengereman ini.
    Satu lagi yang unik, engine break sangat terasa saat gas di lepas. Jadi untuk mengurangi kecepatan yang bekerja pertama engine break, baru rem depan yang langsung dilanjut CBS dan perpaduanya, Mantab.
  • Akselerasi
    Tidak luar biasa seperti sport 150cc, tapi cukup baik. Saya belum bisa bilang kalo akselerasinya wah, karena pengujian kemarin masih hati-hati buka tuas gas-nya. Mungkin lain waktu saya akan coba agak sedikit berbeda. Tapi dari satu atau dua kali nyoba akselerasi sih hasilnya cukup baik dan meluncur lurus.
  • Kestabilan di tikungan
    Cukup baik. Dengan pusat gravitasi agak kebelakang bawah dipadukan dengan panjang wheelbase-nya, membuat kendaraan agak understeer dibanding Vario atau motor sport yang pernah saya pakai, tapi dengan sedikit penyesuaian, bisa mudah di kendalikan kok. Toh ini pengalaman saya bersama skuter gambot dengan tangki depan dan rangka dengan tulang punggung.
  • Lampu
    Lampu-lampu cukup terang, nyaman rasanya berkendaraan di tempat tanpa penerangan menggunakan lampu PCX ini. Luas sudut pancaran cahanya dan cukup terang. Lampu jauhnya karena ditempatkan di tengah benar-benar menambah jarak jangkauan sorot lampu.
  • Display
    Sajian display selain speedometer ada trip meter, konsumsi bahan bakar... sepertinya udah banyak yang bahas juga ya. Tapi yang paling keren adalah warna cahaya belakangnya menyejukan mata. Menatap bagian display ini saat berkendaraan seperti menatap display kendaraan futuristik. Oh iya, ada jam juga yang sangat membantu buat saya.
  • Konsumsi bahan bakar
    Konsumsi bahan bakarnya ternyata cukup irit untuk sebuah mesin 150cc murni dengan transmisi CVT bisa menorehkan 41,8 km/liter menembus kemacetan Jakarta. Ini bicara kemacetan Jakarta di peak hour jam 8 pagi, lho.

    Tampilan display PCX dengan trip meter 64,9 km dan konsumsi 41,8 km/l

Kesimpulan

Saya nilai baik untuk sebuah transportasi komuter dalam kota Jakarta. Nyaman dan asik. Sampai banyak yang terlewat kemarin waktu diminta mampir ke beberapa tempat, jalan terus buat menikmati nyaman dan asiknya naik skuter 150 cc ini. Berharap semoga bisa melintas pantura ke Indramayu dengan skuter ini, mungkin nanti waktu bulan puasa, karena biasanya isteri mudik duluan dengan anak-anak, saya pakai motor menyusul :D
Jangan lupa follow saya di twitter @awp_agni dan youtube channel yang masih kosong di Agung Prasetya Agni

Selamat berkendaraan, semoga kita semua selamat sampai tujuan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kunjungi Postingan Lainya