Senin, 02 April 2018

Jayakarta Premium: kelas ekonomi yang bukan ekonomi

Setelah rumah lama dibakaran, karena antara sengaja dan ga sengaja digabung jadi sebuah kejadian unik, akhirnya bisa juga migrasi ke Blogger.com, lebih murah, tapi tetap gaya, hehehe... Ternyata artikel pertama di blog ini urusanya berhubungan sama kereta, karena kebetulan dalam beberapa hari yang lalu saya sekeluarga melakukan perjalanan menggunakan Kereta Api karena di todong anak yang, mungkin sudah lama banget belum pernah naik kereta lagi. Kebetulan kemarin naik Jayakarta Premium jurusan Surabaya-Jakarta, ini kereta berangkat dari jam 3 sore, sampe di Jakarta, Jatinegara kemarin sekitar jam 5.30 atau jam 6 gitu. Tapi sebelumnya mohon maaf, karena enggak niat-niat banget review, lupa ambil foto, ditambah akomodasi yang ternyata kurang untuk anak-anak, jadi agak repot. Jadi, seperti apa yang didapat dari kereta api Jayakarta Premium, berikut saya deskripsikan menggunakan kata-kata ya.

Di Stasiun

Awal cerita mau mengunjungi mbah bareng bapak-ibu dan keluarga kecil saya, tapi si sulung pengen banget naik kereta, jadi direncanakan beramgkat bareng bapak-ibu naik mobil, pulang naik kereta (sebelumnya sempat bingung antara berangkatnya atau pulangnya yg naik kereta). Kebetulan memang mencari tanggal dengan liburan akhir pekan panjang ditambah cuti, tapi ga ngeh kalo akhir pekan artinya tiket kereta juga susah... Hampir g dapet tiket, singkat cerita kita dapet tiket Jayakarta Premium, tiga tiket umum dan 1 bayi (kayaknya kalo beli 4 tiket lebih nyaman lho, salah perkiraan).
Singkat cerita setelah bingung ke stasiun dengan kendaraan pribadi karena agak ruwed jalanya, Kami sampe sekitar jam setengah tujuh, padahal kereta baru berangkat sekitar jam setengah sembilan malam.
Khawatir si sulung rewel nunggu di stasiun, saya sudah memantapkan hati untuk ngajak dia main di stasiun, tapi ternyata kenyataan berkata lain. Ada tempat main untuk anak di stasiun. Enggak besar, tapi cukup untuk dia ketemu sama temen-temen baru sambil berkomplot membuat kesepakatan jahat untuk menguasai area tempat bermain. Walaupun mainanya beberapa ada yang rusak, tapi masih bisa dipakai.

Kereta datang!

Jam 8 pas, saya panggil si Sulung, tadinya mau ajak jalan-jalan, tapi ternyata jadwal keretanya tepat waktu. Jam delapan lebih sedikit kereta udah siap di peron, jadi enggak terlalu lama main di stasiunya, kami langsung naik ke kereta.

Gerbong Ekonomi Premium

Gambar diambil dari KAORI Nusantara di www.kaorinusantara.or.id

Impresi pertama masuk gerbong baru buatan INKA ini: bersih, kompak dan terasa lebih luas akomodasi setiap seat nya dibanding kereta ekonomi biasa. Kamar mandi dengan kloset duduk buat aya memberikan kesan sempit di kamar mandinya, tapi ternyata di sisi lain gerbong kamar mandinya jongkok, jadi memang ada pilihan kamar mandi jongkok atau duduk di satu gerbong. Pencahayaan cukup dengan lampu utama berawrna putih yang pada malam hari dikurangi intensitas cahanya (hanya dinyalakan sebagian lampu) sementara bagi yang masih ingin membaca bisa pakai lampu baca di atas tempat duduk. Dengan lampu berwarna kuning, cukup sejuk di mata dan cukup terang. Rak bagasi kabin juga cukup tinggi, cukup baik mengakomodasi tas-tas ukurang sedang seperti tas yang saya bawa. Yang saya senang, pintu antar gerbongnya terlihat terpelihara, mekanismenya sederhana tapi mudah dioperasionalkan, mungkin pengalaman INKA mendesain gerbong sudah makin baik, atau tingkat kecerdasan penggunanya sudah meningkat ya?
Karena perjalanan malam dan si sulung dan bungsu tidur, jadi saya tidak sempat jalan-jalan ke dapur atau kereta makan. Pengenya sebetulnya perjalanan siang, tapi tiketnya kehabisan.
Desain eksterior gerbongnya sepertinya PTKAI ingin mengembalikan warna gerbongnya seperti dulu, kereta ekonomi diwarnai nuansa Jingga. Dengan sistim pendinginan kabin terpusat dan terpadu di setiap gerbong, tidak modular seperti kereta ekonomi yang ditambah 'modul' penyejuk ruangan, pendinginanya jadi lebih sempurna, bahkan bikin kedinginan. Perlu ada standar ini untuk menentukan berapa suhu optimal penyejuk ruangan yang sesuai untuk 'manusia' agar merasa nyaman. Kalo ada yang diluar standar, ya silahkan menyesuaikan dengan membawa jaket atau pakai kaos yang tipis. Kalo sudah sesuai standar kan, saya enggak komplain dan tentunya akan dan harus bawa jaket setiap perjalanan dengan Kereta Api.

Fast Response Online CS

Tentang suhu udara ini ada kejadian lumayan penting dalam perjalanan. Ceritanya suhu udara cukup baik waktu saya naik, tapi Istri saya dengar ada yang ingin di dinginkan lagi, tapi karena belum terasa saya belum komplain. Waktu udara jadi semakin dingin, baru saya komplain, lagian buat apa sih penyejuk udara di set 24°C di malam hari, itu pasti dingin banget paginya. Kedinginan dan dengan kacamata saya-pun tidak bisa melihat nomor telepon CS perjalanan KA waktu itu karena agak jauh, saya langsung komplain di twitter ke KAI 21.

Tahu berapa cepat responya? Rentang setengah jam Costumer Services langsung mendatangi saya. Kemungkinan dia tahu saya karena saya menggunakan akun twitter dengan nama mirip di tiket dan melakukan pengecekan data penumpang di gerbong tersebut sesuai nama pada tiket. CS langsung mendatangi kursi saya. Salah saya juga, di twitter enggak bilang maksudnya kedinginan atau kurang dingin, jadi dari 121 dianggap kurang dingin, CS mengkonfirmasi, apakah kurang dingin, saya jawab: Kurang? Enggak pak, kedinginan ini. Dan suhu udara langsung disesuaikan. Mantap kali ini pelayanan 😍

Setelah suhu dinaikan, dalam beberapa menit para penyewa selimut mulai melepas selimut mereka, saya jadi berfikir, ternyata bukan saya aja yang kedinginan.

Kedatangan agak terlambat.

Kedatanganya sekitar pukul 6, terlambat antara sekitar 30an menit kalo enggak salah ingat. Mungkin karena keberadaan jalur yang masih tunggal di beberapa tempat, jadi kereta harus menunggu kereta lain mengosongkan jalur. Tapi dengan kenyamanan dan kecepatan jelajah KA Jayakarta Premium, saya cukup puas dengan harga tiket liburanya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kunjungi Postingan Lainya