Minggu, 27 Mei 2018

Memanusiakan manusia di jalan

Memanusiakan manusia ini ada di kuliahnya istri saya, tapi tanpa ikut kuliahnya saya meminjam kata-katanya. Memanusiakan manusia itu yang saya tangkep dari kata-katanya adalah memposisikan manusia sebagai manusia, bukan sebagai binatang apalagi benda. Caranya adalah dengan saling berempati sesama manusia dan tidak memandang status sosialnya, mereka itu ya manusia. Nah, saya minggu ini merasakan dimanusiakan oleh pengemudi sedan mewah eropa berlogo partai demokrat (eh, kebalik ya. partai demokrat yang make logonya dia :D ..) Ceritanya begini:



Waktu itu saya kebetulan lewat jalan Jendral Sudirman, kebetulan lalu lintas waktu itu padat merayap. Biasa donk, bersama PCX saya nyelip-nyelip diantara mobil-mobil mewah, bus dan metromini. Buat yang biasa selip-selip, walau enggak arogan atau membahayakan, biasanya ngerasain kan diantara dua kendaraan dan spion mereka membatasi manuver kendaraan.

Suasana panas, pulang kerja, pengen cepet sampe, tapi tetep pengen menghormati pengendara roda empat. 'Jangan lah sampe nyerempet sedikit pun roda empat di jalan' begitu kata saya di dalam hati. Saya juga punya kendaraan roda empat, jadi berasa kalo sampe enggak sengaja diserempet itu walau baret halus, tapi pengenya enggak. Kalopun minta ganti, ya kan kasian juga kan pemotor dimintain ganti buat baret tipis. Toh kalo tipis bisa 'diakalin'.

'Wah, ketutup spion' otomatis saya berhenti dulu, mengukur presisi kiri kanan antar spion mobil. Yang kiri kebetulan sedan mewah eropa yang saya ceritakan diatas, sementara yang kanan SUV jepang. Waktu saya putuskan 'ini bisa nih maju, tapi miring-miring sedikit' baru saya mau maju, spion sedan Jerman itu melipat spion elektriknya.

Ini pertama kalinya saya diberi jalan walau hanya beberapa senti, tapi cukup buat motor saya melaju, bermanuver sedikit lebih cepat daripada miring-miring menghindari spion. Yang saya rasakan saat itu, 'wah, dikasih jalan, Alhamdulillah' sambil melihat kearah kaca pengemudi saya menunduk dan tersenyum. Ya, enggak kelihatan juga sih yang mengemudinya, tapi terasa saling berbaginya.

Saya sih enggak tahu motif di belakang sang pengemudi melipat spion, tapi apapun itu yang saya rasakan saat itu adalah merasa dihargai. Bisa ajakan pengemudi sedan eropa itu melipat spion biar enggak lecet spionya, tapi tetap rasa dihargai itu yang lebih berkesan.

Berbagi itu enggak harus yang besar, berbagi jalan pun bisa berkesan, dan saya mendoakan pengemudinya semoga semakin lancar rezekinya dan dilancarkan urusanya.

Di lain waktu saya juga pernah lihat sedan eropa lain yang logonya biru putih biru putih, berhenti, di klakson-klaksonin tapi tetep enggak jalan. Enggak ada apa-apa di depanya, mesinya pun sepertinya enggak rusak. Pengemudinya dengan santainya menaikan kakinya ke kursi, entah nunggu apa. Sampe beberapa saat kemudian suara ambulan yang tadi meraung-raung langsung lewat dengan cepat menuju underpass, baru pengemudi sedan eropa itu menjalankan lagi kendaraanya. Ternyata dia membagi jalanya untuk ambulan.

Oh iya, minggu ini saya juga lihat ambulan yang menembus kemacetan di jalan menuju Ciputat sebelum UIN, semua pengemudi roda empat langsung meminggirkan mobilnya. Yang kiri minggir ke kiri, yang kanan minggir ke kanan. Ini luar biasa, kan. Sepertinya Indonesia berjalan kearah yang lebih baik. Paling enggak orang-orangnya, rakyatnya semakin pintar, semakin berempati, semakin memanusiakan manusia.



Senin, 14 Mei 2018

Macet itu kadang membuka kenangan lama

Hari ini Jakarta lancar, setelah minggu lalu macet parah layaknya touring waktu mudik. Tadi sedikit banyak bisa merasakan dinginya udara pagi dari Bogor-Tangerang Selatan-Jakarta, sebuah perjalanan yang biasa aja, tadi pagi entah kenapa membawa kembali rasa ingin touring.

Udara pagi hari yang sudah dingin berselisih dengan kecepatan kendaraan dan menerpa jaket, membuat rasa dingin yang khas saat bermotor pagi hari. Celah-celah jalanan dari Bogor sampai perempatan gaplek membuat angin terus menerus terasa menjadi semakin dingin. Sampai akhirnya lampu merah menghentikan laju kendaraan.

Hawa panas dari mesin-mesin kendaraan yang berkumpul di belakang garis putih, ditemani pak Polisi tadi pagi memberi semacam kenyamanan mengusir dinginya udara pagi. Hawa hangat ini seperti waktu kendaraan-kendaraan di Pantura melambat karena jalanan sedang diperbaiki, dan saya bersama si Merah dan si Hitam berjalan pelan diantara truk, bus dan kendaraan lain. Hangatnya layaknya kopi di pagi hari, atau coklat panas setelah hujan, atau sekedar susu jahe di dataran tinggi waktu pagi.

Kembali melaju melintasi pondok cabe yang biasanya macet, pagi itu saya ditarik rasa rindu melintasi pondok cabe yang sepi. Berharap cukup macet saja tanpa deadlock, saya beruntung karena memang tidak ada deadlock dan macet pun tidak banyak. Udara pagi yang sejuk masih bisa dirasakan di pinggiran bandara, merasakan aspal yang sesekali bergelombang, tapi tetap nyaman. Turbulensi angin di sekitar helm saat kaca dibuka memberikan semacam musik rock alami yang memberi tahu seberapa cepat saya memerintahkan motor berlari.

Saat harus melambat, pemandangan orang berlalu-lalang sibuk di pinggiran Jakarta menjadi latar belakang perjalanan. Satu dua PCX melintas, satu menyapa dengan dua klakson, satu lagi berlalu begitu saja. Sedikit perjalanan menuju kantor yang tak tergambar ataupun terekam.

Sedikit cerita pagi ini.

Rabu, 09 Mei 2018

Masa depan motor hybrid

Honda sukses memperkenalkan PCX Hybrid di Indonesia. Mengusung mesin listrik dengan tenaga sekitar 1KW, PCX Hybrid akan memberikan pengalaman akselerasi yang luar biasa (menurut spek-nya). Tambahan energi dari mesin listrik akan langsung nendang di RPM bawah mesin bensinya, membantu akselerasi, yang saya bisa jamin akan lebih baik dari mesin bensin rivalnya dengan cc yang sedikit lebih besar sekalipun. Terus, kira-kira bagaimana kedepanya kendaraanya, khususnya motor dengan dua mesin ini? Apa hanya akan sampai sini, atau akan sejauh apa berkembangnya?
Sumber: Kompas Otomotif


Melihat perkembangan teknlogi Hybrid pada kendaraan roda empat alias mobil, kita bisa melihat semacam garis yang 'bisa' dilalui motor hybrid. Saya bilang 'bisa' karena belum tentu para produsen kendaraan ini mau melalui jalur yang sama atau malah membunuh mesin hybrid karena satu dan lain hal. Kalau jalan yang sama seperti mobil di tempuh, artinya teknolgi hybrid ini akan terus turun biayanya.

Nah, untuk saat ini di Indonesia baru ada PCX dengan mesin bensin 150cc 10,8 kW pada 8500rpm dan motor listrik 1,4kW 3000 RPM. Artinya pada RPM awal mesin listrik akan membantu mesin bensin yang torsi dan powernya belum mencapai 10,8 kW (paling baru 3 kW kali ya). Efeknya, tentu akselerasi awal akan sangat baik, tapi tidak banyak membantu di kecepatan menengah atau tinggi. Ini saya simpulkan dari letak posisi mesin listrik yang satu baris dengan crank mesin (kalo enggak salah lihat). Kalo mesin ditaro di putaran roda, akan beda lagi. Atau kalo 3000 RPM pada mesin listrik sudah bisa mencapai 100km/jam itu juga lain lagi. Torsi akan sama, tapi power akan ditambahkan merata pada seluruh rpm mesin bensin.

Nah, selanjutnya apa?

Kubikasi vs Total Power

Jika riset sejalan dengan yang terjadi pada mesin mobil, maka nantinya akan bertemu antara kubikasi mesin dengan power maksimal. Misalnya saja sebuah motor memiliki mesin bensin dengan tenaga 10,8 kW dan ditenagai mesin listrik sebesar 5kW yang langsung menyalurkan tenaga ke roda, maka didapatkan tenaga total 15,8 kW. Tapi ini perlu di dyno lho, karena yang 10,8 kW melalui transmisi yang biasanya ada pengurangan tenaga yang tersalur, sementara mesin listriknya langsung disalurkan hanya menggunakan rantai atau mungkin belt, jadi pengurangan tenaganya berbeda. Dengan perpaduan ini, bisa saja lho skuter dengan mesin bensin 250cc disetarakan dengan skuter 150cc dengan tambahan mesin listrik yang besar itu.


Mencapai kecepatan jelajah

Tenaga besar pada mesin motor biasanya digunakan saat akselerasi, biasanya saat menjelajah, tidak banyak yang digunakan. Makanya saat motor menjelajah dan ECU tidak mendeteksi adanya perubahan pada sensor posisi throttle, tidak banyak bahan bakar yang disemprotkan, hanya cukup untuk terus menjaga kecepatan motornya saja, makanya jadi irit. Nah, mesin 150 cc ini cukup kok untuk menjaga kecepatan motor dengan bobot besar itu tanpa bantuan motor listrik. Yang susah kan akselerasinya dari dia berhenti sampai mencapai kecepatan itu, makanya motor listrik akan membantu. Tentunya ini hanya bisa dilakukan jika mesin listrik dan bensinya bisa bekerja tanpa bantuan satu sama lain, bisa sendiri-sendiri, bisa juga saling bantu.

Regenerative breaking

Saat motor bermesin bensin mengerem, energi pengeremanya akan menjadi panas kemudian diserap dan disebarkan baik oleh cakram atau kampas-nya. Sementara pada motor dengan mesin listrik, mesin listrik dapat menyerap energi pengereman itu menjadi daya baterai. Dengan mesin listrik bertenaga 5kW pastiny adaya yang dibangkitkan saat melakukan perlambatan juga besar donk. Nah, tidak banyak energi yang terbuang dari sini, kan? Jadi energi listrik yang nanti digunakan saat akselerasi, ya didapat dari sini.

Charge Depleting

Dengan mode ini, mesin listrik akan digunakan semaksimal mungkin sampai baterai habis. Nah, setelah baterai mencapai daya tertentu (biasanya tidak sampai habis untuk menjaga umur baterai), motor akan masuk ke mode irit. Motor listrik hanya akan digunakan saat akselerasi awal saja, tergantung throttle, setelah itu mesin bensin yang akan sepenuhnya mendorong motor sambil perlahan baterai diisi dengan pergerakan roda dan pengereman.
Charge Depleting ini baik untuk memaksimalkan motor listrik, tapi dengan seperti ini ada baiknya ditambahkan bagian khusus untuk mengisi ulang daya baterai. Dengan hadirny apengisian ulang ini, maka motor sudah masuk ke motor hybrid paling tinggi, yaitu Plug-in Hybrid.

Compact engine vs Motor Roda

Ada dua perbedaan yang mungkin nanti terjadi pada motor hybrid. Penggunaan mesin listrik dan mesin bensin yang menyatu pada bagian mesin, atau mesin listriknya ditempatkan di bagian velg/rim. Keunggulanya? Saya juga belum tahu sih.

Compact engine

Saya membayangkan sebuah mesin bensin yang terhubung ke sebuah transmisi baik otomatis maupun manual yang bagian ujung nya dipisahkan kopling yang terhubung dengan mesin listrik. Mesin listrik itu kemudian terhubung dengan kopling lagi yang kemudian baru terhubung ke roda penggerak. Dengan begitu, saat hanya mesin listrik yang bergerak, kopling pertama akan memutuskan energi dari mesin ke mesin listrik. Ketika langsam (charging) kopling kedua memutuskan daya sementara kopling pertama terhubung. Saat mesin listrik saling bantu, seluruh kopling terhubung dan mengalirkan energi ke roda.
Mudah-mudahan enggak bingung, ya...


Motor Roda

Dibanding membuat mesin baru seperti sebelumnya, ada kemungkinan lain, yaitu memindahkan mesin listriknya langsung di Roda kendaraan. Transmisi yang digunakan tentunya akan mirip dengan motor biasa, hanya saja di Rodanya ada motor listrik yang akan membantu saat akselerasi atau meregenerasi daya baterai saat mengerem. Kelemahanya, mesin listriknya tidak bisa digunakan untuk starter mesin bensin. Jadi harus ada starter lain yang ditempatkan di dekat mesin bensinya untuk menyalakan mesin saat baterai dari motor listriknya tidak cukup untuk melakukan assist pada saat start. (bisa juga enggak begini sih, kan ini baru tebak-tebakan)
Jadi bayangkan misalnya scooter matic yang bagian tromol di roda belakangnya itu bukan rem isinya, tapi mesin listrik, ya seperti itulah kira-kira bentuknya.


Nah, seperti itulah kira-kira perkembangan motor hybrid kedepan. Untuk sekarang, kita bisa menikmati Honda PCX yang memaksimalkan ACG-Starter nya menjadi ACG-motor atau saya lebih senang menyebutnya dengan istilah MGU atau Motor-Generator Unit.

Pertanyaanya, kapan nih produsen lokal kita menelurkan yang seperti ini? Mesin bisa dibeli lisensinya (seperti viar Vortex), sasis banyak pabrik lokal yang siap (toh AHM bikin sasisnya pake pabrik lokal kan), insinyur enggak kalah banyak lho (klik di sini untuk lihat youtube orang Depok konversi motor supra jadi hybrid.) Tinggal menunggu, entah sampe kapan.

Minggu, 06 Mei 2018

Perbandingan Jasa Kurir: Pengalaman Pribadi

Awalnya seneng banget sama kurir warna merah itu, karena selalu lebih cepat sampenya dibanding yang satunya, tapi untuk sekarang kurir merah itu mengecewakan. Diawali dengan pengen coba membandingkan dua jasa layanan paket atau kurir, saya memesan dua barang dari toko online. Satu menggunakan sebut saja namanya si merah, satunya menggunakan JNE. Saya sebutkan JNE karena paket berhasil sampai dengan selamat, tapi masih nyangkut di tetangga, belum sempet ambil.

Kedua pesanan dipesan tanggal 3 pada sekitar pukul 2 siang. Karena butuh waktu untuk pengemasan dan pengiriman, paket baru dikirimkan tanggal 4 (untuk yang JNE) dan baru tanggal 5 (untuk si merah).

JNE

Paket JNE dikirim pada tanggal 4, diambil kurir dari tempat pengirimnya pada pukul 00.00 (kata aplikasi tracking dari JNE-nya. Diterima di konter jakarta jam 2 pagi dan masuk sorting center jam 1 siang. Baru dikirimkan (statusnya Received at origin gateway) jam 6 pagi tanggal 5-nya. Pada tanggal yang sama pukul dua sampai di gateway bogor. Baru besoknya diterima kurir pengantarnya jam 12 siang. Jam 4, paket sudah sampai di Mamah Saskia (nama tetangga yang nerima). Paket dari Jakarta ke bogor diterima dalam waktu 3 hari plus 1 hari pengemasan. Cukup cepat? Menurut saya mungkin bisa lebih cepat lagi, tapi mungkin saja sedang banyak pengiriman jadi padat. Begini penampakan status tracking-nya:


Simerah J**

J** punya tracking yang lebih bagus, dia bahkan sampe nyebutin nama kurirnya (PT. POS juga sih). Karena kesalahan pengemasan, paket baru dikirim 2 hari setelah pemesanan, tepatnya tanggal 5 (sesuai dengan tracking). Pukul 08.01 paket sudah diterima. Tapi baru dikirim ke BDO_gateway pukul 16.56 dan sampai pada pukul 18.31. Tanggal 6 Paket sudah dikirimkan ke BGR_gateway pada pukul 02.06, ini jaraknya mungkin sekitar 120an km, tapi sampai pada pukul 05.39, saya anggap cepet ini. Dari sini entah kenapa tidak ada pengiriman dari BGR_gateway ke Parung, tapi langsung dari Parung dikirimkan menggunakan sprinter dengan menyebutkan nama sprinter-nya. Itu pukul 13.50, dan akhirnya jam 20.34 pesanan sampai dan dituliskan di keterangan tracking diterima oleh iddah (nama istri saya). Trackingnya seperti gambar dibawah ini:
Cepet kan? Tunggu dulu. Jam 20.34 itu istri saya lagi sama saya, sama anak-anak, terus yang nerima siapa? Hayo? Kalo bukan istri saya yang terima, kenapa di tulis nama istri saya? Ya memang saya kirimkan ke nama istri saya, tapi kan dia enggak terima, tapi tertulis penerimanya dia. Nah, pertanyaanya, kemana paket saya?
Langsung saya telepon ke CS J** menceritakan kejadian ini, katanya nanti pengirimanya akan disempurnakan. Wait, what? Dengan status sudah diterima itu terus saya enggak harus gimana2 lagi nih? Sampai saat ini belum ada kejelasan dari pihak J** terkait hal ini. Dari sekian banyak pengiriman, ini pertama kalinya bermasalah. Balik ke JNE lagi dah, lama dikit, tapi tetep sampe. Mau cepet ya POS lah, tapi rada mahal.
Poin yang paling mengecewakan adalah nama penerimanya. Tidak dikirim ke rumah saya kok bisa namanya disamakan sama nama di alamatnya? Harusnya kan kaya JNE donk, yang nerima bukan yang dituju, tapi dikasih keterangan, penerimanya dia. Sampai saat ini saya enggak tau siapa yang nerima paket saya.

Demikian

Demikian sekelumit curhatan saya mengenai perpaketan. Sementara masih menunggu pihak kurir mengkonfirmasi. Btw, kalo jadi ilang paketnya diganti paling besar 10 kali biaya kirim, atau 120 ribu. Hasyem.

Update, barangnya dah sampe yg pake j**. Sampenya barusan. Sampe, tapi tetep kecewa. Kalo g sampe, kecewamya pake banget.

Kamis, 03 Mei 2018

Motor di Indonesia, Cukup maksimal 400 CC saja.

Entah kenapa pajak kendaraan bermotor khususnya roda dua menurut saya ketinggian ya. Saya maunya sampai 400 cc itu enggak banyak lah PPNBM-nya. Kenapa? Karena pengembangan motor di luar sana difokuskan ke CC yang lumayan besar, jadi yang CC kecil enggak banyak kebagian teknologi baru. Misalnya aja Honda yang sudah menerapkan VTEC pada mesin motor 400 cc-nya, seperti CB400SF dengna varian Hyper VTEC. Oke, tapi bukan itu sih yang bikin saya menyarankan sampai kubikasi 400 CC di kurangin pajaknya, karena ke fungsionalnya juga.
Honda CB400 Super Four

Saya termasuk yang taat aturan lalu lintas, walau kadang masih nerobos juga sih, makanya saya jarang berkendaraan lebih dari 80 km/jam, 80 pun seringnya hanya di jalan antar kota. Nah, penjelasan mengenai jalan-jalan yang dimaksud ada di Peraturan Menteri Perhubungan nomor 111 tahun 2015 tentang batas kecepatan di berbagai jenis jalan. Ada penjelasanya juga, yang dimaksud jalan Antar Kota, Perkotaan, dan Permukiman itu seperti apa. Nah, kalo kecepatan maksimal cuma segitu, kenapa malah pengen CC gede dikurangin pajaknya? Jawabanya:

Akselerasi

Enggak enak juga kan akselerasi lama-lama, 10 detik nungguin kecepatan sampe ke 80... Pernah dulu ngerasain pake Vario 110 di jalan antar kota. Udah sampe 80, kalo ada bus di depan yaudah, mau nduluin udah kehabisan navas, mau dibelakangnya terus kena asep bus, ya, tinggal terima nasib. Sebelumnya saya pernah pakai motor Honda Karisma 125, Mega Pro 1600 (160cc), Vario 110 FI, Vario 125 ISS, Bajaj Pulsar 180 UGIV, Suzuki GSXR150, dan terakhir PCX150. Diluar yang pernah saya pake lama, saya pernah coba Ninja 250 Twin, Ninja 150 (2 tak) dan KTM RC250. Diatas 250, saya belum pernah coba, tapi kalo dilihat dari spek mesin pasti lebih baik lagi mengail ke 80 km/jam kan.
Kalo udah 80, ya tinggal mempertahankan kecepatan aja, kan. Buat saya touring dengan kecepatan segini udah sangat asik lho. Jadi inget dulu pas pake Pulsar 180 UGIV, kalo ketemu rombongan Pulsarian di Pantura pasti klakson2, jadi kaya punya temen sepanjang perjalanan.
Balik ke topik tentang akselerasi, semakin besar cc semakin bagus kan akselerasinya? Tapi kalo sudah lebih dari 400 atau 600 cc high performance, ya jadi mubadzir kan. Makanya saya batasi di 400 cc maksimal kubikasinya.

RPM Mesin

Mesin 110 cc (Vario 110) di jalan antarkota pada kecepatan 80 km/jam itu udah hampir maksimal. Mungkin udah di RPM 6500an kali ya dari power maksimal pada 7000 atau 7500 rpm mesin ya... Nah, artinya untuk mendahului kendaraan yang misalny di 70km/jam aja susah naiknya (pelan-pelan banget) Di kecepatan diatas 60, mesin sudah terasa kurang responsif karena bebanya untuk mempertahankan kecepatan sudah banyak, apalagi ditambah harus menambah kecepatan, semakin sulit.
Dulu pernah pake Yamaha Mio karburator, boncengan, kecepatan 80 itu udah pentok. Bisa jadi mio-nya waktu itu kurang sehat, tapi setidaknya seperti itulah performa mesinya. Apakah akan berbeda dengan mesin modern? Beda pun tidak banyak, karena ini tetap hanya 110 cc.
Misalnya aja KTM Duke 390, kalo power maksimalnya pada 9500 RPM dengan kecepatan maksimal misalnya (saya ga tau realnya, tapi dari data yang ada seginian lah) 160km/jam, maka pada kecepatan 80 km/jam cukup dengan 4000an RPM saja. Mesin masih santai, untuk naik turun 20km/jam dari kecepatan itu bisa dilakukan dengan mudah karena masih melimpah baik torsi ataupun sisa RPM-nya. Mau mendahului bus atau truk, lebih pasti pake power lebih besar walau enggak dipakai untuk overspeed tho?

Kondisi Mesin

Maksudnya pada kecepatan 80 km/jam atau lebih, mesin melakukan putaran hampir mencapai power tertingginya. Artinya mesin bekerja pada batas tertinggi yang diperbolehkan (tetap tidak melebihi) tapi terus berada pada kondisi ini saya sih kasihan (kasihan kok sama mesin motor). Alangkah lebih baiknya kan kalo menjelajah itu hanya menggunakan misalnya 40-60% rpm maksimal mesin? (masih menurut saya)
Seperti orang yang terus dipaksa kerja maksimal dalam waktu yang cukup lama, pasti lebih pengen segera liburan daripada yang agak santai kan? Nah, gitu juga menurut saya tentang mesin kendaraan khususnya roda dua ini. (roda 4 juga sih) Masih menurut saya, dengan menjelajah hanya menggunakan 40-60% dari power yang tersedia, berarti mesin bisa lebih tahan lama.

Kesimpulan dan saran

Nah, saran saya seperti yang saya utarakan diatas, sebaiknya pajak untuk kendaraan bermotor roda dua sampai 400 cc ditinjau lagi. Setelah ditinjau lagi, baru deh yang lebaran kapan tau itu mau melakukan pelarangan motor dengan kapasitas tertentu (kecil) dipakai berkendaraan jauh khususnya waktu lebaran, silakan. Dengan begitu kan motor dapat mengimbangi kecepatan mobil, khususnya yang tidak lewat jalan tol.
Ada baiknya juga menaikan batas emisi juga, jadi enggak tiba-tiba ada banyak motor sport kenceng-kenceng di cc 400an. Pembatasan emisi tentunya akan membuat pabrikan berfikir lagi kalo mau bikin motor 400cc 4 silinder, seperti CBR600 yang harus disuntik mati karena emisi euro berapa ya kemarin, lupa.
Ada baiknya juga untuk performa ini, pabrikan mulai riset teknologi hybrid untuk motor sport, misalnya dipergunakan seperti di F1, baik musim ini ataupun musim sebelumnya yang mesin listriknya bisa digunakan manual saat overtake.
Untuk sementara itu dulu uneg-uneg saya. Barang kali ada yang mau baca atau berkomentar.


Kunjungi Postingan Lainya