Senin, 14 Mei 2018

Macet itu kadang membuka kenangan lama

Hari ini Jakarta lancar, setelah minggu lalu macet parah layaknya touring waktu mudik. Tadi sedikit banyak bisa merasakan dinginya udara pagi dari Bogor-Tangerang Selatan-Jakarta, sebuah perjalanan yang biasa aja, tadi pagi entah kenapa membawa kembali rasa ingin touring.

Udara pagi hari yang sudah dingin berselisih dengan kecepatan kendaraan dan menerpa jaket, membuat rasa dingin yang khas saat bermotor pagi hari. Celah-celah jalanan dari Bogor sampai perempatan gaplek membuat angin terus menerus terasa menjadi semakin dingin. Sampai akhirnya lampu merah menghentikan laju kendaraan.

Hawa panas dari mesin-mesin kendaraan yang berkumpul di belakang garis putih, ditemani pak Polisi tadi pagi memberi semacam kenyamanan mengusir dinginya udara pagi. Hawa hangat ini seperti waktu kendaraan-kendaraan di Pantura melambat karena jalanan sedang diperbaiki, dan saya bersama si Merah dan si Hitam berjalan pelan diantara truk, bus dan kendaraan lain. Hangatnya layaknya kopi di pagi hari, atau coklat panas setelah hujan, atau sekedar susu jahe di dataran tinggi waktu pagi.

Kembali melaju melintasi pondok cabe yang biasanya macet, pagi itu saya ditarik rasa rindu melintasi pondok cabe yang sepi. Berharap cukup macet saja tanpa deadlock, saya beruntung karena memang tidak ada deadlock dan macet pun tidak banyak. Udara pagi yang sejuk masih bisa dirasakan di pinggiran bandara, merasakan aspal yang sesekali bergelombang, tapi tetap nyaman. Turbulensi angin di sekitar helm saat kaca dibuka memberikan semacam musik rock alami yang memberi tahu seberapa cepat saya memerintahkan motor berlari.

Saat harus melambat, pemandangan orang berlalu-lalang sibuk di pinggiran Jakarta menjadi latar belakang perjalanan. Satu dua PCX melintas, satu menyapa dengan dua klakson, satu lagi berlalu begitu saja. Sedikit perjalanan menuju kantor yang tak tergambar ataupun terekam.

Sedikit cerita pagi ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kunjungi Postingan Lainya