Rabu, 09 Mei 2018

Masa depan motor hybrid

Honda sukses memperkenalkan PCX Hybrid di Indonesia. Mengusung mesin listrik dengan tenaga sekitar 1KW, PCX Hybrid akan memberikan pengalaman akselerasi yang luar biasa (menurut spek-nya). Tambahan energi dari mesin listrik akan langsung nendang di RPM bawah mesin bensinya, membantu akselerasi, yang saya bisa jamin akan lebih baik dari mesin bensin rivalnya dengan cc yang sedikit lebih besar sekalipun. Terus, kira-kira bagaimana kedepanya kendaraanya, khususnya motor dengan dua mesin ini? Apa hanya akan sampai sini, atau akan sejauh apa berkembangnya?
Sumber: Kompas Otomotif


Melihat perkembangan teknlogi Hybrid pada kendaraan roda empat alias mobil, kita bisa melihat semacam garis yang 'bisa' dilalui motor hybrid. Saya bilang 'bisa' karena belum tentu para produsen kendaraan ini mau melalui jalur yang sama atau malah membunuh mesin hybrid karena satu dan lain hal. Kalau jalan yang sama seperti mobil di tempuh, artinya teknolgi hybrid ini akan terus turun biayanya.

Nah, untuk saat ini di Indonesia baru ada PCX dengan mesin bensin 150cc 10,8 kW pada 8500rpm dan motor listrik 1,4kW 3000 RPM. Artinya pada RPM awal mesin listrik akan membantu mesin bensin yang torsi dan powernya belum mencapai 10,8 kW (paling baru 3 kW kali ya). Efeknya, tentu akselerasi awal akan sangat baik, tapi tidak banyak membantu di kecepatan menengah atau tinggi. Ini saya simpulkan dari letak posisi mesin listrik yang satu baris dengan crank mesin (kalo enggak salah lihat). Kalo mesin ditaro di putaran roda, akan beda lagi. Atau kalo 3000 RPM pada mesin listrik sudah bisa mencapai 100km/jam itu juga lain lagi. Torsi akan sama, tapi power akan ditambahkan merata pada seluruh rpm mesin bensin.

Nah, selanjutnya apa?

Kubikasi vs Total Power

Jika riset sejalan dengan yang terjadi pada mesin mobil, maka nantinya akan bertemu antara kubikasi mesin dengan power maksimal. Misalnya saja sebuah motor memiliki mesin bensin dengan tenaga 10,8 kW dan ditenagai mesin listrik sebesar 5kW yang langsung menyalurkan tenaga ke roda, maka didapatkan tenaga total 15,8 kW. Tapi ini perlu di dyno lho, karena yang 10,8 kW melalui transmisi yang biasanya ada pengurangan tenaga yang tersalur, sementara mesin listriknya langsung disalurkan hanya menggunakan rantai atau mungkin belt, jadi pengurangan tenaganya berbeda. Dengan perpaduan ini, bisa saja lho skuter dengan mesin bensin 250cc disetarakan dengan skuter 150cc dengan tambahan mesin listrik yang besar itu.


Mencapai kecepatan jelajah

Tenaga besar pada mesin motor biasanya digunakan saat akselerasi, biasanya saat menjelajah, tidak banyak yang digunakan. Makanya saat motor menjelajah dan ECU tidak mendeteksi adanya perubahan pada sensor posisi throttle, tidak banyak bahan bakar yang disemprotkan, hanya cukup untuk terus menjaga kecepatan motornya saja, makanya jadi irit. Nah, mesin 150 cc ini cukup kok untuk menjaga kecepatan motor dengan bobot besar itu tanpa bantuan motor listrik. Yang susah kan akselerasinya dari dia berhenti sampai mencapai kecepatan itu, makanya motor listrik akan membantu. Tentunya ini hanya bisa dilakukan jika mesin listrik dan bensinya bisa bekerja tanpa bantuan satu sama lain, bisa sendiri-sendiri, bisa juga saling bantu.

Regenerative breaking

Saat motor bermesin bensin mengerem, energi pengeremanya akan menjadi panas kemudian diserap dan disebarkan baik oleh cakram atau kampas-nya. Sementara pada motor dengan mesin listrik, mesin listrik dapat menyerap energi pengereman itu menjadi daya baterai. Dengan mesin listrik bertenaga 5kW pastiny adaya yang dibangkitkan saat melakukan perlambatan juga besar donk. Nah, tidak banyak energi yang terbuang dari sini, kan? Jadi energi listrik yang nanti digunakan saat akselerasi, ya didapat dari sini.

Charge Depleting

Dengan mode ini, mesin listrik akan digunakan semaksimal mungkin sampai baterai habis. Nah, setelah baterai mencapai daya tertentu (biasanya tidak sampai habis untuk menjaga umur baterai), motor akan masuk ke mode irit. Motor listrik hanya akan digunakan saat akselerasi awal saja, tergantung throttle, setelah itu mesin bensin yang akan sepenuhnya mendorong motor sambil perlahan baterai diisi dengan pergerakan roda dan pengereman.
Charge Depleting ini baik untuk memaksimalkan motor listrik, tapi dengan seperti ini ada baiknya ditambahkan bagian khusus untuk mengisi ulang daya baterai. Dengan hadirny apengisian ulang ini, maka motor sudah masuk ke motor hybrid paling tinggi, yaitu Plug-in Hybrid.

Compact engine vs Motor Roda

Ada dua perbedaan yang mungkin nanti terjadi pada motor hybrid. Penggunaan mesin listrik dan mesin bensin yang menyatu pada bagian mesin, atau mesin listriknya ditempatkan di bagian velg/rim. Keunggulanya? Saya juga belum tahu sih.

Compact engine

Saya membayangkan sebuah mesin bensin yang terhubung ke sebuah transmisi baik otomatis maupun manual yang bagian ujung nya dipisahkan kopling yang terhubung dengan mesin listrik. Mesin listrik itu kemudian terhubung dengan kopling lagi yang kemudian baru terhubung ke roda penggerak. Dengan begitu, saat hanya mesin listrik yang bergerak, kopling pertama akan memutuskan energi dari mesin ke mesin listrik. Ketika langsam (charging) kopling kedua memutuskan daya sementara kopling pertama terhubung. Saat mesin listrik saling bantu, seluruh kopling terhubung dan mengalirkan energi ke roda.
Mudah-mudahan enggak bingung, ya...


Motor Roda

Dibanding membuat mesin baru seperti sebelumnya, ada kemungkinan lain, yaitu memindahkan mesin listriknya langsung di Roda kendaraan. Transmisi yang digunakan tentunya akan mirip dengan motor biasa, hanya saja di Rodanya ada motor listrik yang akan membantu saat akselerasi atau meregenerasi daya baterai saat mengerem. Kelemahanya, mesin listriknya tidak bisa digunakan untuk starter mesin bensin. Jadi harus ada starter lain yang ditempatkan di dekat mesin bensinya untuk menyalakan mesin saat baterai dari motor listriknya tidak cukup untuk melakukan assist pada saat start. (bisa juga enggak begini sih, kan ini baru tebak-tebakan)
Jadi bayangkan misalnya scooter matic yang bagian tromol di roda belakangnya itu bukan rem isinya, tapi mesin listrik, ya seperti itulah kira-kira bentuknya.


Nah, seperti itulah kira-kira perkembangan motor hybrid kedepan. Untuk sekarang, kita bisa menikmati Honda PCX yang memaksimalkan ACG-Starter nya menjadi ACG-motor atau saya lebih senang menyebutnya dengan istilah MGU atau Motor-Generator Unit.

Pertanyaanya, kapan nih produsen lokal kita menelurkan yang seperti ini? Mesin bisa dibeli lisensinya (seperti viar Vortex), sasis banyak pabrik lokal yang siap (toh AHM bikin sasisnya pake pabrik lokal kan), insinyur enggak kalah banyak lho (klik di sini untuk lihat youtube orang Depok konversi motor supra jadi hybrid.) Tinggal menunggu, entah sampe kapan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kunjungi Postingan Lainya