Minggu, 27 Mei 2018

Memanusiakan manusia di jalan

Memanusiakan manusia ini ada di kuliahnya istri saya, tapi tanpa ikut kuliahnya saya meminjam kata-katanya. Memanusiakan manusia itu yang saya tangkep dari kata-katanya adalah memposisikan manusia sebagai manusia, bukan sebagai binatang apalagi benda. Caranya adalah dengan saling berempati sesama manusia dan tidak memandang status sosialnya, mereka itu ya manusia. Nah, saya minggu ini merasakan dimanusiakan oleh pengemudi sedan mewah eropa berlogo partai demokrat (eh, kebalik ya. partai demokrat yang make logonya dia :D ..) Ceritanya begini:



Waktu itu saya kebetulan lewat jalan Jendral Sudirman, kebetulan lalu lintas waktu itu padat merayap. Biasa donk, bersama PCX saya nyelip-nyelip diantara mobil-mobil mewah, bus dan metromini. Buat yang biasa selip-selip, walau enggak arogan atau membahayakan, biasanya ngerasain kan diantara dua kendaraan dan spion mereka membatasi manuver kendaraan.

Suasana panas, pulang kerja, pengen cepet sampe, tapi tetep pengen menghormati pengendara roda empat. 'Jangan lah sampe nyerempet sedikit pun roda empat di jalan' begitu kata saya di dalam hati. Saya juga punya kendaraan roda empat, jadi berasa kalo sampe enggak sengaja diserempet itu walau baret halus, tapi pengenya enggak. Kalopun minta ganti, ya kan kasian juga kan pemotor dimintain ganti buat baret tipis. Toh kalo tipis bisa 'diakalin'.

'Wah, ketutup spion' otomatis saya berhenti dulu, mengukur presisi kiri kanan antar spion mobil. Yang kiri kebetulan sedan mewah eropa yang saya ceritakan diatas, sementara yang kanan SUV jepang. Waktu saya putuskan 'ini bisa nih maju, tapi miring-miring sedikit' baru saya mau maju, spion sedan Jerman itu melipat spion elektriknya.

Ini pertama kalinya saya diberi jalan walau hanya beberapa senti, tapi cukup buat motor saya melaju, bermanuver sedikit lebih cepat daripada miring-miring menghindari spion. Yang saya rasakan saat itu, 'wah, dikasih jalan, Alhamdulillah' sambil melihat kearah kaca pengemudi saya menunduk dan tersenyum. Ya, enggak kelihatan juga sih yang mengemudinya, tapi terasa saling berbaginya.

Saya sih enggak tahu motif di belakang sang pengemudi melipat spion, tapi apapun itu yang saya rasakan saat itu adalah merasa dihargai. Bisa ajakan pengemudi sedan eropa itu melipat spion biar enggak lecet spionya, tapi tetap rasa dihargai itu yang lebih berkesan.

Berbagi itu enggak harus yang besar, berbagi jalan pun bisa berkesan, dan saya mendoakan pengemudinya semoga semakin lancar rezekinya dan dilancarkan urusanya.

Di lain waktu saya juga pernah lihat sedan eropa lain yang logonya biru putih biru putih, berhenti, di klakson-klaksonin tapi tetep enggak jalan. Enggak ada apa-apa di depanya, mesinya pun sepertinya enggak rusak. Pengemudinya dengan santainya menaikan kakinya ke kursi, entah nunggu apa. Sampe beberapa saat kemudian suara ambulan yang tadi meraung-raung langsung lewat dengan cepat menuju underpass, baru pengemudi sedan eropa itu menjalankan lagi kendaraanya. Ternyata dia membagi jalanya untuk ambulan.

Oh iya, minggu ini saya juga lihat ambulan yang menembus kemacetan di jalan menuju Ciputat sebelum UIN, semua pengemudi roda empat langsung meminggirkan mobilnya. Yang kiri minggir ke kiri, yang kanan minggir ke kanan. Ini luar biasa, kan. Sepertinya Indonesia berjalan kearah yang lebih baik. Paling enggak orang-orangnya, rakyatnya semakin pintar, semakin berempati, semakin memanusiakan manusia.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kunjungi Postingan Lainya