Kamis, 03 Mei 2018

Motor di Indonesia, Cukup maksimal 400 CC saja.

Entah kenapa pajak kendaraan bermotor khususnya roda dua menurut saya ketinggian ya. Saya maunya sampai 400 cc itu enggak banyak lah PPNBM-nya. Kenapa? Karena pengembangan motor di luar sana difokuskan ke CC yang lumayan besar, jadi yang CC kecil enggak banyak kebagian teknologi baru. Misalnya aja Honda yang sudah menerapkan VTEC pada mesin motor 400 cc-nya, seperti CB400SF dengna varian Hyper VTEC. Oke, tapi bukan itu sih yang bikin saya menyarankan sampai kubikasi 400 CC di kurangin pajaknya, karena ke fungsionalnya juga.
Honda CB400 Super Four

Saya termasuk yang taat aturan lalu lintas, walau kadang masih nerobos juga sih, makanya saya jarang berkendaraan lebih dari 80 km/jam, 80 pun seringnya hanya di jalan antar kota. Nah, penjelasan mengenai jalan-jalan yang dimaksud ada di Peraturan Menteri Perhubungan nomor 111 tahun 2015 tentang batas kecepatan di berbagai jenis jalan. Ada penjelasanya juga, yang dimaksud jalan Antar Kota, Perkotaan, dan Permukiman itu seperti apa. Nah, kalo kecepatan maksimal cuma segitu, kenapa malah pengen CC gede dikurangin pajaknya? Jawabanya:

Akselerasi

Enggak enak juga kan akselerasi lama-lama, 10 detik nungguin kecepatan sampe ke 80... Pernah dulu ngerasain pake Vario 110 di jalan antar kota. Udah sampe 80, kalo ada bus di depan yaudah, mau nduluin udah kehabisan navas, mau dibelakangnya terus kena asep bus, ya, tinggal terima nasib. Sebelumnya saya pernah pakai motor Honda Karisma 125, Mega Pro 1600 (160cc), Vario 110 FI, Vario 125 ISS, Bajaj Pulsar 180 UGIV, Suzuki GSXR150, dan terakhir PCX150. Diluar yang pernah saya pake lama, saya pernah coba Ninja 250 Twin, Ninja 150 (2 tak) dan KTM RC250. Diatas 250, saya belum pernah coba, tapi kalo dilihat dari spek mesin pasti lebih baik lagi mengail ke 80 km/jam kan.
Kalo udah 80, ya tinggal mempertahankan kecepatan aja, kan. Buat saya touring dengan kecepatan segini udah sangat asik lho. Jadi inget dulu pas pake Pulsar 180 UGIV, kalo ketemu rombongan Pulsarian di Pantura pasti klakson2, jadi kaya punya temen sepanjang perjalanan.
Balik ke topik tentang akselerasi, semakin besar cc semakin bagus kan akselerasinya? Tapi kalo sudah lebih dari 400 atau 600 cc high performance, ya jadi mubadzir kan. Makanya saya batasi di 400 cc maksimal kubikasinya.

RPM Mesin

Mesin 110 cc (Vario 110) di jalan antarkota pada kecepatan 80 km/jam itu udah hampir maksimal. Mungkin udah di RPM 6500an kali ya dari power maksimal pada 7000 atau 7500 rpm mesin ya... Nah, artinya untuk mendahului kendaraan yang misalny di 70km/jam aja susah naiknya (pelan-pelan banget) Di kecepatan diatas 60, mesin sudah terasa kurang responsif karena bebanya untuk mempertahankan kecepatan sudah banyak, apalagi ditambah harus menambah kecepatan, semakin sulit.
Dulu pernah pake Yamaha Mio karburator, boncengan, kecepatan 80 itu udah pentok. Bisa jadi mio-nya waktu itu kurang sehat, tapi setidaknya seperti itulah performa mesinya. Apakah akan berbeda dengan mesin modern? Beda pun tidak banyak, karena ini tetap hanya 110 cc.
Misalnya aja KTM Duke 390, kalo power maksimalnya pada 9500 RPM dengan kecepatan maksimal misalnya (saya ga tau realnya, tapi dari data yang ada seginian lah) 160km/jam, maka pada kecepatan 80 km/jam cukup dengan 4000an RPM saja. Mesin masih santai, untuk naik turun 20km/jam dari kecepatan itu bisa dilakukan dengan mudah karena masih melimpah baik torsi ataupun sisa RPM-nya. Mau mendahului bus atau truk, lebih pasti pake power lebih besar walau enggak dipakai untuk overspeed tho?

Kondisi Mesin

Maksudnya pada kecepatan 80 km/jam atau lebih, mesin melakukan putaran hampir mencapai power tertingginya. Artinya mesin bekerja pada batas tertinggi yang diperbolehkan (tetap tidak melebihi) tapi terus berada pada kondisi ini saya sih kasihan (kasihan kok sama mesin motor). Alangkah lebih baiknya kan kalo menjelajah itu hanya menggunakan misalnya 40-60% rpm maksimal mesin? (masih menurut saya)
Seperti orang yang terus dipaksa kerja maksimal dalam waktu yang cukup lama, pasti lebih pengen segera liburan daripada yang agak santai kan? Nah, gitu juga menurut saya tentang mesin kendaraan khususnya roda dua ini. (roda 4 juga sih) Masih menurut saya, dengan menjelajah hanya menggunakan 40-60% dari power yang tersedia, berarti mesin bisa lebih tahan lama.

Kesimpulan dan saran

Nah, saran saya seperti yang saya utarakan diatas, sebaiknya pajak untuk kendaraan bermotor roda dua sampai 400 cc ditinjau lagi. Setelah ditinjau lagi, baru deh yang lebaran kapan tau itu mau melakukan pelarangan motor dengan kapasitas tertentu (kecil) dipakai berkendaraan jauh khususnya waktu lebaran, silakan. Dengan begitu kan motor dapat mengimbangi kecepatan mobil, khususnya yang tidak lewat jalan tol.
Ada baiknya juga menaikan batas emisi juga, jadi enggak tiba-tiba ada banyak motor sport kenceng-kenceng di cc 400an. Pembatasan emisi tentunya akan membuat pabrikan berfikir lagi kalo mau bikin motor 400cc 4 silinder, seperti CBR600 yang harus disuntik mati karena emisi euro berapa ya kemarin, lupa.
Ada baiknya juga untuk performa ini, pabrikan mulai riset teknologi hybrid untuk motor sport, misalnya dipergunakan seperti di F1, baik musim ini ataupun musim sebelumnya yang mesin listriknya bisa digunakan manual saat overtake.
Untuk sementara itu dulu uneg-uneg saya. Barang kali ada yang mau baca atau berkomentar.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kunjungi Postingan Lainya