Jumat, 29 Juni 2018

Penunjuk rerata konsumsi bahan bakar: kmpl atau l/100km

Ini tiba-tiba menggelitik ketika salah satu vloger kondang bilang, 'Kenapa harus l/100km sih, kenapa enggak dihilangkan saja ini, mendingan km/l aja.' dan saya langsung enggak setuju. Kenapa begitu? Saya mau coba ungkapkan uneg-uneg saya, susah gampangnya memakai dua satuan rerata konsumsi bahan bakar ini.

Km/l (Kilometer per liter)

Jarak dibagi volume bahan bakar, artinya jarak yang dapat ditempuh kendaraan dalam satu liter bahan bakar. Volume ini tentunya akan beda-beda setiap bahan bakar, ya, siapa tahu ada bahan bakar yang campuranya lebih bagus, jadi 1 liternya bisa lebih berat dari bahan bakar lain, dan penggunaanya bisa lebih irit (Makanya di F1 pakenya kg bukan liter).

Pendekatan satuan ini adalah jarak yang bisa ditempuh dalam 1 liter bahan bakar. Cara pengetesanya mudah, masukan satu liter bahan bakar, reset odometer, dan pakai kendaraan sampai bahan bakar tadi habis. Jadilah jarak yang ditempuh odometer adalah yang bisa ditempuh dengan 1 liter bahan bakar. Membayangkan keseluruhan jarak yang mungkin bisa ditempuh dalam kondisi tangki bahan bakar penuh tentunya mudah, misalnya saja kalau bahan bakar 10 liter, konsumsinya 40 km/liter artinya jarak yang bisa ditempuh adalah 400 km (kira-kira).
  • Keunggulanya? Tentunya lebih presisi. Misalnya 53,3 km/liter artinya dalam 2 liter kita bisa menempuh 106,6 km.
  • Kerugianya? Coba deh, tanpa kalkulator hitung bahan bakar yang sudah dikonsumsi kalo kasusnya misal konsumsi bbm 53,3 km/l jarak yang sudah ditempuh 100km, berapa bahan bakar yang sudah terpakai? Udah, ga usah dihitung, jawabanya 1,8761... dibuletin ya jadi 1,88.

L/100km (Liter per 100 kilometer)

Satuan ini jarang atau hampir enggak pernah digunakan di Indonesia, karena susah buat nyombong irit-iritan, hehe. Karena memang satuan ini pendekatanya menurut saya bukan buat irit-iritan atau boros-borosan, tapi memprediksi berapa banyak bahan bakar yang sudah terpakai. Karena liter taruh di depan dan dibagi dengan suatu konstanta jarak, maka dengan mudah kita bisa menghitung berapa liter kira-kira bahan bakar yang sudah terpakai.

Langsung ke keunggulan dan kerugianya aja ya:
  • Keunggulanya? Mudah menentukan bahan bakar yang sudah dikonsumsi. Misal kita pake contoh diatas, odometer menyentuh angka 100 sementara di rata-rata konsumsi bahan bakar tertulis 1,9, ya berarti kira-kira ditangki sudah habis 1,9 liter. Kalo tangki 6,6 berarti masih ada 4,7 liter lagi. Coba deh yang sedikit susah, misalnya kita sudah menempuh jarak 130 km, panel menunjukan 2,2 l/100km, bisa kita itung kalo bbm terpakai hampir 3,3 (saat 150km berarti sudah 3,3) Artinya saat 150 km nanti bbm di tangki tinggal 3,3 liter dan konsumsi saat ini, ya sekitar 3 literan dan di tangki masih ada sekitar 3,6 liter. Coba kalo pake km/l, yang ditunjukan 45,5 km/l odometer 130 km, artinya dihitungnya: 130 dibagi 45,5 (coba berapa kalo ga pake kalkulator) jawabanya sih 2,857 atau dibulatin jadi 2,9 tapi ini pake kalkulator ngitungnya.
  • Kerugianya? Ya enggak terlalu presisi hitunganya, tapi paling enggak kita tahu kira-kira konsumsinya sudah berapa liter.
Begitulah menurut saya kenapa km/l enggak lebih baik dari l/100km dan sebaliknya. Dua-duanya punya keunggulan masing-masing. Kalo saya, kalo mau nyombong pakenya km/l, biar kelihatanya jaraknya jauuh gitu tiap liternya. Kalo lagi di jalan pakenya l/100km, buat ngira-ngira udah habis berapa ini di tangki.

Maaf ya ga ada gambar, takut keburu menguap ini idenya. :D

PCX 150 kembali ke Indramayu dari Kebumen

Sampe di Karanggedang, Kebumen, muter-muter silaturahmi, istirahat, dan besok paginya langsung pulang ke Indramayu. Dari sekian banyak perjalanan sebelumnya, perjalanan ini yang paling asik. Enggak ada batas waktu, karena memang sengaja pengen waktu istirahat setelah sampe-nya agak panjang, jadi bisa agak santai di jalan. Santai itu hatinya, tapi karena jalanan longgar dan cukup lebar, ya tetep aja kita deketin sama topspeed yang kemarin, hehe. Mendekati ya, tapi enggak menyentuh, karena menyentuh topspeed enggak semudah di... ah, nyebut brand sebelah yang udah dijual ke adek lagi deh wkwkwk...


Jalanya cukup menantang, ada beberapa tempat yang berkelok-kelok terutama setelah Ajibarang. Ada satu tempat yang biasanya macet, kalo enggak salah sih deket stasiun kretek, sekarang udah pake lintas terbang alias flyover, jadi simpangan dengan rel kereta ini udah enggak bikin macet... Tapi malah tempat lain yang bikin macet, hahaha. Biasa lah, habis lebaran banyak yang wisata.

Beberapa pembangunan infrastruktur masih menghambat perjalanan, di jalur yang saya tempuh, ya apa boleh buat sih, jalanya sempit, cuma ada jalan ini yang bisa dipakai dari selatan menuju utara atau. Ditambah ada beberapa objek wisata yang kadang parkirnya kelebihan muatan, jadi memakan fungsi jalan.

Untuk arus mudik ataupun balik, saya enggak punya saran untuk pemerintah. Yang ada sudah maksimal, mungkin perlu inovasi pembangunan jalan dan infrastruktur untuk mendukung jalan terutama untuk mudik dan baliik lebaran, tapi saya enggak ada ide.

Oke, karena impresi PCX sudah dibahas di artikel awal jadi sekarang cerita tentang perjalananya aja, ya. Total jarak tempuh perjalanan 7 jam 49 menit (kata google) dengan jarak tempuh 307 km. Diawali dengan jalan yang agak lengang yang macet disetiap pertemuan dengan kota ataupun perempatan dengan lampu merah. Sepanjang jalur selatan sampai setelah kebasen (kata google alfamart klapagading), banyak sekali perempatan, pasar dan semacam pusat kota kecil. Ada ruas lengang sih beberapa kali, termasuk tempat yang banyak jual cendolnya (mau mampir tapi kok enggak mood ya). Mungkin nanti kalo bareng keluarga pengen mampir ke sini...

Akhirnya berhenti di Alfamart setelah 2 jam lebih bermotor. Beli cemilan dan lanjut jalan lagi sampe di sebuah mesjid namanya mesjid Baitur Rossad, dan mengistirahatkan diri di sini. Ketemu pemudik lain di sini, termasuk yang pakai mobil dan motor. Ini kok pemudik mobil juga ikutan pada tiduran ya, mobilnya enggak nyaman kali ya...

Setelah beberapa saat, lanjut lagi, menurut google jam 11.18 melanjutkan perjalanan. Kali ini perjalanan dihadapkan dengan jalan berkelok, beberapa titik macet yang termasuk macet ghaib, karena enggak tau apa penyebabnya. Overall, pemandanganya oke, enggak se oke kalo lewat sempor sih, tapi sudah cukup untuk ukuran jalan utama.

Menikmati pemandangan dari Ajibarang sampai Songgom, saking asiknya, sampe keterusan malah naik flyover kearah tegal. Waktu naik enggak sadar, pas udah turun baru ngeh, lho kok ini belok ke kanan ya, harusnya kan kiri. Baru sampe bawah flyover, lihat peta dan bener aja, kelewatan beloknya. Akhrnya ya balik lagi.

Setelah balik lagi, baru deh ketemu jalan pinggir kali, entah ini daerah apa namanya. Ada yang bilang brebes, tapi saya lebih suka nyebut pinggir kali. Daerah ini dulu sering lihat banyak batu bata di tumpuk untuk dikeringkan dan dibakar, tapi entah kenapa sekarang kok enggak lihat lagi ya. Apa mungkin sudah enggak ada yang bikin bata lagi, atau mereka sudah pake teknik lain yang enggak memerlukan di jemur.

Karena pemandangan tepi sungai tidak terlalu menarik, saya tarik tuas gas sampai akhirnya capek dan sudah masuk waktu zuhur. Berhenti di Indomaret buat istirahat, makan siang, dan solat. Pokoknya indomaret yang deket sama mesjid dan ada di daerah pinggir kali ini lah pokoknya. Waktu istirahta, lihat peta, lho kok sebentar lagi udah keluar nih, masuk pantura, Cirebon, kemudian Indramayu. Baru jam 2 sudah sampe sini ini, pasti bisa cepet sampe nih (tapi kemudian ngeh kalo ini harusnya sekitar 3-4 jam lagi)


Sempet istirahat satu kali lagi waktu di jalan pinggir pantai, dan lagi-lagi menyesal enggak banyak ambil gambar. Mungkin lain kali. Mudik lain kali coba banyak ambil gambar, menikmati perjalanan dari pada memburu waktu. Karena mudik kemaren tanpa ambil cuti tambahan, full cuti dipaksa, jadi ya sempit banget waktu setelah lebaranya.

Rabu, 27 Juni 2018

PCX150 - Balik Bareng GSXR150 dan CB150R


Sampai di prambanan pukul 10 malem itu enggak langsung tidur, baru bisa tidur jam 11 an, dan paginya tepatnya jam 8.35 langsung berangkat ke Kebumen bareng 2 adik yang keduanya pake DOHC Overbore 150 cc yang satu pake sendalpot resing satunya masih ori, tapi yang ori ini real racing machine yang dulu saya pake :D

Rute-nya, dari rumah embah yang di prambanan masuk ke Yogyakarta lewat lingkar utara. Waktu itu kondisi jalan ramai lancar. Di sini, saya dengan PCX masih bisa lah bergantian di depan sama duo sport itu. Akselerasi awal bisa dibilang cukup baik sampai 60km/jam. sampai 80 lumayan, diatas itu, ya nasibnya SOHC 2 klep dengan CVT di setel irit ya begitulah. Untungnya masih banyak macet, masih ada lampu merah yang membendung topspeed dua anak muda ini.


Waktu itu jalanan ramai lancar disertai kemacetan di beberapa tempat karena persimpangan jalan, terutama lampu merah. Kepadatan kendaraan plus lampu merah pastinya bikin jalan jadi merayap. Buat roda empat pasti sangat menyiksa, tapi buat roda dua enggak terlalu. Mudik kali ini sangat ramah terutama buat kami pengendara roda dua.


Perjalananya juga cukup cepet, cukup 1 kali istirahat buat isi bensin (mungkin bisa enggak pake istirahat juga).

Setelah perjalanan berkelok-kelok sedikit, sampailah kita di jalan lurus terus yang sekarang sudah rapih tanpa lubang, jalan yang sering disebut jalan Deandels. Yup, untuk topspeed langsung lah ketinggalan, tapi untuk akselerasi, juga ketinggalan lah sama GSXR150, tapi sama CB masih bisa lah sedikit, mungkin skill ridernya juga yang kurang ini, soalnya doi sering ganti gigi di RPM rendah, padahal kan itu motor overbore DOHC.

Mengeksplore kecepetan adalah bukan hal yang enak untuk PCX150. Mentok di 110 km/jam karena angin dan bobot pengendara dan barang bawaanya, jadi rasanya malah cenderung ke membosankan daripada terpicu adrenalinya. Mungkin saya harus diet biar bisa sampai 120 pada speedometer.

Jalan lurus tak berujung ini bukan tanpa macet, ternyata ada beberapa tempat yang membuat kendaraan terhambat, entah hanya perempatan, atau semacam tempat beli oleh-oleh yang pengunjungnya banyak yang parkir sembarangan. Alhasil, walau kecepetan tinggi bisa diperoleh, tetep aja sampenya 3 jam lebih.



Jalan kearah utara dari jalan lurus ini juga ada rusak di beberapa tempat, terutama jalan Petanahan-Karanganyar. Memang bukan jalan utama sih, jadinya mungkin memang kurang diperhatikan. Harus melambat biar bokong enggak dibuat menghantam jok keras PCX. Bahkan jalan yang kelihatanya rata pun ternyata bergelombang. Entah sampai kapan jalan ini akan terus seperti itu tidak diperbaiki. Tapi ya sudah lah, saya make setahun sekali dari tahun kemarin masih begini aja sih.

Setelah sampe, istirahat sebentar, kemudian ada acara silaturahmi ke beberapa tempat. Karena kecapekan jadi numpang mobilnya om Toto bareng anak-anak kecil (ini rasanya kaya mobil jemputan sekolah gitu yang bawa anak-anak banyak banget)

Begitulah petualangan hari kedua lebaran. Satu lagi di hari ketiga, lanjut nanti lagi ya. Jaaa...

Selasa, 26 Juni 2018

PCX150 Mudik Indramayu - Klaten

Postingan yang sangat terlambat, mungkin udah ada beberapa kejadian yang lupa, dan karena waktu yang sangat sempit, enggak banyak foto yang diambil dalam perjalanan kali ini, karena fokus ke konsistensi kecepatan dariapda mengabadikan perjalananya.



Langsung aja, setelah sampe Indramayu kecapekan, akhirnya diputuskan untuk berangkat ke Klaten-nya setelah Shalat Idul Fitri di Indramayu. Berharap perjalanan baik, cuaca baik, dan motor juga cukup baik, dimulailah perjalanan siang itu, kalo enggak salah mulai perjalanan dari rumah itu Jam 10 atau setengah 10-an atau jam 9 ya. Kondisi tangki bahan bakar hampir habis waktu itu, mungkin ada 2 liter tersisa dari 8 liter kapasitas tangki.

Langsung geber dari rumah ke arah jalan pantura di sebelah utara. Karena jalanya menuju timur, saya harus ke barat dulu, kemudian cari putar balik ke timur baru ikut arus mudik. Kebetulan saat itu arusnya tidak terlalu padat karena kebanyakan pemudik entah sudah sampai atau baru akan berangkat (jarang sih yang baru berangkat habis solat) pagi-pagi kayak gini.

Setelah menjelajah selama 36 menit menempuh jarak 24 km, sampai di SPBU Eretan. Memenuhi tangki bensin PCX150 yang sepertinya enggak terlalu doyan bensin, karena rata-rata minum bensin dalam perjalanan ini hampir menyentuh 60km/liter (sekitar 58km/liter). Setelah berhenti sejenak mengisi bensin dan memantapkan hati untuk melanjutkan perjalanan, akhirnya bisa menikmati jalan pantura yang lebar dan berangin saat itu.

Jalan lebar artinya kecenderungan pengendara untuk berkecepatan tinggi semakin tinggi juga. Yang lain bisa menjelajah di 60-70an (yang boncengan) atau bahkan ada yg di 80an km/jam yang pake mesin kapasitas diatas 125. Karena yang lain cepet-cepet, jadi saya juga kebawa cepet, mempertahankan kecepatan di 80 km/jam kalo lancar dan menyesuaikan kalo mulai padet atau macet.

Dinamika Berkendaraan

Jalan yang berangin di Pantura ini menguji aerodinamika dari PCX150, yang menurut saya kurang baik ya. Entah dimananya, tapi di jalan pantura dengan kecepatan antara 80-100 ini motornya agak goyang seperti ditiup angin ketika ada perubahan arah angin. Beda dengan waktu saya pake GSXR150 tahun lalu yang anteng walau di geber lebih dari itu. Entah hanya body-nya saja yang mempengaruhi aerodinamika-nya atau mungkin juga sasis, suspensi dan keseluruhan bagianya mempengaruhi dinamika berkendaraanya. yang pasti bobotnya tidak terlalu jauh dengan GSXR150, kan?

Perubahan posisi kaki dari di bawah atau diselonjorkan cukup merubah kenyamanan berkendaraan. Memposisikan kaki di dek bawah memungkinkan posisi tubuh dikedepankan, pusat gravitasi kendaraan bergerak kedepan, membuat PCX lebih stabil di kecepatan tinggi dan lincah melewati kendaraan lain. Kaki di tempatkan di depan, posisi agak selonjoran, pusat gravitasi bergeser kebelakang, membuat posisi duduk nyaman dan kendaraan mantap dibawa menjelajah.

Konsumsi bahan bakar

PCX tidak minum bensin di kecepatan rata-rata 60km/jam (sebuah pernyataan hiperbola), tapi mulai minum lagi di kecepatan 80 dan terus semakin boros di kecepatan 100 dan hanya mentok di 110 (dengan bobot saya dan barang muatan di bagasi). Di kecepatan 60, konsumsi bahan bakar sangat minim, bahkan bisa menyentuh 58km/liter, tapi di kecepatan tinggi konsumsi bahan bakar rata-ratanya terus berkurang, jadi total rata-rata sekitar 56 km/liter.

Kenyamanan

Kenyamanan diantaranya getaran mesin, akselerasi, suspensi, dan tempat duduk atau jok. Jadi kita mulai dari getaran mesin dulu ya.

Getaran Mesin

Getaran mesin sangat minim, kecuali CVT-nya yang bergetar waktu berakselerasi dari diam, tidak ada yang signifikan sampai kecepatan 80 km/jam. Diatas itu, entah mesin atau CVT yang kembali bergetar. Enggak pas di 80 sih, tapi kalau di kecepatan 80 kita akselerasi tiba-tiba, langsung terasa getaranya. Tapi kalau dari kecepatan 80 itu di urut perlahan dan perlahan naik, getaranya enggak kerasa, sampai kita enggak sabar dan akhirnya kerasa lagi.

Getaran Idling juga tidak terasa. Kalo pake ISS bahkan enggak ada idlingnya, mesinya mati... Hahaha. Peredaman mesin baik, tapi area CVT ini sangat mengganggu. Mungkin diganti saja jangan pake CVT, pake Electric Transmission aja biar halus :D saya rasa ruang tromol di roda belakang itu cukup di masukin mesin listrik dengan power 15 hp lah.

Akselerasi

Akselerasinya luar biasa dari 40-80, dibawah dan setelah itu ya kita ngomongin skuter otomatis bertransmisi CVT dengan kapasitas 150cc, kan. Apa sih yang mau diharapkan? Awalnya ya saya enggak keberatan dengan itu, tapi ternyata di jalur pantura 150 cc CVT itu kurang. Perlu waspada tinggi untuk mendahului kendaraan pribadi atau bus yang masih lewat jalur pantura, ini ngapain pada lewat luar tol ya, mungkin meminimalisir biaya mudik pake roda empat kali ya.

Suspensi

Suspensinya bengkok!!! Ini ngapa AHM masih diem aja, padahal secara visual kelihatan enggak enak, tapi tetep enggak di recall? Yaudah lah, buat pelajaran aja, klo produk yang mereka jual emang kadang secara visual tidak terlihat seperti produk lain (terjemahin sendiri).

Pada kecepatan tinggi dan jalan yang rata cukup baik, tapi begitu beralih ke jalan bergelombang, big no! Masih jauh lebih enak perpaduan GSXR150 yang depanya empuk belakangnya rada keras itu lho. Apa lagi Pulsar, udah cakep banget klo Pulsar mah. Nah, yang jadi masalah, jalur pantura itu beragam, ada yang di aspal bagus dan halus, ada yang hanya beton saja, ada yang bergelombang, ada yang sedikit berlubang, ada yang tidak rata, ada yang aspalnya mungkin meleleh, bikin jalanya kaya laut berombak. Suspensi PCX menerabas jalan seperti ini? Big No! Sebaiknya gunakan di dalam kota dengan aspal cukup baik atau kualitas beton yang cukup baik juga.

Jok

Keras! Jok keras berpadu dengan suspensi yang keras membuat benturan antara bobot tubuh bagian atas ke jok jadi sangat terasa. Karena seperti yang kita ketahui kalau energi benturan itu akan diredam menjadi patahan (pada rangka mobil) atau panas (pada suspens) maka lemak yang ada di bokong akan memanas seiring dengan banyaknya benturan pada jalan rusak. (ini teori ngawur).

Intinya mah, karena keras jadi cepet panas ini joknya. Enggak kaya motor sport (GSXR) yang dulu pegel di bagian otot, ini capek, tapi enggak tau mana yang capek atau mana yang harus dikendorin ototnya. Kalo naik motor sport yang capek otot paha, otot punggung bawah, otot lengan dan kadang pundak. Begitu istirahat, bisa kita kasih counterpain atau obat gosok lain yang hangat untuk meredakan ketegangan si otot itu. Nah bayangin kalo naik ini, yang kerasa pegel itu bagian bokong, bukan otot paha atas ya, tapi ini bokong. Kira-kira kalo bokong ini di kasih counterpain gimana rasanya? Enggak ngeresep, karena isinya lemak (Maklum bokong saya berkumpul banyak lemak).

Masuk ke Semarang menuju Yogya

Saya sampai di Alfamart banyumanik hampir jam 6 sore. Istirahat cukup lama di sini karena masuk waktu Maghrib, dan enggak lupa makan karena udah kelaperan. Tadinya kirain jam segini ini udah masuk Yogyakarta, ternyata masih jauh, dan medan di sini mulai nanjak, enggak bisa memaksimalkan transmisi CVT dengan kapasitas mesin 150 cc ini dengan kondisi jalan begini. Ini istirahat terakhir saya sebelum akhirnya menempuh 111 Km, ini mulai tidak konsisten dengan kecepatan saya sebelumnya.

Tidak konsisten karena yang pertama adalah lalulintas yang mulai padat, dan yang kedua malam hari, ketiga topografi. Sebelumnya dalam 1 jam saya bisa menempuh antara 50-60km, ini 111 km 4 jam? Sungguh tidak konsisten. Mungkin seperti Lorenzo sebelum dua balapan terakhir, di lap akhir sudah capek dan akhirnya tertinggal.

Sempat nyasar juga, karenasalah belok, yang tadinya mau lewat Salatiga, malah lewat Magelang. Sedikit muter, tapi enggak terlalu banyak sih. Malah saya lebih hafal yang lewat magelang dari yang salatiga (sepertinya).

Kesimpulan

Konsimsi bahan bakar di tengah perjalanan (lupa dimana)
Saya sampai di Prambanan jam 10 malam, terlambat 2 jam karena kurang matangnya perkiraan perjalanan menggunakan motor yang belum pernah saya gunakan untuk perjalanan jauh.

Dari perjalanan kali ini, ada beberapa hal yang bisa saya simpulkan:

  • Ternyata foto itu perlu, dan harus foto, soalnya bikin artikel tanpa foto tuh enggak enak juga, jadi lain kali harus ambil foto, toh tinggal buka hp jepret, dapat.. Hufh.
  • Motor 150 cc dengan transmisi otomatis memang tidak se-mengasyik-an motor sport, lebih bisa menikmati perjalananya, dan kalo bisa selalu upgrade kenyamanan dulu.
  • Earset itu perlu, karena saya nyasar gara-gara enggak pake earset untuk mendengarkan saudari Google Maps mengoceh. Saya nyasar dua kali lho, dari yang harusnya ke salatiga malah lewat magelang, yang kedua harusnya ke arah songgom malah arah tegal (yang ini saya muter balik)

Nah, kesimpulan untuk PCX150:

  • Ini CVT 150 cc, jangan mengharapkan performa motor sport! Ya iya lah, cuma gara-gara mudik terakhir pake motor sport jadi masih terngiang-ngiang, apa lagi kemaren baliknya bareng sama sama GSXR150 dan Streetfire, duo DOHC Overbore.
  • Suspensi, terutama belakang perlu di upgrade, seenggaknya dibuat lebih nyaman hentakan. Perlu budget untuk ini.
  • Jok harus dibuat lebih empuk lagi, dan ini juga perlu budget lagi. Ini sangat membantu mengurangi benturan palangsung pada lemak di bokong.

Sepertinya saya enggak terlalu cocok dengan sekuter otomatis ya... Kok saya jadi inget GSXR150 lagi, asik naik itu. Gara-gara itu, saya jadi mbayangin, kalo pake Duke 250 kayaknya asik, ya. Hehehe...

Oke, nanti lanjut ke arus balik.

Sabtu, 02 Juni 2018

Bersaing di maxi scooter, apa aja PR Suzuki merombak Burgman?

Tulisan ini sekedar angan-angan saya, kalo seandainya Suzuki mau berjibaku melawan PCX dan NMAX, kira-kira apa aja yang bikin saya pengen pindah haluan? (walaupun mungkin baru 4 tahun kedepan). Sebelum milih PCX kemarin, saya cukup galau dengan NMAX, kalau NMAX di update lebih cepat dan punya semua fitur yang kurang dari PCX, pasti saya pilih NMAX. Dengan latar belakang itu, kira-kira seperti ini fitur yang perlu disematkan ke Burgman kalau mau di adu dengan PCX dan NMAX. Sementara kalau mau diadu dengan XMAX hal-hal ini juga bisa dipertimbangkan.

Desain

Desainya menurut saya masih cukup elegan. Ada beberapa titik yang agak risih sih di mata saya, tapi dengan fitur yang cukup, masalah desain ini buat saya masih oke. Sayangnya tidak banyak fitur dibandingkan dengan lawanya.

Pada bagian ekor, saya melihat ada garis desain yang mirip dengan Xmax, lampu belakang dua bagian simestris yang terpisah (bagi saya mirip XMAX). Kalo dari sisi desain, memang Burgman ini lebih menantang XMAX ya, tapi elegan. Kalo NMAX maskulin dibenturkan honda dengan PCX yang elegan, Brugman ini terlihat elegan dan cocok kalo dibenturkan dengan XMAX kalau harganya reasonable.

Sektor penerangan, tentunya harus bersaing dengan yang ada sekarang. Penggunaan lampu LED yang tahan lama tentunya akan jadi nilai lebih. LED dengan proyektor di bagian depan tentunya akan sangat baik (terlalu berharap).

Sampai sekarang di dunia maya belum ada bocoran Burgman yang akan di benturkan dengan PCX dan NMAX ini, mungkin masih cukup lama, masih ada waktu untuk menabung.

Mesin

Kapasitas mesin penantang NMAX dan PCX dari Suzuki ini katanya akan lebih besar. Di bagian mesin, Suzuki ingin menunjukan superioritasnya dengan mesin yang lebih besar. Dengan mesin yang lebih, tenaga pada putaran bawah lebih besar, tapi sayangnya konsumsi bahan bakar cukup disoroti di segmen ini, terutama segmen sekuter 150 cc. Mungkin beda ya kalau mau dibenturkan dengan XMAX, agak jarang saya menemui owner XMAX yang mempermasalahkan konsumsi bahan bakar, karena menurut mereka (mungkin) kepuasan berkendaraan itu yang utama dari pada konsumsi bahan bakar.

Saya tidak bisa banyak menduga, tapi dengan kapasitas lebih besar, apakah jadi nilai lebih, atau malah menjadi boomerang dengan konsumsi bahan bakar yang jadi lebih boros. Atau Suzuki sudah menyiapkan mesin hybrid untuk meningkatkan efisiensi? Ya, cuma waktu yang bisa menjawab.

Fitur

Burgman saat ini sudah menggunakan ABS, kalo bisa dipertahankan, misalnya seluruh line up maxi scooter Suzuki pake ABS, tentunya akan lebih baik lagi. Buat saya sendiri, ABS opsional sih, klo ada yang enggak pake ABS, saya prefer itu. Alasanya? Karena fitur itu jarang terpakai, ABS di kendaraan saya yang sekarang aja nganggur enggak pernah kedip :D

Mengganti lampu yang saat ini masih bohlam tentunya juga perlu, mengingat pesaingnya di level ini sudah pakai LED semua. Malah konon saya dengar Yamaha akan mengeluarkan NMAX dengan lampu full LED (entah full atau makin bertambah banyak LED tapi enggak Full). Hanya mengganti headlamp saja yang LED mungkin masih bisa mengejar ketertinggalan, mengingat lampu depan ini paling banyak mengkonsumsi daya dan paling krusial. Lampu belakang masih bohlam, menurut saya bukan masalah besar.

Untuk persaingan di segmen ini Traction Control atau TC mungkin belum ya, mengingat powernya hanya sekitaran 10-11 kw. Kalau Suzuki mau memberikan 12 atau 13, saya pikir masih belum perlu traction control. Tentu kalau diberikan pasti menambah nilai tawarnya, tapi kalau membebani harga, sebaiknya tidak usah.

Ride by wire juga opsional. Untuk saya kalau ada ride by wire dan mode berkendara akan memberikan nilai lebih. Dengan kapasitas mesin yang besar, pengguna bisa memilih apakah mau super irit dengan pembatasan power 10kw saja, irit dengan power maksimal, atau sporty, tentunya jadi nilai lebih. Tanpa idling stop, ride by wire buat saya harus ada. Dengan idling stop, ride by wire jadi nilai tambah yang masih saya perjuangkan kalau harganya naik dengan keberadaanya. Jadi buat saya mendingan ga pake TC tapi pake RBW dengan Mode berkendaraan. Wah, mungkin saya nanti bahas tentang RBW ini ya... sepertinya menarik.

Kesimpulan

Dari awal saya selalu sebut Burgman, padahal yang dijadikan untuk melawan NMAX dan PCX belum tentu berbasis Burgman. Tapi saya sangat berharap basisnya Burgman, karena dia unik.

Enggak seperti Forza yang menggunakan sasis modifikasi untuk kelas 125nya, Burgman tetap menggunakan sasis atau model daleman yang mirip dengan yang besarnya. Bisa dilihat dari posisi radiatornya yang ada di depan. Honda Forza 125 radiatornya di belakang, di atas pipa gas buang, mirip seperti PCX baik yang 125 ataupun 150. Tapi Forza 300 radiatornya di depan. Beda dengan Burgman yang dari 125 sampai 650, semua radiatornya ada di depan. Seperti ada kesan hanya cc-nya saja yang berbeda, sisanya lebih serupa.
Keunggulan radiator di depan? Kemungkinan pendinginanya lebih baik, tapi saya perlu riset lebih lanjut.

Begitulah harapan saya Suzuki mendesain Burgman, dilokalkan di Indonesia di benturkan dengan PCX dan NMAX dengan fitur-fitur tersebut diatas.

Demikian ketikan ngelantur saya...

Kunjungi Postingan Lainya