Selasa, 26 Juni 2018

PCX150 Mudik Indramayu - Klaten

Postingan yang sangat terlambat, mungkin udah ada beberapa kejadian yang lupa, dan karena waktu yang sangat sempit, enggak banyak foto yang diambil dalam perjalanan kali ini, karena fokus ke konsistensi kecepatan dariapda mengabadikan perjalananya.



Langsung aja, setelah sampe Indramayu kecapekan, akhirnya diputuskan untuk berangkat ke Klaten-nya setelah Shalat Idul Fitri di Indramayu. Berharap perjalanan baik, cuaca baik, dan motor juga cukup baik, dimulailah perjalanan siang itu, kalo enggak salah mulai perjalanan dari rumah itu Jam 10 atau setengah 10-an atau jam 9 ya. Kondisi tangki bahan bakar hampir habis waktu itu, mungkin ada 2 liter tersisa dari 8 liter kapasitas tangki.

Langsung geber dari rumah ke arah jalan pantura di sebelah utara. Karena jalanya menuju timur, saya harus ke barat dulu, kemudian cari putar balik ke timur baru ikut arus mudik. Kebetulan saat itu arusnya tidak terlalu padat karena kebanyakan pemudik entah sudah sampai atau baru akan berangkat (jarang sih yang baru berangkat habis solat) pagi-pagi kayak gini.

Setelah menjelajah selama 36 menit menempuh jarak 24 km, sampai di SPBU Eretan. Memenuhi tangki bensin PCX150 yang sepertinya enggak terlalu doyan bensin, karena rata-rata minum bensin dalam perjalanan ini hampir menyentuh 60km/liter (sekitar 58km/liter). Setelah berhenti sejenak mengisi bensin dan memantapkan hati untuk melanjutkan perjalanan, akhirnya bisa menikmati jalan pantura yang lebar dan berangin saat itu.

Jalan lebar artinya kecenderungan pengendara untuk berkecepatan tinggi semakin tinggi juga. Yang lain bisa menjelajah di 60-70an (yang boncengan) atau bahkan ada yg di 80an km/jam yang pake mesin kapasitas diatas 125. Karena yang lain cepet-cepet, jadi saya juga kebawa cepet, mempertahankan kecepatan di 80 km/jam kalo lancar dan menyesuaikan kalo mulai padet atau macet.

Dinamika Berkendaraan

Jalan yang berangin di Pantura ini menguji aerodinamika dari PCX150, yang menurut saya kurang baik ya. Entah dimananya, tapi di jalan pantura dengan kecepatan antara 80-100 ini motornya agak goyang seperti ditiup angin ketika ada perubahan arah angin. Beda dengan waktu saya pake GSXR150 tahun lalu yang anteng walau di geber lebih dari itu. Entah hanya body-nya saja yang mempengaruhi aerodinamika-nya atau mungkin juga sasis, suspensi dan keseluruhan bagianya mempengaruhi dinamika berkendaraanya. yang pasti bobotnya tidak terlalu jauh dengan GSXR150, kan?

Perubahan posisi kaki dari di bawah atau diselonjorkan cukup merubah kenyamanan berkendaraan. Memposisikan kaki di dek bawah memungkinkan posisi tubuh dikedepankan, pusat gravitasi kendaraan bergerak kedepan, membuat PCX lebih stabil di kecepatan tinggi dan lincah melewati kendaraan lain. Kaki di tempatkan di depan, posisi agak selonjoran, pusat gravitasi bergeser kebelakang, membuat posisi duduk nyaman dan kendaraan mantap dibawa menjelajah.

Konsumsi bahan bakar

PCX tidak minum bensin di kecepatan rata-rata 60km/jam (sebuah pernyataan hiperbola), tapi mulai minum lagi di kecepatan 80 dan terus semakin boros di kecepatan 100 dan hanya mentok di 110 (dengan bobot saya dan barang muatan di bagasi). Di kecepatan 60, konsumsi bahan bakar sangat minim, bahkan bisa menyentuh 58km/liter, tapi di kecepatan tinggi konsumsi bahan bakar rata-ratanya terus berkurang, jadi total rata-rata sekitar 56 km/liter.

Kenyamanan

Kenyamanan diantaranya getaran mesin, akselerasi, suspensi, dan tempat duduk atau jok. Jadi kita mulai dari getaran mesin dulu ya.

Getaran Mesin

Getaran mesin sangat minim, kecuali CVT-nya yang bergetar waktu berakselerasi dari diam, tidak ada yang signifikan sampai kecepatan 80 km/jam. Diatas itu, entah mesin atau CVT yang kembali bergetar. Enggak pas di 80 sih, tapi kalau di kecepatan 80 kita akselerasi tiba-tiba, langsung terasa getaranya. Tapi kalau dari kecepatan 80 itu di urut perlahan dan perlahan naik, getaranya enggak kerasa, sampai kita enggak sabar dan akhirnya kerasa lagi.

Getaran Idling juga tidak terasa. Kalo pake ISS bahkan enggak ada idlingnya, mesinya mati... Hahaha. Peredaman mesin baik, tapi area CVT ini sangat mengganggu. Mungkin diganti saja jangan pake CVT, pake Electric Transmission aja biar halus :D saya rasa ruang tromol di roda belakang itu cukup di masukin mesin listrik dengan power 15 hp lah.

Akselerasi

Akselerasinya luar biasa dari 40-80, dibawah dan setelah itu ya kita ngomongin skuter otomatis bertransmisi CVT dengan kapasitas 150cc, kan. Apa sih yang mau diharapkan? Awalnya ya saya enggak keberatan dengan itu, tapi ternyata di jalur pantura 150 cc CVT itu kurang. Perlu waspada tinggi untuk mendahului kendaraan pribadi atau bus yang masih lewat jalur pantura, ini ngapain pada lewat luar tol ya, mungkin meminimalisir biaya mudik pake roda empat kali ya.

Suspensi

Suspensinya bengkok!!! Ini ngapa AHM masih diem aja, padahal secara visual kelihatan enggak enak, tapi tetep enggak di recall? Yaudah lah, buat pelajaran aja, klo produk yang mereka jual emang kadang secara visual tidak terlihat seperti produk lain (terjemahin sendiri).

Pada kecepatan tinggi dan jalan yang rata cukup baik, tapi begitu beralih ke jalan bergelombang, big no! Masih jauh lebih enak perpaduan GSXR150 yang depanya empuk belakangnya rada keras itu lho. Apa lagi Pulsar, udah cakep banget klo Pulsar mah. Nah, yang jadi masalah, jalur pantura itu beragam, ada yang di aspal bagus dan halus, ada yang hanya beton saja, ada yang bergelombang, ada yang sedikit berlubang, ada yang tidak rata, ada yang aspalnya mungkin meleleh, bikin jalanya kaya laut berombak. Suspensi PCX menerabas jalan seperti ini? Big No! Sebaiknya gunakan di dalam kota dengan aspal cukup baik atau kualitas beton yang cukup baik juga.

Jok

Keras! Jok keras berpadu dengan suspensi yang keras membuat benturan antara bobot tubuh bagian atas ke jok jadi sangat terasa. Karena seperti yang kita ketahui kalau energi benturan itu akan diredam menjadi patahan (pada rangka mobil) atau panas (pada suspens) maka lemak yang ada di bokong akan memanas seiring dengan banyaknya benturan pada jalan rusak. (ini teori ngawur).

Intinya mah, karena keras jadi cepet panas ini joknya. Enggak kaya motor sport (GSXR) yang dulu pegel di bagian otot, ini capek, tapi enggak tau mana yang capek atau mana yang harus dikendorin ototnya. Kalo naik motor sport yang capek otot paha, otot punggung bawah, otot lengan dan kadang pundak. Begitu istirahat, bisa kita kasih counterpain atau obat gosok lain yang hangat untuk meredakan ketegangan si otot itu. Nah bayangin kalo naik ini, yang kerasa pegel itu bagian bokong, bukan otot paha atas ya, tapi ini bokong. Kira-kira kalo bokong ini di kasih counterpain gimana rasanya? Enggak ngeresep, karena isinya lemak (Maklum bokong saya berkumpul banyak lemak).

Masuk ke Semarang menuju Yogya

Saya sampai di Alfamart banyumanik hampir jam 6 sore. Istirahat cukup lama di sini karena masuk waktu Maghrib, dan enggak lupa makan karena udah kelaperan. Tadinya kirain jam segini ini udah masuk Yogyakarta, ternyata masih jauh, dan medan di sini mulai nanjak, enggak bisa memaksimalkan transmisi CVT dengan kapasitas mesin 150 cc ini dengan kondisi jalan begini. Ini istirahat terakhir saya sebelum akhirnya menempuh 111 Km, ini mulai tidak konsisten dengan kecepatan saya sebelumnya.

Tidak konsisten karena yang pertama adalah lalulintas yang mulai padat, dan yang kedua malam hari, ketiga topografi. Sebelumnya dalam 1 jam saya bisa menempuh antara 50-60km, ini 111 km 4 jam? Sungguh tidak konsisten. Mungkin seperti Lorenzo sebelum dua balapan terakhir, di lap akhir sudah capek dan akhirnya tertinggal.

Sempat nyasar juga, karenasalah belok, yang tadinya mau lewat Salatiga, malah lewat Magelang. Sedikit muter, tapi enggak terlalu banyak sih. Malah saya lebih hafal yang lewat magelang dari yang salatiga (sepertinya).

Kesimpulan

Konsimsi bahan bakar di tengah perjalanan (lupa dimana)
Saya sampai di Prambanan jam 10 malam, terlambat 2 jam karena kurang matangnya perkiraan perjalanan menggunakan motor yang belum pernah saya gunakan untuk perjalanan jauh.

Dari perjalanan kali ini, ada beberapa hal yang bisa saya simpulkan:

  • Ternyata foto itu perlu, dan harus foto, soalnya bikin artikel tanpa foto tuh enggak enak juga, jadi lain kali harus ambil foto, toh tinggal buka hp jepret, dapat.. Hufh.
  • Motor 150 cc dengan transmisi otomatis memang tidak se-mengasyik-an motor sport, lebih bisa menikmati perjalananya, dan kalo bisa selalu upgrade kenyamanan dulu.
  • Earset itu perlu, karena saya nyasar gara-gara enggak pake earset untuk mendengarkan saudari Google Maps mengoceh. Saya nyasar dua kali lho, dari yang harusnya ke salatiga malah lewat magelang, yang kedua harusnya ke arah songgom malah arah tegal (yang ini saya muter balik)

Nah, kesimpulan untuk PCX150:

  • Ini CVT 150 cc, jangan mengharapkan performa motor sport! Ya iya lah, cuma gara-gara mudik terakhir pake motor sport jadi masih terngiang-ngiang, apa lagi kemaren baliknya bareng sama sama GSXR150 dan Streetfire, duo DOHC Overbore.
  • Suspensi, terutama belakang perlu di upgrade, seenggaknya dibuat lebih nyaman hentakan. Perlu budget untuk ini.
  • Jok harus dibuat lebih empuk lagi, dan ini juga perlu budget lagi. Ini sangat membantu mengurangi benturan palangsung pada lemak di bokong.

Sepertinya saya enggak terlalu cocok dengan sekuter otomatis ya... Kok saya jadi inget GSXR150 lagi, asik naik itu. Gara-gara itu, saya jadi mbayangin, kalo pake Duke 250 kayaknya asik, ya. Hehehe...

Oke, nanti lanjut ke arus balik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kunjungi Postingan Lainya