Jumat, 29 Juni 2018

Penunjuk rerata konsumsi bahan bakar: kmpl atau l/100km

Ini tiba-tiba menggelitik ketika salah satu vloger kondang bilang, 'Kenapa harus l/100km sih, kenapa enggak dihilangkan saja ini, mendingan km/l aja.' dan saya langsung enggak setuju. Kenapa begitu? Saya mau coba ungkapkan uneg-uneg saya, susah gampangnya memakai dua satuan rerata konsumsi bahan bakar ini.

Km/l (Kilometer per liter)

Jarak dibagi volume bahan bakar, artinya jarak yang dapat ditempuh kendaraan dalam satu liter bahan bakar. Volume ini tentunya akan beda-beda setiap bahan bakar, ya, siapa tahu ada bahan bakar yang campuranya lebih bagus, jadi 1 liternya bisa lebih berat dari bahan bakar lain, dan penggunaanya bisa lebih irit (Makanya di F1 pakenya kg bukan liter).

Pendekatan satuan ini adalah jarak yang bisa ditempuh dalam 1 liter bahan bakar. Cara pengetesanya mudah, masukan satu liter bahan bakar, reset odometer, dan pakai kendaraan sampai bahan bakar tadi habis. Jadilah jarak yang ditempuh odometer adalah yang bisa ditempuh dengan 1 liter bahan bakar. Membayangkan keseluruhan jarak yang mungkin bisa ditempuh dalam kondisi tangki bahan bakar penuh tentunya mudah, misalnya saja kalau bahan bakar 10 liter, konsumsinya 40 km/liter artinya jarak yang bisa ditempuh adalah 400 km (kira-kira).
  • Keunggulanya? Tentunya lebih presisi. Misalnya 53,3 km/liter artinya dalam 2 liter kita bisa menempuh 106,6 km.
  • Kerugianya? Coba deh, tanpa kalkulator hitung bahan bakar yang sudah dikonsumsi kalo kasusnya misal konsumsi bbm 53,3 km/l jarak yang sudah ditempuh 100km, berapa bahan bakar yang sudah terpakai? Udah, ga usah dihitung, jawabanya 1,8761... dibuletin ya jadi 1,88.

L/100km (Liter per 100 kilometer)

Satuan ini jarang atau hampir enggak pernah digunakan di Indonesia, karena susah buat nyombong irit-iritan, hehe. Karena memang satuan ini pendekatanya menurut saya bukan buat irit-iritan atau boros-borosan, tapi memprediksi berapa banyak bahan bakar yang sudah terpakai. Karena liter taruh di depan dan dibagi dengan suatu konstanta jarak, maka dengan mudah kita bisa menghitung berapa liter kira-kira bahan bakar yang sudah terpakai.

Langsung ke keunggulan dan kerugianya aja ya:
  • Keunggulanya? Mudah menentukan bahan bakar yang sudah dikonsumsi. Misal kita pake contoh diatas, odometer menyentuh angka 100 sementara di rata-rata konsumsi bahan bakar tertulis 1,9, ya berarti kira-kira ditangki sudah habis 1,9 liter. Kalo tangki 6,6 berarti masih ada 4,7 liter lagi. Coba deh yang sedikit susah, misalnya kita sudah menempuh jarak 130 km, panel menunjukan 2,2 l/100km, bisa kita itung kalo bbm terpakai hampir 3,3 (saat 150km berarti sudah 3,3) Artinya saat 150 km nanti bbm di tangki tinggal 3,3 liter dan konsumsi saat ini, ya sekitar 3 literan dan di tangki masih ada sekitar 3,6 liter. Coba kalo pake km/l, yang ditunjukan 45,5 km/l odometer 130 km, artinya dihitungnya: 130 dibagi 45,5 (coba berapa kalo ga pake kalkulator) jawabanya sih 2,857 atau dibulatin jadi 2,9 tapi ini pake kalkulator ngitungnya.
  • Kerugianya? Ya enggak terlalu presisi hitunganya, tapi paling enggak kita tahu kira-kira konsumsinya sudah berapa liter.
Begitulah menurut saya kenapa km/l enggak lebih baik dari l/100km dan sebaliknya. Dua-duanya punya keunggulan masing-masing. Kalo saya, kalo mau nyombong pakenya km/l, biar kelihatanya jaraknya jauuh gitu tiap liternya. Kalo lagi di jalan pakenya l/100km, buat ngira-ngira udah habis berapa ini di tangki.

Maaf ya ga ada gambar, takut keburu menguap ini idenya. :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kunjungi Postingan Lainya