Kamis, 12 Juli 2018

Tentang Angka Oktan dan Kompresi

Di suatu grup (kayaknya hampir semua grup otomotif) rame dengan kenaikan BBM, banyak yang hawatir biaya hidup akan naik karena kenaikan BBM ini, maka banyak yang merasa harus beralih dari oktan yang tadinya dirasa cukup ke oktan yang lebih rendah. Karena itu banyak pertanyaan "Kalo pake oktan 90 apa gpp?" beberapa saya ikut jawab sih, malah ada yang salah persepsi juga dengan jawaban saya. Makanya saya bikin artikel aja sekalian deh.

Mesin 4 Langkah / 4 Tak atau 4 Stroke

Mesin 4 langkah adalah mesin dengan 4 langkah kerja seperti yang ada di gambar dibawah. Langkah 1 adalah langkah hisap, yaitu mesin menghisap campuran udara dan bahan bakar ke ruang mesin. Pada langkah ini, piston bergerak dari titik mati atas (TMA) ke titik mati bawah (TMB).

Sumber : www.richardwheeler.net

Langkah berikutnya adalah langkah kompresi. Pada saat kompresi, campuran udara dan bahan bakar ditekan keatas ketika piston bergerak dari titik mati bawah menuju titik mati atas. Pada langkah ini temperatur campuran udara dan bahan bakar akan meningkat.

Langkah ketiga adalah pembakaran. Campuran udara-bahan bakar yang sudah dikompresi tadi diledakan dengan Busi (kalau mesin bensin) atau dengan tekanan itu sendiri (kalo diesel). Langkah ini merubah energi kimia pada bensin yang bercampur dengan udara menjadi energi panas dan gerak turun piston.

Setelah pembakaran, langkah berikutnya adalah buang. Gas sisa pembakaran akan dibuang menggunakan gerak piston dari TMB ke TMA menuju katup keluar. Setelah gas sisa hasil pembakaran dibuang, maka piston akan siap memulai lagi langkah pertamanya, dan begitu seterusnya.

Nah, semakin tinggi kompresi, tentunya panas yang dihasilkan dari pembakaran semakin tinggi, karena kompresi yang tinggi akan meningkatkan suhu campuran udara dan bahan bakar. Setiap siklus tentunya akan meningkatkan suhu mesin juga, itulah sebabnya mesin memerlukan pendingin, baik berupa kisi-kisi, radiator oli, atau radiator cairan lain agar suhu mesin tetap optimal (Tidak terlalu dingin, tapi juga tidak terlalu panas).

Nilai Oktan dan Kompresi

Nilai oktan ukuran standar dari kinerja bahan bakar mesin. Semakin tinggi oktan, semakin tidah mudah terdetonasi dengan tekanan dan bisa digunakan dengan bahan bakar dengan kompresi yang lebih tinggi yang artinya performa juga lebih baik. Semakin tinggi kompresi, tentu semakin tinggi juga power mesinya. (Nanti kita bahas lebih lanjut)

Jika oktan yang lebih rendah dari spesifikasi yang diperbolehkan, apa yang terjadi? Setelah langkah hisap pertama pada penjelasan diatas, piston mulai melakukan kompresi naik dari TMB ke TMA. Karena oktan rendah, sebagian campuran bahan bakar sudah mulai terbakar sebelum TMA (sebelum piston ada di ujung atas), padahal piston masih bergerak keatas, tapi sudah ada sebagian campuran yang mulai terbakar dan mendorong kebawah. Jadi ketika langkah pembakaran, hanya sedikit campuran yang benar-benar menghasilkan tenaga, jadi tenaga drop.

Bukan cuma drop karena itu, tapi karena saat piston naik harusnya tidak terjadi pembakaran, campuran yang sudah terbakar juga mengurangi laju piston, membuat tenaga total yang tersalurkan berkurang. Karena pada saat piston bergerak naik sudah ada detonasi yang mendorong kebawah, ada kemungkinan lama kelamaan stang piston akan bengkok, atau bahkan patah.

Bahaya kan. Nah, terus, taunya dari mana kendaraan kita harus pakai bahan bakar yang mana? dari grafik di bawah ini:


Tunggu, baca dulu sampe habis tentang kompresi ini. Kompresi yang tertera pada brosur kendaraan adalah kompresi yang dihitung dengan membandingkan area kosong saat piston ada di Titik Mati Bawah (TMB) dan Titik Mati Atas (TMA) makanya perbandinganya menjadi 10:1 misalnya. Ukuranya seperti di bawah ini:

dari motogokil.com

Memilih Bahan Bakar

Nah, diatas itu adalah cara menghitung rasio kompresi yang tertera pada brosur, tapi sayangnya kebutuhan oktan bahan bakar tidak menggunakan rasio kompresi itu, mempengaruhi, tapi tidak serta merta rasio itu yang dipakai. Ada hal lain yang mempengaruhi rasio kompresi sebenernya dari sebuah kendaraan (Perlu pembahasan pro ini) rasio kompresi yang sebenarnya ini sangat tergantung dengan VE atau Volumetric Efficiency dari mesin itu. Nah, bisa saja suatu kendaraan memiliki kompresi 11.1:1 tapi tetap dapat menggunakan bahan bakar dengan oktan 88 misalnya, ini karena rasio kompresi riilnya tidak lebih dari 9:1.

Imbasnya apa punya kompresi besar VE kecil, memungkinkan minum premium? Ya power yang berada jauh dibawah potensi dari mesin itu. Powernya relatif lebih kecil dibanding kendaraan yang menggunakan VE lebih tinggi walau misalnya raiso kompresinya lebih kecil. VE 60% dengan kompresi 10:1 mungkin akan kalah dengan mesin VE 100% dengan kompresi 9:1 dengan CC yang sama (walau perlu banyak sekali variabel yang harus dipertimbangkan)

Terus tau dari mana kebutuhan bahan bakar kita? Ya tentunya dari buku manual donk, atau beberapa perusahaan juga memunculkan kebutuhan oktan minimalnya pada situs mereka. Biasanya mereka menyebutkan nilai oktan minimal atau misalnya hanya menyebutkan BBM tanpa timbal saja, yang artinya boleh premium :D

Untuk kendaraan roda dua produsen Jepang yang diproduksi di Indonesia untuk market Indonesia kebanyakan sih masih bisa pake oktan 88 lho. PCX sekalipun masih bisa pake oktan 88 lho, jadi enggak usah hawatir kalau mau pakai Shell Reguler (RON 90), Revvo 89 (RON 89), REVVO 90 (RON90) atau Total Performance 90 (RON 90), karena memang didesain untuk nilai oktan yang lebih rendah.

Tapi hati-hati buat yang pake mesin skyactiv dari Mazda, enggak bisa turun ke RON 90, tertera di web Mazda 2 dengan kompresi 13:1 itu minimal RON 91 lho. Atau pengguna KTM Duke 200 yang kalo di web-nya tertulis RON 95 lho, di buku manual juga kan? Hayo ngaku nih yang punya mesin KTM :)

2 komentar:

Kunjungi Postingan Lainya