Senin, 09 Juli 2018

Tentang Transmisi CVT (Continuous Variable Transmission)

Transmisi otomatis yang disebut CVT sudah sangat banyak di Indonesia, entah berapa juta yang pakai di motor dan mobil. Klo di mobil otomatis ya otomatis, manual ya manual, mau otomatis kaya apa, itu dapur lah, kebanyakan pengemudi taunya ya transmisinya naik turun sendiri. Kalo di motor, transmisi otomatis ya CVT, jarang ada yang tau kalo ada juga transmisi otomatis DCT (Dual Clutch Transmission) yang cara kerjanya sangat jauh berbeda dengan CVT. Saya coba membuat sedikit catatan tentang CVT, seperti apa gambaran cara kerjanya, keunggulan dan kerugianya.

Cara Kerja

Cara kerja umum transmisi CVT adalah menggunakan dua buah kerucut Drive Pulley dan Driven Pulley yang akan menggerakan rantai atau sabuk yang menghubungkanya dan merubah percepatan. 


Biar gampang, seperti diatas ini lah kira-kira gambarnya. Jadi dengan naiknya kecepatan, rasio giginya akan berubah sesuai dengan seberapa jauh pergeseran drive dan driven pulleynya. Yang biru itu Drive Pulley yang satunya driven pulley. 

Kalo gitu dimana yang dikasih pelumas? yang menghubungkan driven pulley ke roda ada reduksi gigi lagi, dan itu yang direndam pelumas baik untuk mengurangi gesekan atau meredam gesekan. kalo untuk gambar di bawah ini, CVT itu di tutup oleh cover berwarna silver itu, di bawah filter udara.


Selain driver dan driven pulley, ada juga yang namanya kopling lho. Kopling ini menghubungkan antara driver dan driven pulley dengan poros yang menggerakan roda gigi yang kemudian menggerakan roda belakang. Waktu itu mekanik AHASS pernah bilang kalo itu namanya kopling ganda seperti gambar di bawah ini.


Seiring dengan naiknya rpm mesin, kopling akan membuka karena gerakan sentrifugal kemudian mencengkeram rumah kopling yang akan memutar roda gigi yang roda giginya kemudian memutar ban. Seiring dengan penggunaan, tentu kampasnya akan habis dan perlu diganti karena kampas ini menterjemahkan tenaga mesin menjadi torsi pada putaran rendah, sekaligus membuat pergerakan awal kendaraan jadi halus (harusnya halus).

Oh iya, semua yang menghubungkan dua bagian untuk menyalurkan tenaga itu disebut kopling, atau dalam bahasa inggris coupling. Kopling ini seharusnya tidak terlepas saat mesin bekerja, tapi yang diatas namanya torque limiting coupling, jadi kalo torsinya pada batas tertentu, dia akan slip atau bahkan terlepas (saat kendaraan iddle atau saat akselerasi di awal). Dengan pembatasan torsi ini, mesin akan naik ke rpm yang lebih tinggi sampai torsi yang dibutuhkan atau torsi optimum untuk menggerakan kendaraan.

Karakteristik

Dengan cara kerja yang sudah dijabarkan diatas, maka CVT punya karakteristik yang cukup menarik nih. Saya buat pointer biar lebih gampang, dan kalo kurang nanti ditambahkan dikemudian hari kalo inget, :) Karakteristik akan saya bagi dua, kelebihan dan kekurangan. Untuk yang pertama akan saya bahas kelebihanya dulu.

Kelebihan

  • Torsi dan tenaga yang datar di setiap kecepatan. Dengan pengaturan yang pas ini bisa tercapai. Pengguna tinggal buka gas aja, langsung secara mekanis transmisi menyajikan rpm mesin yang pas untuk berakselerasi.
  • Dengan toris dan tenaga yang datar di setiap kecepatan tentunya akselerasi akan lebih baik. Wait! Pasti ada yang protes, kok akselerasi lebih bagus? Iya, bener, enggak salah baca. Akselerasi lebih bagus. CVT yang dibenamkan pada kendaraan umum adalah CVT umum, tentunya menyeimbangkan antara konsumsi bahan bakar dan akselerasi. Bisa kok kalau diset agar akselerasi luar biasa.
    Misalnya dengan menaikan batas torsi sebelum kopling bekerja, sehingga diperoleh kendaraan berakselerasi setelah di gas agak dalam. Masalahnya konsumsi bahan bakar akan sangat boros. Mesin akan terkesan 'ngeden' padahal saat di rpm yang ditentukan si kendaraan akan ngacir.
    Pasti ada yang bilang, kalo emang lebih bagus, kenapa enggak buat balap? Karena DILARANG. Iya Dilarang. Ada salah satu tim Formula 1 yang mengembangkan transmisi CVT, tapi kemudian dilarang. Toh kalo sekarang diperbolehkan pasti bermasalah dengan pembatasan bahan bakar yang hanya boleh 100kg itu.
  • Halus, tidak terasa perpindahan gigi. Ya iyalah, kan Continuous, ya enggak kerasa sama sekali.
  • Transmisi terlihat compact, tidak terlalu rumit seperti transmisi manual. Dan karena penyaluran tenaga langsung menggunakan sabuk atau belt yang digunakan untuk menggerakan pulley, maka tidak perlu penyalur tenaga lain (terutama pada kendaraan 150cc kebawah)

Kekurangan

  • Boros bahan bakar yang pertama kali saya identifikasi. Wait! Pasti ada yang sewot lagi nih bilang, itu kok bisa irit si PCX150... dan kawan-kawanya. Dengan performa transmisi yang disesuaikan (ditingkatkan atau disamakan) tentu bahan bakar yang terkoreksi akan lebih banyak kalo pake CVT. Waktu gas naik, ada jeda RPM naik tapi kendaraan belum jalan pada transmisi CVT, ini pemborosan. Waktu transmisi naik, tapi kecepatan roda masih rendah kopling akan selip, dan selip kopling yang tidak terkendali ini mempengaruhi borosnya bahan bakar juga. Sementara pada transmisi manual, slip kopling ini bisa diminimalisir dengan menggunakan rpm dan gigi yang lebih rendah (sesuai kebutuhan). Jadi dengan performa yang disetarakan, transmisi CVT lebih boros dibanding transmisi manual.
  • Performa underpower dibanding transmisi manual jika memperhatikan pemakaian harian atau konsumsi bahan bakar.
  • Enggak asik, kalo ini sih pribadi aja. Hahaha, enggak asik karena udah powernya terasa lemah dibanding sport 150cc dan enggak ganti gigi.
  • Minim engine break, bukan berarti enggak ada ya. Ada engine brake, tapi karena disesuaikan dengan posisi gigi-nya, ya jadi minim. Kaya kendaraan manual kecepatan rendah gigi tinggi (tapi belum mati mesin). Ini bisa masuk kekurangan atau kelebihan ya... pokoknya saya taro sini lah.

Kesimpulan dan Saran

Kesimpulanya, setiap jenis transmisi mau yang CVT, Otomatis dengan torque converter (kalo di mobil), DCT atau Manual, semuanya punya kelebihan dan kekurangan sendiri-sendir. Nah, tinggal pabrikan yang menyesuaikan kapan transmisi ini digunakan pada produk mereka yang seperti apa.

Transmisi CVT ini juga bisa lho overpower dan menarik, kalo dipadukan dengan mesin listrik. Rugi-rugi yang terjadi saat kecepatan rendah dan RPM mesin rendah tugasnya digantikan oleh mesin listrik. Sementara itu pada RPM yang cukup, mesin bensin baru mulai ikut menjalankan kendaraan. Nah pada saat menjelajah, naik turun kecepatan sedikit baru deh pakai transmisi CVT-nya.

Catatan terbaru setiap hari bisa dilihat lewat facebook saya, twitter @awp-agni atau ikuti blog ini dengan mencantumkan alamat email di sebelah kanan kemudian klik submit. (kaya ada yang mau aja) hahaha...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kunjungi Postingan Lainya