Senin, 15 Oktober 2018

Tentang DOTA 2, eSport yang bermanfaat

Diawali dengan curcol, bahwa akhirnya setelah bertahun-tahun menolak DOTA dari TI1-TI8, akhirnya main juga dan baru 2 bulan main. Alasanya, ada alasan khusus yang cuma Istri yang tau 😋tapi setelah main kok malah mendapat semacam pelajaran dari bermain game ini ya, lebih tepatnya semua game jenis Multiplayer Online Battle Arena (MOBA).

Tentang DOTA

MOBA

Sedikit saya informasikan tentang sejarah DOTA (Defense of the Ancients) dan MOBA. MOBA katanya wikipedia sih salah satu sub-genre dari RTS (Real Time Strategy). Gim (ternyata di kbbi permainan disebut juga gim) jenis RTS ditandai dengan menggerakan karakter menggunakan tetikus (mouse dalam bahasa Indonesia disebut tetikus ya), mungkin perlu pembahasan lebih komprehensif lagi tentang game RTS ini. Dalam permainan RTS biasanya pemain menggerakan unit dalam skala tertentu (bisa puluhan atau ratusan unit), membangun markas, melatih unit kemudian berperang dengan pemain lain atau komputer.

Dalam game MOBA atau juga disebut ARTS (Action Real-Time Strategy), pemain hanya mengendalikan satu unit. Unit ini akan mendapatkan experience point dan terus naik level. Semakin tinggi level semakin tinggi dan banyak skill yang dapat digunakan unit yang dikendalikan tersebut. Dalam gim jenis ini, pemain akan mendukung creep (unit yang dikendalikan komputer dengan kecerdasan terbatas) yang akan berjalan di tiga jalan utama yang pada jalan utama itu akan ada menara pertahanan yang akan menembak musuh yang ada dalam jangkauan tembak menara. Creep ini akan bergerak dari markas pemain dan markas musuh bersamaan dan bertemu di tengah-tengah, seperti yang diperlihatkan dalam map di bawah ini.

Map Dota 2 sumber: di www.researchgate.net

Pemain akan mulai permainan dari ujung kanan atas dan kiri bawah dan akan bertanding untuk saling mengalahkan. Pemain dari gim jenis ini biasanya berjumlah 10 orang, lima di pihak yang hijau dan lima di pihak merah. Pertempuran akan berlangsung di seluruh tempat (bukan cuma di tengah saja). Dan Gim yang pertama kali memiliki map atau mod jenis ini adalah Starcraft dengan map/mod Aeon of Strife. Sementara Defese of the Ancients merupakan map/mod dari Warcraft III.

DOTA 2

DOTA 2 sendiri sebetulnya diambil dari permainan lain, yaitu Warcraft III. Waktu itu ada komunitas yang mengembangkan map DOTA untuk Warcraft III itu, dan bum! Jadi populer. Tahun 2009, lead designer DOTA dipekerjakan Valve untuk mengembangkan DOTA 2, membuat ulang source game engine-nya. Kemudian, tentu lahirlah DOTA 2, diawali dengan pertandingan pertamanya The International 1 tahun 2011 dengan hadiah total 1,6 juta dollar, atau setara dengan 24,34 Milyar rupiah dalam kurs saat ini. Tim juara satu mendapatkan 1 juta dollar atau setara dengan 15,21 Milyar rupiah dengan nilai tukar saat ini. Walau dikritik karena karena kurva pembelajaranya terlalu curam (susah mencapai tingkat kemahiran yang tinggi), tapi tetap disebut sebagai game terbaik tahun 2013 dan mendapat banyak pujian.

Sumber: kompas.com

Manfaatnya?

Walaupun dibilang manfaat, tetep aja sih, perlu ada batas minimal memainkan gim ini, jadi orang tua harus tetap mengawasi pada usia tertentu. Saya enggak bisa menilai sih, tapi kalo permainan online memang sulit dirating, tapi harusnya tetap bisa di rating bermain dengan bot. Interaksi dengan bot harusnya bisa dinilai kemudian diberi rating, umur berapa minimal gim ini bisa dimainkan.

Untuk saya, mungkin baru lega mengenalkan Gim ini ke anak di usia sekitar 13 atau 15 tahun atau sekitar itu lah, tentunya tetap dengan pengawasan. Selain kurva belajar yang curam, bahasa yang digunakan di gim juga perlu dijelaskan ke anak (bahwa itu bahasa yang tidak baik atau semacamnya). Oh iya, orang tua yang ga mau repot sih, dilarang aja... dan kalo enggak mau repot baiknya dulu mikir pas mau punya anak tuh, jangan mau liat lucu-lucu-nya aja... (kok ngegas 😂)

Bermain dalam tim

Komunikasi verbal (kemampuan berkomunikasi dengan baik di tempat umum) bukan sesuatu yang wajib, tapi kemampuan menempatkan diri/posisi dalam sebuah tim dan memahami pemain lain dalam keadaan tertentu adalah skill yang wajib dimiliki dalam gim ini. Seperti kebanyakan olahraga dengan tim/kelompok, pemain dalam gim ini juga memiliki posisi masing-masing. Ada 5 posisi dari Carry hingga support, dan mereka semua punya peran masing-masing dalam memenangkan gim.

Pada permainan online, tidak jarang satu tim dengan orang yang tidak dikenal, tentunya disiplin dengan posisinya sebagai apa dalam game ini adalah kuncinya. Tapi ada kalanya pemain melakukan rotasi dari lane bawah ke atas, ke tengah atau sebaliknya untuk memukul hero/unit lawan mundur atau bahkan bisa mengalahkan hero-nya.

Saat terdesak ada juga kalanya kita harus memperhitungkan apa yang harus kita lakukan, kalau memang sudah tidak bisa bertahan, kira-kira apa yang terbaik yang bisa dilakukan untuk kebaikan tim. Ada saatnya sih lihat ada hero yang berkorban demi menyelamatkan hero satu tim-nya, atau bahkan ada juga yang salah perhitungan menyebabkan kelima hero dalam satu tim habis dikalahkan lawan.
Antar muka DOTA 2. Gambar di markas dengan seluruh hero masih berkumpul.
Pemain mengendalikan salah satu hero/unit empat lainya dimainkan empat rekan tim.
sumber: store.steampowered.com

Bermain sendirian, mencari lobi gim yang kosong tidak apa-apa, tapi ada baiknya tetap bermain dengan teman-teman yang sudah kenal, selain meningkatkan koordinasi, juga meningkatkan kebersamaan.

Sabar dan perhitungan

Lihat lawan levelnya lebih kecil, armor kecil, berani maju ke depan buat pemain pasti bawaanya pengen maju. Tapi tunggu dulu, kadang dibelakang keberanian lawan ada tim-nya di belakang yang belum kelihatan karena terbatasnya bidang pandang. Jadi, walau level diatas, kekuatan serangan diatas, atau bahkan jika pelindung (armor) lebih besar, tetep bisa di kalahin kok.

5 lawan 5 di satu wilayah sekalipun sangat dipengaruhi perhitungan dan kesabaran. Seluruh serangan harus diserang ke yang mana lebih dahulu, mengingat setelah serangan perlu pendinginan sebelum bisa menggunakan skill yang sama (cooldown). Skill apa saja yang digunakan, perlengkapan apa saja yang dipakai, semuanya perlu perhitungan yang pas. Ada banya ksekali perlengkapan yang meningkatkan daya gempur atau pertahanan, tapi menyeimbangkan penggunaan perlengkapan itu juga penting, mengingat hero-nya cuma bisa menampung 6 perlengkapan dan 3 perlengkapan cadangan yang hanya bisa dibawa, tapi tidak bisa digunakan.

Perang di line kiri atas. Sumber: store.steampowered.com

Intinya kalo lagi main ini, ada kalanya perasaan "Bisa nih, berani banget ni orang maju, padahal level baru segitu" dan tiba-tiba temen-temenya muncul dari depan dan belakang. Karena itu, perlu banget buat terus lihat minimap (yang gambar kiri bawah) sambil memperhatikan hero yang kita mainkan lagi apa.

Oh iya, perhitungan ini bukan pada saat main aja lho, pada saat memilih hero juga. Karena satu hero menyeimbangkan hero yang lain, jadi harus pinter-pinter milih dan tahu skill setiap hero. Kadang ada beberapa pemain profesional yang lebih suka main hero tertentu juga.

Hero/unit yang bisa digunakan dalam gim DOTA 2
sumber: store.steampowered.com

Pada waktu mulai permainan ada sesi pemblokiran 5 hero dari pihak lawan 5 hero dari pihak kita dan pemilihan 5 hero pihak lawan dan 5 hero pihak kita. Dan ada 113 (kalo enggak salah) hero yang bisa dipilih.

Ekonomi

Sama seperti olahraga lain, kalo mau bermain profesional ya tentunya akan ada manfaat ekonomi-nya donk. Untuk gaji pemain, saya enggak tahu berapa, karena sampai sekarang belum pernah nemu nilai kontrak dari pemain. Tapi katanya sih kalo di Indonesia ada yang gajinya se-UMR. Tapi di luar, tentu aja gede-gede, soalny ada yang pendapatan dari DOTA 2-nya sampai 1juta dollar.

Untuk The Internationa 8 (Pertandingan terbesar DOTA 2) sekitar 25 juta dollar, dengan tim yang juara pertama dapet 11 juta dollar atau setara 167 miliar, sementara tim yang juara ke 17-18 hadiahnya 63 ribu dolar lebih (hampir 64) atau setara dengan 958 juta rupiah. Sisanya tersebar dari juara 2-16 dengan juara 2 paling besar, mengecil terus sampai yang ke 16.

Indonesia

Di Indonesia? Belum, belum ada yang bisa masuk kualifikasi The International. Kalo enggak salah adau satu tim Malaysia yang ada pemain Indonesia-nya yang hampir terqualifikasi masuk The International, tapi gagal di qualifikasi terakhir.

Kemeriahan The International. Sumber: esportinsider.com

Untuk pertandingan Minor saja di Indonesia kalo enggak salah baru ada satu kali, waktu itu diselenggarakan di BSD (kalo enggak salah).

Solusi konsumsi BBM berlebih, ya go electric (angkot go electric)

Ngresik i sawang...

Ceritanya setelah denger lagi berita BBM naik, terus kepikiran "BBM naik, rame, terus orang-orang rame-rame turun oktan (beli yang lebih rendah) atau muncul jualan alat penghemat BBM yang setelah di uji cuma dikit banget ngiritnya, enggak sampe 10%". Nah berlandaskan pemikiran tersebut, akhirnya pikiran ini mikir kemana-mana, dan menyimpulkan, kalo harga BBM mau turun, ya konsumsi BBM harus diturunkan biar produksi BBM kita sebanding sama konsumsi, jadi kita enggak perlu pake harga luar negeri klo produksi dalam negeri cukup untuk konsumsi dalam negeri. Gimana caranya? Ya go green salah satunya, dengan mengefisiensi energi yang digunakan, salah satunya migrasi dari mesin BBM ke mesin listrik untuk kendaraan bermotor.

Mungkin ada yang bilang kalo go electric mah cuma mindahin konsumsi BBM dari kendaraan umum ke pembangkit listrik, tapi kan pembangkitan listrik bisa dari energi terbarukan macam angin, air terjun, panas bumi, atau matahari. Nah, bebanya kemudian dari PLN atau penghasil energi listrik lain agar bisa menghasilkan energi listrik selain dari bahan bakar minyak ataupun yang berbasis karbon lainya.

Pertanyaan yang muncul di kepala pertama adalah, apa yang bisa dikendalikan negara selain mengurangi penggunaan BBM, juga memberikan manfaat bagi penggunanya yang beralih ke energi listrik? Singkatnya disimpulkan kalau penggantian angkot berbahan bakar karbon ke listrik akan meningkatkan ekonomi pengemudi sekaligus mengurangi konsumsi karbon. Makanya angkot lah yang jadi sasaran pertama kalau memang pemerintah benar-benar mau mendorong pertumbuhan kendaraan listrik.

Manfaat Bagi Pengemudi Angkot?

Hemat Biaya Perjalanan

Manfaat yang pertama adalah biaya bahan bakar lebih rendah dibanding kendaraan dengan BBM. Untuk membuktikan mari kita hitung dengan berandai-andai dengan data kendaraan listrik yang sudah ada. Untuk patokan, akan dipakai Nissan Leaf dengan menambahkan beban efisiensi, jadi kita akan menghitung lebih boros dari konsumsi energi Nissan Leaf.

Nissan Leaf dengan harga di eropa sekitar 30 ribu euro, atau sekitar 350jt-an rupiah (OTR Eropa). Nah klo misal pajak dan biaya antar dimasukin ke harga, mungkin kali ya 400jt-an :D

Daya simpan energi baterai Nissan Leaf adalah sekitar 24kWh, dan menurut pengujian baterai ini dapat digunakan untuk menempuh jarak 135 km. Artinya energi 1 kwh dapat digunakan untuk menempuh jarak 5,625 km. Nah, 1 liter bensin itu berisi energi sekitar 9 kwh (lupa tepatnya). Artinya kalao dikonversi ke km/l Nissan leaf ini efisiensinya ada di 50,625 km/l WOW, ternyata irit (baru ngitung sambil nulis).

Tapi masalahnya kan harga listrik enggak sebanding sama energi yang tersimpan. Dari sisi efisiensi energi, tentu lebih efisiensi, gimana dengan biaya? Waktu tulisan ini dibuat, PLN terakhir kali melakukan tariff adjustment itu untuk bulan April-Juni 2018 yaitu Rp. 1.467,28 per kWh untuk golongan rumah tangga (sama semua dari 1.300 sampai 200.000 watt) tapi paling tinggi tarif khusus sebesar Rp. 1.644,52/kWh. Kita ambil harga paling mahalnya ya di Rp. 1.644,52.

Efisiensi Nissan Leaf di atas itu berdasarkan uji menggunakan metode tertentu, di lapangan bisa aja lebih boros, makanya kita pake angka yang lebih rendah efisiensinya di 40 km/l, ya atau setara dengan 4,4 km/kWh. Sementara untuk angkot dengan BBM kita hitung saja 15 km/l ya, ini sudah sangat hemat sekali dan sepertinya dengan stop n go dan ngetem enggak mungkin dapet 15 km/l. Nah, sekarang kita hitung biaya untuk menempuh 100 km dengan asumsi 1 kali jalan angkot akan menempuh 25 km, bolak-balik jadi 50, artinya ada 2 kali bolak balik.

Untuk menempuh 100 km dengan 15km/l membutuhkan 6,7 liter BBM, atau setera dengan biaya 6,7x6550 (ga tau jadi 7ribu atau tetepa segini sih), jadi Rp. 43.885. Sementara untuk angkot listrik membutuhkan 22,7 kwh atau setara dengan Rp. 37.330,6. Sedikit lebih hemat, tapi kan premium jarang, kalo kita hitung pake pertalite angkatnya tentu berubah donk jadi Rp. 52.260,-

Angkanya bukan cuma selisih segitu lho, itu karena dihitung 15 km/l, padahal kalo angkot itu ngetem-nya lama banget dan jalan pun pasti stop and go buat naik turun penumpang. Dan stop and go sama ngetem ini, mesin listrik jauh lebih superior iritnya.


Hemat Biaya Perawatan

Mesin listrik enggak perlu perawatan, paling banter air radiator sama air wiper aja yang harus di cek, sama kampas dan kaki-kaki. Enggak perlu servis mesin, yang penting baterai jangan sampai kosong, itu aja. Part yang bergerak dari mesin listrik yang jauh lebih sedikit memungkinkan mesin listrik ini nyaris maintenance free. Kalaupun ada ya enggak butuh waktu lama dan part yang diganti atau yang diperiksa jauh lebih sedikit. Kerusakan pun lebih mudah dilacak menggunakan perangkat lunak jika dibandingkan dengan mesin BBM. Tidak perlu ganti oli mesin, tidak perlu setel klep, apa lagi memperhatikan timing belt, karena semuanya itu enggak ada di mesin listrik.

Dengan torsi melimpah sejak 1 RPM, memungkinkan mesin tidak menggunakan gear atau transmisi sebanyak mesin BBM. Artinya perawatan transmisi tidak besar dan lama dibanding dengan mesin BBM.

Bagaimana Mulainya?

Bikin Angkotnya

Ya iyalah, bikin dulu, kalo enggak bikin kan enggak bisa jalan juga rencananya. Kira-kirar berapa harganya ya? Untuk angkot dengan mesin bakar internal sekitar 80-120jt per unit. Nah, klo bikin mobil listrik dengan biaya segitu kira-kira dapet spek gimana ya?

Angkot Listrik katanya dikembangkan ITB. link: Tempo.co

Tesla powerwall dengan 13 kwh daya baterai berharga $ 6.000 atau setara dengan Rp. 91.128.000,- Kalau kita hitung per kwh, berarti 1 kwh baterai senilai dengan Rp. 7.010.000,- Kalau ingin menggunakan baterai 10 kwh, berarti perlu 70 juta-an untuk baterai dan preangkat pengendalinya, belum termasuk mesin listriknya.

Motor listrik yang diperlukan kira-kira sekitar 25 kw atau sekitar 35 hp. Kenapa hanya 35 hp? Karena memang tidak perlu tinggi-tinggi. Biasanya kan angkot paling meraung cuma sampe 3000 RPM, artinya tidak seluruh power mesin digunakan, tapi kebanyakan mengkonversi torsi pada RPM yang lebih tinggi untuk berakselerasi. Nah, karena mesin listrik torsinya sudah besar sejak awal, tentunya enggak perlu donk tenaga sebesar itu. Torsi yang diperlukan sekitar 100-an, jadi cukup lah kalo pakai mesin listrik segini. Harga mesin ini kira-kira 15jt an.

Nah, tinggal sasis deh, kira-kira berapa ya? Mungkin bisa lah kalo harganya sekitar 120jt-an. Dengan spesifikasi di atas, diharapkan jarak tempuhnya sekitar 40-50 km, yang artinya setiap satu kali perjalanan, pengemudi angkot harus mengisi daya lagi. Dan tentunya ga masalah donk klo isi daya-nya sambil ngetem. Ini setara 5kwh per 1 kali perjalanan, atau sekitar Rp. 8.222,- setiap 1 kali perjalanan. Wah, kalo satu perjalanan ada dua penumpang aja udah balik modal donk :D

Infrastruktur di bikin

Nah, pemerintah harus nentuin nih, di Indonesia harus pake charger dengan steker dan stopkontak apa. CHAdeMO, SAE J1772 (CCS), atau yang lainya, jadi paling enggak yang mau bikin mobil listrik ini udah nyiapin stopkontak di mobilnya mau kaya apa.

Stopkontak CHAdeMO kiri dan SAE J1772 kanan pada kendaraan Nissan Leaf


Enggak usah repot-repot nentuin tempat pengisian daya, kalo misal salah satu trayek mau di elektrifikasi, ya tinggal di tempat ngetemnya aja dikasih charger. Enggak usah gede-gede juga, kan kapasitas baterai mobilnya kecil, ya charger-nya yang 25 kw (atau bisa juga lebih kecil), jadi dengan teknologi terkini baterai bisa diisi dengan 15 menit dari 0 sampai 80% dan 45 sampai 100%.

Tempat pengisian CHAdeMO di SPBU Shell di Jerman. Sumber: autoblog.com

Kalo proyek ini dimulai, lama-lama juga kan banyak charger-nya makin gampang juga pemilik kendaraan pribadi dengan mesin listrik ikutan ngecharge di sini, kan.

Masalah perawatan infrastruktur, gampang, serahin aja ke swasta. Jadi pemerintah membangunkan, operatornya swasta, jadi swasta enggak perlu bikin, pemerintah yang bikin, tapi mereka yang merawat dan ngasih tarif. Jadi mereka untung, terus sambil nyicil balikin ke pemerintah itu (jadi jatohnya pinjaman ya :D)

Dengan makin banyak angkot pake listrik, makin banyak juga infrastrukturnya. Banyak infrastruktur makin banyak yang pengen pake mobil listrik. Makin banyak yang pake, tinggal tingkatin generator dengan energi terbarukan, go green lah kita.

Oh iya, ini juga bisa ngurangin kemacetan, gimana kalo jakarta ada zero carbon hour, kendaraan yang boleh lewat cuma yang ga ngeluarin karbon. Pasti lancar.

Kalo udah gini, motor-motor juga bisa mulai migrasi dari bensin ke listrik, kalo udah banyak fast charging station-nya. Untuk motor, misal pake CHAdeMO, bisa isi 30 menit 80% kok. Bisa ditinggal ngopi dulu :D

Kunjungi Postingan Lainya