Alva. Motor Listrik yang Bikin Jatuh Hati... Sekaligus Geleng-geleng Kepala.


Sebuah Tulisan Pengalaman Menggunakan Produk ALVA

Kalau ada yang nanya, "Mas, nyesel beli ALVA?"

Jawabanku mungkin agak aneh. "Nggak."

Terus kalau ditanya lagi. "Kalau disuruh beli lagi?"

"...nah, itu pertanyaan yang lebih susah."

Saya sekarang punya dua motor ALVA. Januari kemarin beli N3. Beberapa bulan kemudian malah nambah Cervo. Artinya apa? Ya artinya saya bukan orang yang benci ALVA. Kalau benci ya ngapain beli lagi.

Justru karena sudah punya dua-duanya, saya mulai sadar kalau masalah terbesar ALVA itu bukan motornya. Tapi nanti dulu.

Kita bahas motornya dulu.

N3. Hampir Jadi Motor Harian yang Sempurna.

Buat saya pribadi, riding position N3 ini enak. Kalau pernah naik Vario 125, ya kurang lebih seperti itu. Santai. Tidak bikin badan cepat capek.

Suspensinya juga empuk. Bahkan menurut saya termasuk nyaman dibanding beberapa motor lain yang pernah saya pakai.

Desainnya juga... ya subjektif sih. Tapi saya suka.


Motor ini juga nyaris tanpa suara. Karena pakai BLDC hub drive, yang terdengar paling cuma suara ban bergesekan sama aspal. Kadang malah bikin saya refleks nengok spion, takut dikira motornya mati.

Untuk baterainya sendiri sekitar 1,8 kWh (karena saya beli dengan sewa 1 baterai). Kalau dipakai harian, saya biasanya dapat sekitar 50 kilometer sekali charge. Angka yang menurut saya cukup realistis.

Sampai di sini, N3 sebenarnya sudah bagus. Kalau...DC-DC converter-nya tidak tiba-tiba bermasalah.

Nah. Inilah bagian yang bikin saya mulai garuk-garuk kepala.

Awalnya saya pikir cuma motor saya yang apes. Eh setelah iseng cari-cari di internet, ternyata saya menemukan beberapa kasus yang mirip. Kalau tidak salah sekitar lima kasus. Memang tidak bisa langsung disimpulkan sebagai cacat massal. Tapi cukup banyak untuk membuat saya berpikir, "Oh... ternyata bukan saya saja."

Masalahnya bukan cuma reducer itu rusak.

Masalah berikutnya adalah... Saya tinggal sekitar 100 kilometer dari ALVA Experience Center terdekat. Ironisnya, baterai N3 sendiri bahkan tidak cukup untuk sampai ke sana.

Jadi kalau motor bermasalah, bukan tinggal mampir sebentar. Harus diangkut. Harus diperiksa dulu. Dan setelah ketahuan penyebabnya...

Belum tentu pula sparepart-nya tersedia.

Nah lho.

Cervo. Nah, Ini Baru Terasa Matang.

Lalu datanglah Cervo.

Jujur saja.

Kalau melihat harganya lengkap dengan baterai, motor ini sudah masuk wilayah motor-motor premium. Bahkan saat saya beli, harganya lebih mahal daripada PCX.

Ekspektasi saya otomatis naik. Untungnya, sebagian besar memang terpenuhi.

Build quality terasa jauh lebih baik dibanding N3. Saat mulai jalan, terdengar suara khas belt yang menggerakkan gir belakang. "Nguuuung..."

Entah kenapa suara itu bikin saya merasa sedang naik kendaraan masa depan. Agak norak memang, tapi saya suka.

Desainnya juga sukses mencuri perhatian. Serius. Hampir setiap kali parkir, selalu ada orang yang


datang. "Mas, ini motor apa?"

Yang sedikit mengganggu justru suspensi belakang.

Kalau jalan pelan melewati jalan yang bergelombang kecil, responsnya terasa agak keras. Bukan keras sampai bikin pinggang copot. Tapi ada rasa "jeglek" yang lebih sering muncul dibanding yang saya harapkan.

Lalu ada satu hal yang menurut saya cukup lucu. Motor yang harganya sudah sekelas PCX... tidak punya stopper jok. Jadi setiap buka jok, harus dipegang. Begitu dilepas sedikit... Brak. Nutup lagi.

Saya tahu ini masalah kecil.

Tapi justru masalah-masalah kecil seperti inilah yang biasanya menunjukkan seberapa matang sebuah produk.

Masalah Terbesar Justru Setelah Membeli.

Dan sekarang kita masuk ke bagian yang menurut saya paling penting.

Masalah terbesar ALVA bukan motornya. Bukan customer service-nya juga. Sejauh pengalaman saya, CS mereka justru sigap. Yang menurut saya bermasalah adalah SOP perusahaan itu sendiri.

Contohnya sederhana.

Kalau ada sparepart inden. Jawabannya hampir selalu sama. "Belum tahu kapan tersedia." Tidak ada estimasi. Tidak ada batas maksimal. Tidak ada kepastian.

Artinya? Bisa besok. Bisa minggu depan. Bisa lima bulan lagi. Semuanya sama-sama mungkin. Sebagai pelanggan, posisi seperti ini jelas tidak nyaman.

Belum lagi soal jaringan layanan.

Saya servis pertama di bengkel rekanan ALVA, dan saya tahu di Jogja sudah banyak. Memang kedengaranya meyakinkan, sampai akhirnya saya tahu kalo bengkel rekanan itu pada praktiknya lebih banyak menangani pekerjaan mekanis biasa.

Ganti ban.

Ganti kampas rem.

Servis fisik.

Yang sejujurnya... bengkel umum juga bisa mengerjakan.

Yang tidak bisa adalah ketika masalahnya masuk ke ranah garansi, software, kelistrikan spesifik, atau komponen khas ALVA.

Mau tidak mau tetap harus ke Experience Center.

Dan buat pengguna seperti saya yang tinggal sekitar 100 kilometer dari sana...

Ya silakan hitung sendiri repotnya.

Buku Manual yang Rasanya Ditulis Setengah Jalan.

Ini mungkin terdengar sepele. Tapi saya termasuk orang yang suka membaca buku manual. Dan menurut saya, buku manual ALVA masih jauh dari kata lengkap.

Misalnya tidak dijelaskan cara menyetel arah sorot lampu. Padahal kalau mengintip ke bawah, sepertinya ada baut penyetel.

Lalu spesifikasi oli gardan atau pelumas transmisi juga tidak dicantumkan dengan jelas. Padahal itu informasi dasar.

Kemudian ada adjustable preload suspension. Menarik. Tapi cara menyetelnya? Tidak ada.

Yang paling membuat saya bingung adalah soal GVW. Di buku manual hanya tertulis angka maksimum 281 kg. Masalahnya... Berat motor dan baterainya sendiri tidak dicantumkan. Jadi bagaimana pengguna menghitung kapasitas beban sebenarnya?

Masa harus menimbang motor dulu baru tahu boleh boncengan apa tidak? Pabrikan jepang biasanya menyebutkan keduanya malah enggak mencantumkan GVW, jadi motor ini beratnya sekian, maksimum yang bisa diangkut sekian.

Sederhana. Tapi sangat membantu.

Penutup

Kalau kamu tinggal di Jakarta, Surabaya, atau kota yang dekat dengan ALVA Experience Center, mungkin semua cerita saya di atas terdengar biasa saja.

Motor bermasalah? Tinggal datang.

Perlu klaim garansi? Datang lagi.

Part kosong? Ya paling bolak-balik sebentar.

Masalahnya... saya tinggal di Yogyakarta. ALVA Experience Center terdekat adanya di Semarang. Jaraknya sekitar seratus kilometer lebih.

Sebenarnya, untuk urusan charging, ALVA sudah cukup baik. Boost Charge sekarang sudah banyak. Di Yogyakarta sendiri sudah cukup mudah ditemukan, dan jalur menuju Semarang juga sebenarnya sudah punya beberapa titik pengisian.

Jadi masalahnya bukan karena saya tidak bisa ngecas di tengah jalan. Masalahnya adalah... saya sedang menuju bengkel karena motor bermasalah.

Berangkat dengan motor yang kondisinya tidak sehat sambil berharap masih bisa mampir ke charging station itu rasanya beda dengan touring. Ada rasa waswas yang terus ikut sampai tujuan.

Belum lagi N3 saya hanya memakai satu baterai. Secara teori mungkin bisa direncanakan, tapi perjalanan Yogyakarta–Semarang itu bukan jalan datar. Naik turun, tanjakan, turunan, yang tentu saja membuat konsumsi baterai jauh berbeda dibanding angka klaim pabrikan.

Jadi kalau harus membawa motor yang sedang bermasalah ke sana, rasanya bukan lagi sekadar "main ke bengkel".

Saya harus menyediakan waktu seharian, menghitung ulang rute, bahkan belum tentu sekali jalan urusannya selesai kalau ternyata sparepart masih harus inden.

Di titik itu saya mulai bertanya-tanya.

Apakah ALVA benar-benar serius membangun pasar di Yogyakarta dan wilayah selatan Jawa Tengah?

Karena menjual motor itu satu hal.

Mendukung pelanggan setelah motor terjual, itu hal yang sama pentingnya.

Motor itu seperti pesawat terbang. Orang tidak hanya membeli pesawatnya, tapi juga membeli keyakinan bahwa ketika ada masalah, akan ada teknisi yang siap membantu. ALVA menurut saya sudah berhasil membuat motornya semakin baik. Sayangnya, ekosistem pendukungnya masih tertinggal. Dan selama itu belum dibenahi, calon pembeli yang tinggal jauh dari Experience Center sebaiknya benar-benar mempertimbangkan hal tersebut sebelum membeli. Bukan karena motornya jelek, tapi karena memiliki motor tidak berhenti pada hari pertama keluar dari dealer.

Disclaimer:
Tulisan ini murni berdasarkan pengalaman pribadi saya menggunakan ALVA N3 dan Cervo. Pengalaman pengguna lain bisa saja berbeda, terutama jika tinggal di kota yang memiliki ALVA Experience Center atau jaringan layanan yang lebih dekat.




Komentar

Postingan Populer