Minggu, 30 Desember 2018

Memilih Motherboard: yang perlu diperhatikan

Kita lanjut lagi ya berbagi pengalaman merakit komputer kemarin. Sekarang giliran memilih motherboard atau bahasa gaolnya Mobo. Gimana cara milihnya? Gampang, pilih prosesornya dulu. Lah, gimana? Katanya milih Mobo, tapi pilih prosesornya dulu? Ya, karena setiap prosesor punya dudukan yang berbeda, ibaratnya colokanya satu sama lain beda. Bahkan satu prosesor yang sama-pun punya beberapa jenis chipset yang berbeda. Bingung? Makanya tak coba jabarin di sini.

Mobo Aorus AMD socket X470

Pilih Prosesornya...

Intel saat ini pake socket yang namanya LGA atau Land Grid Array, yang punya karakteristik mother pin atau 'duri-duri'-nya ada di bagian motherboard. Jadi di bagian prosesornya enggak ada colokan atau duri-duri menonjol, tapi cuma kotak-kotak yang nantinya akan di sentuh sama duri-duri dari motherboard itu. Buat prosesor intel, penamaanya gampang, nama socketnya ditambah jumlah sambunganya. LGA 1151 artinya socket LGA dengan 1151 pin (tapi belum pernah ngitungin sih, ini juga kata wikipedia). Nah, LGA 1151 ini bisa dipake buat apa aja? Prosesor intel genersi ke 7, 8 dan 9 dari prosesor intel core dan beberapa prosesor intel lain (datanya ada di situs intel).

Motherboard Intel brand ASrock dengan socket Z390

Gimana dengan AMD? AMD pake socket yang namanya Pin Grid Array (PGA) yang berkebalikan sama LGA. PGA pin-nya di prosesornya, sementara motherboardnya lubang-lubang untuk masukin pin-nya. Terus keuntunganya pake PGA dan LGA apa? Itu di artikel lain ya :D Untuk AMD penamaan socketnya suka-suka AMD, untuk yang paling baru dia namain socket AM4 yang dapat mensupport CPU seri Ryzen dari generasi pertama dan kedua. Sementara untuk Ryzen Threadripper pake socket TR4.

Jadi, Kalo pake AMD pake socket AM4 atau AM3 atau yang lainya. Sementara kalo pake Intel pake LGA 1151, 1150, atau 2066. Apa sudah selesai setelah pilih prosesor langsung bisa pilih mobo paling murah?

Tidak secepat itu Ferguso...

Pilih Chipsetnya...

Berikutnya pilih chipsetnya. Baik AMD atau Intel punya chipset yang berbeda-beda dan punya spek yang juga beda. Misalnya... Kita bahas intel dulu ya... Chipset dewa (halah) intel saat ini kalo enggak salah Z390. Nah, dari sini bisa dilihat tuh spek yang tertera di situs ark.intel.com berapa maksimal PCI express yang bisa dipasang di chipset ini, berapa kecepatan transfernya, dan macem-macem lainya.

Enggak beda sama AMD, ada beberapa chipset yang bisa dipilih untuk beberapa prosesor. Misalnya untuk socket AM4 ada chipset A320 yang paling umum dan kayaknya paling minim, sementara untuk yang paling setrong itu chipset X470. Speknya, monggo dilihat di lineup produk AMD di amd.com spesifikasi lengkap ada di sana dari support store mi, NVME, dan lain-lain.

Harga motherboard akan sangat dipengaruhi dengan chipset yang di emban. Selisih harga motherboard antara yang satu sama yang lain akan sangat berbeda, dari 750 ribu hingga 8 juta. Tentukan socket terbaik, baru deh kita bisa lanjut ke pemilihan fitur, harga dan merk.

Fitur tambahan, merk dan harga

Fitur tambahan ini ada banyak, dan beda-beda setiap brand atau merk, jadi akan sangat mempengaruhi harga. Misalnya aja ada beberapa motherboard yang sudah dilengkapi dengan wifi adapter, jadi user enggak perlu beli tambahan kartu wifi adapter. Atau jumlah RAM yang bisa dibenamkan akan beda-beda juga. Kalo di spek misalnya memungkinkan menggunakan 4 slot, bisa aja di motherboard untuk menurunkan harga atau memang pricing-nya untuk entry level banget jadi disediain cuma 2 slot. Atau mungkin form factor-nya tidak memungkinkan ada tambahan (misalnya micro ATX) slot kosong. Kalo di high-end mobo, biasanya ada yang heat sync mobonya liquid ready, jadi ada lubang yang disiapin untuk pendingin cairan.

Mobo ASRock dengan wifi (udah dipasangin antenanya)

Biasanya setiap brand atau merk mobo punya jumlah port di belakang CPU beda-beda. Beberapa mobo masih menyediakan port PS/2 sementara yang lain hanya USB saja. Ada yang menyediakan satu port PS/2 ada yang dua port, ada juga yang masih menyediakan port DVI (VGA) ada juga yang sudah full digital dengan HDMI tanpa menyediakan port DVI.

Seberapa berpengaruh port-port ini ke harga? Ya saya enggak tau juga sih, tapi sesuaiin juga sama budget, ini yang utama. Soalnya klo budget mobo kegedean ga sanggup beli prosesor kan repot juga. Atau tadinya mau beli VGA tapi enggak cukup gara-gara mobo kan repot juga ya :D

Kesimpulan

Jadi, kalo menurut saya sih mobo ini yang kedua dipilih setelah prosesor, tapi yang terakhir dibeli. Sebelum beli yang lain, tentunya harus nentuin range harga mobo termurah-nya dulu, mana yang paling murah yang spesifikasinya cukup. Kalo misal setelah semua spek selesai masih ada uang, ya bisa alokasiin lebih ke mobo-nya.

Kalo mau konsul monggo tinggalin jejak di bawah atau kirim email ke gmail saya di agung.windy(at)gmail.com atau kalo misalnya minat buat pesen satu set komputer lengkap, saya juga ada temen yang terpercaya yang bisa mencarikn perangkatnya. (70-30 ya mas Emot wkwkwk) 

 Jangan lupa dilanggan (subscribe) blog ini, ya. :)

Rabu, 26 Desember 2018

Memilih Prosesor: Untuk Desktop atau Laptop

Baik merakit desktop atau milih laptop, yang dibingungin pertama pasti milih prosesor. Tapi khusus untuk laptop, kebanyakan orang bukan bingung milih prosesornya sih, tapi merk-nya. Pertanyaan yang sering saya hadapi itu: "Gung, Gung, klo *nama_merk* bagus ga?" Dan saya pasti bingung donk, maksudnya apa sih tiba-tiba nanya kaya gitu tanpa cerita-cerita dulu mau dipake buat apa laptopnya, budget berapa, seberapa besar, seberapa perlu mobilitasnya, dll dst dsb.

Prosesor intel jaman dulu dengan bentuk PGA

Jadi, di luar merk desktop ataupun laptopnya, setiap desktop atau laptop itu yang penting selain dimensi dan berat itu isinya. Kalau sudah menentukan budget misalnya ada 10 model yang pas, terus dinilai berat dan dimensinya, ternyata tersisa 5 model. Kemudian dipilih lagi bobotnya sisa 4 model, nah, terus dari 4 model ini prosesornya bagusan yang mana ya? Mudah-mudahan artikel ini bisa menjawab.

Frekuensi vs Inti vs Generasi

Kalo pemasaran pasti suka banget deh sama yang namanya angka. Misalnya klo kendaraan yang hp-nya paling besar, atau cc-nya lebih besar (walau cuma 5 misalnya). Nah, di prosesor, ada beberapa angka yang perlu diperhatikan.

  1. Frekuensi. Masih ingat sama pentium series? Waktu lahir pentium diberkahi dengan frekuensi atau clock rate 60 MHz dan terus berkembang. Kebetulan dulu saya punya setara pentium III waktu itu dengan clock rate 667 MHz (Itu komputer casingnya kemana ya?). Kemudian terus berkembang sampai Pentium IV, Pentium D dan Pentium Dual Core.
    Apa sih clock rate? Clock Rate adalah banyaknya instruksi yang bisa diproses prosesor dalam 1 detik. Nah, apakah dengan semakin cepat artinya semakin bagus? Iya, tapi hanya jika dibandingkan dengan prosesor dengan generasi atau bahkan jenis yang sama. Artinya kalo dari generasi yang berbeda ya beda juga performa-nya.
  2. Inti atau Core. Dalam satu prosesor itu bisa saja terdiri dari dua, tiga, atau empat, atau bahkan 16 inti atau core. Artinya dalam satu fisik prosesor terdapat lebih dari satu inti, ada beberapa prosesor yang dapat digunakan dalam satu fisik prosesor. Keunggulanya, prosesor dapat mengoptimalkan kecepatanya dalam memproses lebih banyak instruksi, yang hasil akhirnya adalah lebih banyak program yang bisa dikerjakan tanpa mengorbankan kecepatan prosesnya.
    Apakah prosesor akan lebih cepat mengerjakan satu pekerjaan ketika dikerjakan bareng-bareng (banyak inti/core)? Jawabanya enggak. Tergantung dengan perangkat lunak yang dikerjakan, apakah beban dari perangkat lunaknya dapat dibagi pada beberapa core atau enggak. Kalo enggak, core yang lain ya diem aja :D
  3. Generasi/Instruction Set. Sebetulnya sih enggak ada hubunganya antara generasi dan instruction set, tapi biasanya generasi terbaru dari sebuah prosesor dapat mengolah instruksi yang lebih panjang dalam satu clock cycle dari generasi sebelumnya. (Mohon koreksi kalo ada yang lebih ngerti ini)

Performa vs Harga vs Ketersediaan

Gampang donk, pilih yang paling baru, paling tinggi clock speednya, paling banyak core nya? Enggak gitu juga sih, kecuali sultan mah bebas. Agak susah menentukan performa sebuah prosesor, karena dipengaruhi banyak hal, tapi paling enggak kita bisa tahu potensi dari sebuah prosesor ini lewat score benchmark-nya.

Performa tinggi, harga murah, tapi belum tersedia di pasaran, terus elo mau apa? Ya tetep enggak bisa beli kan? Paling enggak harus nunggu dulu donk. Dan kalo baru keluar biasanya harganya akan ada diatas harga yang disarankan produsen-nya. Jadi amburadul lagi tuh perbandingan antara performa harga dan ketersediaan prosesor yang dipengenin.

Waktu ngerakit PC kemaren, sempet tuh cari-cari tahu, gimana kalo upgrade sebagian atau sebagian besar. Sebagian ini, berarti beli prosesor yang LGA 1155 (karena bawaan casing CPU itu LGA 1155 dengan Chipset H61). Hasil pencarian sih mendapatkan hasil Core i5 seri 2xxx yang performanya mirip dengan AMD Athlon 200ge (sekitar 4000-5000 scorenya menggunakan passmark). Kekuranganya intel itu, kartu grafis yang dibenamkan di prosesornya sangat lemah, jadi harus beli kartu grafis. Sementara kalo beli Athlon 200GE, walau harus ganti motherboard dan ram (kalo enggak ganti motherboard pun harus ganti ram, karena ram yang lama cuma 2GB), Lebih terjangkau dengan performa kartu grafis bawaan dibanding harus beli kartu grafis tambahan yang performanya setara dengan bawaan athlon 200GE (Vega 3).


Kalo dilihat-lihat dari performa vs harga dan ketersediaan, 200GE ini semacam pentium-G killer ya, performanya nyerempet2 pentium G performa dan harga-nya.

Untuk pembeli laptop, masalah harga sih sudah jadi satu dengan laptopnya ya, tapi dengan begini jadi tahu kan, klo generasi prosesornya lebih jadul, kecepatan clocknya lebih lambat, tapi harganya lebih tinggi, ya baiknya ganti produk lain atau cari di toko lain produk yang sama :D

Nah perlu juga tau nih nomor-nomor yang ada di prosesor, yang mana menandakan generasinya, yang mana menandakan tingkat performanya, kode-kode hurufnya, tapi itu untuk di artikel lain ya.

Untuk yang mau rakit PC, kalo prosesor sudah ditentukan, baru kita masuk ke perangkat selanjutnya, Motherboard, tapi untuk artikel lain juga, ya... :P

Rabu, 19 Desember 2018

Desktop vs Laptop, pilih mana?

Pada suatu ketika, ada seorang teman yang bingung, mau beli laptop, atau desktop. Jawabanya, ya situ yang pengen, ya pilih sendiri lah. Tamat, Artikelnya selesai. Enggak gitu!
Saya mau kasih sedikit gambaran, kenapa sih harus laptop atau kenapa lebih baik desktop?

Perbandingan antara Laptop dan Desktop


Sebelum kita masuk kapan sebaiknya pilih laptop atau desktop, ini sedikit perbedaan antara laptop dan desktop.

Harga

Untuk Desktop atau komputer meja, komponen yang tersedia sangat bervariasi, memungkinkan calon penggunanya memiliki pilihan dari 3,5jt sampai 260jt untuk satu paket (termasuk monitor). Bahkan untuk yang harganya 3,5jutaan sekalipun masih cukup canggih, bisa digunakan untuk berbagai macam kegunaan, dari main game, sketchup, sampai sedikit video editing.

Sementara untuk Laptop komponen yang tersedia juga banyak, tapi pilihanya sangat terbatas. Untuk komputer dengan kemampuan setara desktop 3,5jt saja kita perlu merogoh kocek skitar 4-5 juta. Dengan kemampuan komputasi dan grafik yang lebih baik, desktop punya rentang harga yang relatif lebih rendah dari laptop. Laptop juga sangat tergantung dari merk-nya.\

Dengan harga 3,5 jt udah bisa main dota 2 kalo pake desktop (walau pas-pasan) Klo laptop harga segitu main dota 2, enggak jamin bisa. Kalopun bisa ya ngos2an laptopnya. :P

Portabilitas

Ini enggak perlu dijelasin banyak-banyak lah ya. Tau kan Desktop kaya apa? Ada CPU-nya ada monitor keyboard mouse, semuanya terpisah. Nah kalo laptop kan jadi satu, bisa dilipet, taro tas, dibawa. Ada sih komputer tower kecil yang juga bisa dibawa-bawa, tapi enggak termasuk monitor keyboard dan mouse-nya, sementara kalo Laptop kan selipetan itu udh termasuk monitor keyboard dan mouse.

Prosesor

Prosesor desktop relatif lebih besar, lebih kuat, dan kadang lebih mengkonsumsi banyak daya. Biasanya prosesor baru yang muncul dipasaran, muncul prosesor desktopnya duluan, baru berikutnya versi laptopnya.


Tapi, versi laptop prosesor juga enggak kalah performanya dibanding yang versi desktop. Masalahnya, dengan performa yang menyaingi, harga laptopnya jauh lebih mahal dibanding harga desktop dengan performa yang sama.

Kapan pilih Laptop?

Saat butuh portabilitas tinggi. Misalnya kerja di bidang desain, sering ngedit di tempat bareng klien, ya tentunya perlu laptop donk. Atau misalnya peneliti yang membutuhkan komputasi tinggi, tapi juga sering memberikan kuliah di berbagai tempat, ya perlu laptop juga pastinya. Atau buat kalian yang kalo pulang enggak pengen langsung pulang ke rumah, mau main dulu ke kafe, restoran cepat saji, atau tempat lain yang ada sinyal wifi gratisnya sambil ngerjain kerjaan kantor atau ngegame, Laptop jadi pilihan mutlak.


Tapi... laptop dengan spek tinggi ini biasanya berat lho. Kalo mobilitas terlalu tinggi bawa-bawa misalnya Alienware atau Omen, lumayan juga beratnya. Jadi kalo spek laptop tinggi portabilitasnya juga enggak bisa terlalu tinggi. Kalo mau yang portabilitas tinggi, pasti speknya enggak akan sebaik yang berat itu.

Kapan pilih Desktop?

Kalo enggak banyak mobilisasi seperti saya, pilih Desktop. Pulang kerja pengenya cepet-cepet langsung pulang biar enggak kena macet. Pengen spek yang cukup untuk berbagai macam hal, dari multimedia sampai gaming, dan harga relatif murah, pastilah pilih Desktop.

Curcol dikit, dulu saya pernah salah milih laptop, padahal bisa beli desktop yang lumayan canggih. Tapi waktu itu sih emang zamanya di kantor pake PC All in one dengan spek yang lambat, jadi laptop dipake buat kerja sekaligus buat di rumah.


Seperti yang sudah saya jelaskan diatas, kalo merakit desktop, bisa kita sesuaikan dengan budget dan spek yang diperlukan. Misalnya aja kalo punya budget cuma 2,8jt, punya casing + power supply bekas yang masih berfungsi dan monitor jadul, ya bisa di rakit ulang dengan berbagai pertimbangan. Hasilnya, speknya juga enggak kalah jauh dengan laptop kantor yang harganya 9jt-an :D tapi ya enggak bisa dibawa kemana-mana, di rumah aja. Tinggal tambah monitor dan 4GB ram lagi senilai 1,5jt-an, speknya sudah setara dengan laptop kantor. (sekarang mah udah ada komputer yang setara ini di kantor)

Kesimpulanya?

Sangat tergantung sama personalnya. Kebutuhanya, pekerjaan dan banyak yang lainya... Ini perkara milih laptop atau desktop, kalo untuk rakit desktop yang seperti apa lebih luas lagi bahasanya. Milih laptop pun tergantung kebutuhan.

Mau konsultasi rakit desktop atau milih laptop yang sesuai? Silahkan hubungi saya lewat FB atau twitter @awp_agni :D

Kunjungi Postingan Lainya