Kamis, 17 Januari 2019

Enggak semua internet unlimited itu sama...

Ya iyalah, kalo sama gimn juga mereka bisa bersaing kan. Tapi bingung kan milihnya, kira-kira bagusan yang mana satu sama lain. Pilih yang paling murah ja, toh unlimited... Kalo latency-nya kegedean gimana? (apa sih latency) Kalo upload speadnya ternyata enggak cukup gimana? Kalo gara-gara cuaca koneksi terputus gimana? (tapi klo ga putus mati lampu sama aja sih.)



Harga VS Kecepatan

Bandingin nih, harga sama kecepatan yang didapat. Kalo kecepatanya 10mbps harganya 350 ribu, pesaingnya 20mbps 300 ribu, ya jelas pilih pesaingnya lah, hahaha, itu keliatan ya. Pokoknya dibandingin deh antara harga dengan kecepatanya. Bisa juga harganya misalnya 2 kali lebih mahal tapi kecepatanya 4 kali lebih cepat, bisa bagi-bagi tetangga kan kalo kaya gini, hehe.

Tapi jangan lihat apa yang tertera di brosur atau iklan internet ya, biasanya yang tertera adalah kecepatan download. Misalnya kecepatan yang tertera 10 mbps terus tertulis kecepatan 10:1 artinya dari 10 mbps itu, hanya 1 mbps yang digunakan untuk upload. Ini cocok untuk pengguna yang suka browsing-browsing, streaming film atau acara TV, download game, tapi enggak cocok buat orang yang produktivitasnya di internet. Produktivitas di internet itu misalnya, upload konten video, upload konten gambar, atau mungkin malah komunikasi video call dengan client. Kalo remote desktop masih bisa kali ya, masih bisa dibatasi volume datanya.

Angka 6 itu latency, yang tengah itu kecepatan unduh dalam bit dan yang paling kanan kecepatan unggah dalam bit juga

Kenapa jadi masalah kalo uploadnya kecil? Ya, kalo 1mbps itu berarti sekitar 128kB/s yang artinya klo mau upload video 4k 100mb yang paling cuma beberapa detik butuh waktu 13 menit. Bayangin kalo yang di upload 1 Giga, bisa berapa jam itu? Yang biasanya video 4k kan belasan menit juga udah gigaan. Video call juga terganggu terutama kalo dipake bareng-barang dalam satu sambungan internet. Video call can selain nerima gambar juga ngirim gambar, kalo misalnya data gambar dan suara yang dikirim terlalu kecil otomatis kualitas gambar akan berkurang, kalo enggak berkurang ya pasti putus-putus.

Latency

Lantecy (kayaknya diterjemahin jadi lantesi ya) adalah kecepatan respon dalam hal ini respon jaringan. Bisa aja kecepatan volume datanya besar, tapi latency nya juga besar (latency semakin kecil semakin bagus). Ini menyiksa untuk gamer professional, karena mereka enggak perlu bandwidth atau kecepatan terlalu besar, tapi yang penting latency bisa sekitar 20ms.

  • Bandwidth besar Latency besar, ini misalnya menggunakan komunikasi satelit. Karena komunikasi satelit memerlukan data terbang sampe satelit dulu, baru balik ke bumi sampe di bumi muter-muter dulu nyari server, baru kemudian server ngirim ke stasiun bumi, kirim ke satelit baru balik ke browser, maka latency nya psati besar. Kenapa pasti besar? Jarak dari bumi ke satelit komunikasi (biasanya pada orbit geostasioner) itu 35 ribu km klo bolak balik itu 70 ribu km. Nah, data itu dari dikirim dari lokasi, ke satelit sampe server itu 70 ribu km minimal. Klo dua kali ya 140 ribu km. Kecepatan cahaya itu 299 ribu km/detik, artinya dalam satu kali jalan gelombang elektromagnetik bergerak dengan kecepatan cahaya, maka dibutuhkan setengah detik untuk merespon, atau sekitar 500 ms. Klo untuk kita setengah detik enggak apa-apa kali ya, tapi untuk pro ini udah lag.
    Gejalanya klo di web browser ini kita udah masukin alamat website dan pencet enter, nunggu agak lama, tiba-tiba seluruh halaman langsung termuat penuh.
  • Bandwidth kecil latency kecil, ini kaya menggunakan sambungan modem telepon jaman dulu kayaknya. Sekarang enggak ada kali ya yang pake kabel tembaga dengan kecepatan sangat rendah, klo ga salah dulu itu modem kecepatanya 56kbps. Intinya sih walaupun lewat teknologi kabel tembaga, latency masih bisa cukup rendah kalo servernya deket, jadi tergantung lokasi server juga. Tapi karena bandwidthnya rendah, klo pake model sambungan ini halaman web akan muncul pelan-pelan segera setelah memasukan alamat web dan di enter.
  • Bandwidth besar latency kecil, nah ini yang paling cucok meong. Bahkan dulu pernah lihat ada promosi paket gamer menjamin latency rendah dengan bandwidth 5mbps (besar untuk ukuran zaman dulu) tapi sayang lupa apa nama providernya dan di masa itu saya belum kenal latency.

Jaringan

Nah, sampailah kita di akhir pembahasan. Semua yang diatas itu enggak penting kalo enggak ada jaringanya. Misal di perumahan cuma ada indihome, walau ngidamnya kaya apa pengen Myrepublic ya bisanya cuman langganan Indihome atau enggak usah langganan. Kan kezel ya...

RT-RWnet?

Oh iya, ada satu teknologi lagi yang ketinggalan namanya RT-RWnet. Untuk satu RT oke, untuk satu RW lumayan, untuk beberapa jaringan RW yang disebar menggunakan wifi jarak jauh? Ini yang kalo manajemenya kurang bagus ya enggak bagus juga jaringanya. Latency buruk, bisa jadi malah bandwidth juga ikutan terganggu gara-gara data ngantri di salah satu titik persimpangan.

Direkomendasikan? Untuk jaringan beberapa RT sampai satu RW oke, tapi untuk beberapa RW, ya tergantung sama manajer jaringanya. Saya pernah beberapa kali langganan jaringan model ini, ada yang bagus, dan ada juga yang kurang bagus. Klo yang kurang bagus ini kadang di tes speed oke, tapi latency lama banget.

Paket khusus

Ada paket khusus lho, jadi enggak semua paket unlimited sama. Misalnya ada paket game, untuk beberapa game yang dimainkan pake jaringan penyedia layanan internet itu dapet exp lebih banyak atau dapet item khusus. Atau ada juga yang menjamin latency ke server-server game itu bisa dibawah 25ms (milisecond/milidetik) atau lebih rendah.

Paket game indihome

Dulu juga pernah lihat ada peket untuk yang suka nonton. Jadi lewat jaringan dia kalo nonton beberapa penyedia layanan streaming premium bisa akses gratis.

Kesimpulan

Jangan males baca. Semua paket itu ada tujuanya dengan target calon pengguna yang beda-beda, jadi siapa tau kita termasuk ke salah satu target penggunanya. Kalo pas dapet paket yang sesuai sama keinginan, pasti bisa menggunakan benefit maksimal dari paket internet tersebut.

Udah, gitu aja.

Senin, 14 Januari 2019

Pentingnya memilih PSU (Power Supply Unit)

Kalo beli komputer, pasti yang dipikirin pengen prosesor yang itu, VGA-nya anu, motherboardnya ini, casingnya yang lampunya banyak kayak ono, tapi pernah mikirin PSU atau Power Supply Unit atau yang biasa disebut Power Supply ga? Alat yang menyediakan daya untuk seluruh perangkat yang ada di komputer ini sering terpinggirkan (dulu saya jarang mikirin perangkat yang satu ini), karena kalo dipikir, yang penting kan daya yang dibutuhkan terpenuhi, ya brand apa aja boleh lah.

Entah PSU apa ini :D

Itu dulu, sebelum tau kalo efisiensi PSU itu bisa drop sampai 50% atau mungkin lebih sedikit dari itu. Sekarang, setelah melihat beberapa pengujian di Youtube_belum pernah uji sendiri karena belum punya alatnya_ akhirnya saya sadar... saya tercerahkan kalo PSU juga menentukan! Menentukan seberapa besar perbedaan tagihan listrik yang harus dibayar kalo pake PSU abal-abal dengan watt besar.

Fungsi Power Supply

Ya, buat supply power lah, menyediakan daya listrik untuk dipakai pada sebuah PC. Tapi bukan cuma menyediakan lho, sebetulnya PSU ini merubah daya listrik rumahan tegangan tinggi dengan arus bolak balik atau yang biasa disebut AC, ke listrik searah yang teganganya lebih rendah atau disebut DC. Selain itu PSU juga memisah-misah daya yang dibutuhkan menjadi lebih kecil dengan voltase yang disesuaikan ke beberapa colokan yang salah satunya adalah colokan 24 pin yang biasanya ke motherboard.

Jumlah colokan ini berbeda antara satu PSU dengan yang lainya. Kalo buat komputer yang biasa-biasa aja seperti yang saya bangun kemarin mah, pake PSU biasa juga cukup, palingan cuma power buat Motherboard sama buat kipas dan hardisk, udah. Kalo misal mau pake kartu grafis tingkat tinggi yang membutuhkan daya tambahan dari PSU, ya perlu ada tambahan kabel yang kadang di PSU biasa enggak ditemuin.

Efisiensi

Efisiensi PSU ini yang paling krusial, biasanya lebih efisien berarti lebih mahal, walaupun enggak selamanya kaya gitu, kali aja ada PSU murah yang efisiensinya tinggi. Permasalahan utama PSU terletak dari fungsi PSU sendiri, yaitu merubah arus bolak-balik menjadi arus searah yang tadinya teganganya tinggi arusnya kecil ke arus besar tegangan rendah kemudian dibagi-bagi ke beberapa colokan alias socket.

Kalo masih atau sedang belajar arus listrik, pasti tau nih, perubahan tegangan dan arus ini pasti tidak sempurna, alias ada energi yang terbuang menjadi energi panas. Dengan panas yang tinggi hambatan listrik juga semakin tinggi, dan panas semakin tinggi dan hambatan semakin tinggi dan terus seperti itu sampai efisiensi PSU itu turun hingga 50 atau bahkan 40%. Nah, kalo punya PSU biasa-biasa aja atua bawaan casing, biasanya ini yang terjadi, jadi walau sistemnya cuma membutuhkan misalnya 200 watt, gara-gara PSU-nya jelek bisa jadi energi yang terserap malah sampe 400 watt (dan biasanya PSU-nya bawaan itu 450 watt, tipis banget bentar lagi enggak kuat ngangkat).


Nah, kalo mau aman sih coba cari PSU dengan sertifikat 80 Plus. 80 Plus ini menjamin kalo PSU-nya akan punya paling rendah 80% efisiensi. Sertifikasinya juga ada tingkatanya.dari 80 plus, 80 plus bronze sampe terakhir 80 plus titanium dengan efisiensi hingga 90 persen.

Kesimpulan

Jadi, pilih PSU jangan sembarangan kalo enggak mau tagihan listrik melonjak tinggi. Masukan budget juga untuk PSU biar enggak bingung belakangan.

Rabu, 09 Januari 2019

RAM, apa fungsinya?

Dulu pernah denger ada orang lagi milih-milih smartphone, dia tanya, "Ini RAM-nya berapa?" Dijawab 2Giga sama si empunya toko. Orangnya komentar "Yang 4Giga ada enggak? Kalo 2Giga masih kurang cepet." Pertanyaan muncul, Kok bisa 4 Giga lebih cepet dari 2 giga? Ukuran yang dimaksud itu kan volume atau banyaknya data yang bisa disimpan dalam RAM, bukanya kecepatan. Lha, terus kenapa bisa ram-nya lebih banyak jadi lebih cepat? Kita harus tahu dulu fungsi RAM itu apa.

Team Elite yang dipake di rumah, tapi cuma satu sih, ini gambarnya dua :D

Memori dalam Komputer (termasuk HP)
Dalam komputer itu minimal ada 3 jenis memori, memori penyimpanan (storage) yang biasanya kalo di komputer dalam bentuk hardisk atau SSD. Yang kedua adalah RAM atau Random Access Memory, yang sesuai namanya memori ini akan diakses secara acak oleh prosesor untuk menjalankan program baik itu Sistem Operasi (Operating System/OS) atau program lain yang sedang berjalan. Sementara yang terakhir adalah ROM atau Read Only Memory yang sesuai namanya juga, ROM tidak dapat ditulis, tapi hanya bisa dibaca, ya semacam rujukan untuk sebuah perangkat bekerja sesuai dengan kegunaanya, misalnya Firmware. Etapi kadang firmware juga bisa di update ya? Jadi tetep bisa ditulis donk? Mungkin bisa kita bahas di artikel lain ya.

Fungsi RAM

Terus, apa fungsinya RAM? RAM adalah memori yang dapat diakses prosesor dengan cepat yang fungsinya adalah menampung semua kalkulasi atau program yang sedang dijalankan oleh prosesor. Ibaratnya kalo komputer adalah toko, prosesor adalah petugas penjual dan proses adalah proses jual beli, maka RAM etalase toko-nya.

Jual beli akan cepat terjadi kalo semua barang ada di etalase kan? Tinggal tunjuk, ambil di etalase, bayar, selesai. Tapi karena biasanya etalase toko ini terbatas, maka sebagian barang akan dimuat di gudang. Nah kalo enggak ada di etalase, akan nengok ke gudang dulu, kan. Makanya transaksinya akan lebih lambat.

Waktu proses booting (menyalakam komputer/ponsel), atau menjalankan program baru, prosesor akan mengambil data yang diperlukan dan ditaruh di RAM, biar prosesnya lebih cepet, terutama untuk program yang sedang berjalan. Kalo kita ibaratkan toko tadi, tokonya baru buka, terus dipindahin deh tuh sebagian barang yang digudang, yang akan banyak pembelinya ke etalase.

Seberapa cepat RAM ini? Pokoknya cepet bianget, hahaha... Untuk DDR4 dengan data rate 2133, kecepatan transfernya mencapai 17066.67 MB/s atau setera 17 GB/s -an. Artinya kalo ambil atau nulis data sebanyak 1TB bisa terjadi dalam 1 menit... WOW, kan?!

Kenapa RAM enggak dijadiin Storage aja?

Iya donk, orang kan maunya cepet diakses, bisa buat nyimpen banyak data, kenapa enggak disimpan di RAM aja? Jawabanya karena enggak praktis. RAM termasuk memori Volatile, maksudnya RAM memerlukan arus listrik untuk mempertahankan isi yang ada di dalam RAM. Kalo arus listrik terputus, ya hilang semua yang ada di dalam RAM, emangnya mau setiap matiin komputer atau laptop atau hp, terus datanya hilang semua?

SSD NVME dari samsung

Kalo mau cepet, ada satu teknologi yang sudah memungkinkan untuk menyamai kecepatan RAM, namanya NVMe. Kecepatan transfer NVMe bisa mencapai 32GB/s Nah, sekarang kita balik, kenapa enggak NVMe ini dijadiin RAM? Walau transfer rate-nya sama, tapi latency-nya berbeda. Prosesor mengakses RAM dalam Bit, jadi latency lebih diperlukan dari transfer rate. Lagian, kalo kita beli RAM enggak pernah ditulis kecepatan transfer dalam MB atau GB, tapi pasti dalam MT/s (Mega Transfer per second).

Apa kalo RAM besar jadi semakin cepat?

Ya enggak lah... Taaapiiii, dengan ram yang besar, sistem operasi enggak perlu sering-sering mindahin data dari RAM ke storage atau ngosongin RAM untuk program yang sedang berjalan di latar belakang. Prosesor lebih leluasa. Tapiiiii, misal enggak banyak aplikasi yang jalan di latar belakang, ya buat apa punya RAM besar-besar juga? Jadi, sangat tergantung sama penggunanya nih, apakah perlu banyak RAM atau enggak.

RAM makin besar bukan makin cepet, ya... tapi prosesor jadi makin leluasa memakai banyak aplikasi dalam satu waktu, dan semakin banyak aplikasi yang bisa disimpan di RAM artinya kalo nanti mau membuka lagi aplikasi tersebut, akan lebih cepat dibanding harus mengakses dari storage.

Minggu, 30 Desember 2018

Memilih Motherboard: yang perlu diperhatikan

Kita lanjut lagi ya berbagi pengalaman merakit komputer kemarin. Sekarang giliran memilih motherboard atau bahasa gaolnya Mobo. Gimana cara milihnya? Gampang, pilih prosesornya dulu. Lah, gimana? Katanya milih Mobo, tapi pilih prosesornya dulu? Ya, karena setiap prosesor punya dudukan yang berbeda, ibaratnya colokanya satu sama lain beda. Bahkan satu prosesor yang sama-pun punya beberapa jenis chipset yang berbeda. Bingung? Makanya tak coba jabarin di sini.

Mobo Aorus AMD socket X470

Pilih Prosesornya...

Intel saat ini pake socket yang namanya LGA atau Land Grid Array, yang punya karakteristik mother pin atau 'duri-duri'-nya ada di bagian motherboard. Jadi di bagian prosesornya enggak ada colokan atau duri-duri menonjol, tapi cuma kotak-kotak yang nantinya akan di sentuh sama duri-duri dari motherboard itu. Buat prosesor intel, penamaanya gampang, nama socketnya ditambah jumlah sambunganya. LGA 1151 artinya socket LGA dengan 1151 pin (tapi belum pernah ngitungin sih, ini juga kata wikipedia). Nah, LGA 1151 ini bisa dipake buat apa aja? Prosesor intel genersi ke 7, 8 dan 9 dari prosesor intel core dan beberapa prosesor intel lain (datanya ada di situs intel).

Motherboard Intel brand ASrock dengan socket Z390

Gimana dengan AMD? AMD pake socket yang namanya Pin Grid Array (PGA) yang berkebalikan sama LGA. PGA pin-nya di prosesornya, sementara motherboardnya lubang-lubang untuk masukin pin-nya. Terus keuntunganya pake PGA dan LGA apa? Itu di artikel lain ya :D Untuk AMD penamaan socketnya suka-suka AMD, untuk yang paling baru dia namain socket AM4 yang dapat mensupport CPU seri Ryzen dari generasi pertama dan kedua. Sementara untuk Ryzen Threadripper pake socket TR4.

Jadi, Kalo pake AMD pake socket AM4 atau AM3 atau yang lainya. Sementara kalo pake Intel pake LGA 1151, 1150, atau 2066. Apa sudah selesai setelah pilih prosesor langsung bisa pilih mobo paling murah?

Tidak secepat itu Ferguso...

Pilih Chipsetnya...

Berikutnya pilih chipsetnya. Baik AMD atau Intel punya chipset yang berbeda-beda dan punya spek yang juga beda. Misalnya... Kita bahas intel dulu ya... Chipset dewa (halah) intel saat ini kalo enggak salah Z390. Nah, dari sini bisa dilihat tuh spek yang tertera di situs ark.intel.com berapa maksimal PCI express yang bisa dipasang di chipset ini, berapa kecepatan transfernya, dan macem-macem lainya.

Enggak beda sama AMD, ada beberapa chipset yang bisa dipilih untuk beberapa prosesor. Misalnya untuk socket AM4 ada chipset A320 yang paling umum dan kayaknya paling minim, sementara untuk yang paling setrong itu chipset X470. Speknya, monggo dilihat di lineup produk AMD di amd.com spesifikasi lengkap ada di sana dari support store mi, NVME, dan lain-lain.

Harga motherboard akan sangat dipengaruhi dengan chipset yang di emban. Selisih harga motherboard antara yang satu sama yang lain akan sangat berbeda, dari 750 ribu hingga 8 juta. Tentukan socket terbaik, baru deh kita bisa lanjut ke pemilihan fitur, harga dan merk.

Fitur tambahan, merk dan harga

Fitur tambahan ini ada banyak, dan beda-beda setiap brand atau merk, jadi akan sangat mempengaruhi harga. Misalnya aja ada beberapa motherboard yang sudah dilengkapi dengan wifi adapter, jadi user enggak perlu beli tambahan kartu wifi adapter. Atau jumlah RAM yang bisa dibenamkan akan beda-beda juga. Kalo di spek misalnya memungkinkan menggunakan 4 slot, bisa aja di motherboard untuk menurunkan harga atau memang pricing-nya untuk entry level banget jadi disediain cuma 2 slot. Atau mungkin form factor-nya tidak memungkinkan ada tambahan (misalnya micro ATX) slot kosong. Kalo di high-end mobo, biasanya ada yang heat sync mobonya liquid ready, jadi ada lubang yang disiapin untuk pendingin cairan.

Mobo ASRock dengan wifi (udah dipasangin antenanya)

Biasanya setiap brand atau merk mobo punya jumlah port di belakang CPU beda-beda. Beberapa mobo masih menyediakan port PS/2 sementara yang lain hanya USB saja. Ada yang menyediakan satu port PS/2 ada yang dua port, ada juga yang masih menyediakan port DVI (VGA) ada juga yang sudah full digital dengan HDMI tanpa menyediakan port DVI.

Seberapa berpengaruh port-port ini ke harga? Ya saya enggak tau juga sih, tapi sesuaiin juga sama budget, ini yang utama. Soalnya klo budget mobo kegedean ga sanggup beli prosesor kan repot juga. Atau tadinya mau beli VGA tapi enggak cukup gara-gara mobo kan repot juga ya :D

Kesimpulan

Jadi, kalo menurut saya sih mobo ini yang kedua dipilih setelah prosesor, tapi yang terakhir dibeli. Sebelum beli yang lain, tentunya harus nentuin range harga mobo termurah-nya dulu, mana yang paling murah yang spesifikasinya cukup. Kalo misal setelah semua spek selesai masih ada uang, ya bisa alokasiin lebih ke mobo-nya.

Kalo mau konsul monggo tinggalin jejak di bawah atau kirim email ke gmail saya di agung.windy(at)gmail.com atau kalo misalnya minat buat pesen satu set komputer lengkap, saya juga ada temen yang terpercaya yang bisa mencarikn perangkatnya. (70-30 ya mas Emot wkwkwk) 

 Jangan lupa dilanggan (subscribe) blog ini, ya. :)

Rabu, 26 Desember 2018

Memilih Prosesor: Untuk Desktop atau Laptop

Baik merakit desktop atau milih laptop, yang dibingungin pertama pasti milih prosesor. Tapi khusus untuk laptop, kebanyakan orang bukan bingung milih prosesornya sih, tapi merk-nya. Pertanyaan yang sering saya hadapi itu: "Gung, Gung, klo *nama_merk* bagus ga?" Dan saya pasti bingung donk, maksudnya apa sih tiba-tiba nanya kaya gitu tanpa cerita-cerita dulu mau dipake buat apa laptopnya, budget berapa, seberapa besar, seberapa perlu mobilitasnya, dll dst dsb.

Prosesor intel jaman dulu dengan bentuk PGA

Jadi, di luar merk desktop ataupun laptopnya, setiap desktop atau laptop itu yang penting selain dimensi dan berat itu isinya. Kalau sudah menentukan budget misalnya ada 10 model yang pas, terus dinilai berat dan dimensinya, ternyata tersisa 5 model. Kemudian dipilih lagi bobotnya sisa 4 model, nah, terus dari 4 model ini prosesornya bagusan yang mana ya? Mudah-mudahan artikel ini bisa menjawab.

Frekuensi vs Inti vs Generasi

Kalo pemasaran pasti suka banget deh sama yang namanya angka. Misalnya klo kendaraan yang hp-nya paling besar, atau cc-nya lebih besar (walau cuma 5 misalnya). Nah, di prosesor, ada beberapa angka yang perlu diperhatikan.

  1. Frekuensi. Masih ingat sama pentium series? Waktu lahir pentium diberkahi dengan frekuensi atau clock rate 60 MHz dan terus berkembang. Kebetulan dulu saya punya setara pentium III waktu itu dengan clock rate 667 MHz (Itu komputer casingnya kemana ya?). Kemudian terus berkembang sampai Pentium IV, Pentium D dan Pentium Dual Core.
    Apa sih clock rate? Clock Rate adalah banyaknya instruksi yang bisa diproses prosesor dalam 1 detik. Nah, apakah dengan semakin cepat artinya semakin bagus? Iya, tapi hanya jika dibandingkan dengan prosesor dengan generasi atau bahkan jenis yang sama. Artinya kalo dari generasi yang berbeda ya beda juga performa-nya.
  2. Inti atau Core. Dalam satu prosesor itu bisa saja terdiri dari dua, tiga, atau empat, atau bahkan 16 inti atau core. Artinya dalam satu fisik prosesor terdapat lebih dari satu inti, ada beberapa prosesor yang dapat digunakan dalam satu fisik prosesor. Keunggulanya, prosesor dapat mengoptimalkan kecepatanya dalam memproses lebih banyak instruksi, yang hasil akhirnya adalah lebih banyak program yang bisa dikerjakan tanpa mengorbankan kecepatan prosesnya.
    Apakah prosesor akan lebih cepat mengerjakan satu pekerjaan ketika dikerjakan bareng-bareng (banyak inti/core)? Jawabanya enggak. Tergantung dengan perangkat lunak yang dikerjakan, apakah beban dari perangkat lunaknya dapat dibagi pada beberapa core atau enggak. Kalo enggak, core yang lain ya diem aja :D
  3. Generasi/Instruction Set. Sebetulnya sih enggak ada hubunganya antara generasi dan instruction set, tapi biasanya generasi terbaru dari sebuah prosesor dapat mengolah instruksi yang lebih panjang dalam satu clock cycle dari generasi sebelumnya. (Mohon koreksi kalo ada yang lebih ngerti ini)

Performa vs Harga vs Ketersediaan

Gampang donk, pilih yang paling baru, paling tinggi clock speednya, paling banyak core nya? Enggak gitu juga sih, kecuali sultan mah bebas. Agak susah menentukan performa sebuah prosesor, karena dipengaruhi banyak hal, tapi paling enggak kita bisa tahu potensi dari sebuah prosesor ini lewat score benchmark-nya.

Performa tinggi, harga murah, tapi belum tersedia di pasaran, terus elo mau apa? Ya tetep enggak bisa beli kan? Paling enggak harus nunggu dulu donk. Dan kalo baru keluar biasanya harganya akan ada diatas harga yang disarankan produsen-nya. Jadi amburadul lagi tuh perbandingan antara performa harga dan ketersediaan prosesor yang dipengenin.

Waktu ngerakit PC kemaren, sempet tuh cari-cari tahu, gimana kalo upgrade sebagian atau sebagian besar. Sebagian ini, berarti beli prosesor yang LGA 1155 (karena bawaan casing CPU itu LGA 1155 dengan Chipset H61). Hasil pencarian sih mendapatkan hasil Core i5 seri 2xxx yang performanya mirip dengan AMD Athlon 200ge (sekitar 4000-5000 scorenya menggunakan passmark). Kekuranganya intel itu, kartu grafis yang dibenamkan di prosesornya sangat lemah, jadi harus beli kartu grafis. Sementara kalo beli Athlon 200GE, walau harus ganti motherboard dan ram (kalo enggak ganti motherboard pun harus ganti ram, karena ram yang lama cuma 2GB), Lebih terjangkau dengan performa kartu grafis bawaan dibanding harus beli kartu grafis tambahan yang performanya setara dengan bawaan athlon 200GE (Vega 3).


Kalo dilihat-lihat dari performa vs harga dan ketersediaan, 200GE ini semacam pentium-G killer ya, performanya nyerempet2 pentium G performa dan harga-nya.

Untuk pembeli laptop, masalah harga sih sudah jadi satu dengan laptopnya ya, tapi dengan begini jadi tahu kan, klo generasi prosesornya lebih jadul, kecepatan clocknya lebih lambat, tapi harganya lebih tinggi, ya baiknya ganti produk lain atau cari di toko lain produk yang sama :D

Nah perlu juga tau nih nomor-nomor yang ada di prosesor, yang mana menandakan generasinya, yang mana menandakan tingkat performanya, kode-kode hurufnya, tapi itu untuk di artikel lain ya.

Untuk yang mau rakit PC, kalo prosesor sudah ditentukan, baru kita masuk ke perangkat selanjutnya, Motherboard, tapi untuk artikel lain juga, ya... :P

Rabu, 19 Desember 2018

Desktop vs Laptop, pilih mana?

Pada suatu ketika, ada seorang teman yang bingung, mau beli laptop, atau desktop. Jawabanya, ya situ yang pengen, ya pilih sendiri lah. Tamat, Artikelnya selesai. Enggak gitu!
Saya mau kasih sedikit gambaran, kenapa sih harus laptop atau kenapa lebih baik desktop?

Perbandingan antara Laptop dan Desktop


Sebelum kita masuk kapan sebaiknya pilih laptop atau desktop, ini sedikit perbedaan antara laptop dan desktop.

Harga

Untuk Desktop atau komputer meja, komponen yang tersedia sangat bervariasi, memungkinkan calon penggunanya memiliki pilihan dari 3,5jt sampai 260jt untuk satu paket (termasuk monitor). Bahkan untuk yang harganya 3,5jutaan sekalipun masih cukup canggih, bisa digunakan untuk berbagai macam kegunaan, dari main game, sketchup, sampai sedikit video editing.

Sementara untuk Laptop komponen yang tersedia juga banyak, tapi pilihanya sangat terbatas. Untuk komputer dengan kemampuan setara desktop 3,5jt saja kita perlu merogoh kocek skitar 4-5 juta. Dengan kemampuan komputasi dan grafik yang lebih baik, desktop punya rentang harga yang relatif lebih rendah dari laptop. Laptop juga sangat tergantung dari merk-nya.\

Dengan harga 3,5 jt udah bisa main dota 2 kalo pake desktop (walau pas-pasan) Klo laptop harga segitu main dota 2, enggak jamin bisa. Kalopun bisa ya ngos2an laptopnya. :P

Portabilitas

Ini enggak perlu dijelasin banyak-banyak lah ya. Tau kan Desktop kaya apa? Ada CPU-nya ada monitor keyboard mouse, semuanya terpisah. Nah kalo laptop kan jadi satu, bisa dilipet, taro tas, dibawa. Ada sih komputer tower kecil yang juga bisa dibawa-bawa, tapi enggak termasuk monitor keyboard dan mouse-nya, sementara kalo Laptop kan selipetan itu udh termasuk monitor keyboard dan mouse.

Prosesor

Prosesor desktop relatif lebih besar, lebih kuat, dan kadang lebih mengkonsumsi banyak daya. Biasanya prosesor baru yang muncul dipasaran, muncul prosesor desktopnya duluan, baru berikutnya versi laptopnya.


Tapi, versi laptop prosesor juga enggak kalah performanya dibanding yang versi desktop. Masalahnya, dengan performa yang menyaingi, harga laptopnya jauh lebih mahal dibanding harga desktop dengan performa yang sama.

Kapan pilih Laptop?

Saat butuh portabilitas tinggi. Misalnya kerja di bidang desain, sering ngedit di tempat bareng klien, ya tentunya perlu laptop donk. Atau misalnya peneliti yang membutuhkan komputasi tinggi, tapi juga sering memberikan kuliah di berbagai tempat, ya perlu laptop juga pastinya. Atau buat kalian yang kalo pulang enggak pengen langsung pulang ke rumah, mau main dulu ke kafe, restoran cepat saji, atau tempat lain yang ada sinyal wifi gratisnya sambil ngerjain kerjaan kantor atau ngegame, Laptop jadi pilihan mutlak.


Tapi... laptop dengan spek tinggi ini biasanya berat lho. Kalo mobilitas terlalu tinggi bawa-bawa misalnya Alienware atau Omen, lumayan juga beratnya. Jadi kalo spek laptop tinggi portabilitasnya juga enggak bisa terlalu tinggi. Kalo mau yang portabilitas tinggi, pasti speknya enggak akan sebaik yang berat itu.

Kapan pilih Desktop?

Kalo enggak banyak mobilisasi seperti saya, pilih Desktop. Pulang kerja pengenya cepet-cepet langsung pulang biar enggak kena macet. Pengen spek yang cukup untuk berbagai macam hal, dari multimedia sampai gaming, dan harga relatif murah, pastilah pilih Desktop.

Curcol dikit, dulu saya pernah salah milih laptop, padahal bisa beli desktop yang lumayan canggih. Tapi waktu itu sih emang zamanya di kantor pake PC All in one dengan spek yang lambat, jadi laptop dipake buat kerja sekaligus buat di rumah.


Seperti yang sudah saya jelaskan diatas, kalo merakit desktop, bisa kita sesuaikan dengan budget dan spek yang diperlukan. Misalnya aja kalo punya budget cuma 2,8jt, punya casing + power supply bekas yang masih berfungsi dan monitor jadul, ya bisa di rakit ulang dengan berbagai pertimbangan. Hasilnya, speknya juga enggak kalah jauh dengan laptop kantor yang harganya 9jt-an :D tapi ya enggak bisa dibawa kemana-mana, di rumah aja. Tinggal tambah monitor dan 4GB ram lagi senilai 1,5jt-an, speknya sudah setara dengan laptop kantor. (sekarang mah udah ada komputer yang setara ini di kantor)

Kesimpulanya?

Sangat tergantung sama personalnya. Kebutuhanya, pekerjaan dan banyak yang lainya... Ini perkara milih laptop atau desktop, kalo untuk rakit desktop yang seperti apa lebih luas lagi bahasanya. Milih laptop pun tergantung kebutuhan.

Mau konsultasi rakit desktop atau milih laptop yang sesuai? Silahkan hubungi saya lewat FB atau twitter @awp_agni :D

Rabu, 07 November 2018

Setelah sekian lama, rakit komputer lagi.

Ceritanya pada suatu hari ada sekelibat pemikiran, laptop di rumah tinggal satu, itu juga dipake istri. Kalo mau perlu laptop di rumah harus gantian, kayaknya perlu beli deh... Diputuskan waktu itu untuk beli komputer tanpa beli casing (tadinya mau beli test bench aja yang ternyata lebih mahal), tapi mau ditaro mana ya casingnya... Beberapa hari selanjutnya teringat, oh iya, di rumah Bapak kan ada casing nganggur, ya, gimana kalo itu dipake aja? Setelah izin kesana kemari, karena itu komputer punya orang tua+adek+adek, akhirnya diboyong pulang.

Ketika di buka, di periksa, ternyata enggak ada yang gosong, enggak ada tanda-tanda kerusakan di PSU-nya. Alhamdulilah menghemat sampai 500 ribu (casing plus PSU). Lihat-lihat RAM ternyata masih DDR3, ya gpp lah, masih bisa dipake. Mobo juga ternyata udah LGA 1155, udah bisa pake intel core donk, ya mau dipake juga. Dan ada juga ini relic VGA Geforce 630 GT yang setelah cari-cari di internet passmarknya bernilai 746. Setelah diperiksa, ternyata prosesornya intel G2010 dengan hasil passmark 2500an. Yang kira-kira masih bisa dipake adalah RAM-nya yang setelah disekilidi diselidiki ternyata sebesar 2GB (mau 4GB dual channel kok nanggung, kenapa ga 8 GB aja dual channel)
Ini VGA GT630 dari digital alliance

Rencana Upgrade

Target processing powernya sekitar diatas 4000 score passmark, jadi paling enggak akan perlu ganti prosesor. VGA-nya juga perlu ganti, karena targetnya score-nya 1000. Lalu pastinya akan nambah ram 4gb 1 batang atau 2x4gb tergantung budget nanti. Dan, berikut hasil penelisikan saya mengenai harga-harga yang bertebaran di marketplace online:

Target prosesor adalah intel core i5 seri 2 atau 3, ternyata lihat dipasaran, stoknya agak susah yang box dan harganya lumayan, sekitar 1,3 yang seri 2 dan 1,5an yang seri 3. Masukin lah kalkulasi kalo pake yang seri 3, berarti biaya pertama adalah 1,5jt.

Target ram DDR3 ini rada miring sih yang 8GB ternyata cuma 800an kurang, jadi langsung pilih aja ini yang 8GB, yang 4GB juga dilirik sih harganya 400an lebih. Sampe sekarang budget sudah 1,9 minimal atau 2,3jt. Loh, udah tinggi ya harganya...

Target VGA maunya sih yang score passmark nya 1000an, tapi ternyata untuk ukuran GT 740 yang passmarknya 1500 ternyata harganya sekitar 1jtan... nah, jadi bengkak 3 jt lebih nih.

kanan: LGA 1155 chipset h61 sudah berumur, terpasang pentium G2010 di slot prosesornya.
kiri: AM4 chipset A320, sudah bisa menopang prosesor seri Ryzen, tapi belum bisa overclock


Rencana B

Setelah budget mendekati 3 jt, kita langsung beralih ke rencana B. Soalnya ini rebuild kan iseng-iseng hobi berhadiah PC yang bisa dipake buat produktivitas di rumah, jadi ya kalo bisa harganya ditekan serendah mungkin.

Setelah melirik kemungkinan-kemungkinan lain, termasuk menggunakan intel Core i3 yang ternyata semua skor passmarknya untuk socket 1155 ada dibawah 5000, sesaat pusing dan kesel, sampe tiba-tiba kok ada iklan si merah di FB. Si merah ini lawan tangguhnya si biru bertahun-tahun, dan saya belum pernah sekalipun pake si merah, selalu si biru. Baru beberapa waktu lalu saya nyaranin adik saya pake si merah, mereka ga komplen sih, tapi ga bilang apa gitu yang bilang bagus, jadi ga tau juga itu prosesor bagus apa enggak. Tapi dengan segala kenekatan, akhirnya saya beranikan diri untuk pakai simerah, dan mulai cari tau lineupnya apa aja.

Pencarian berbuah mangga (manis), akhirnya ketemulah kandidat yang tepat dengan biaya upgrade dibawah yang sebelumnya.

Karena mau ganti prosesor, ya saya juga harus ganti motherboard. Dan karena ini untuk keperluan umum (bukan gaming, mining atau editing), saya pilih socket AMD yang paling polos, atau sering disebut sebagia socket entry level A320. Socket ini hanya menyediakan 1 buah slot PCIE x16, bahkan klo ga salah ga ada slot M.2-nya. Pokoknya ini minimalis banget deh. Dipilih lah Biostar AM320MH Pro (entah kenapa ada pro-nya) dengan harga diatas 700 dibawah 800, lupa tepatnya berapa.

Untuk prosesor, tergoda sih pake ryzen 3 yang harganya 1,4an dengan nilai passmark mirip dengan i5 yang sebelumnya diincer, tapi harganya pengen tak teken lagi. Dan setelah di turunin spek harga, ternyata terpilih Athlon 200GE. Nilai passmarknya cuma 5200an (Sudah diatas 4000), harganya juga 800an (dibawah 900), jadi inilah yang dipilih.

VGA... Tunggu! kita lihat spek VGA bawaan Athlon 200GE, dan kenapa Athlon 200GE juga yang dipilih, bukanya Seri A yang harganya mirip (tapi ada juga yang lebih mahal)... Karena 200GE ini pake VGA onboard Vega 3, sama dengan Ryzen 3.  Athlon 200GE ini juga lebih adem dengan TDP 35W.

Jadi totalnya kira-kira 1,5-1,6jtan. Wah, tinggal RAM 4GB cukup nih, sekitar 2jt lebih dikit. Yak! Bungkus!! Tapi sayang, waktu mau beli RAM-nya uangnya ternyata kepake buat yang lain. Jadi baru ada Mobo dan Prosesor, RAM masih belum ada...

Untuk monitor, masih ada monitor jadul, mudah-mudahan masih bisa dikombinasikan dengan perangkat baru ini. Tapi kemarin dicoba tidak berhasil lantaran sepertinya default BIOS baru ini pake HDMI, bukan kabel VGA, jadi perlu setting BIOS dulu.


Mobo sudah terpasang, tapi harus dibuka lagi lantaran update BIOS error


Proyeksi Performa

Sayang, belum bisa dicoba... tapi kira-kira begini proyeksi performa dan penggunaan komputer ini jika nanti sudah bisa digunakan.

Sketchup 

Kalo enggak salah inget, aplikasi sketchup ini enggak terlalu berat, terutama kalo pemakaian sederhana sampai menengah. Waktu itu pernah buka gambar kompleks di core i3 seri 2 masih oke, berarti di sini pun masih aman karena performanya juga sudah lebih tinggi dari itu. Apalagi performa kartu grafisnya sudah lebih tinggi yang ini. Cuma bagian RAM aja yang mungkin bermasalah, saya belum tau sampai sekarang permasalahan di RAM ini akan sebesar apa, jadi ditunggu nanti kalo udah ada RAM-nya ya.

Video Editing

Untuk video berukuran HD saya rasa masih oke. Ini berdasarkan pengalaman, sebelumnya saya pakai core i5 7200u dari kantor untuk video editing dengan VGA Radeon R7 M460 lumayan sih, walau kalo gambar yang diedit lebih besar dari 720 pasti lag... Untuk performa real-nya, perlu dicoba nanti, tapi kalo dilihat dari memori VGA-nya, belum tahu juga nih imbasnya ke video editting. Karena sistem yang saya pakai sebelumnya VGA-nya discrete dengan 2GB VRAM.

Blender

Untuk modelling 3d menggunakan Blender, sepertinya juga enggak masalah. Kecuali kalau mulai bikin animasi dan render. Untuk render ini, semakin besar gambar yang dirender, akan semakin lama rendernya. Mangkanya, untuk kelas produksi film dengan animasi CG perlu komputer dengan prosesor yang mumpuni dan VGA yang baik.

Kesimpulan

Dengan harga segini (2,2 jt) udah bisa dapet lho komputer yang mumpuni. Kalo mau dari awal, berarti tinggal tambah monitor seharga 1jtan, dan casing seharga 500ribuan, jadi totalnya 3,7jtan sudah dapat komputer yang mumpuni untuk melakukan banyak hal, tapi enggak bersamaan ya...

Kapan-kapan jadi pengen beli yang unlocked dan motherboard yang mumpuni buat nyobain overclock, biar ga cuma teori aja yang bisa, praktek juga. Kali ada yang mau modalin :D atau ada sekolah yang minta anaknya dibekali kemampuan rakit komputer? Itu juga bisa, hehehe...

Kunjungi Postingan Lainya