Gimana cara menempatkan satelit di orbitnya?

Bagaimana cara menempatkan sebuah satelit di orbitnya? Ya pake roket lah...

Sumber: sciencephoto.com


Sebelum ngomongin roket yang membawa satelit ke ruang angkasa, sekarang saya ngomongin meriam atau bola dulu ya. Kalau kita menembakan meriam atau melempar bola secara horizontal, pelan-pelan bola yang kita lempar atau peluru meriam yang kita tembakan akan terjatuh membentuk lintasan parabola. Semakin besar energi yang kita pakai untuk melempar bola atau energi yang diberikan untuk menembakan peluru meriam, maka akan semakin jauh kan jatuhnya? Kalau nih, misalkan kita berhasil menembakan peluru meriam dengan kecepatan sangat tinggi yang lintasan parabolik-nya sama dengan kurva bumi, (moon maap FE mah ga percaya ginian), maka bola itu akan terus terjatuh. Pemikiran ini pertama kali dicetuskan oleh Isaac Newton dan merupakan langkah pertama dalam menempatkan satelit ke dalam orbitnya.



Kita, eng... lebih tepatnya mereka yang meluncurkan satelit mengirimkan roket, atau biasa disebut sebagai kendaraan peluncur (Launch Vehicle) yang terbang lurus selama beberapa saat sebelum akhirnya berbelok menuju lintasan lengkung yang nyaris paralel dengan permukaan bumi. Sampai di atas, yang lebih rumit adalah menemukan keseimbangan antara gravitasi dengan kecepatan. Semakin tinggi kecepatanya, semakin tinggi orbitnya, sementara semakin rendah kecepatanya satelit akan ditarik masuk kembali ke atmosfer oleh gravitasi. Nah, agar satelit tetap ada di orbitnya, satelit perlu berada pada kecepatan orbit yang tepat, yaitu kecepatan yang memberikan orbit yang stabil berdasarkan ketinggianya. Semakin dekat dengan bumi, satelit harus memiliki kecepatan orbit yang lebih cepat dan sebaliknya.

Kebanyakan satelit terbang di ketinggian orbit rendah atau biasa disebut Low Earth Orbit (LEO), yaitu antara 150km sampai 2000 km dari permukaan. Satelit yang berada di ketinggian sekitar 300km, harus memiliki kecepatan orbit 28.000km/jam. Sementara yang berada di ketinggian ribuan kilometer, hanya perlu kecepatan orbit 25.000km/jam.


Tapi... setelah berada di atas sana, satelit enggak bisa terus berada di orbit. Ada yang namanya orbital decay atau kehilangan orbit yang kebanyakan terjadi karena Atmospheric drag karena bertabrakan dengan molekul gas di atmosfer. Semakin dekat dengan bumi, semakin banyak molekul gas yang bertabrakan dengan satelit, orbitnya semakin mudah berkurang. Contohnya aja Stasiun Luar Angkasa Internasional atau yang biasa disebut ISS (International Space Station) yang mengobrit di ketinggian 400km. Setiap harinya, ISS kehilangan orbit 90 meter, makanya ISS perlu bahan bakar untuk menyesuaikan orbitnya lagi dengan menyalakan dua mesinnya dalam setiap periode tertentu.

Sementara itu di orbit sangat rendah, atmosfernya jaaaauuuh lebih padat, menyebabkan lebih banyak tahanan atau drag. Saat benda yang mengorbit tertahan, orbitnya turun, semakin turun semakin banyak tahanan, semakin orbitnya turun, dan seterusnya hingga akhirnya jatuh.

Seperti itulah satelit di masa akhir hidupnya, akan turun dan jatuh, atau bahkan dijatuhkan secara terkendali. Tapi... ternyata jauh lebih efisien membuat satelit berada di orbit pembuangan (disposal orbit). Dalam kasus ini, satelit akan ditempatkan 300km lebih tinggi dari orbit asalnya, agar tidak menghalangi satelit yang masih bekerja, dan menduduki orbit pembuangan (disposal orbit) yang lambat dan jauh. Ratusan satelit saat ini mengorbit di orbit yang biasa disebut makam satelit ini.

Tapi, karena efek atmosfer, cuma masalah waktu sampai akhirnya satelit ini akan kembali ke bumi. objek yang berada di orbit rendah bumi, butuh waktu tahunan untuk akhirnya jatuh ke bumi. Sementara yang ada di orbit lebih tinggi memerlukan waktu puluhan atau bahkan ratusan tahun.

Sumber: nesdis.noaa.org


Berita baiknya, kebanyakan sampah luar angkasa itu akan terbakar saat reentri atau masuk kembali ke atmosfer.

Komentar

Postingan Populer