Minggu, 30 Desember 2018

Memilih Motherboard: yang perlu diperhatikan

Kita lanjut lagi ya berbagi pengalaman merakit komputer kemarin. Sekarang giliran memilih motherboard atau bahasa gaolnya Mobo. Gimana cara milihnya? Gampang, pilih prosesornya dulu. Lah, gimana? Katanya milih Mobo, tapi pilih prosesornya dulu? Ya, karena setiap prosesor punya dudukan yang berbeda, ibaratnya colokanya satu sama lain beda. Bahkan satu prosesor yang sama-pun punya beberapa jenis chipset yang berbeda. Bingung? Makanya tak coba jabarin di sini.

Mobo Aorus AMD socket X470

Pilih Prosesornya...

Intel saat ini pake socket yang namanya LGA atau Land Grid Array, yang punya karakteristik mother pin atau 'duri-duri'-nya ada di bagian motherboard. Jadi di bagian prosesornya enggak ada colokan atau duri-duri menonjol, tapi cuma kotak-kotak yang nantinya akan di sentuh sama duri-duri dari motherboard itu. Buat prosesor intel, penamaanya gampang, nama socketnya ditambah jumlah sambunganya. LGA 1151 artinya socket LGA dengan 1151 pin (tapi belum pernah ngitungin sih, ini juga kata wikipedia). Nah, LGA 1151 ini bisa dipake buat apa aja? Prosesor intel genersi ke 7, 8 dan 9 dari prosesor intel core dan beberapa prosesor intel lain (datanya ada di situs intel).

Motherboard Intel brand ASrock dengan socket Z390

Gimana dengan AMD? AMD pake socket yang namanya Pin Grid Array (PGA) yang berkebalikan sama LGA. PGA pin-nya di prosesornya, sementara motherboardnya lubang-lubang untuk masukin pin-nya. Terus keuntunganya pake PGA dan LGA apa? Itu di artikel lain ya :D Untuk AMD penamaan socketnya suka-suka AMD, untuk yang paling baru dia namain socket AM4 yang dapat mensupport CPU seri Ryzen dari generasi pertama dan kedua. Sementara untuk Ryzen Threadripper pake socket TR4.

Jadi, Kalo pake AMD pake socket AM4 atau AM3 atau yang lainya. Sementara kalo pake Intel pake LGA 1151, 1150, atau 2066. Apa sudah selesai setelah pilih prosesor langsung bisa pilih mobo paling murah?

Tidak secepat itu Ferguso...

Pilih Chipsetnya...

Berikutnya pilih chipsetnya. Baik AMD atau Intel punya chipset yang berbeda-beda dan punya spek yang juga beda. Misalnya... Kita bahas intel dulu ya... Chipset dewa (halah) intel saat ini kalo enggak salah Z390. Nah, dari sini bisa dilihat tuh spek yang tertera di situs ark.intel.com berapa maksimal PCI express yang bisa dipasang di chipset ini, berapa kecepatan transfernya, dan macem-macem lainya.

Enggak beda sama AMD, ada beberapa chipset yang bisa dipilih untuk beberapa prosesor. Misalnya untuk socket AM4 ada chipset A320 yang paling umum dan kayaknya paling minim, sementara untuk yang paling setrong itu chipset X470. Speknya, monggo dilihat di lineup produk AMD di amd.com spesifikasi lengkap ada di sana dari support store mi, NVME, dan lain-lain.

Harga motherboard akan sangat dipengaruhi dengan chipset yang di emban. Selisih harga motherboard antara yang satu sama yang lain akan sangat berbeda, dari 750 ribu hingga 8 juta. Tentukan socket terbaik, baru deh kita bisa lanjut ke pemilihan fitur, harga dan merk.

Fitur tambahan, merk dan harga

Fitur tambahan ini ada banyak, dan beda-beda setiap brand atau merk, jadi akan sangat mempengaruhi harga. Misalnya aja ada beberapa motherboard yang sudah dilengkapi dengan wifi adapter, jadi user enggak perlu beli tambahan kartu wifi adapter. Atau jumlah RAM yang bisa dibenamkan akan beda-beda juga. Kalo di spek misalnya memungkinkan menggunakan 4 slot, bisa aja di motherboard untuk menurunkan harga atau memang pricing-nya untuk entry level banget jadi disediain cuma 2 slot. Atau mungkin form factor-nya tidak memungkinkan ada tambahan (misalnya micro ATX) slot kosong. Kalo di high-end mobo, biasanya ada yang heat sync mobonya liquid ready, jadi ada lubang yang disiapin untuk pendingin cairan.

Mobo ASRock dengan wifi (udah dipasangin antenanya)

Biasanya setiap brand atau merk mobo punya jumlah port di belakang CPU beda-beda. Beberapa mobo masih menyediakan port PS/2 sementara yang lain hanya USB saja. Ada yang menyediakan satu port PS/2 ada yang dua port, ada juga yang masih menyediakan port DVI (VGA) ada juga yang sudah full digital dengan HDMI tanpa menyediakan port DVI.

Seberapa berpengaruh port-port ini ke harga? Ya saya enggak tau juga sih, tapi sesuaiin juga sama budget, ini yang utama. Soalnya klo budget mobo kegedean ga sanggup beli prosesor kan repot juga. Atau tadinya mau beli VGA tapi enggak cukup gara-gara mobo kan repot juga ya :D

Kesimpulan

Jadi, kalo menurut saya sih mobo ini yang kedua dipilih setelah prosesor, tapi yang terakhir dibeli. Sebelum beli yang lain, tentunya harus nentuin range harga mobo termurah-nya dulu, mana yang paling murah yang spesifikasinya cukup. Kalo misal setelah semua spek selesai masih ada uang, ya bisa alokasiin lebih ke mobo-nya.

Kalo mau konsul monggo tinggalin jejak di bawah atau kirim email ke gmail saya di agung.windy(at)gmail.com atau kalo misalnya minat buat pesen satu set komputer lengkap, saya juga ada temen yang terpercaya yang bisa mencarikn perangkatnya. (70-30 ya mas Emot wkwkwk) 

 Jangan lupa dilanggan (subscribe) blog ini, ya. :)

Rabu, 26 Desember 2018

Memilih Prosesor: Untuk Desktop atau Laptop

Baik merakit desktop atau milih laptop, yang dibingungin pertama pasti milih prosesor. Tapi khusus untuk laptop, kebanyakan orang bukan bingung milih prosesornya sih, tapi merk-nya. Pertanyaan yang sering saya hadapi itu: "Gung, Gung, klo *nama_merk* bagus ga?" Dan saya pasti bingung donk, maksudnya apa sih tiba-tiba nanya kaya gitu tanpa cerita-cerita dulu mau dipake buat apa laptopnya, budget berapa, seberapa besar, seberapa perlu mobilitasnya, dll dst dsb.

Prosesor intel jaman dulu dengan bentuk PGA

Jadi, di luar merk desktop ataupun laptopnya, setiap desktop atau laptop itu yang penting selain dimensi dan berat itu isinya. Kalau sudah menentukan budget misalnya ada 10 model yang pas, terus dinilai berat dan dimensinya, ternyata tersisa 5 model. Kemudian dipilih lagi bobotnya sisa 4 model, nah, terus dari 4 model ini prosesornya bagusan yang mana ya? Mudah-mudahan artikel ini bisa menjawab.

Frekuensi vs Inti vs Generasi

Kalo pemasaran pasti suka banget deh sama yang namanya angka. Misalnya klo kendaraan yang hp-nya paling besar, atau cc-nya lebih besar (walau cuma 5 misalnya). Nah, di prosesor, ada beberapa angka yang perlu diperhatikan.

  1. Frekuensi. Masih ingat sama pentium series? Waktu lahir pentium diberkahi dengan frekuensi atau clock rate 60 MHz dan terus berkembang. Kebetulan dulu saya punya setara pentium III waktu itu dengan clock rate 667 MHz (Itu komputer casingnya kemana ya?). Kemudian terus berkembang sampai Pentium IV, Pentium D dan Pentium Dual Core.
    Apa sih clock rate? Clock Rate adalah banyaknya instruksi yang bisa diproses prosesor dalam 1 detik. Nah, apakah dengan semakin cepat artinya semakin bagus? Iya, tapi hanya jika dibandingkan dengan prosesor dengan generasi atau bahkan jenis yang sama. Artinya kalo dari generasi yang berbeda ya beda juga performa-nya.
  2. Inti atau Core. Dalam satu prosesor itu bisa saja terdiri dari dua, tiga, atau empat, atau bahkan 16 inti atau core. Artinya dalam satu fisik prosesor terdapat lebih dari satu inti, ada beberapa prosesor yang dapat digunakan dalam satu fisik prosesor. Keunggulanya, prosesor dapat mengoptimalkan kecepatanya dalam memproses lebih banyak instruksi, yang hasil akhirnya adalah lebih banyak program yang bisa dikerjakan tanpa mengorbankan kecepatan prosesnya.
    Apakah prosesor akan lebih cepat mengerjakan satu pekerjaan ketika dikerjakan bareng-bareng (banyak inti/core)? Jawabanya enggak. Tergantung dengan perangkat lunak yang dikerjakan, apakah beban dari perangkat lunaknya dapat dibagi pada beberapa core atau enggak. Kalo enggak, core yang lain ya diem aja :D
  3. Generasi/Instruction Set. Sebetulnya sih enggak ada hubunganya antara generasi dan instruction set, tapi biasanya generasi terbaru dari sebuah prosesor dapat mengolah instruksi yang lebih panjang dalam satu clock cycle dari generasi sebelumnya. (Mohon koreksi kalo ada yang lebih ngerti ini)

Performa vs Harga vs Ketersediaan

Gampang donk, pilih yang paling baru, paling tinggi clock speednya, paling banyak core nya? Enggak gitu juga sih, kecuali sultan mah bebas. Agak susah menentukan performa sebuah prosesor, karena dipengaruhi banyak hal, tapi paling enggak kita bisa tahu potensi dari sebuah prosesor ini lewat score benchmark-nya.

Performa tinggi, harga murah, tapi belum tersedia di pasaran, terus elo mau apa? Ya tetep enggak bisa beli kan? Paling enggak harus nunggu dulu donk. Dan kalo baru keluar biasanya harganya akan ada diatas harga yang disarankan produsen-nya. Jadi amburadul lagi tuh perbandingan antara performa harga dan ketersediaan prosesor yang dipengenin.

Waktu ngerakit PC kemaren, sempet tuh cari-cari tahu, gimana kalo upgrade sebagian atau sebagian besar. Sebagian ini, berarti beli prosesor yang LGA 1155 (karena bawaan casing CPU itu LGA 1155 dengan Chipset H61). Hasil pencarian sih mendapatkan hasil Core i5 seri 2xxx yang performanya mirip dengan AMD Athlon 200ge (sekitar 4000-5000 scorenya menggunakan passmark). Kekuranganya intel itu, kartu grafis yang dibenamkan di prosesornya sangat lemah, jadi harus beli kartu grafis. Sementara kalo beli Athlon 200GE, walau harus ganti motherboard dan ram (kalo enggak ganti motherboard pun harus ganti ram, karena ram yang lama cuma 2GB), Lebih terjangkau dengan performa kartu grafis bawaan dibanding harus beli kartu grafis tambahan yang performanya setara dengan bawaan athlon 200GE (Vega 3).


Kalo dilihat-lihat dari performa vs harga dan ketersediaan, 200GE ini semacam pentium-G killer ya, performanya nyerempet2 pentium G performa dan harga-nya.

Untuk pembeli laptop, masalah harga sih sudah jadi satu dengan laptopnya ya, tapi dengan begini jadi tahu kan, klo generasi prosesornya lebih jadul, kecepatan clocknya lebih lambat, tapi harganya lebih tinggi, ya baiknya ganti produk lain atau cari di toko lain produk yang sama :D

Nah perlu juga tau nih nomor-nomor yang ada di prosesor, yang mana menandakan generasinya, yang mana menandakan tingkat performanya, kode-kode hurufnya, tapi itu untuk di artikel lain ya.

Untuk yang mau rakit PC, kalo prosesor sudah ditentukan, baru kita masuk ke perangkat selanjutnya, Motherboard, tapi untuk artikel lain juga, ya... :P

Rabu, 19 Desember 2018

Desktop vs Laptop, pilih mana?

Pada suatu ketika, ada seorang teman yang bingung, mau beli laptop, atau desktop. Jawabanya, ya situ yang pengen, ya pilih sendiri lah. Tamat, Artikelnya selesai. Enggak gitu!
Saya mau kasih sedikit gambaran, kenapa sih harus laptop atau kenapa lebih baik desktop?

Perbandingan antara Laptop dan Desktop


Sebelum kita masuk kapan sebaiknya pilih laptop atau desktop, ini sedikit perbedaan antara laptop dan desktop.

Harga

Untuk Desktop atau komputer meja, komponen yang tersedia sangat bervariasi, memungkinkan calon penggunanya memiliki pilihan dari 3,5jt sampai 260jt untuk satu paket (termasuk monitor). Bahkan untuk yang harganya 3,5jutaan sekalipun masih cukup canggih, bisa digunakan untuk berbagai macam kegunaan, dari main game, sketchup, sampai sedikit video editing.

Sementara untuk Laptop komponen yang tersedia juga banyak, tapi pilihanya sangat terbatas. Untuk komputer dengan kemampuan setara desktop 3,5jt saja kita perlu merogoh kocek skitar 4-5 juta. Dengan kemampuan komputasi dan grafik yang lebih baik, desktop punya rentang harga yang relatif lebih rendah dari laptop. Laptop juga sangat tergantung dari merk-nya.\

Dengan harga 3,5 jt udah bisa main dota 2 kalo pake desktop (walau pas-pasan) Klo laptop harga segitu main dota 2, enggak jamin bisa. Kalopun bisa ya ngos2an laptopnya. :P

Portabilitas

Ini enggak perlu dijelasin banyak-banyak lah ya. Tau kan Desktop kaya apa? Ada CPU-nya ada monitor keyboard mouse, semuanya terpisah. Nah kalo laptop kan jadi satu, bisa dilipet, taro tas, dibawa. Ada sih komputer tower kecil yang juga bisa dibawa-bawa, tapi enggak termasuk monitor keyboard dan mouse-nya, sementara kalo Laptop kan selipetan itu udh termasuk monitor keyboard dan mouse.

Prosesor

Prosesor desktop relatif lebih besar, lebih kuat, dan kadang lebih mengkonsumsi banyak daya. Biasanya prosesor baru yang muncul dipasaran, muncul prosesor desktopnya duluan, baru berikutnya versi laptopnya.


Tapi, versi laptop prosesor juga enggak kalah performanya dibanding yang versi desktop. Masalahnya, dengan performa yang menyaingi, harga laptopnya jauh lebih mahal dibanding harga desktop dengan performa yang sama.

Kapan pilih Laptop?

Saat butuh portabilitas tinggi. Misalnya kerja di bidang desain, sering ngedit di tempat bareng klien, ya tentunya perlu laptop donk. Atau misalnya peneliti yang membutuhkan komputasi tinggi, tapi juga sering memberikan kuliah di berbagai tempat, ya perlu laptop juga pastinya. Atau buat kalian yang kalo pulang enggak pengen langsung pulang ke rumah, mau main dulu ke kafe, restoran cepat saji, atau tempat lain yang ada sinyal wifi gratisnya sambil ngerjain kerjaan kantor atau ngegame, Laptop jadi pilihan mutlak.


Tapi... laptop dengan spek tinggi ini biasanya berat lho. Kalo mobilitas terlalu tinggi bawa-bawa misalnya Alienware atau Omen, lumayan juga beratnya. Jadi kalo spek laptop tinggi portabilitasnya juga enggak bisa terlalu tinggi. Kalo mau yang portabilitas tinggi, pasti speknya enggak akan sebaik yang berat itu.

Kapan pilih Desktop?

Kalo enggak banyak mobilisasi seperti saya, pilih Desktop. Pulang kerja pengenya cepet-cepet langsung pulang biar enggak kena macet. Pengen spek yang cukup untuk berbagai macam hal, dari multimedia sampai gaming, dan harga relatif murah, pastilah pilih Desktop.

Curcol dikit, dulu saya pernah salah milih laptop, padahal bisa beli desktop yang lumayan canggih. Tapi waktu itu sih emang zamanya di kantor pake PC All in one dengan spek yang lambat, jadi laptop dipake buat kerja sekaligus buat di rumah.


Seperti yang sudah saya jelaskan diatas, kalo merakit desktop, bisa kita sesuaikan dengan budget dan spek yang diperlukan. Misalnya aja kalo punya budget cuma 2,8jt, punya casing + power supply bekas yang masih berfungsi dan monitor jadul, ya bisa di rakit ulang dengan berbagai pertimbangan. Hasilnya, speknya juga enggak kalah jauh dengan laptop kantor yang harganya 9jt-an :D tapi ya enggak bisa dibawa kemana-mana, di rumah aja. Tinggal tambah monitor dan 4GB ram lagi senilai 1,5jt-an, speknya sudah setara dengan laptop kantor. (sekarang mah udah ada komputer yang setara ini di kantor)

Kesimpulanya?

Sangat tergantung sama personalnya. Kebutuhanya, pekerjaan dan banyak yang lainya... Ini perkara milih laptop atau desktop, kalo untuk rakit desktop yang seperti apa lebih luas lagi bahasanya. Milih laptop pun tergantung kebutuhan.

Mau konsultasi rakit desktop atau milih laptop yang sesuai? Silahkan hubungi saya lewat FB atau twitter @awp_agni :D

Rabu, 07 November 2018

Setelah sekian lama, rakit komputer lagi.

Ceritanya pada suatu hari ada sekelibat pemikiran, laptop di rumah tinggal satu, itu juga dipake istri. Kalo mau perlu laptop di rumah harus gantian, kayaknya perlu beli deh... Diputuskan waktu itu untuk beli komputer tanpa beli casing (tadinya mau beli test bench aja yang ternyata lebih mahal), tapi mau ditaro mana ya casingnya... Beberapa hari selanjutnya teringat, oh iya, di rumah Bapak kan ada casing nganggur, ya, gimana kalo itu dipake aja? Setelah izin kesana kemari, karena itu komputer punya orang tua+adek+adek, akhirnya diboyong pulang.

Ketika di buka, di periksa, ternyata enggak ada yang gosong, enggak ada tanda-tanda kerusakan di PSU-nya. Alhamdulilah menghemat sampai 500 ribu (casing plus PSU). Lihat-lihat RAM ternyata masih DDR3, ya gpp lah, masih bisa dipake. Mobo juga ternyata udah LGA 1155, udah bisa pake intel core donk, ya mau dipake juga. Dan ada juga ini relic VGA Geforce 630 GT yang setelah cari-cari di internet passmarknya bernilai 746. Setelah diperiksa, ternyata prosesornya intel G2010 dengan hasil passmark 2500an. Yang kira-kira masih bisa dipake adalah RAM-nya yang setelah disekilidi diselidiki ternyata sebesar 2GB (mau 4GB dual channel kok nanggung, kenapa ga 8 GB aja dual channel)
Ini VGA GT630 dari digital alliance

Rencana Upgrade

Target processing powernya sekitar diatas 4000 score passmark, jadi paling enggak akan perlu ganti prosesor. VGA-nya juga perlu ganti, karena targetnya score-nya 1000. Lalu pastinya akan nambah ram 4gb 1 batang atau 2x4gb tergantung budget nanti. Dan, berikut hasil penelisikan saya mengenai harga-harga yang bertebaran di marketplace online:

Target prosesor adalah intel core i5 seri 2 atau 3, ternyata lihat dipasaran, stoknya agak susah yang box dan harganya lumayan, sekitar 1,3 yang seri 2 dan 1,5an yang seri 3. Masukin lah kalkulasi kalo pake yang seri 3, berarti biaya pertama adalah 1,5jt.

Target ram DDR3 ini rada miring sih yang 8GB ternyata cuma 800an kurang, jadi langsung pilih aja ini yang 8GB, yang 4GB juga dilirik sih harganya 400an lebih. Sampe sekarang budget sudah 1,9 minimal atau 2,3jt. Loh, udah tinggi ya harganya...

Target VGA maunya sih yang score passmark nya 1000an, tapi ternyata untuk ukuran GT 740 yang passmarknya 1500 ternyata harganya sekitar 1jtan... nah, jadi bengkak 3 jt lebih nih.

kanan: LGA 1155 chipset h61 sudah berumur, terpasang pentium G2010 di slot prosesornya.
kiri: AM4 chipset A320, sudah bisa menopang prosesor seri Ryzen, tapi belum bisa overclock


Rencana B

Setelah budget mendekati 3 jt, kita langsung beralih ke rencana B. Soalnya ini rebuild kan iseng-iseng hobi berhadiah PC yang bisa dipake buat produktivitas di rumah, jadi ya kalo bisa harganya ditekan serendah mungkin.

Setelah melirik kemungkinan-kemungkinan lain, termasuk menggunakan intel Core i3 yang ternyata semua skor passmarknya untuk socket 1155 ada dibawah 5000, sesaat pusing dan kesel, sampe tiba-tiba kok ada iklan si merah di FB. Si merah ini lawan tangguhnya si biru bertahun-tahun, dan saya belum pernah sekalipun pake si merah, selalu si biru. Baru beberapa waktu lalu saya nyaranin adik saya pake si merah, mereka ga komplen sih, tapi ga bilang apa gitu yang bilang bagus, jadi ga tau juga itu prosesor bagus apa enggak. Tapi dengan segala kenekatan, akhirnya saya beranikan diri untuk pakai simerah, dan mulai cari tau lineupnya apa aja.

Pencarian berbuah mangga (manis), akhirnya ketemulah kandidat yang tepat dengan biaya upgrade dibawah yang sebelumnya.

Karena mau ganti prosesor, ya saya juga harus ganti motherboard. Dan karena ini untuk keperluan umum (bukan gaming, mining atau editing), saya pilih socket AMD yang paling polos, atau sering disebut sebagia socket entry level A320. Socket ini hanya menyediakan 1 buah slot PCIE x16, bahkan klo ga salah ga ada slot M.2-nya. Pokoknya ini minimalis banget deh. Dipilih lah Biostar AM320MH Pro (entah kenapa ada pro-nya) dengan harga diatas 700 dibawah 800, lupa tepatnya berapa.

Untuk prosesor, tergoda sih pake ryzen 3 yang harganya 1,4an dengan nilai passmark mirip dengan i5 yang sebelumnya diincer, tapi harganya pengen tak teken lagi. Dan setelah di turunin spek harga, ternyata terpilih Athlon 200GE. Nilai passmarknya cuma 5200an (Sudah diatas 4000), harganya juga 800an (dibawah 900), jadi inilah yang dipilih.

VGA... Tunggu! kita lihat spek VGA bawaan Athlon 200GE, dan kenapa Athlon 200GE juga yang dipilih, bukanya Seri A yang harganya mirip (tapi ada juga yang lebih mahal)... Karena 200GE ini pake VGA onboard Vega 3, sama dengan Ryzen 3.  Athlon 200GE ini juga lebih adem dengan TDP 35W.

Jadi totalnya kira-kira 1,5-1,6jtan. Wah, tinggal RAM 4GB cukup nih, sekitar 2jt lebih dikit. Yak! Bungkus!! Tapi sayang, waktu mau beli RAM-nya uangnya ternyata kepake buat yang lain. Jadi baru ada Mobo dan Prosesor, RAM masih belum ada...

Untuk monitor, masih ada monitor jadul, mudah-mudahan masih bisa dikombinasikan dengan perangkat baru ini. Tapi kemarin dicoba tidak berhasil lantaran sepertinya default BIOS baru ini pake HDMI, bukan kabel VGA, jadi perlu setting BIOS dulu.


Mobo sudah terpasang, tapi harus dibuka lagi lantaran update BIOS error


Proyeksi Performa

Sayang, belum bisa dicoba... tapi kira-kira begini proyeksi performa dan penggunaan komputer ini jika nanti sudah bisa digunakan.

Sketchup 

Kalo enggak salah inget, aplikasi sketchup ini enggak terlalu berat, terutama kalo pemakaian sederhana sampai menengah. Waktu itu pernah buka gambar kompleks di core i3 seri 2 masih oke, berarti di sini pun masih aman karena performanya juga sudah lebih tinggi dari itu. Apalagi performa kartu grafisnya sudah lebih tinggi yang ini. Cuma bagian RAM aja yang mungkin bermasalah, saya belum tau sampai sekarang permasalahan di RAM ini akan sebesar apa, jadi ditunggu nanti kalo udah ada RAM-nya ya.

Video Editing

Untuk video berukuran HD saya rasa masih oke. Ini berdasarkan pengalaman, sebelumnya saya pakai core i5 7200u dari kantor untuk video editing dengan VGA Radeon R7 M460 lumayan sih, walau kalo gambar yang diedit lebih besar dari 720 pasti lag... Untuk performa real-nya, perlu dicoba nanti, tapi kalo dilihat dari memori VGA-nya, belum tahu juga nih imbasnya ke video editting. Karena sistem yang saya pakai sebelumnya VGA-nya discrete dengan 2GB VRAM.

Blender

Untuk modelling 3d menggunakan Blender, sepertinya juga enggak masalah. Kecuali kalau mulai bikin animasi dan render. Untuk render ini, semakin besar gambar yang dirender, akan semakin lama rendernya. Mangkanya, untuk kelas produksi film dengan animasi CG perlu komputer dengan prosesor yang mumpuni dan VGA yang baik.

Kesimpulan

Dengan harga segini (2,2 jt) udah bisa dapet lho komputer yang mumpuni. Kalo mau dari awal, berarti tinggal tambah monitor seharga 1jtan, dan casing seharga 500ribuan, jadi totalnya 3,7jtan sudah dapat komputer yang mumpuni untuk melakukan banyak hal, tapi enggak bersamaan ya...

Kapan-kapan jadi pengen beli yang unlocked dan motherboard yang mumpuni buat nyobain overclock, biar ga cuma teori aja yang bisa, praktek juga. Kali ada yang mau modalin :D atau ada sekolah yang minta anaknya dibekali kemampuan rakit komputer? Itu juga bisa, hehehe...

Senin, 15 Oktober 2018

Tentang DOTA 2, eSport yang bermanfaat

Diawali dengan curcol, bahwa akhirnya setelah bertahun-tahun menolak DOTA dari TI1-TI8, akhirnya main juga dan baru 2 bulan main. Alasanya, ada alasan khusus yang cuma Istri yang tau 😋tapi setelah main kok malah mendapat semacam pelajaran dari bermain game ini ya, lebih tepatnya semua game jenis Multiplayer Online Battle Arena (MOBA).

Tentang DOTA

MOBA

Sedikit saya informasikan tentang sejarah DOTA (Defense of the Ancients) dan MOBA. MOBA katanya wikipedia sih salah satu sub-genre dari RTS (Real Time Strategy). Gim (ternyata di kbbi permainan disebut juga gim) jenis RTS ditandai dengan menggerakan karakter menggunakan tetikus (mouse dalam bahasa Indonesia disebut tetikus ya), mungkin perlu pembahasan lebih komprehensif lagi tentang game RTS ini. Dalam permainan RTS biasanya pemain menggerakan unit dalam skala tertentu (bisa puluhan atau ratusan unit), membangun markas, melatih unit kemudian berperang dengan pemain lain atau komputer.

Dalam game MOBA atau juga disebut ARTS (Action Real-Time Strategy), pemain hanya mengendalikan satu unit. Unit ini akan mendapatkan experience point dan terus naik level. Semakin tinggi level semakin tinggi dan banyak skill yang dapat digunakan unit yang dikendalikan tersebut. Dalam gim jenis ini, pemain akan mendukung creep (unit yang dikendalikan komputer dengan kecerdasan terbatas) yang akan berjalan di tiga jalan utama yang pada jalan utama itu akan ada menara pertahanan yang akan menembak musuh yang ada dalam jangkauan tembak menara. Creep ini akan bergerak dari markas pemain dan markas musuh bersamaan dan bertemu di tengah-tengah, seperti yang diperlihatkan dalam map di bawah ini.

Map Dota 2 sumber: di www.researchgate.net

Pemain akan mulai permainan dari ujung kanan atas dan kiri bawah dan akan bertanding untuk saling mengalahkan. Pemain dari gim jenis ini biasanya berjumlah 10 orang, lima di pihak yang hijau dan lima di pihak merah. Pertempuran akan berlangsung di seluruh tempat (bukan cuma di tengah saja). Dan Gim yang pertama kali memiliki map atau mod jenis ini adalah Starcraft dengan map/mod Aeon of Strife. Sementara Defese of the Ancients merupakan map/mod dari Warcraft III.

DOTA 2

DOTA 2 sendiri sebetulnya diambil dari permainan lain, yaitu Warcraft III. Waktu itu ada komunitas yang mengembangkan map DOTA untuk Warcraft III itu, dan bum! Jadi populer. Tahun 2009, lead designer DOTA dipekerjakan Valve untuk mengembangkan DOTA 2, membuat ulang source game engine-nya. Kemudian, tentu lahirlah DOTA 2, diawali dengan pertandingan pertamanya The International 1 tahun 2011 dengan hadiah total 1,6 juta dollar, atau setara dengan 24,34 Milyar rupiah dalam kurs saat ini. Tim juara satu mendapatkan 1 juta dollar atau setara dengan 15,21 Milyar rupiah dengan nilai tukar saat ini. Walau dikritik karena karena kurva pembelajaranya terlalu curam (susah mencapai tingkat kemahiran yang tinggi), tapi tetap disebut sebagai game terbaik tahun 2013 dan mendapat banyak pujian.

Sumber: kompas.com

Manfaatnya?

Walaupun dibilang manfaat, tetep aja sih, perlu ada batas minimal memainkan gim ini, jadi orang tua harus tetap mengawasi pada usia tertentu. Saya enggak bisa menilai sih, tapi kalo permainan online memang sulit dirating, tapi harusnya tetap bisa di rating bermain dengan bot. Interaksi dengan bot harusnya bisa dinilai kemudian diberi rating, umur berapa minimal gim ini bisa dimainkan.

Untuk saya, mungkin baru lega mengenalkan Gim ini ke anak di usia sekitar 13 atau 15 tahun atau sekitar itu lah, tentunya tetap dengan pengawasan. Selain kurva belajar yang curam, bahasa yang digunakan di gim juga perlu dijelaskan ke anak (bahwa itu bahasa yang tidak baik atau semacamnya). Oh iya, orang tua yang ga mau repot sih, dilarang aja... dan kalo enggak mau repot baiknya dulu mikir pas mau punya anak tuh, jangan mau liat lucu-lucu-nya aja... (kok ngegas 😂)

Bermain dalam tim

Komunikasi verbal (kemampuan berkomunikasi dengan baik di tempat umum) bukan sesuatu yang wajib, tapi kemampuan menempatkan diri/posisi dalam sebuah tim dan memahami pemain lain dalam keadaan tertentu adalah skill yang wajib dimiliki dalam gim ini. Seperti kebanyakan olahraga dengan tim/kelompok, pemain dalam gim ini juga memiliki posisi masing-masing. Ada 5 posisi dari Carry hingga support, dan mereka semua punya peran masing-masing dalam memenangkan gim.

Pada permainan online, tidak jarang satu tim dengan orang yang tidak dikenal, tentunya disiplin dengan posisinya sebagai apa dalam game ini adalah kuncinya. Tapi ada kalanya pemain melakukan rotasi dari lane bawah ke atas, ke tengah atau sebaliknya untuk memukul hero/unit lawan mundur atau bahkan bisa mengalahkan hero-nya.

Saat terdesak ada juga kalanya kita harus memperhitungkan apa yang harus kita lakukan, kalau memang sudah tidak bisa bertahan, kira-kira apa yang terbaik yang bisa dilakukan untuk kebaikan tim. Ada saatnya sih lihat ada hero yang berkorban demi menyelamatkan hero satu tim-nya, atau bahkan ada juga yang salah perhitungan menyebabkan kelima hero dalam satu tim habis dikalahkan lawan.
Antar muka DOTA 2. Gambar di markas dengan seluruh hero masih berkumpul.
Pemain mengendalikan salah satu hero/unit empat lainya dimainkan empat rekan tim.
sumber: store.steampowered.com

Bermain sendirian, mencari lobi gim yang kosong tidak apa-apa, tapi ada baiknya tetap bermain dengan teman-teman yang sudah kenal, selain meningkatkan koordinasi, juga meningkatkan kebersamaan.

Sabar dan perhitungan

Lihat lawan levelnya lebih kecil, armor kecil, berani maju ke depan buat pemain pasti bawaanya pengen maju. Tapi tunggu dulu, kadang dibelakang keberanian lawan ada tim-nya di belakang yang belum kelihatan karena terbatasnya bidang pandang. Jadi, walau level diatas, kekuatan serangan diatas, atau bahkan jika pelindung (armor) lebih besar, tetep bisa di kalahin kok.

5 lawan 5 di satu wilayah sekalipun sangat dipengaruhi perhitungan dan kesabaran. Seluruh serangan harus diserang ke yang mana lebih dahulu, mengingat setelah serangan perlu pendinginan sebelum bisa menggunakan skill yang sama (cooldown). Skill apa saja yang digunakan, perlengkapan apa saja yang dipakai, semuanya perlu perhitungan yang pas. Ada banya ksekali perlengkapan yang meningkatkan daya gempur atau pertahanan, tapi menyeimbangkan penggunaan perlengkapan itu juga penting, mengingat hero-nya cuma bisa menampung 6 perlengkapan dan 3 perlengkapan cadangan yang hanya bisa dibawa, tapi tidak bisa digunakan.

Perang di line kiri atas. Sumber: store.steampowered.com

Intinya kalo lagi main ini, ada kalanya perasaan "Bisa nih, berani banget ni orang maju, padahal level baru segitu" dan tiba-tiba temen-temenya muncul dari depan dan belakang. Karena itu, perlu banget buat terus lihat minimap (yang gambar kiri bawah) sambil memperhatikan hero yang kita mainkan lagi apa.

Oh iya, perhitungan ini bukan pada saat main aja lho, pada saat memilih hero juga. Karena satu hero menyeimbangkan hero yang lain, jadi harus pinter-pinter milih dan tahu skill setiap hero. Kadang ada beberapa pemain profesional yang lebih suka main hero tertentu juga.

Hero/unit yang bisa digunakan dalam gim DOTA 2
sumber: store.steampowered.com

Pada waktu mulai permainan ada sesi pemblokiran 5 hero dari pihak lawan 5 hero dari pihak kita dan pemilihan 5 hero pihak lawan dan 5 hero pihak kita. Dan ada 113 (kalo enggak salah) hero yang bisa dipilih.

Ekonomi

Sama seperti olahraga lain, kalo mau bermain profesional ya tentunya akan ada manfaat ekonomi-nya donk. Untuk gaji pemain, saya enggak tahu berapa, karena sampai sekarang belum pernah nemu nilai kontrak dari pemain. Tapi katanya sih kalo di Indonesia ada yang gajinya se-UMR. Tapi di luar, tentu aja gede-gede, soalny ada yang pendapatan dari DOTA 2-nya sampai 1juta dollar.

Untuk The Internationa 8 (Pertandingan terbesar DOTA 2) sekitar 25 juta dollar, dengan tim yang juara pertama dapet 11 juta dollar atau setara 167 miliar, sementara tim yang juara ke 17-18 hadiahnya 63 ribu dolar lebih (hampir 64) atau setara dengan 958 juta rupiah. Sisanya tersebar dari juara 2-16 dengan juara 2 paling besar, mengecil terus sampai yang ke 16.

Indonesia

Di Indonesia? Belum, belum ada yang bisa masuk kualifikasi The International. Kalo enggak salah adau satu tim Malaysia yang ada pemain Indonesia-nya yang hampir terqualifikasi masuk The International, tapi gagal di qualifikasi terakhir.

Kemeriahan The International. Sumber: esportinsider.com

Untuk pertandingan Minor saja di Indonesia kalo enggak salah baru ada satu kali, waktu itu diselenggarakan di BSD (kalo enggak salah).

Solusi konsumsi BBM berlebih, ya go electric (angkot go electric)

Ngresik i sawang...

Ceritanya setelah denger lagi berita BBM naik, terus kepikiran "BBM naik, rame, terus orang-orang rame-rame turun oktan (beli yang lebih rendah) atau muncul jualan alat penghemat BBM yang setelah di uji cuma dikit banget ngiritnya, enggak sampe 10%". Nah berlandaskan pemikiran tersebut, akhirnya pikiran ini mikir kemana-mana, dan menyimpulkan, kalo harga BBM mau turun, ya konsumsi BBM harus diturunkan biar produksi BBM kita sebanding sama konsumsi, jadi kita enggak perlu pake harga luar negeri klo produksi dalam negeri cukup untuk konsumsi dalam negeri. Gimana caranya? Ya go green salah satunya, dengan mengefisiensi energi yang digunakan, salah satunya migrasi dari mesin BBM ke mesin listrik untuk kendaraan bermotor.

Mungkin ada yang bilang kalo go electric mah cuma mindahin konsumsi BBM dari kendaraan umum ke pembangkit listrik, tapi kan pembangkitan listrik bisa dari energi terbarukan macam angin, air terjun, panas bumi, atau matahari. Nah, bebanya kemudian dari PLN atau penghasil energi listrik lain agar bisa menghasilkan energi listrik selain dari bahan bakar minyak ataupun yang berbasis karbon lainya.

Pertanyaan yang muncul di kepala pertama adalah, apa yang bisa dikendalikan negara selain mengurangi penggunaan BBM, juga memberikan manfaat bagi penggunanya yang beralih ke energi listrik? Singkatnya disimpulkan kalau penggantian angkot berbahan bakar karbon ke listrik akan meningkatkan ekonomi pengemudi sekaligus mengurangi konsumsi karbon. Makanya angkot lah yang jadi sasaran pertama kalau memang pemerintah benar-benar mau mendorong pertumbuhan kendaraan listrik.

Manfaat Bagi Pengemudi Angkot?

Hemat Biaya Perjalanan

Manfaat yang pertama adalah biaya bahan bakar lebih rendah dibanding kendaraan dengan BBM. Untuk membuktikan mari kita hitung dengan berandai-andai dengan data kendaraan listrik yang sudah ada. Untuk patokan, akan dipakai Nissan Leaf dengan menambahkan beban efisiensi, jadi kita akan menghitung lebih boros dari konsumsi energi Nissan Leaf.

Nissan Leaf dengan harga di eropa sekitar 30 ribu euro, atau sekitar 350jt-an rupiah (OTR Eropa). Nah klo misal pajak dan biaya antar dimasukin ke harga, mungkin kali ya 400jt-an :D

Daya simpan energi baterai Nissan Leaf adalah sekitar 24kWh, dan menurut pengujian baterai ini dapat digunakan untuk menempuh jarak 135 km. Artinya energi 1 kwh dapat digunakan untuk menempuh jarak 5,625 km. Nah, 1 liter bensin itu berisi energi sekitar 9 kwh (lupa tepatnya). Artinya kalao dikonversi ke km/l Nissan leaf ini efisiensinya ada di 50,625 km/l WOW, ternyata irit (baru ngitung sambil nulis).

Tapi masalahnya kan harga listrik enggak sebanding sama energi yang tersimpan. Dari sisi efisiensi energi, tentu lebih efisiensi, gimana dengan biaya? Waktu tulisan ini dibuat, PLN terakhir kali melakukan tariff adjustment itu untuk bulan April-Juni 2018 yaitu Rp. 1.467,28 per kWh untuk golongan rumah tangga (sama semua dari 1.300 sampai 200.000 watt) tapi paling tinggi tarif khusus sebesar Rp. 1.644,52/kWh. Kita ambil harga paling mahalnya ya di Rp. 1.644,52.

Efisiensi Nissan Leaf di atas itu berdasarkan uji menggunakan metode tertentu, di lapangan bisa aja lebih boros, makanya kita pake angka yang lebih rendah efisiensinya di 40 km/l, ya atau setara dengan 4,4 km/kWh. Sementara untuk angkot dengan BBM kita hitung saja 15 km/l ya, ini sudah sangat hemat sekali dan sepertinya dengan stop n go dan ngetem enggak mungkin dapet 15 km/l. Nah, sekarang kita hitung biaya untuk menempuh 100 km dengan asumsi 1 kali jalan angkot akan menempuh 25 km, bolak-balik jadi 50, artinya ada 2 kali bolak balik.

Untuk menempuh 100 km dengan 15km/l membutuhkan 6,7 liter BBM, atau setera dengan biaya 6,7x6550 (ga tau jadi 7ribu atau tetepa segini sih), jadi Rp. 43.885. Sementara untuk angkot listrik membutuhkan 22,7 kwh atau setara dengan Rp. 37.330,6. Sedikit lebih hemat, tapi kan premium jarang, kalo kita hitung pake pertalite angkatnya tentu berubah donk jadi Rp. 52.260,-

Angkanya bukan cuma selisih segitu lho, itu karena dihitung 15 km/l, padahal kalo angkot itu ngetem-nya lama banget dan jalan pun pasti stop and go buat naik turun penumpang. Dan stop and go sama ngetem ini, mesin listrik jauh lebih superior iritnya.


Hemat Biaya Perawatan

Mesin listrik enggak perlu perawatan, paling banter air radiator sama air wiper aja yang harus di cek, sama kampas dan kaki-kaki. Enggak perlu servis mesin, yang penting baterai jangan sampai kosong, itu aja. Part yang bergerak dari mesin listrik yang jauh lebih sedikit memungkinkan mesin listrik ini nyaris maintenance free. Kalaupun ada ya enggak butuh waktu lama dan part yang diganti atau yang diperiksa jauh lebih sedikit. Kerusakan pun lebih mudah dilacak menggunakan perangkat lunak jika dibandingkan dengan mesin BBM. Tidak perlu ganti oli mesin, tidak perlu setel klep, apa lagi memperhatikan timing belt, karena semuanya itu enggak ada di mesin listrik.

Dengan torsi melimpah sejak 1 RPM, memungkinkan mesin tidak menggunakan gear atau transmisi sebanyak mesin BBM. Artinya perawatan transmisi tidak besar dan lama dibanding dengan mesin BBM.

Bagaimana Mulainya?

Bikin Angkotnya

Ya iyalah, bikin dulu, kalo enggak bikin kan enggak bisa jalan juga rencananya. Kira-kirar berapa harganya ya? Untuk angkot dengan mesin bakar internal sekitar 80-120jt per unit. Nah, klo bikin mobil listrik dengan biaya segitu kira-kira dapet spek gimana ya?

Angkot Listrik katanya dikembangkan ITB. link: Tempo.co

Tesla powerwall dengan 13 kwh daya baterai berharga $ 6.000 atau setara dengan Rp. 91.128.000,- Kalau kita hitung per kwh, berarti 1 kwh baterai senilai dengan Rp. 7.010.000,- Kalau ingin menggunakan baterai 10 kwh, berarti perlu 70 juta-an untuk baterai dan preangkat pengendalinya, belum termasuk mesin listriknya.

Motor listrik yang diperlukan kira-kira sekitar 25 kw atau sekitar 35 hp. Kenapa hanya 35 hp? Karena memang tidak perlu tinggi-tinggi. Biasanya kan angkot paling meraung cuma sampe 3000 RPM, artinya tidak seluruh power mesin digunakan, tapi kebanyakan mengkonversi torsi pada RPM yang lebih tinggi untuk berakselerasi. Nah, karena mesin listrik torsinya sudah besar sejak awal, tentunya enggak perlu donk tenaga sebesar itu. Torsi yang diperlukan sekitar 100-an, jadi cukup lah kalo pakai mesin listrik segini. Harga mesin ini kira-kira 15jt an.

Nah, tinggal sasis deh, kira-kira berapa ya? Mungkin bisa lah kalo harganya sekitar 120jt-an. Dengan spesifikasi di atas, diharapkan jarak tempuhnya sekitar 40-50 km, yang artinya setiap satu kali perjalanan, pengemudi angkot harus mengisi daya lagi. Dan tentunya ga masalah donk klo isi daya-nya sambil ngetem. Ini setara 5kwh per 1 kali perjalanan, atau sekitar Rp. 8.222,- setiap 1 kali perjalanan. Wah, kalo satu perjalanan ada dua penumpang aja udah balik modal donk :D

Infrastruktur di bikin

Nah, pemerintah harus nentuin nih, di Indonesia harus pake charger dengan steker dan stopkontak apa. CHAdeMO, SAE J1772 (CCS), atau yang lainya, jadi paling enggak yang mau bikin mobil listrik ini udah nyiapin stopkontak di mobilnya mau kaya apa.

Stopkontak CHAdeMO kiri dan SAE J1772 kanan pada kendaraan Nissan Leaf


Enggak usah repot-repot nentuin tempat pengisian daya, kalo misal salah satu trayek mau di elektrifikasi, ya tinggal di tempat ngetemnya aja dikasih charger. Enggak usah gede-gede juga, kan kapasitas baterai mobilnya kecil, ya charger-nya yang 25 kw (atau bisa juga lebih kecil), jadi dengan teknologi terkini baterai bisa diisi dengan 15 menit dari 0 sampai 80% dan 45 sampai 100%.

Tempat pengisian CHAdeMO di SPBU Shell di Jerman. Sumber: autoblog.com

Kalo proyek ini dimulai, lama-lama juga kan banyak charger-nya makin gampang juga pemilik kendaraan pribadi dengan mesin listrik ikutan ngecharge di sini, kan.

Masalah perawatan infrastruktur, gampang, serahin aja ke swasta. Jadi pemerintah membangunkan, operatornya swasta, jadi swasta enggak perlu bikin, pemerintah yang bikin, tapi mereka yang merawat dan ngasih tarif. Jadi mereka untung, terus sambil nyicil balikin ke pemerintah itu (jadi jatohnya pinjaman ya :D)

Dengan makin banyak angkot pake listrik, makin banyak juga infrastrukturnya. Banyak infrastruktur makin banyak yang pengen pake mobil listrik. Makin banyak yang pake, tinggal tingkatin generator dengan energi terbarukan, go green lah kita.

Oh iya, ini juga bisa ngurangin kemacetan, gimana kalo jakarta ada zero carbon hour, kendaraan yang boleh lewat cuma yang ga ngeluarin karbon. Pasti lancar.

Kalo udah gini, motor-motor juga bisa mulai migrasi dari bensin ke listrik, kalo udah banyak fast charging station-nya. Untuk motor, misal pake CHAdeMO, bisa isi 30 menit 80% kok. Bisa ditinggal ngopi dulu :D

Minggu, 12 Agustus 2018

Klaim Garansi Suspensi PCX, Suspensi Baru Terpasang! (Part 3)

Setelah menunggu cukup lama, dijanjikan 14 hari kerja, tapi akhirnya hanya dalam 6 hari kerja part pengganti suspensi yang bisa di klaim itu datang di AHASS Sentra Armada Motor. Lebih cepat dari yang seharusnya, entah karena saya dua kali hubungin AHM lewat Astra Honda Care baik di Twitter dan Facebook, atau memang karena lebih cepat aja enggak tahu deh. Berikut saya ceritakan sedikit banyak dari Episode terakhir klaim suspensi PCX.

Untuk yang belum baca episode sebelumnya, silahkan baca di:
1. Klaim Garansi PCX, Kira-kira bisa ga ya?
2. Klaim Garansi PCX, Tinggal tunggu 14 Hari kerja

Part pengganti suspensi yang tergores koil

Waktu menunggu part, tentu ada pikiran, mungkin enggak bisa diganti dan dibatalin. Tapi ternyata setelah di telepon sama AHASS Sentra Armada Motor (SAM) saya jadi sedikit lebih lega. Kenapa sedikit, karena permasalahanya bisa aja menimpa suspensi baru ini. Toh saya enggak tahu dimana sebetulnya masalahnya, tapi yang pasti cover as suspensinya tergores koil/spring suspensi. Sebagai konsumen sih, saya maunya ya dibenerin aja, gimanapun caranya. Kalo harus ganti ya ganti, kalo bisa diperbaiki ya diperbaiki, yang jelas diperbaiki. Kalo dari saya pribadi sih, saya lebih percaya kalo ini memang murni desain suspensi yang bermasalah, entah memang semuanya bermasalah, atau hanya produksi bulan tertentu saja yang memang bermasalah.

Oke, saya lanjutkan cerita kronologinya, hari senin minggu lalu, tanggal 6 Agustus setelah menunggu satu minggu atau sekitar 6 hari kerja, akhirnya dihubungi pihak SAM. Tapi yang menghubungi duluan malah pihak Honda Daya Adicipta Motora sebagai main dealer jawa barat. Ditanya apakahsudah dihubungi SAM atau belum, tapi karena belum ya saya jawab belum. Selang beberapa menit (mungkin sekitar satu jam) baru pihak SAM menghubungi. Apa karena diingatkan buat hubungi saya, baru mereka menghubungi ya? Ya, sudahlah dibiarkan saja menjadi misteri. Akhirnya saya membuat janji untuk melakukan pemasangan hari Sabtu pagi sekitar pukul 9, seperti janjian sebelumnya waktu pemeriksaan klaim juga saya jam 9 ke AHASS SAM.

Selang beberapa hari, sehari sebelum saya ke-bengkel, ada telepon lagi masuk, nomor telepon Bandung. Saya pikir ini dari Daya Adicipta Motora lagi nih, mau menanyakan lagi, apakah sudah dihubungi lagi atau belum. Ya, betul dari Daya Adicipta Motora, tapi ternyata kali ini ada perwakilan dari sana yang sekalian ingin berkunjung. Wah, bisa sampai seperti itu ya, jauh-jauh dari bandung ke Jakarta buat ketemu saya, Rasa-rasanya kok Daya Adicipta Motora ini sangat memanjakan konsumen AHM ya, jadi senang. Sayangnya kalau pukul 9 mereka masih ada acara di Karawanga (kalo enggak salah inget), makanya minta diundur waktu pemasangan suspensi saya jadi jam 1 atau jam 2. Ya, karena sudah jauh-jauh nyempetin dateng, ya saya oke-in aja lah.

Hari Sabtu-nya saya datang jam 2, ya... karena perjalanan jauh, mereka biar istirahat dulu lah, dari Bandung-Karawang-Jakarta kan jauh ya, jadi saya kasih waktu setengah jam istirahat. Sayangnya, waktu saya sampe mereka belum dateng.

Di AHASS SAM saya ketemu lagi sama Pak Sarbini yang kemarin memeriksa klaim suspensi saya. Bapak Ramah ini menjelaskan kalo suspensinya sudah datang, tapi yang dari Daya Adicipta Motora belum datang, masih dalam perjalanan dan nyasar ke Margonda (atau manalah), jadi sambil nunggu ada pit kosong (pantesan penuh, pelayananya luar biasa enak ini), saya masuk ke ruang tunggunya yang berpenyejuk ruangan.

Saya pikir yang dari Daya Adicipta Motora bisa sampai setelah motor selesai, tapi ternyata belum ada tanda-tanda, jadi saya tambah lah pekerjaanya. Sekalian minta tolong bersihin CVT (tertulis di ruang tunggu kalo bersihin CVT 25 ribu). Setelah bersihin CVT pun ternyata belum dateng, untung ada adik sepupu yang nemenin, jadi enggak kerasa nunggunya.

Muncul lah 2 orang Satunya dari divisi teknik namanya pak Sukarna dan dari Costumer Care... Saya lupa. Maaf ya mas, harusnya saya rekam kemarin, hehehe.

Pak Sukarna banyak njelasin tentang suspensi ini, pernyataan dari pihak Honda dan Daya Adicipta Motora sama ternyata, suspensi bengkok itu hanya Visual, selama performa tidak berubah ya tidak masalah. Tapiii.... ada tapinya nih. Suspensi saya ini dari sisi Visual memang seperti itu, tapi seharusnya koil tidak menyentuh dan menggerus cover as-nya. Kalau sampai menggesek Cover, menimbulkan bunyi (seperti punya saya), atau performa suspensi berubah (belakangan saya juga merasa kalo memang ternyata beda performa suspensi yang ini dengan yang kemarin diganti), ini baru masalah.

Menurut pak Sukarna, dari pengamatan visual ada perbedaan antara suspensi dari motor saya dengan yang baru dipasang itu, tapi tentunya pak Sukarna tidak mau berkata banyak, karena suspensi harus dikirim dulu ke laboratorium AHM untuk mengetahui secara detil apa yang berbeda dengan suspensi saya ini. Sebetulnya kedatangan pihak Daya Adicipta Motora ke SAM ini untuk mengambil suspensi saya untuk dikirimkan ke AHM, tapi juga sekalian silaturahmi dengan konsumen Honda (saya) untuk menjelaskan mengenai layanan Honda, termasuk diantaranya Klaim ini.

Setelah ngobrol agak panjang, saya diminta untuk nyoba motor saya dulu nih. Saya tes muter-muter, mencari jalan rusak dan dipakai hingga kecepatan 40km/jam, dan ternyata ada perbedaan di performa suspensi belakang lho. Yang ini peredamanya lebih bagus. Rebound mungkin sama, tapi peredaman ini yang terasa berbeda. Waktu saya coba pakai boncengan dengan istri, komentarnya, ini seperti baru lagi. 'Waktu baru kan kena marka kejut juga enggak kerasa' katanya. Saya juga mikir, iya juga sih, ternyata signifikan ya kalo suspensi bermasalah seperti ini.

Dari Pihak Daya Adicipta Motora dan Sentra Armada Motor sendiri sih bilang, kalo ada masalah lagi, tolong segera beri tahu lagi. Kalau ada masalah dengan motornya lagi segera beri tahu, biar nanti segera di followup, termasuk suspensi penggantinya ini. Awalnya sih saya mau ganti suspensi yang lebih baik, tapi kalau seperti ini, saya jadi pengen tahu sejauh apa AHM akan memperbaiki motor saya kalau dikemudian hari ternyata suspensinya bermasalah lagi.

Untuk mencapai tahap bermasalah ini, saya perlu 8500 km dengan 80% dibawa sendiri (ke kantor+mudik). Nah, kalau nanti di 17000 km bermasalah lagi, kira-kira masih mau terima klaim-nya enggak ya Daya Adicipta Motora dan Astra Honda Motor?

Kepala mekanik SAM turun langsung

Untuk saya pelayanan Sentra Armada Motor dan Daya Adicipta Motora ini dapat bintang 5 dari 5 bintang. Sepupu sendiri sampe bilang, Ternyata pelayanan di Jawa Barat lebih bagus dari di tempat dia. Bukan cuma dalam hal klaim garansi, tapi juga tempat servis-nya dengan ruang tunggu ber penyejuk udara. Mudah-mudahan layananya bisa tetap terjaga dan pelangganya makin banyak yang puas. Nice!

Kamis, 09 Agustus 2018

Telkom-4 Mengorbit, Misi Merah Putih SpaceX, Sukses.



Ada yang tahu kalo tanggal 7 Agustus 2018 lalu, satelit Telkom-4 atau Satelit Merah Putih ini berhasil diluncurkan menggunakan roket Falcon 9 milik SpaceX? Yup, dengan biaya yang 25% lebih murah, yang artinya selisih 50 juta dollar dibanding peluncuran satelit Telkom-3S yang meluncur Februari Tahun lalu. Biaya satelit mungkin sama ya, tapi biaya peluncuran ini disinyalir karena roket SpaceX yang lebih canggih dan roket tahap pertamanya dapat digunakan kembali untuk penerbangan selanjutnya.

Satelit Telkom-4 atau Satelit Merah Putih ini adalah satelit komunikasi yang ditempatkan pada orbit geostasioner milik Indonesia yang ada di 108 derajat bujur timur. Diluncurkan dari Cape Canaveral pada pukul 1.18 malam, berjalan sukses, baik pendaratan kembali roket tingkat 1 Falcon 9 ataupun pelepasan satelit dari Geostationary Transfer Orbit (GTO), yang kemudian Satelit akan melanjutkan perjalanan sampai di Geostationary orbit. Perjalananya akan memakan waktu 11 hari untuk sampai ke orbit, akan diperkirakan tiba pada tanggal 18 Agustus 2018 dan akan mulai beroperasi mulai tanggal 15 September 2018.

Yang menarik dari peluncuran ini, Roket yang digunakan adalah roket yang sudah pernah digunakan sebelumnya. Merupakan roket Blok 5 yang pertamakali digunakan kembali setelah sebelumnya mengorbitkan satelit Bangabandhu-1 milik Bangladesh. Layaknya pesawat terbang yang sudah mendarat dan terbang lagi, roket bekas ini bukan berarti kualitasnya buruk, masa iya kita mau pake pesawat terbang yang selalu baru kalo terbang? Kan jadi mahal tiketnya...

Roket Blok 5 sendiri merupakan varian terbaru roket milik SpaceX yang punya daya dorong lebih besar, sehingga mampu membawa muatan yang lebih berat menuju orbit, baik Orbit Rendah Bumi, ataupun Orbit Transfer Geostationary. Sebelumnya SpaceX juga sudah beberapa kali menggunakan kembali roket tingkat satunya dan peluncuran kembali ini sampai saat ini selalu sukses. Bahkan jika digabungkan dengan peluncuran lain tanpa percobaan pendaratan kembali roket tingkat 1, persentase keberhasilan SpaceX mencapai 96,7% tidak jauh dibandingkan dengan roket Soyuz milik rusia yang sudah lebih dari 1700 peluncuran, persentase kesuksesanya mencapai 97,4% yang saat ini dengan 97,4% itu Soyuz termasuk roket yang paling berhasil lho. Kalau SpaceX mempertahankan kesuksesanya, bisa jadi mencapai 99%. Roket Tingkat 1 nya dapat digunakan kembali dalam rata-rata waktu sekitar 2 bulan, meliputi penggantian sparepart yang habis pakai, pengecekan kembali uji terbang dan pengisian bahan bakar. Wah, cukup punya 2 roket bisa dipake buat sebulan sekali berangkat ngorbitin satelit nih, hemat juga ya, dari pada tiap mau ngorbit harus bikin lagi dari awal, kan...

Sukses buat Telkom dan SpaceX, semoga semakin langgeng kedepanya. Biaya satelit turun, biaya telekomunikasi juga ikut turun kan? Hehehehe...




Jumat, 27 Juli 2018

Klaim Garansi Suspensi PCX, Tinggal Tunggu 14 Hari Kerja (Part 2)

Sabtu pagi ini, tepatnya tanggal 28 Juli 2018 saya mengunjungi AHASS Sentra Armada Motor (SAM) di Jalan Pengasinan sesuai dengan instruksi di artikel sebelumnya (part-1). Pengalaman lumayan berharga sih klaim garansi ini, jadi saya sempatkan buat menulis. Sayangnya tadi sambil bawa anak, pengen cepet-cepet beli es krim katanya, jadi enggak bisa banyak ngobrol sama chief mechanic nya. Langsung kronologisnya ya.

Buat yang belum baca sebelumnya, intinya saya klaim garansi suspensi bengkok baret bagian cover as-nya. Saya menghindari kata tidak lurus, karena nanti dibilang 'cuma visual' sama AHM. 'Cuma Visual' ini adalah pernyataan blunder yang akan terus saya sebut, karena ini satu-satunya pernyataan AHM yang enggak cocok di hati, jadi saya akan menghindari kata bengkok, tapi banyak menggunakan kata 'visual' saja.

Setelah menghubungi Astra Honda Care di Facebook dan dihubungi melalui telepon oleh main dealer jawa barat (Daya Adicipta Motora) dan ditanyakan kapan dan dimana saya akan mengunjungi AHASS, saya datang sesuai janji Hari Sabtu ini. Hasilnya? Sabar cak (kok jadi IWB), saya ceritakan pelan-pelan.

Datang bareng anak, saya pikir sudah disiapkan mekanik khusus untuk pemeriksaan klaim garansi ini, tapi ternyata kata mba yang saya enggak ngeh namanya (bagian servis) didaftarkan saja dan harus tunggu 3 motor. Waaaa, lama, si Sulung bisa-bisa bosen nunggu di bengkel nih, jadi akhirnya saya putuskan buat ditinggal. Udah bilang mau ditinggal, eh si sulung minta 'ngecek' ruang tunggunya, mau main-main ke ruang tunggunya, kan ruang tunggu Honda lumayan ya standarnya, banyak yang bisa dilihat.

Jam operasional AHASS Sentra Armada Motor

Fasilitas ruang tunggu

Di ruang tunggu ada tempat main anaknya, walaupun kecil, tapi seenggaknya si kakak bisa main di situ sebentar. Ya, saya juga enggak mbayangin si sulung bisa nunggu service 3 motor sih, rencananya mau diajak jalan-jalan. Eh, dilalah pas lagi ambil dompet di motor, chief mechanic Honda Sentra Armada Motor (SAM) lagi lihat-lihat PCX saya. Dia bilang, ini motor yang hubungin saya ya? Tanya dia. Saya bingung sih, saya enggak merasa hubungin dia, tapi maksudnya saya hubungin Astra Honda Care, Astra Honda Care hubungin Honda Daya Adicipta sebagai main dealer Jawa Barat, kemudian Daya Adicipta menghubungi Sentra Armada Motor memberitahukan untuk melakukan pengecekan motor saya. Waaaa, langsung di cek sama kepala mekanik ini.

Alhamdulillah antrian 3 motor enggak jadi, malah langsung ditanganin sama Pak Sarbin. Di cek secara visual aja, enggak sampe di bongkar, saya tunjukin bagian yang baretnya kanan dan kiri. Kebetulan juga ada PCX lain yang service, pak Sarbin langsung bandingin sama PCX putih itu, enggak ada baretan di cover suspensinya. Nah, langsung deh pak Sarbin bilang 'kita pesenin dulu, minta fotokopi KTP sama STNK-nya aja' katanya. Wooo, langsung dipesenin ini ternyata.

Tadinya sih mau ke tempat fotokopi, tapi ternyata bisa di foto aja. STNK dan KTP di foto, dan selesailah sudah. Baru mau lanjut ngobrol si sulung udah minta jalan. Tapi bisa dipending sebentar dijanjiin foto didepan bengkel, hehehe.


Nah, sampai saat ini, baru segini ceritanya, nanti saya coba ceritain lagi pas penggantian. Pemesanan suspensinya katanya 14 hari kerja, setara dengan satu bulan... lama juga ya... keburu patah enggak ya itu suspensi :| Yasudah lah, kalo patah ya, di anggurin dulu di rumah aja. Demikian sedikit laporan tentang keluhan saya ke AHM tentang suspensi bengkok baret bagian cover as yang kemungkinan tersenggol spring atau koil suspensinya.

Jangan lupa follow @awp_agni atau subscribe blog-nya ya. :D

Minggu, 22 Juli 2018

Klaim Garansi Suspensi PCX, kira-kira bisa ga ya? (Part 1)

Suspensi kelihatan bengkok? Udah lama sih, tapi baru tahu kalo ternyataa dua-duanya yg kelihatan bengkok. Ini masih pake 'kelihatan' ya, soalnya, apa lah mata saya ini dibanding mata-nya AHM yang sudah pakai alat presisi untuk pengukuranya? Nah, tiba-tiba waktu lagi cuci motor akhir pekan, lihat kok ada bekas baret di cover as suspensinya, pertanda koil alias spring yang bagian luar menyentuh bagian dalam penutup plastiknya ini. Wah, kalo diterusin bisa nyenggol as-nya terus bisa bikin bengkok suspensinya nih.

Rencana saya sih memang mau ganti aftermarket, tapi entar-entaran. Tapi kalo kejadianya kaya gini, saya enggak bisa tinggal diam (*intense music started). Akhirnya saya hubungi Astra Honda Care di facebook dengan alamat facebook @AstraHondaCare menggunakan pesan facebook. Ternyata enggak sampe satu hari langsung ditanggepin, walaupun rasanya salah tangkep adminya sama yang saya maksud, tapi yasudah lah, toh nanti akan ada yang hubungin dan meriksa perihal suspensi ini, jadi saya jelasin nanti lagi aja. Jadi intinya nanti akan ada pemeriksaan lebih lanjut, pemeriksa nanti akan menentukan apakah ini dapat di klaim atau tidak, apakah ini biasa saja alias normal, atau perlu perbaikan atau penggantian.

Silahkan di klik untuk perbesar gambar.

Kurang jelas ya, ini gambar yang saya zoom:


Tuh, cover yang saya maksud, terlihat tergerus kan? Nah, saya cuma khawatir aja, ini cover lama-lama menipis, lepas, terus springnya kena as-nya, terus bengkok.

Masalah bengkok yang ditanggapi AHM sebagai penampilan visual saja ini mengganggu secara visual sih, tapi ya apa boleh buat kalo emang enggak di recall. Katanya sih enggak mengganggu performa suspensi. Nah, kalo modelnya macem saya ini, kira-kira berapa lama sampai akhirnya mengganggu? Apa nunggu sampe pelindung plastiknya habis, nyenggol as-nya kemudian dalam 2 tahun suspensi jadi bekerja tidak normal? Nah, ini juga jadi pertanyaan saya nih, kira-kira berapa lama sih usia suspensi yang diharapkan AHM? Apakah maksudnya dengan penampakan visual bengkok ini dapat tetap digunakan sampai batas usia minimum penggunaan suspensi? Ah, makin banyak pertanyaan yang saya enggak akan bisa jawab, dan rasanya tanya ke AHM belum tentu dijawab juga. Jadi, kita lihat aja gimana nanti komentar tim yang memeriksa ya.

Sekarang memang masih proses, baru selesai ditanya mengenai suspensi ini, dminta data lengkapnya, dan nantinya katanya akan dihubungi Honda Daya Adicipta Motor perihal pemeriksaan, apakah ini akan dapat di klaim atau tidak. Barusan ini (23 Juli 2018) juga di telpon lho sama main dealer bogor, intinya masalahnya apa, biasa servis dimana, dan nanti bilang aja kalo udah di telpon sama main dealer bogor untuk segera melakukan pemeriksaan suspensi belakang ini. Dan rencananya sih saya sabtu mau ke AHASS deket rumah untuk melakukan pengecekan.

Kalo harapan saya sih bisa diperbaiki bentuk Visualnya ini, tapi kalo enggak termasuk garansi ya apa boleh buat. Pengalaman klaim ini jarang-jarang saya alami, karena saya percaya kalo sudah di jual produk sudah melewati banyak Quality Control atau QC, jadi tingkat kecacatanya bisa sedikit. Nah, karena kurang beruntung, saya dapat yang secara penampilan tidak sesuai dengan yang saya harapkan.

Bagaimana kelanjutanya? Nanti kita tunggu hari Sabtu ya.

Silahkan di follow blog-nya dengan mengiis alamat email di kanan atas, atau twitter di @awp_agni

Selasa, 17 Juli 2018

Apa BBM Bisa Basi?

Kira-kira BBM bisa basi enggak ya? Kalo basi jadi apa ya? Begitu kira-kira pertanyaan yang tiba-tiba muncul di benak saya di perjalanan tadi. Nah, setelah browsing-browsing, akhirnya ketemu nih artikel yang judulnya Does Gasoline Go Bad? Bisa langsung di klik judulnya buat ke artikel aselinya. Kata Pakde James Speight, seorang konsultan energi dan penulis buku "Handbook of Petroleum Refining", sangat sulit menggeneralisir. BBM dapat disimpan hingga berbulan-bulan bahkan tahunan tergantung pada lingkunganya, seperti panas, tingkat oksigen, dan kelembaban sangat mempengaruhi kualitas BBM. Lha kok yang ada di dalam bumi bisa tahan jutaan tahun? Itu blm diolah pakde, kalo udah beda banget sama yang diminum kendaraan.



Dalam pengolahanya, BBM ini dimurnikan, memisahkan bahan-bahan lain yang terkandung dalam minyak bumi. Kemudian ditambahkan substansi untuk meningkatkan oktan. Sudah dibahas ya tentang oktan di artikel Tentang Angka Oktan dan Kompresi di artikel kemarin-kemarin. Hasilnya, ada ratusan zat additive yang dicampurkan dalam BBM sehingga mencapai kualitas yang diinginkan untuk mesin kendaraan.

Masih di artikel yang sama, kata Richard Stanley, mantan insinyur kimia di Fluor Corporation, kalo BBM didiemin gitu aja, lama-lama enggak bekerja seperti yang kita pikirkan alias bahasa sini-nya basi. Ini lantaran zat hidrokarbon yang lebih ringan mulai menguap meninggalkan si cairan BBM ini. Lha kalo zat yang lebih ringan ini pada menguap, mesin mobil enggak bisa bekerja optimal dengan BBM yang tersisa ini kalo BBM didiemin terlalu lama. Masih kata Stanley, BBM ini kaya anggur, begitu dibuka dari botol, BBM akan mulai teroksidasi. Sebagian Hidrokarbon menguap yang lainya bereaksi dengan oksigen di udara, kemudian mulai memadat yang kita sebut sebagai gum. Kalo BBM basi ini masuk ke pipa-pipa, ini kaya kolesterol, mulai menyumbat saluran, misalnya saluran pompa bensin. Kesimpulanya, bensin harus disimpan di tempat yang dingin dengan oksigen yang rendah, yang kalo di SPBU biasanya disimpen di bawah tanah (tangkinya di tanam di bawah tanah).

Tapi, banyak banget faktor yang menentukan ini, jadi enggak bisa dibilang berapa lama BBM ini Basi, intinya sih, bukan hal yang bagus menyimpan BBM terlalu lama di tempat yang tidak disesuaikan untuk nyimpen BBM.

Nah, dari sini, coba pikir-pikir lagi, kalo di pertamini gitu kira-kira nyimpen BBM-nya dimana? Di jemur (kena panas), jangan-jangan botolnya tadinya lembab, atau udah berapa lama itu BBM disimpen di situ? Ya, BBM bisa basi, tapi variabel yang menentukan kebasi-anya itu banyak banget, enggak bisa kita nentuin 1 bulan, atau 1 tahun, tapi yang pasti, enggak baik nyimpen BBM di tempat yang tidak sesuai.

Senin, 16 Juli 2018

Batal Ngefans Gara-gara Oktan

Judulnya rada-rada click-bait ya, jadi tak jelasin di paragraf pertama, ini gara-gara browsing buku manual KTM yang ternyata butuh oktan ROM 95 atau PON 91, jadi batal ngefans KTM.

Awal cerita ketika liat-liat youtube, di sarankan buat nonton video KTM adventure 1290 baru. Agak kurang sreg sih sama model lampunya, tapi cukup unik... tapi emang biasanya motor-motor adventure itu unik-unik sih. Dalam hati bilang 'wah keren ya, suatu saat kalo ada rejeki jadi pengen punya motor sport KTM ah' setelah lihat produk KTM yang lain termasuk Duke dan RC.

Sebenernya sih dulu pernah pengen, tapi harganya mahal bianget, terus sekarang harganya kan turun tuh, jadi mahal aja (enggak bianget), jadi adalah kepengen buat nyobain seperempat liter kalo ada rejekinya. Sayangnya waktu itu inget kalo KTM itu minimal RON 95, tapi waktu itu lihat di halaman web KTM untuk pasar eropa sih, nah barang kali kan beda tuh untuk pasar sana dan asia tenggara. Tapi sayangnya enggak.


Performa Tinggi Oktan Tinggi

Tentunya motor performa tinggi perlu oktan tinggi juga, pastinya kan kompresinya tinggi. Kalo enggak oktan tinggi, bisa terjadi knocking kan, bikin mesin terlalu panas, ujung-ujungnya mesin enggak awet. Makanya penggunaan bahan bakar yang cocok ini penting.

Biasanya oktan yang tinggi berhubungan dengan performa mesin yang tinggi. Dengan kompresi tinggi dan volumetrik efisiensi yang tinggi menyebabkan kompresi mesin riil tinggi, memerlukan oktan yang tinggi juga. Jadi maklum lah kalau mesin dengan power luar biasa besar dengan kapasitas mesin yang relatif kecil memerlukan oktan yang relatif lebih tinggi.

Jadi harusnya biasa donk, klo KTM pake oktan tinggi? Ya, tapi paling enggak lebih tinggi dari premium dan bisa pake pertamax. Tapi nyatanya enggak gitu.

RON (Research Octane Number)

RON 95 ini susah lho di cari. Saya belum survey sih, tapi paling enggak dalam 50 km perjalanan luar kota, susah buat dapetin RON 95 ini, khususnya di Pantura. Bahkan sepanjang perjalanan mudik kemarin cuma ada 1 tempat sepanjang Indramayu-Cirebon yang jual oktan diatas 95 (RON98), itu pun cuma di sisi sebelah kiri (dari arah Indramayu). Mungkin ada yang lain, tapi enggak ngeh mungkin.

Jadi kalo pake motor dengan minimal RON 95, cuma bisa dipake di dalam kota. Lah terus kalo lagi jarak jauh enggak bisa dipake nih motor... waaah, moso motornya udah bagus, tapi langsung pensiun motoran jauh-nya. Akhirnya motor mahal banget yang sekarang jadi mahal aja itu jadi enggak bisa masuk dalam impian punya motor sport seperempat liter lagi.

Dan sepertinya semua mesin motor sport eropa seperti ini. BMW G310R juga ternyata punya oktan minimal 95. Motor eropa enggak bisa jalan jauh di Indonesia berarti nih, kecuali direncanakan nanti isi BBM-nya di titik-titik tertentu karena enggak semua SPBU sedia ron diatas 95. Karena masalah ini, pilihanya jadi balik lagi ke Jepang nih.

Sebagai acuan, Honda masih ngasih minimum RON 88 hampir di setiap motornya, sayang kejadian kemarin bikin ill-feel. Untuk Suzuki, juga sebagian besar lineupnya masih diatas RON 88 lho. Kalo Yamaha saya enggak tahu. Ini satu-satunya produk yang masih alien buat saya, belum pernah punya... Untuk kawasaki, beberapa produknya minimal ron 91, jadi harus pertamax. Pertamax cukup banyak kok sepanjang pantura sampe Prambanan, jadi masih ga masalah.

Kembali ke Jepang, Eropa masih jauuuh...


Sabtu, 14 Juli 2018

Pengukur kecepatan yang lebih presisi: Speedo, GPS atau dihitung?

Banyak yang ngetes top speed di jalanan, bahaya bro! Lagian penggunaan speedometer enggak presisi-presisi amat lho. Bisa sampe selisih 20 km/jam dari pengukuran GPS. Nah, apa pengukuran GPS paling presisi? Enggak juga sih. Pengkuran paling presisi adalah dengan dihitung, dari RPM mesin diterjemahkan ke km/jam. Gimana caranya? Gampang, nih tak kasih tau caranya. Eh, mungkin udah pernah ada di artikelnya motogokil.com, soalnya saya juga tau gara-gara lihat rumus yang dikasih om motogokil.com di excel buat ngitung power motor di artikel sebelumnya.

Nah, gimana caranya?

Presisi Speedo vs GPS

Speedometer mengukur kecepatan dalam KMPH dengan mengukur putaran, entah itu di roda atau di sprocket. Dengan begitu, pergantian ban akan mempengaruhi akurasi, semakin kecil total ukuran ban, semakin cepat poros yang dikur berputar. Belum lagi biasanya pabrikan sengaja menampilkan kecepatan yang sedikit lebih tinggi di speedometer dibanding kecepatan sebenarnya (atau biasanya sih dibandingin sama GPS). Mengukur kecepatan pada speedo, tentu butuh tempat. Entah di mesin dyno (kalo sensornya di sprocket), standar tengah, atau harus dilarikan riil di jalanan.



Sementara GPS menggunakan satelit penunjuk posisi yang kemudian komputer menghitungkan kecepatanya dengan mengukur perubahan posisi dan dibandingkan dengan waktu sehingga diperoleh kecepatan pergerakan pengguna GPS-nya. Lebih presisi? Tentu saja sangat tergantung dengan satelit, perangkat penerima sinyal GPS-nya dan kecepatan komputasi dari perangkatnya. Kalo hari terang, langit cerah, tidak ada gedung tinggi, bisa sangat presisi pengukuranya. Kalo mendung, ya tergantung alat penerimanya, kalo ada delay, tentunya penghitungan kecepatan jadi terganggu. Apa lagi kalo pengukuran melewati terowongan panjang, bisa dipastikan perangkat tidak akan menerima sinyal GPS.

Selain menggunakan ponsel pintar, pengukuran kecepatan menggunakan satelit ini biasanya juga menggunakan perangkat khusus agar penerimaan sinyal GPS lebih baik. Perangkat yang dikhususkan untuk mengukur kecepatan biasanya dapat menerima sinyal GPS lebih baik dari pada perangkat pada ponsel pintar.

Pengukuran menggunakan GPS mau tidak mau dilakukan secara langsung, artinya memerlukan jalur panjang. Kalo bisa sih kosong, tapi banyak juga yang ngetes di jalanan umum ya. Selain berbahaya untuk penguji-nya, berbahaya juga untuk pengguna jalan lain.

Nah, untuk melihat topspeed ada juga sih caranya tanpa melakukan pengetesan di jalanan dan presisinya jauh lebih tinggi. Yaitu menghitung langsung dengan mengkonversi RPM mesin ke kecepatan dibandingkan dengan kecepatan putar roda belakang.

Menghitung Kecepatan melalu RPM

Seperti yang kita tahu, penunjuk RPM pasti presisi donk, karena menggunakan sensor dan menjadi patokan pengapian ECU (iya kan ya?). Nah, RPM pada mesin ini akan kita konversikan ke RPM pada roda. Kalo diketahui rpm pada roda, dihitung keliling rodanya, maka kita bisa tahu berapa jarak yang ditempuh si roda dalam 1 jam kan.

Misalnya kita ambil contoh CBR150R Streetfire ya. Diketahui sepert ini spek-nya:



Dari data diatas, yang dilingkari merah adalah ukuran ban, dan yang akan kita ukur ban belakang ya. 17 inci adalah diameter, jadi rumusnya π *d, tapi ini belum keliling terluar ya, kan masih ada roda yang belum di hitung. Keliling keseluruhan perlu ditambah dua kali ketepalan roda. Nah, mengukur ketebalan roda untuk kasus ini berarti 70% dari 130mm yaitu 90mm atau dua kalinya jadi 180 mm. Ukuran velg juga kita ubah ke mm jadi 431,8 mm. Dengan demikian keliling ban adalah 1929,1 mm.

Nah, sekarang kita akan ukur ketika mesin berputar 1000 kali, berapa kali roda berputar? Caranya dengan menghitung reduksi atau penguranganya. Misal kita hitung pada gigi 6 1000 RPM, maka untuk mencari kecepatanya 1000 rpm dibagi reduksi primer, dibagi reduksi akhir, dan dibagi reduksi gigi ke 6, hasilnya 3,7 km/jam hampir 4 km/jam Nah, kalo dibuatkan rumusnya di excel hasilnya seperti tabel di bawah nih.


Nah, tinggal dilihat deh tuh, kalo RPM mentok di 9000 berarti kecepatan di gigi 6 ya 112,92 km/jam di speedo pasti lebih tinggi kan.

Klo dari sini, mau naikin topspeed, gampang, tinggal ganti aja gir belakang ke yang lebih kecil. Masalah mesinya sampe apa enggak ke RPM yang sama, ya beda lagi. Kalo enggak sampe, gampang,  tambahin aja powernya. Pake ECU programmable, sendalpot resing, gampang... (gampang nulisnya, prakteknya kalo enggak terukur ya bisa bikin mesin jebol)

Yah, sekian artikel enggak jelas ini, jangan lupa follow blog (belum ada yang follow T_T) dan twitter di @awp_agni

Oh iya, mungkin artikel ini ada yang mirip di motogokil.com karena emang aslinya file yang ada pengukuran ini dari om motogokil. Makasih ya om. :D

Kamis, 12 Juli 2018

Beda Kompresi, Berapa Selisih Powernya?

Komentar sepupu di facebook tiba-tiba membrikan inspirasi artikel :D sebetulnya kalo ada satu mesin yang sama, bahkan kompresinya sama, tapi satunya bisa minum BBM RON 88 satunya minimal RON 92, kira-kira berapa besar ya perbedaan powernya? Nah, dengan sebuah rumus excel yang dikasih sama om motogokil.com saya bisa sedikit memberikan simulasi nih antara mesin yang disetel bisa minum RON 88 vs RON 92 dengan spesifikasi yang identik.

Pada artikel 'tentang angka oktan dan kompresi' saya sudah sedikit memberikan catatan tentang kompresi yang tertera pada brosur dan kompresi kenyataan pada kendaraan. Di artikel itu saya juga sudah menulis kalau kompresi riil ini berhubungan dengan Volumetric Efficiency atau VE yang satuanya menggunakan persen (%). Semakin tinggi VE-nya, semakin dekat kompresi riil mesin dengan kompresi yang dihitung saat piston pada TMB dan TMA.

Untuk memudahkan dan mensimulasikan se-mendekati mungkin dengan kenyataan, saya akan ambil data dari kendaraan yang sudah ada dengan kompresi yang lumayan besar, tapi katanya tetap bisa menggunakan oktan dengan RON 88 atau bahasa gampangnya premium ready.

Metode mencari variabel dari mesin Sonic 150 ini adalah dengan melihat spesifikasi yang ada, diameter dan langkah piston, kompresi serta powernya. Kemudian menebak VE-nya yang kira-kira menghasilkan CR (compression Ratio) riil nya kurang dari 9. Kemudian menentukan rasio bahan bakar dan udara sehingga powernya sesuai dengan yang ada di brosur atau di website AHM.

Dari data yang ada, dapat saya simpulkan kalau memang premium ready, VE honda Sonic ini sekitar 78% dan menghasilkan CR riil 9 (saya anggap premium ready ya). Dengan VE seperti itu, untuk mendapatkan kekuatan mesin 16 ps, memerlukan rasio udara-bbm sekitar 11,6. Eng... kok enggak pas ya, kalo 11,6 : 1 ini udah dibawah 12 : 1 yang katanya rasio output maksimal dari mesin berbahan bakar bensin. Jadi kalo saya perbaiki rasionya AFR jadi 12, yang saya dapet powernya cuma 15,42 ps dan kalo saya naikin kompresinya riilnya biar dapet power 16 ps, CR riil naik ke 9,3:1 dan ini enggak jadi premium ready donk. Tapi karena fokus-nya ke premium ready saya pake yang rasio bahan bakarnya berlebihan banget, ya.



Setelah data tersebut masuk semuanya, barulah saya mulai menaikan VE yang tentunya akan menaikan CR. VE saya naikan agar mesin hanya bisa menggunakan Pertamax Only, yang katanya RON 92 itu digunakan untuk mesin kompresi maksimal 10:1 Maka hasilnya power akan naik sampai 18,41 ps seperti dibawah ini. Kalo di presentasikan, power sudah naik sekitar 15 persen dengan peningkatan VE lho, belum lagi kalo power maksimalnya dinaikan ke RPM yang lebih tinggi, wah makin besar ya... dan ubahan-ubahan ini lah yang dilakukan di balap motor sehingga mereka lebih ngacir dari motor produksi masal.



Kesimpulanya, walaupun Rasio Kompresi besar, sebaiknya tetap kembali dan jangan malas baca buku panduan untuk tahu spesifikasi bahan bakar minimal yang dibutuhkan. Sedikit lebih tinggi boleh, lebih rendah jangan. Terlalu tinggi ya jangan juga, tapi kalo mesin sekarang terutama yang CR di brosurnya tinggi saya yakin sudah bisa pakai oktan umum paling tinggi (98), enggak kaya kendaraan dulu yang mungkin CR-nya enggak sampai 9 :D

Perhitungan ini akan lebih bener kalo semuanya dihitung, tapi karena peralatanya enggak ada dan saya males ngitungnya, jadi di prediksi aja. Mudah-mudahan hasilnya enggak jauh berbeda dari kenyataanya.

Cuplikan buku manual Sonic 150, spek komponen sengaja ditunjukan, siapa tau ada yang mau ngecek di buku manualnya

Jadi, kompresi besar RON 88? Bisa aja sih...

Jangan lupa follow blog ini dan twitter @awp-agni ya :D

Kunjungi Postingan Lainya