Senin, 16 Juli 2018

Batal Ngefans Gara-gara Oktan

Judulnya rada-rada click-bait ya, jadi tak jelasin di paragraf pertama, ini gara-gara browsing buku manual KTM yang ternyata butuh oktan ROM 95 atau PON 91, jadi batal ngefans KTM.

Awal cerita ketika liat-liat youtube, di sarankan buat nonton video KTM adventure 1290 baru. Agak kurang sreg sih sama model lampunya, tapi cukup unik... tapi emang biasanya motor-motor adventure itu unik-unik sih. Dalam hati bilang 'wah keren ya, suatu saat kalo ada rejeki jadi pengen punya motor sport KTM ah' setelah lihat produk KTM yang lain termasuk Duke dan RC.

Sebenernya sih dulu pernah pengen, tapi harganya mahal bianget, terus sekarang harganya kan turun tuh, jadi mahal aja (enggak bianget), jadi adalah kepengen buat nyobain seperempat liter kalo ada rejekinya. Sayangnya waktu itu inget kalo KTM itu minimal RON 95, tapi waktu itu lihat di halaman web KTM untuk pasar eropa sih, nah barang kali kan beda tuh untuk pasar sana dan asia tenggara. Tapi sayangnya enggak.


Performa Tinggi Oktan Tinggi

Tentunya motor performa tinggi perlu oktan tinggi juga, pastinya kan kompresinya tinggi. Kalo enggak oktan tinggi, bisa terjadi knocking kan, bikin mesin terlalu panas, ujung-ujungnya mesin enggak awet. Makanya penggunaan bahan bakar yang cocok ini penting.

Biasanya oktan yang tinggi berhubungan dengan performa mesin yang tinggi. Dengan kompresi tinggi dan volumetrik efisiensi yang tinggi menyebabkan kompresi mesin riil tinggi, memerlukan oktan yang tinggi juga. Jadi maklum lah kalau mesin dengan power luar biasa besar dengan kapasitas mesin yang relatif kecil memerlukan oktan yang relatif lebih tinggi.

Jadi harusnya biasa donk, klo KTM pake oktan tinggi? Ya, tapi paling enggak lebih tinggi dari premium dan bisa pake pertamax. Tapi nyatanya enggak gitu.

RON (Research Octane Number)

RON 95 ini susah lho di cari. Saya belum survey sih, tapi paling enggak dalam 50 km perjalanan luar kota, susah buat dapetin RON 95 ini, khususnya di Pantura. Bahkan sepanjang perjalanan mudik kemarin cuma ada 1 tempat sepanjang Indramayu-Cirebon yang jual oktan diatas 95 (RON98), itu pun cuma di sisi sebelah kiri (dari arah Indramayu). Mungkin ada yang lain, tapi enggak ngeh mungkin.

Jadi kalo pake motor dengan minimal RON 95, cuma bisa dipake di dalam kota. Lah terus kalo lagi jarak jauh enggak bisa dipake nih motor... waaah, moso motornya udah bagus, tapi langsung pensiun motoran jauh-nya. Akhirnya motor mahal banget yang sekarang jadi mahal aja itu jadi enggak bisa masuk dalam impian punya motor sport seperempat liter lagi.

Dan sepertinya semua mesin motor sport eropa seperti ini. BMW G310R juga ternyata punya oktan minimal 95. Motor eropa enggak bisa jalan jauh di Indonesia berarti nih, kecuali direncanakan nanti isi BBM-nya di titik-titik tertentu karena enggak semua SPBU sedia ron diatas 95. Karena masalah ini, pilihanya jadi balik lagi ke Jepang nih.

Sebagai acuan, Honda masih ngasih minimum RON 88 hampir di setiap motornya, sayang kejadian kemarin bikin ill-feel. Untuk Suzuki, juga sebagian besar lineupnya masih diatas RON 88 lho. Kalo Yamaha saya enggak tahu. Ini satu-satunya produk yang masih alien buat saya, belum pernah punya... Untuk kawasaki, beberapa produknya minimal ron 91, jadi harus pertamax. Pertamax cukup banyak kok sepanjang pantura sampe Prambanan, jadi masih ga masalah.

Kembali ke Jepang, Eropa masih jauuuh...


Sabtu, 14 Juli 2018

Pengukur kecepatan yang lebih presisi: Speedo, GPS atau dihitung?

Banyak yang ngetes top speed di jalanan, bahaya bro! Lagian penggunaan speedometer enggak presisi-presisi amat lho. Bisa sampe selisih 20 km/jam dari pengukuran GPS. Nah, apa pengukuran GPS paling presisi? Enggak juga sih. Pengkuran paling presisi adalah dengan dihitung, dari RPM mesin diterjemahkan ke km/jam. Gimana caranya? Gampang, nih tak kasih tau caranya. Eh, mungkin udah pernah ada di artikelnya motogokil.com, soalnya saya juga tau gara-gara lihat rumus yang dikasih om motogokil.com di excel buat ngitung power motor di artikel sebelumnya.

Nah, gimana caranya?

Presisi Speedo vs GPS

Speedometer mengukur kecepatan dalam KMPH dengan mengukur putaran, entah itu di roda atau di sprocket. Dengan begitu, pergantian ban akan mempengaruhi akurasi, semakin kecil total ukuran ban, semakin cepat poros yang dikur berputar. Belum lagi biasanya pabrikan sengaja menampilkan kecepatan yang sedikit lebih tinggi di speedometer dibanding kecepatan sebenarnya (atau biasanya sih dibandingin sama GPS). Mengukur kecepatan pada speedo, tentu butuh tempat. Entah di mesin dyno (kalo sensornya di sprocket), standar tengah, atau harus dilarikan riil di jalanan.



Sementara GPS menggunakan satelit penunjuk posisi yang kemudian komputer menghitungkan kecepatanya dengan mengukur perubahan posisi dan dibandingkan dengan waktu sehingga diperoleh kecepatan pergerakan pengguna GPS-nya. Lebih presisi? Tentu saja sangat tergantung dengan satelit, perangkat penerima sinyal GPS-nya dan kecepatan komputasi dari perangkatnya. Kalo hari terang, langit cerah, tidak ada gedung tinggi, bisa sangat presisi pengukuranya. Kalo mendung, ya tergantung alat penerimanya, kalo ada delay, tentunya penghitungan kecepatan jadi terganggu. Apa lagi kalo pengukuran melewati terowongan panjang, bisa dipastikan perangkat tidak akan menerima sinyal GPS.

Selain menggunakan ponsel pintar, pengukuran kecepatan menggunakan satelit ini biasanya juga menggunakan perangkat khusus agar penerimaan sinyal GPS lebih baik. Perangkat yang dikhususkan untuk mengukur kecepatan biasanya dapat menerima sinyal GPS lebih baik dari pada perangkat pada ponsel pintar.

Pengukuran menggunakan GPS mau tidak mau dilakukan secara langsung, artinya memerlukan jalur panjang. Kalo bisa sih kosong, tapi banyak juga yang ngetes di jalanan umum ya. Selain berbahaya untuk penguji-nya, berbahaya juga untuk pengguna jalan lain.

Nah, untuk melihat topspeed ada juga sih caranya tanpa melakukan pengetesan di jalanan dan presisinya jauh lebih tinggi. Yaitu menghitung langsung dengan mengkonversi RPM mesin ke kecepatan dibandingkan dengan kecepatan putar roda belakang.

Menghitung Kecepatan melalu RPM

Seperti yang kita tahu, penunjuk RPM pasti presisi donk, karena menggunakan sensor dan menjadi patokan pengapian ECU (iya kan ya?). Nah, RPM pada mesin ini akan kita konversikan ke RPM pada roda. Kalo diketahui rpm pada roda, dihitung keliling rodanya, maka kita bisa tahu berapa jarak yang ditempuh si roda dalam 1 jam kan.

Misalnya kita ambil contoh CBR150R Streetfire ya. Diketahui sepert ini spek-nya:



Dari data diatas, yang dilingkari merah adalah ukuran ban, dan yang akan kita ukur ban belakang ya. 17 inci adalah diameter, jadi rumusnya π *d, tapi ini belum keliling terluar ya, kan masih ada roda yang belum di hitung. Keliling keseluruhan perlu ditambah dua kali ketepalan roda. Nah, mengukur ketebalan roda untuk kasus ini berarti 70% dari 130mm yaitu 90mm atau dua kalinya jadi 180 mm. Ukuran velg juga kita ubah ke mm jadi 431,8 mm. Dengan demikian keliling ban adalah 1929,1 mm.

Nah, sekarang kita akan ukur ketika mesin berputar 1000 kali, berapa kali roda berputar? Caranya dengan menghitung reduksi atau penguranganya. Misal kita hitung pada gigi 6 1000 RPM, maka untuk mencari kecepatanya 1000 rpm dibagi reduksi primer, dibagi reduksi akhir, dan dibagi reduksi gigi ke 6, hasilnya 3,7 km/jam hampir 4 km/jam Nah, kalo dibuatkan rumusnya di excel hasilnya seperti tabel di bawah nih.


Nah, tinggal dilihat deh tuh, kalo RPM mentok di 9000 berarti kecepatan di gigi 6 ya 112,92 km/jam di speedo pasti lebih tinggi kan.

Klo dari sini, mau naikin topspeed, gampang, tinggal ganti aja gir belakang ke yang lebih kecil. Masalah mesinya sampe apa enggak ke RPM yang sama, ya beda lagi. Kalo enggak sampe, gampang,  tambahin aja powernya. Pake ECU programmable, sendalpot resing, gampang... (gampang nulisnya, prakteknya kalo enggak terukur ya bisa bikin mesin jebol)

Yah, sekian artikel enggak jelas ini, jangan lupa follow blog (belum ada yang follow T_T) dan twitter di @awp_agni

Oh iya, mungkin artikel ini ada yang mirip di motogokil.com karena emang aslinya file yang ada pengukuran ini dari om motogokil. Makasih ya om. :D

Kamis, 12 Juli 2018

Beda Kompresi, Berapa Selisih Powernya?

Komentar sepupu di facebook tiba-tiba membrikan inspirasi artikel :D sebetulnya kalo ada satu mesin yang sama, bahkan kompresinya sama, tapi satunya bisa minum BBM RON 88 satunya minimal RON 92, kira-kira berapa besar ya perbedaan powernya? Nah, dengan sebuah rumus excel yang dikasih sama om motogokil.com saya bisa sedikit memberikan simulasi nih antara mesin yang disetel bisa minum RON 88 vs RON 92 dengan spesifikasi yang identik.

Pada artikel 'tentang angka oktan dan kompresi' saya sudah sedikit memberikan catatan tentang kompresi yang tertera pada brosur dan kompresi kenyataan pada kendaraan. Di artikel itu saya juga sudah menulis kalau kompresi riil ini berhubungan dengan Volumetric Efficiency atau VE yang satuanya menggunakan persen (%). Semakin tinggi VE-nya, semakin dekat kompresi riil mesin dengan kompresi yang dihitung saat piston pada TMB dan TMA.

Untuk memudahkan dan mensimulasikan se-mendekati mungkin dengan kenyataan, saya akan ambil data dari kendaraan yang sudah ada dengan kompresi yang lumayan besar, tapi katanya tetap bisa menggunakan oktan dengan RON 88 atau bahasa gampangnya premium ready.

Metode mencari variabel dari mesin Sonic 150 ini adalah dengan melihat spesifikasi yang ada, diameter dan langkah piston, kompresi serta powernya. Kemudian menebak VE-nya yang kira-kira menghasilkan CR (compression Ratio) riil nya kurang dari 9. Kemudian menentukan rasio bahan bakar dan udara sehingga powernya sesuai dengan yang ada di brosur atau di website AHM.

Dari data yang ada, dapat saya simpulkan kalau memang premium ready, VE honda Sonic ini sekitar 78% dan menghasilkan CR riil 9 (saya anggap premium ready ya). Dengan VE seperti itu, untuk mendapatkan kekuatan mesin 16 ps, memerlukan rasio udara-bbm sekitar 11,6. Eng... kok enggak pas ya, kalo 11,6 : 1 ini udah dibawah 12 : 1 yang katanya rasio output maksimal dari mesin berbahan bakar bensin. Jadi kalo saya perbaiki rasionya AFR jadi 12, yang saya dapet powernya cuma 15,42 ps dan kalo saya naikin kompresinya riilnya biar dapet power 16 ps, CR riil naik ke 9,3:1 dan ini enggak jadi premium ready donk. Tapi karena fokus-nya ke premium ready saya pake yang rasio bahan bakarnya berlebihan banget, ya.



Setelah data tersebut masuk semuanya, barulah saya mulai menaikan VE yang tentunya akan menaikan CR. VE saya naikan agar mesin hanya bisa menggunakan Pertamax Only, yang katanya RON 92 itu digunakan untuk mesin kompresi maksimal 10:1 Maka hasilnya power akan naik sampai 18,41 ps seperti dibawah ini. Kalo di presentasikan, power sudah naik sekitar 15 persen dengan peningkatan VE lho, belum lagi kalo power maksimalnya dinaikan ke RPM yang lebih tinggi, wah makin besar ya... dan ubahan-ubahan ini lah yang dilakukan di balap motor sehingga mereka lebih ngacir dari motor produksi masal.



Kesimpulanya, walaupun Rasio Kompresi besar, sebaiknya tetap kembali dan jangan malas baca buku panduan untuk tahu spesifikasi bahan bakar minimal yang dibutuhkan. Sedikit lebih tinggi boleh, lebih rendah jangan. Terlalu tinggi ya jangan juga, tapi kalo mesin sekarang terutama yang CR di brosurnya tinggi saya yakin sudah bisa pakai oktan umum paling tinggi (98), enggak kaya kendaraan dulu yang mungkin CR-nya enggak sampai 9 :D

Perhitungan ini akan lebih bener kalo semuanya dihitung, tapi karena peralatanya enggak ada dan saya males ngitungnya, jadi di prediksi aja. Mudah-mudahan hasilnya enggak jauh berbeda dari kenyataanya.

Cuplikan buku manual Sonic 150, spek komponen sengaja ditunjukan, siapa tau ada yang mau ngecek di buku manualnya

Jadi, kompresi besar RON 88? Bisa aja sih...

Jangan lupa follow blog ini dan twitter @awp-agni ya :D

Tentang Angka Oktan dan Kompresi

Di suatu grup (kayaknya hampir semua grup otomotif) rame dengan kenaikan BBM, banyak yang hawatir biaya hidup akan naik karena kenaikan BBM ini, maka banyak yang merasa harus beralih dari oktan yang tadinya dirasa cukup ke oktan yang lebih rendah. Karena itu banyak pertanyaan "Kalo pake oktan 90 apa gpp?" beberapa saya ikut jawab sih, malah ada yang salah persepsi juga dengan jawaban saya. Makanya saya bikin artikel aja sekalian deh.

Mesin 4 Langkah / 4 Tak atau 4 Stroke

Mesin 4 langkah adalah mesin dengan 4 langkah kerja seperti yang ada di gambar dibawah. Langkah 1 adalah langkah hisap, yaitu mesin menghisap campuran udara dan bahan bakar ke ruang mesin. Pada langkah ini, piston bergerak dari titik mati atas (TMA) ke titik mati bawah (TMB).

Sumber : www.richardwheeler.net

Langkah berikutnya adalah langkah kompresi. Pada saat kompresi, campuran udara dan bahan bakar ditekan keatas ketika piston bergerak dari titik mati bawah menuju titik mati atas. Pada langkah ini temperatur campuran udara dan bahan bakar akan meningkat.

Langkah ketiga adalah pembakaran. Campuran udara-bahan bakar yang sudah dikompresi tadi diledakan dengan Busi (kalau mesin bensin) atau dengan tekanan itu sendiri (kalo diesel). Langkah ini merubah energi kimia pada bensin yang bercampur dengan udara menjadi energi panas dan gerak turun piston.

Setelah pembakaran, langkah berikutnya adalah buang. Gas sisa pembakaran akan dibuang menggunakan gerak piston dari TMB ke TMA menuju katup keluar. Setelah gas sisa hasil pembakaran dibuang, maka piston akan siap memulai lagi langkah pertamanya, dan begitu seterusnya.

Nah, semakin tinggi kompresi, tentunya panas yang dihasilkan dari pembakaran semakin tinggi, karena kompresi yang tinggi akan meningkatkan suhu campuran udara dan bahan bakar. Setiap siklus tentunya akan meningkatkan suhu mesin juga, itulah sebabnya mesin memerlukan pendingin, baik berupa kisi-kisi, radiator oli, atau radiator cairan lain agar suhu mesin tetap optimal (Tidak terlalu dingin, tapi juga tidak terlalu panas).

Nilai Oktan dan Kompresi

Nilai oktan ukuran standar dari kinerja bahan bakar mesin. Semakin tinggi oktan, semakin tidah mudah terdetonasi dengan tekanan dan bisa digunakan dengan bahan bakar dengan kompresi yang lebih tinggi yang artinya performa juga lebih baik. Semakin tinggi kompresi, tentu semakin tinggi juga power mesinya. (Nanti kita bahas lebih lanjut)

Jika oktan yang lebih rendah dari spesifikasi yang diperbolehkan, apa yang terjadi? Setelah langkah hisap pertama pada penjelasan diatas, piston mulai melakukan kompresi naik dari TMB ke TMA. Karena oktan rendah, sebagian campuran bahan bakar sudah mulai terbakar sebelum TMA (sebelum piston ada di ujung atas), padahal piston masih bergerak keatas, tapi sudah ada sebagian campuran yang mulai terbakar dan mendorong kebawah. Jadi ketika langkah pembakaran, hanya sedikit campuran yang benar-benar menghasilkan tenaga, jadi tenaga drop.

Bukan cuma drop karena itu, tapi karena saat piston naik harusnya tidak terjadi pembakaran, campuran yang sudah terbakar juga mengurangi laju piston, membuat tenaga total yang tersalurkan berkurang. Karena pada saat piston bergerak naik sudah ada detonasi yang mendorong kebawah, ada kemungkinan lama kelamaan stang piston akan bengkok, atau bahkan patah.

Bahaya kan. Nah, terus, taunya dari mana kendaraan kita harus pakai bahan bakar yang mana? dari grafik di bawah ini:


Tunggu, baca dulu sampe habis tentang kompresi ini. Kompresi yang tertera pada brosur kendaraan adalah kompresi yang dihitung dengan membandingkan area kosong saat piston ada di Titik Mati Bawah (TMB) dan Titik Mati Atas (TMA) makanya perbandinganya menjadi 10:1 misalnya. Ukuranya seperti di bawah ini:

dari motogokil.com

Memilih Bahan Bakar

Nah, diatas itu adalah cara menghitung rasio kompresi yang tertera pada brosur, tapi sayangnya kebutuhan oktan bahan bakar tidak menggunakan rasio kompresi itu, mempengaruhi, tapi tidak serta merta rasio itu yang dipakai. Ada hal lain yang mempengaruhi rasio kompresi sebenernya dari sebuah kendaraan (Perlu pembahasan pro ini) rasio kompresi yang sebenarnya ini sangat tergantung dengan VE atau Volumetric Efficiency dari mesin itu. Nah, bisa saja suatu kendaraan memiliki kompresi 11.1:1 tapi tetap dapat menggunakan bahan bakar dengan oktan 88 misalnya, ini karena rasio kompresi riilnya tidak lebih dari 9:1.

Imbasnya apa punya kompresi besar VE kecil, memungkinkan minum premium? Ya power yang berada jauh dibawah potensi dari mesin itu. Powernya relatif lebih kecil dibanding kendaraan yang menggunakan VE lebih tinggi walau misalnya raiso kompresinya lebih kecil. VE 60% dengan kompresi 10:1 mungkin akan kalah dengan mesin VE 100% dengan kompresi 9:1 dengan CC yang sama (walau perlu banyak sekali variabel yang harus dipertimbangkan)

Terus tau dari mana kebutuhan bahan bakar kita? Ya tentunya dari buku manual donk, atau beberapa perusahaan juga memunculkan kebutuhan oktan minimalnya pada situs mereka. Biasanya mereka menyebutkan nilai oktan minimal atau misalnya hanya menyebutkan BBM tanpa timbal saja, yang artinya boleh premium :D

Untuk kendaraan roda dua produsen Jepang yang diproduksi di Indonesia untuk market Indonesia kebanyakan sih masih bisa pake oktan 88 lho. PCX sekalipun masih bisa pake oktan 88 lho, jadi enggak usah hawatir kalau mau pakai Shell Reguler (RON 90), Revvo 89 (RON 89), REVVO 90 (RON90) atau Total Performance 90 (RON 90), karena memang didesain untuk nilai oktan yang lebih rendah.

Tapi hati-hati buat yang pake mesin skyactiv dari Mazda, enggak bisa turun ke RON 90, tertera di web Mazda 2 dengan kompresi 13:1 itu minimal RON 91 lho. Atau pengguna KTM Duke 200 yang kalo di web-nya tertulis RON 95 lho, di buku manual juga kan? Hayo ngaku nih yang punya mesin KTM :)

Senin, 09 Juli 2018

Tentang Transmisi CVT (Continuous Variable Transmission)

Transmisi otomatis yang disebut CVT sudah sangat banyak di Indonesia, entah berapa juta yang pakai di motor dan mobil. Klo di mobil otomatis ya otomatis, manual ya manual, mau otomatis kaya apa, itu dapur lah, kebanyakan pengemudi taunya ya transmisinya naik turun sendiri. Kalo di motor, transmisi otomatis ya CVT, jarang ada yang tau kalo ada juga transmisi otomatis DCT (Dual Clutch Transmission) yang cara kerjanya sangat jauh berbeda dengan CVT. Saya coba membuat sedikit catatan tentang CVT, seperti apa gambaran cara kerjanya, keunggulan dan kerugianya.

Cara Kerja

Cara kerja umum transmisi CVT adalah menggunakan dua buah kerucut Drive Pulley dan Driven Pulley yang akan menggerakan rantai atau sabuk yang menghubungkanya dan merubah percepatan. 


Biar gampang, seperti diatas ini lah kira-kira gambarnya. Jadi dengan naiknya kecepatan, rasio giginya akan berubah sesuai dengan seberapa jauh pergeseran drive dan driven pulleynya. Yang biru itu Drive Pulley yang satunya driven pulley. 

Kalo gitu dimana yang dikasih pelumas? yang menghubungkan driven pulley ke roda ada reduksi gigi lagi, dan itu yang direndam pelumas baik untuk mengurangi gesekan atau meredam gesekan. kalo untuk gambar di bawah ini, CVT itu di tutup oleh cover berwarna silver itu, di bawah filter udara.


Selain driver dan driven pulley, ada juga yang namanya kopling lho. Kopling ini menghubungkan antara driver dan driven pulley dengan poros yang menggerakan roda gigi yang kemudian menggerakan roda belakang. Waktu itu mekanik AHASS pernah bilang kalo itu namanya kopling ganda seperti gambar di bawah ini.


Seiring dengan naiknya rpm mesin, kopling akan membuka karena gerakan sentrifugal kemudian mencengkeram rumah kopling yang akan memutar roda gigi yang roda giginya kemudian memutar ban. Seiring dengan penggunaan, tentu kampasnya akan habis dan perlu diganti karena kampas ini menterjemahkan tenaga mesin menjadi torsi pada putaran rendah, sekaligus membuat pergerakan awal kendaraan jadi halus (harusnya halus).

Oh iya, semua yang menghubungkan dua bagian untuk menyalurkan tenaga itu disebut kopling, atau dalam bahasa inggris coupling. Kopling ini seharusnya tidak terlepas saat mesin bekerja, tapi yang diatas namanya torque limiting coupling, jadi kalo torsinya pada batas tertentu, dia akan slip atau bahkan terlepas (saat kendaraan iddle atau saat akselerasi di awal). Dengan pembatasan torsi ini, mesin akan naik ke rpm yang lebih tinggi sampai torsi yang dibutuhkan atau torsi optimum untuk menggerakan kendaraan.

Karakteristik

Dengan cara kerja yang sudah dijabarkan diatas, maka CVT punya karakteristik yang cukup menarik nih. Saya buat pointer biar lebih gampang, dan kalo kurang nanti ditambahkan dikemudian hari kalo inget, :) Karakteristik akan saya bagi dua, kelebihan dan kekurangan. Untuk yang pertama akan saya bahas kelebihanya dulu.

Kelebihan

  • Torsi dan tenaga yang datar di setiap kecepatan. Dengan pengaturan yang pas ini bisa tercapai. Pengguna tinggal buka gas aja, langsung secara mekanis transmisi menyajikan rpm mesin yang pas untuk berakselerasi.
  • Dengan toris dan tenaga yang datar di setiap kecepatan tentunya akselerasi akan lebih baik. Wait! Pasti ada yang protes, kok akselerasi lebih bagus? Iya, bener, enggak salah baca. Akselerasi lebih bagus. CVT yang dibenamkan pada kendaraan umum adalah CVT umum, tentunya menyeimbangkan antara konsumsi bahan bakar dan akselerasi. Bisa kok kalau diset agar akselerasi luar biasa.
    Misalnya dengan menaikan batas torsi sebelum kopling bekerja, sehingga diperoleh kendaraan berakselerasi setelah di gas agak dalam. Masalahnya konsumsi bahan bakar akan sangat boros. Mesin akan terkesan 'ngeden' padahal saat di rpm yang ditentukan si kendaraan akan ngacir.
    Pasti ada yang bilang, kalo emang lebih bagus, kenapa enggak buat balap? Karena DILARANG. Iya Dilarang. Ada salah satu tim Formula 1 yang mengembangkan transmisi CVT, tapi kemudian dilarang. Toh kalo sekarang diperbolehkan pasti bermasalah dengan pembatasan bahan bakar yang hanya boleh 100kg itu.
  • Halus, tidak terasa perpindahan gigi. Ya iyalah, kan Continuous, ya enggak kerasa sama sekali.
  • Transmisi terlihat compact, tidak terlalu rumit seperti transmisi manual. Dan karena penyaluran tenaga langsung menggunakan sabuk atau belt yang digunakan untuk menggerakan pulley, maka tidak perlu penyalur tenaga lain (terutama pada kendaraan 150cc kebawah)

Kekurangan

  • Boros bahan bakar yang pertama kali saya identifikasi. Wait! Pasti ada yang sewot lagi nih bilang, itu kok bisa irit si PCX150... dan kawan-kawanya. Dengan performa transmisi yang disesuaikan (ditingkatkan atau disamakan) tentu bahan bakar yang terkoreksi akan lebih banyak kalo pake CVT. Waktu gas naik, ada jeda RPM naik tapi kendaraan belum jalan pada transmisi CVT, ini pemborosan. Waktu transmisi naik, tapi kecepatan roda masih rendah kopling akan selip, dan selip kopling yang tidak terkendali ini mempengaruhi borosnya bahan bakar juga. Sementara pada transmisi manual, slip kopling ini bisa diminimalisir dengan menggunakan rpm dan gigi yang lebih rendah (sesuai kebutuhan). Jadi dengan performa yang disetarakan, transmisi CVT lebih boros dibanding transmisi manual.
  • Performa underpower dibanding transmisi manual jika memperhatikan pemakaian harian atau konsumsi bahan bakar.
  • Enggak asik, kalo ini sih pribadi aja. Hahaha, enggak asik karena udah powernya terasa lemah dibanding sport 150cc dan enggak ganti gigi.
  • Minim engine break, bukan berarti enggak ada ya. Ada engine brake, tapi karena disesuaikan dengan posisi gigi-nya, ya jadi minim. Kaya kendaraan manual kecepatan rendah gigi tinggi (tapi belum mati mesin). Ini bisa masuk kekurangan atau kelebihan ya... pokoknya saya taro sini lah.

Kesimpulan dan Saran

Kesimpulanya, setiap jenis transmisi mau yang CVT, Otomatis dengan torque converter (kalo di mobil), DCT atau Manual, semuanya punya kelebihan dan kekurangan sendiri-sendir. Nah, tinggal pabrikan yang menyesuaikan kapan transmisi ini digunakan pada produk mereka yang seperti apa.

Transmisi CVT ini juga bisa lho overpower dan menarik, kalo dipadukan dengan mesin listrik. Rugi-rugi yang terjadi saat kecepatan rendah dan RPM mesin rendah tugasnya digantikan oleh mesin listrik. Sementara itu pada RPM yang cukup, mesin bensin baru mulai ikut menjalankan kendaraan. Nah pada saat menjelajah, naik turun kecepatan sedikit baru deh pakai transmisi CVT-nya.

Catatan terbaru setiap hari bisa dilihat lewat facebook saya, twitter @awp-agni atau ikuti blog ini dengan mencantumkan alamat email di sebelah kanan kemudian klik submit. (kaya ada yang mau aja) hahaha...

Sabtu, 07 Juli 2018

Motor Listrik Idaman

Sampai saat ini motor listrik di Indonesia belum ada yang serius dan menggantikan motor peminum bensin. Kalo dibandingkan yang udah ada sekarang, skuter entry level aja powernya enggak ada yang kurang dari 4 kW di roda, sementara skuter listrik yang udah ada di pasaran powernya cuma 0,8 kW, enggak ada seperempatnya. Karena power mesin cuma segitu, top speed dan akselerasi pun pasti kalah donk. Jarak dalam satu kali isi daya juga enggak tembus 100km, sementara skutik entry level bisa antara 120 - 150 km dalam satu kali isi BBM. Sampai kapan pun kalo speknya seperti ini enggak akan saya lirik lah kendaraan listrik ini. Nah, ini catatan yang mungkin bisa memberi gambaran seperti apa sih kira-kira bisa menarik saya sebagai pengguna roda dua antusias.



Kapasitas Baterai dan Jarak Tempuh

Kapasitas baterai mempengaruhi jarak tempuh, tapi bukan satu-satunya yang mempengaruhi jarak tempuh. Efisiensi mesin listrik juga bisa menjadi kunci untuk meningkatkan jarak tempuh. Nah, untuk kapasitas baterai kira-kira berapa yang cocok?

Kapasitas Baterai

Merujuk ke tangki bahan bakar PCX (karena adanya ini di rumah) yang 8 liter, dan kepadatan energi baterai lithium antara 400an Wh per liter (Tepatnya 250-600an), berarti bisa dibenamkan 8 x 400 Wh jadi sekitar 3,2 kWh menggantikan tangki bensin. Karena ada pengurangan bak oli untuk mesin bensin, ruang untuk silinder dan piston yang nanti akan diganti dengan mesin listrik, targetnya akan kita tambah volume penyimpanan untuk baterai 3 liter. Jadi kira-kirar bisa kita pakai baterai sekitar 4,4 kwh lah kira-kira.

Baterai 4,4 kwh ini sudah mirip sama punya gesits lho, dan dengan sasis dan body PCX masih mempertahankan kapasitas kargo-nya, enggak seperti PCX electric yang kargonya harus dikorbankan untuk tempat baterai.

Jarak Tempuh

Karena hanya menggunakan 4,4 kwh baterai, artinya kita memerlukan efisiensi di tempat lain, misalnya dengan menggunakan regenerative breaking yang dapat dikendalikan menggunakan micro controller. Otomatis kita akan menggunakan perangkat motor generator untuk mesin listriknya, bukan mesin listrik biasa.

Motor-generator ini akan berubah menjadi generator ketika melambatkan kendaraan, baik ketika melakukan pengereman atau mensimulasikan engine brake. Bahkan di beberapa motor listrik motor-generator-nya bisa digunakan untuk menghentikan laju kendaraan, jadi bisa dikemudikan tanpa menginjak tuas rem.

Untuk memaksimalkan kenyamanan berkendara, tentunya motor-generator ini dapat disetel menggunakan dua mode. Yang pertama generator akan secara otomatis mengurangi kecepatan dan memproduksi energi listrik hasil pelambatan itu saat tuas gas di tutup. Yang kedua generator akan mengurangi kecepatan saat tuas rem di tarik. Menggunakan algoritma yang disesuaikan, komputer akan memutuskan kapan rem belakang hanya menggunakan generator saja atau perlu tambahan dari rem mekaniknya. Dengan demikian, kampas rem juga bisa dihemat kan?

Dengan 10kW motor-generator-unit tentunya cukup untuk bikin berkendaraan nyaman, dan regenerative breaking bekerja baik.

Pengisian Daya

Dengan kapasitas baterai 4,4 kw, pengisian daya di rumah sepertinya bisa memakan waktu 8 jam, sementara untuk penggunaan SPLU (kalo daya yang diberikan 5kw) bisa 1 jam saja. Itu pun kalau memungkinkan membuat alat pengisi daya dengan kemampuan menyalurkan 5kw dalam 1 jam.

Sebelum ada tempat pengisian daya khusus untuk kendaraan listrik, belum bisa mengisi daya 80% dalam 30 menit atau lebih cepat lagi. Untuk saat ini, infrastruktur di Indonesia, cuma ada SPLU seadanya.

Jarak Tempuh

Jarak tempuh kendaraan imajinasi saya ini diprediksi dapat menempuh 60an km dengan kecepatan 120km/jam tanpa pengereman regenerative. Jika diaktifkan, saya yakin jaraknya akan 3 kali lipat dan menyentuh 180km dengan kecepatan rata-rata 60an km/jam. Jadi untuk penggunaan dalam kota bisa sampai 200 km lebih (karena di dalam kota kan rata-rata kecepatanya paling 30 km/jam)

Kalau pengisian daya di rumah membutuhkan waktu 8 jam, dan jarak tempuh dalam kota 200 km, artinya pengisian daya dalam 1 jam dapat memperoleh 25 km. Lumayan lah.

Harga

Dengan jarak tempuh real dalam kota atau sesuai dengan ECE-R40 mencapai 200 km (perkiraan saya sih), ada rasa ingin beli kalo harganya sekitar 30-40 jtan. Sayangnya untuk produksi dalam jumlah kecil harga segitu susah sih dengan fitur seperti diatas. Harga baterai aja saat ini sekitar 3,5 juta per kwh, berarti untuk baterai 4,4 kwh 15,4 jt untuk baterai aja. Motor-generator, controller, sasis, dan lain-lain dihargai 20jt sepertinya masih susah ya..

Jumat, 06 Juli 2018

Review Tas - Mantera 2.0

Jadi ceritanya tas ini dibeli udah agak lama. Sebetulnya udah lebih lama lagi perlu tas, tapi rasanya kok enggak terlalu penting ya punya tas kecil, sampe akhirnya ada kamera kecil yang mampir dikehidupan saya (halah). Nah, kalo lagi tugas kantor dan harus bawa kamera ini, repot kalo bawa tas gede, alhasil beli lah tas kecil untuk kamera. Awalnya tanya-tanya ke temen, kira-kira tas kaya apa yang muat buat kamera mirorless plus lensanya ini, ada yang kekecilan, ada yang kegedean, ada yang cukup juga. Nah, berbekal dari dimensi yang cukup inilah saya browsing lewat aplikasi belanja online shopee tas yang kira-kira bagus, unik, dan... entah kenapa saya lagi pengen beli yang produk dalam negeri. Setelah browsing sekian lama, munculah beberapa nama, salah satunya brand yang sepertinya baru berdiri 2015 lalu, namanya Marka Indonesia.

Namanya cukup menggelitik, 'Marka Indonesia' dan karena tergelitik saya mampir lah ke toko online mereka yang ada di Shopee itu. Produknya belum banyak, ada tas ransel, beberapa jenis tas kamera dan tas kecil. Nah, berbekal dimensi yang saya perlukan, saya menemukan dua tas yang sepertinya cocok, yaitu Mantera 1.0 dan Mantera 2.0 (ini nama jenis tasnya ya). Tadinya mau ambil yang 1.0, tapi kok dilihat-lihat yang 2.0 ini ada sekat, bisa buat memisahkan kamera dan benda-benda lain di tas (biar kameranya enggak lari-lari).

Dari tulisan penjualnya sih bagus (ya pasti lah di bagus2in) apa lagi kalo masalah bahan saya enggak ngerti nih bahan tas yang namanya apa seperti apa bentuknya. Dijanjikan produk yang bagus, saya masih ragu sih, jadi masih cari-cari yang lain. Sampai akhirnya konsul ke suhu fotografi yang jenis tas-nya sudah beragam yang websitenya lagi offline (kapan online mas?), lupa tepatnya dia bilang apa, tapi intinya, ya enggak apa-apa, coba aja gung, gitu lah kira-kira.

Seperempat nekat, akhirnya saya beli lah tasnya.

Exterior

Bentuknya kotak, udah gitu aja.



Ya pokoknya seperti yang terlihat lah, kalo dari atas kotak, kalo dari samping trapesium karena bagian belakangnya lebih tinggi sedikit dari bagian depanya, kalo dari depan dan belakang kotak. Dengan papan nama (atau merk atau apalah namanya) menyebutkan 'Marka Indonesia' di bagian kiri bawah tas (kalo dilihat dari depan), bentuknya terlihat simpel. Ada satu kantong depan tas bagian depan yang bisa di tutup dengan ritsleting, cocok untuk naro tiket pesawat, tiket kereta, tiket bus, dan tiket-tiket lainya (termasuk tiket tilang).

Di bagian belakang juga ada kantong kecil tanpa ritsleting, cocok untuk menyelipkan sementara. Saya pernah naro hp di sini, karena lupa ditaro di sini jadi panik sendiri dikira ilang :D Bisa juga buat naro potongan tiket yang sudah enggak kepake, atau kertas lain yang perlu disimpan sementara, misalnya KTP waktu pemeriksaan di pintu masuk peron kereta atau bandara atau lain-lain lah.



Ada 4 titik kait yang bisa dikaitkan ke tali tas, dua di atas dan dua di bawah. Kalo dikaitkan di atas, bisa kita pake di pundak, dipasang di seberang diagonalnya, tas bisa digunakan menyilang. Duh susah jelasinya, intinya ada empat pengaitlah, ntar kalo sempet diedit lagi deh.

Seperti yang saya jelasin diatas, saya enggak ngerti bahanya, tapi cukup kuat sih. Jadi ada kain bagian luar, busa, baru ada kain lagi bagian dalam. Sepertinya cukup untuk meredam guncangan-guncangan kecil. 

Interior

Interior tasnya bagus.


Di tutup tas bagian atasnya ada jaring-jaring untuk nyimpen, struk pembelian :D atau bisa juga buat nyimpen baterai kamera, atau apalah. Nyimpen pulpen juga bisa, tapi bisa njeblos kebawah karena sekatnya jaring-jaring.

Gratis penyekat untuk kamera dan semacam kantong lensa yang buat kamera mirrorless cukup sih, tapi kalo kamera besar sepertinya kurang. Kelihatanya kecil, tapi muatanya lumayan banyak kok. Sudah termasuk dompet, tempat kacamata, lensa telefoto, lensa lebar dan kamera, dan kawan-kawannya. Biasanya kalo berangkat kerja bagi masih muat untuk dimasukin kemeja (karena berangkat pake kaos), hardisk dan kabelnya serta chargeran (yang enggak ke foto).

Isinya dikeluarin

Kalo barang-barangnya dikeluarin semua, muat lho buat satu kamera NEX VG (Kaykanya 900), berikut dua baterai cadanganya. Dompet kalo enggak terlalu tebal masih bisa diselipin juga. Jadi simpel, tas selempang plus tripod sudah siap buat ngeliput acara nikahan.

Harga

Harganya 225 ribu di shopee, dan saya bukan resellernya jadi silahkan kunjungi situsnya di markaindonesia.com aja kalo mau tau lebih banyak. Kalo enggak salah sih waktu tulisan ini dibuat produknya sudah habis untuk yang Matera 2.0 ini.

Kesimpulan

Tas yang lumayan untuk menyimpan segala macam pernak pernik fotografer kelas plankton yang tidak terkenal seperti saya. Mudah-mudahan bisa membantu buat yang lagi lihat-lihat tas kamera.

Saya merekomendasikan tas ini untuk bepergian ringan dengan kamera kecil. 

Kunjungi Postingan Lainya