Minggu, 12 Agustus 2018

Klaim Garansi Suspensi PCX, Suspensi Baru Terpasang! (Part 3)

Setelah menunggu cukup lama, dijanjikan 14 hari kerja, tapi akhirnya hanya dalam 6 hari kerja part pengganti suspensi yang bisa di klaim itu datang di AHASS Sentra Armada Motor. Lebih cepat dari yang seharusnya, entah karena saya dua kali hubungin AHM lewat Astra Honda Care baik di Twitter dan Facebook, atau memang karena lebih cepat aja enggak tahu deh. Berikut saya ceritakan sedikit banyak dari Episode terakhir klaim suspensi PCX.

Untuk yang belum baca episode sebelumnya, silahkan baca di:
1. Klaim Garansi PCX, Kira-kira bisa ga ya?
2. Klaim Garansi PCX, Tinggal tunggu 14 Hari kerja

Part pengganti suspensi yang tergores koil

Waktu menunggu part, tentu ada pikiran, mungkin enggak bisa diganti dan dibatalin. Tapi ternyata setelah di telepon sama AHASS Sentra Armada Motor (SAM) saya jadi sedikit lebih lega. Kenapa sedikit, karena permasalahanya bisa aja menimpa suspensi baru ini. Toh saya enggak tahu dimana sebetulnya masalahnya, tapi yang pasti cover as suspensinya tergores koil/spring suspensi. Sebagai konsumen sih, saya maunya ya dibenerin aja, gimanapun caranya. Kalo harus ganti ya ganti, kalo bisa diperbaiki ya diperbaiki, yang jelas diperbaiki. Kalo dari saya pribadi sih, saya lebih percaya kalo ini memang murni desain suspensi yang bermasalah, entah memang semuanya bermasalah, atau hanya produksi bulan tertentu saja yang memang bermasalah.

Oke, saya lanjutkan cerita kronologinya, hari senin minggu lalu, tanggal 6 Agustus setelah menunggu satu minggu atau sekitar 6 hari kerja, akhirnya dihubungi pihak SAM. Tapi yang menghubungi duluan malah pihak Honda Daya Adicipta Motora sebagai main dealer jawa barat. Ditanya apakahsudah dihubungi SAM atau belum, tapi karena belum ya saya jawab belum. Selang beberapa menit (mungkin sekitar satu jam) baru pihak SAM menghubungi. Apa karena diingatkan buat hubungi saya, baru mereka menghubungi ya? Ya, sudahlah dibiarkan saja menjadi misteri. Akhirnya saya membuat janji untuk melakukan pemasangan hari Sabtu pagi sekitar pukul 9, seperti janjian sebelumnya waktu pemeriksaan klaim juga saya jam 9 ke AHASS SAM.

Selang beberapa hari, sehari sebelum saya ke-bengkel, ada telepon lagi masuk, nomor telepon Bandung. Saya pikir ini dari Daya Adicipta Motora lagi nih, mau menanyakan lagi, apakah sudah dihubungi lagi atau belum. Ya, betul dari Daya Adicipta Motora, tapi ternyata kali ini ada perwakilan dari sana yang sekalian ingin berkunjung. Wah, bisa sampai seperti itu ya, jauh-jauh dari bandung ke Jakarta buat ketemu saya, Rasa-rasanya kok Daya Adicipta Motora ini sangat memanjakan konsumen AHM ya, jadi senang. Sayangnya kalau pukul 9 mereka masih ada acara di Karawanga (kalo enggak salah inget), makanya minta diundur waktu pemasangan suspensi saya jadi jam 1 atau jam 2. Ya, karena sudah jauh-jauh nyempetin dateng, ya saya oke-in aja lah.

Hari Sabtu-nya saya datang jam 2, ya... karena perjalanan jauh, mereka biar istirahat dulu lah, dari Bandung-Karawang-Jakarta kan jauh ya, jadi saya kasih waktu setengah jam istirahat. Sayangnya, waktu saya sampe mereka belum dateng.

Di AHASS SAM saya ketemu lagi sama Pak Sarbini yang kemarin memeriksa klaim suspensi saya. Bapak Ramah ini menjelaskan kalo suspensinya sudah datang, tapi yang dari Daya Adicipta Motora belum datang, masih dalam perjalanan dan nyasar ke Margonda (atau manalah), jadi sambil nunggu ada pit kosong (pantesan penuh, pelayananya luar biasa enak ini), saya masuk ke ruang tunggunya yang berpenyejuk ruangan.

Saya pikir yang dari Daya Adicipta Motora bisa sampai setelah motor selesai, tapi ternyata belum ada tanda-tanda, jadi saya tambah lah pekerjaanya. Sekalian minta tolong bersihin CVT (tertulis di ruang tunggu kalo bersihin CVT 25 ribu). Setelah bersihin CVT pun ternyata belum dateng, untung ada adik sepupu yang nemenin, jadi enggak kerasa nunggunya.

Muncul lah 2 orang Satunya dari divisi teknik namanya pak Sukarna dan dari Costumer Care... Saya lupa. Maaf ya mas, harusnya saya rekam kemarin, hehehe.

Pak Sukarna banyak njelasin tentang suspensi ini, pernyataan dari pihak Honda dan Daya Adicipta Motora sama ternyata, suspensi bengkok itu hanya Visual, selama performa tidak berubah ya tidak masalah. Tapiii.... ada tapinya nih. Suspensi saya ini dari sisi Visual memang seperti itu, tapi seharusnya koil tidak menyentuh dan menggerus cover as-nya. Kalau sampai menggesek Cover, menimbulkan bunyi (seperti punya saya), atau performa suspensi berubah (belakangan saya juga merasa kalo memang ternyata beda performa suspensi yang ini dengan yang kemarin diganti), ini baru masalah.

Menurut pak Sukarna, dari pengamatan visual ada perbedaan antara suspensi dari motor saya dengan yang baru dipasang itu, tapi tentunya pak Sukarna tidak mau berkata banyak, karena suspensi harus dikirim dulu ke laboratorium AHM untuk mengetahui secara detil apa yang berbeda dengan suspensi saya ini. Sebetulnya kedatangan pihak Daya Adicipta Motora ke SAM ini untuk mengambil suspensi saya untuk dikirimkan ke AHM, tapi juga sekalian silaturahmi dengan konsumen Honda (saya) untuk menjelaskan mengenai layanan Honda, termasuk diantaranya Klaim ini.

Setelah ngobrol agak panjang, saya diminta untuk nyoba motor saya dulu nih. Saya tes muter-muter, mencari jalan rusak dan dipakai hingga kecepatan 40km/jam, dan ternyata ada perbedaan di performa suspensi belakang lho. Yang ini peredamanya lebih bagus. Rebound mungkin sama, tapi peredaman ini yang terasa berbeda. Waktu saya coba pakai boncengan dengan istri, komentarnya, ini seperti baru lagi. 'Waktu baru kan kena marka kejut juga enggak kerasa' katanya. Saya juga mikir, iya juga sih, ternyata signifikan ya kalo suspensi bermasalah seperti ini.

Dari Pihak Daya Adicipta Motora dan Sentra Armada Motor sendiri sih bilang, kalo ada masalah lagi, tolong segera beri tahu lagi. Kalau ada masalah dengan motornya lagi segera beri tahu, biar nanti segera di followup, termasuk suspensi penggantinya ini. Awalnya sih saya mau ganti suspensi yang lebih baik, tapi kalau seperti ini, saya jadi pengen tahu sejauh apa AHM akan memperbaiki motor saya kalau dikemudian hari ternyata suspensinya bermasalah lagi.

Untuk mencapai tahap bermasalah ini, saya perlu 8500 km dengan 80% dibawa sendiri (ke kantor+mudik). Nah, kalau nanti di 17000 km bermasalah lagi, kira-kira masih mau terima klaim-nya enggak ya Daya Adicipta Motora dan Astra Honda Motor?

Kepala mekanik SAM turun langsung

Untuk saya pelayanan Sentra Armada Motor dan Daya Adicipta Motora ini dapat bintang 5 dari 5 bintang. Sepupu sendiri sampe bilang, Ternyata pelayanan di Jawa Barat lebih bagus dari di tempat dia. Bukan cuma dalam hal klaim garansi, tapi juga tempat servis-nya dengan ruang tunggu ber penyejuk udara. Mudah-mudahan layananya bisa tetap terjaga dan pelangganya makin banyak yang puas. Nice!

Kamis, 09 Agustus 2018

Telkom-4 Mengorbit, Misi Merah Putih SpaceX, Sukses.



Ada yang tahu kalo tanggal 7 Agustus 2018 lalu, satelit Telkom-4 atau Satelit Merah Putih ini berhasil diluncurkan menggunakan roket Falcon 9 milik SpaceX? Yup, dengan biaya yang 25% lebih murah, yang artinya selisih 50 juta dollar dibanding peluncuran satelit Telkom-3S yang meluncur Februari Tahun lalu. Biaya satelit mungkin sama ya, tapi biaya peluncuran ini disinyalir karena roket SpaceX yang lebih canggih dan roket tahap pertamanya dapat digunakan kembali untuk penerbangan selanjutnya.

Satelit Telkom-4 atau Satelit Merah Putih ini adalah satelit komunikasi yang ditempatkan pada orbit geostasioner milik Indonesia yang ada di 108 derajat bujur timur. Diluncurkan dari Cape Canaveral pada pukul 1.18 malam, berjalan sukses, baik pendaratan kembali roket tingkat 1 Falcon 9 ataupun pelepasan satelit dari Geostationary Transfer Orbit (GTO), yang kemudian Satelit akan melanjutkan perjalanan sampai di Geostationary orbit. Perjalananya akan memakan waktu 11 hari untuk sampai ke orbit, akan diperkirakan tiba pada tanggal 18 Agustus 2018 dan akan mulai beroperasi mulai tanggal 15 September 2018.

Yang menarik dari peluncuran ini, Roket yang digunakan adalah roket yang sudah pernah digunakan sebelumnya. Merupakan roket Blok 5 yang pertamakali digunakan kembali setelah sebelumnya mengorbitkan satelit Bangabandhu-1 milik Bangladesh. Layaknya pesawat terbang yang sudah mendarat dan terbang lagi, roket bekas ini bukan berarti kualitasnya buruk, masa iya kita mau pake pesawat terbang yang selalu baru kalo terbang? Kan jadi mahal tiketnya...

Roket Blok 5 sendiri merupakan varian terbaru roket milik SpaceX yang punya daya dorong lebih besar, sehingga mampu membawa muatan yang lebih berat menuju orbit, baik Orbit Rendah Bumi, ataupun Orbit Transfer Geostationary. Sebelumnya SpaceX juga sudah beberapa kali menggunakan kembali roket tingkat satunya dan peluncuran kembali ini sampai saat ini selalu sukses. Bahkan jika digabungkan dengan peluncuran lain tanpa percobaan pendaratan kembali roket tingkat 1, persentase keberhasilan SpaceX mencapai 96,7% tidak jauh dibandingkan dengan roket Soyuz milik rusia yang sudah lebih dari 1700 peluncuran, persentase kesuksesanya mencapai 97,4% yang saat ini dengan 97,4% itu Soyuz termasuk roket yang paling berhasil lho. Kalau SpaceX mempertahankan kesuksesanya, bisa jadi mencapai 99%. Roket Tingkat 1 nya dapat digunakan kembali dalam rata-rata waktu sekitar 2 bulan, meliputi penggantian sparepart yang habis pakai, pengecekan kembali uji terbang dan pengisian bahan bakar. Wah, cukup punya 2 roket bisa dipake buat sebulan sekali berangkat ngorbitin satelit nih, hemat juga ya, dari pada tiap mau ngorbit harus bikin lagi dari awal, kan...

Sukses buat Telkom dan SpaceX, semoga semakin langgeng kedepanya. Biaya satelit turun, biaya telekomunikasi juga ikut turun kan? Hehehehe...




Jumat, 27 Juli 2018

Klaim Garansi Suspensi PCX, Tinggal Tunggu 14 Hari Kerja (Part 2)

Sabtu pagi ini, tepatnya tanggal 28 Juli 2018 saya mengunjungi AHASS Sentra Armada Motor (SAM) di Jalan Pengasinan sesuai dengan instruksi di artikel sebelumnya (part-1). Pengalaman lumayan berharga sih klaim garansi ini, jadi saya sempatkan buat menulis. Sayangnya tadi sambil bawa anak, pengen cepet-cepet beli es krim katanya, jadi enggak bisa banyak ngobrol sama chief mechanic nya. Langsung kronologisnya ya.

Buat yang belum baca sebelumnya, intinya saya klaim garansi suspensi bengkok baret bagian cover as-nya. Saya menghindari kata tidak lurus, karena nanti dibilang 'cuma visual' sama AHM. 'Cuma Visual' ini adalah pernyataan blunder yang akan terus saya sebut, karena ini satu-satunya pernyataan AHM yang enggak cocok di hati, jadi saya akan menghindari kata bengkok, tapi banyak menggunakan kata 'visual' saja.

Setelah menghubungi Astra Honda Care di Facebook dan dihubungi melalui telepon oleh main dealer jawa barat (Daya Adicipta Motora) dan ditanyakan kapan dan dimana saya akan mengunjungi AHASS, saya datang sesuai janji Hari Sabtu ini. Hasilnya? Sabar cak (kok jadi IWB), saya ceritakan pelan-pelan.

Datang bareng anak, saya pikir sudah disiapkan mekanik khusus untuk pemeriksaan klaim garansi ini, tapi ternyata kata mba yang saya enggak ngeh namanya (bagian servis) didaftarkan saja dan harus tunggu 3 motor. Waaaa, lama, si Sulung bisa-bisa bosen nunggu di bengkel nih, jadi akhirnya saya putuskan buat ditinggal. Udah bilang mau ditinggal, eh si sulung minta 'ngecek' ruang tunggunya, mau main-main ke ruang tunggunya, kan ruang tunggu Honda lumayan ya standarnya, banyak yang bisa dilihat.

Jam operasional AHASS Sentra Armada Motor

Fasilitas ruang tunggu

Di ruang tunggu ada tempat main anaknya, walaupun kecil, tapi seenggaknya si kakak bisa main di situ sebentar. Ya, saya juga enggak mbayangin si sulung bisa nunggu service 3 motor sih, rencananya mau diajak jalan-jalan. Eh, dilalah pas lagi ambil dompet di motor, chief mechanic Honda Sentra Armada Motor (SAM) lagi lihat-lihat PCX saya. Dia bilang, ini motor yang hubungin saya ya? Tanya dia. Saya bingung sih, saya enggak merasa hubungin dia, tapi maksudnya saya hubungin Astra Honda Care, Astra Honda Care hubungin Honda Daya Adicipta sebagai main dealer Jawa Barat, kemudian Daya Adicipta menghubungi Sentra Armada Motor memberitahukan untuk melakukan pengecekan motor saya. Waaaa, langsung di cek sama kepala mekanik ini.

Alhamdulillah antrian 3 motor enggak jadi, malah langsung ditanganin sama Pak Sarbin. Di cek secara visual aja, enggak sampe di bongkar, saya tunjukin bagian yang baretnya kanan dan kiri. Kebetulan juga ada PCX lain yang service, pak Sarbin langsung bandingin sama PCX putih itu, enggak ada baretan di cover suspensinya. Nah, langsung deh pak Sarbin bilang 'kita pesenin dulu, minta fotokopi KTP sama STNK-nya aja' katanya. Wooo, langsung dipesenin ini ternyata.

Tadinya sih mau ke tempat fotokopi, tapi ternyata bisa di foto aja. STNK dan KTP di foto, dan selesailah sudah. Baru mau lanjut ngobrol si sulung udah minta jalan. Tapi bisa dipending sebentar dijanjiin foto didepan bengkel, hehehe.


Nah, sampai saat ini, baru segini ceritanya, nanti saya coba ceritain lagi pas penggantian. Pemesanan suspensinya katanya 14 hari kerja, setara dengan satu bulan... lama juga ya... keburu patah enggak ya itu suspensi :| Yasudah lah, kalo patah ya, di anggurin dulu di rumah aja. Demikian sedikit laporan tentang keluhan saya ke AHM tentang suspensi bengkok baret bagian cover as yang kemungkinan tersenggol spring atau koil suspensinya.

Jangan lupa follow @awp_agni atau subscribe blog-nya ya. :D

Minggu, 22 Juli 2018

Klaim Garansi Suspensi PCX, kira-kira bisa ga ya? (Part 1)

Suspensi kelihatan bengkok? Udah lama sih, tapi baru tahu kalo ternyataa dua-duanya yg kelihatan bengkok. Ini masih pake 'kelihatan' ya, soalnya, apa lah mata saya ini dibanding mata-nya AHM yang sudah pakai alat presisi untuk pengukuranya? Nah, tiba-tiba waktu lagi cuci motor akhir pekan, lihat kok ada bekas baret di cover as suspensinya, pertanda koil alias spring yang bagian luar menyentuh bagian dalam penutup plastiknya ini. Wah, kalo diterusin bisa nyenggol as-nya terus bisa bikin bengkok suspensinya nih.

Rencana saya sih memang mau ganti aftermarket, tapi entar-entaran. Tapi kalo kejadianya kaya gini, saya enggak bisa tinggal diam (*intense music started). Akhirnya saya hubungi Astra Honda Care di facebook dengan alamat facebook @AstraHondaCare menggunakan pesan facebook. Ternyata enggak sampe satu hari langsung ditanggepin, walaupun rasanya salah tangkep adminya sama yang saya maksud, tapi yasudah lah, toh nanti akan ada yang hubungin dan meriksa perihal suspensi ini, jadi saya jelasin nanti lagi aja. Jadi intinya nanti akan ada pemeriksaan lebih lanjut, pemeriksa nanti akan menentukan apakah ini dapat di klaim atau tidak, apakah ini biasa saja alias normal, atau perlu perbaikan atau penggantian.

Silahkan di klik untuk perbesar gambar.

Kurang jelas ya, ini gambar yang saya zoom:


Tuh, cover yang saya maksud, terlihat tergerus kan? Nah, saya cuma khawatir aja, ini cover lama-lama menipis, lepas, terus springnya kena as-nya, terus bengkok.

Masalah bengkok yang ditanggapi AHM sebagai penampilan visual saja ini mengganggu secara visual sih, tapi ya apa boleh buat kalo emang enggak di recall. Katanya sih enggak mengganggu performa suspensi. Nah, kalo modelnya macem saya ini, kira-kira berapa lama sampai akhirnya mengganggu? Apa nunggu sampe pelindung plastiknya habis, nyenggol as-nya kemudian dalam 2 tahun suspensi jadi bekerja tidak normal? Nah, ini juga jadi pertanyaan saya nih, kira-kira berapa lama sih usia suspensi yang diharapkan AHM? Apakah maksudnya dengan penampakan visual bengkok ini dapat tetap digunakan sampai batas usia minimum penggunaan suspensi? Ah, makin banyak pertanyaan yang saya enggak akan bisa jawab, dan rasanya tanya ke AHM belum tentu dijawab juga. Jadi, kita lihat aja gimana nanti komentar tim yang memeriksa ya.

Sekarang memang masih proses, baru selesai ditanya mengenai suspensi ini, dminta data lengkapnya, dan nantinya katanya akan dihubungi Honda Daya Adicipta Motor perihal pemeriksaan, apakah ini akan dapat di klaim atau tidak. Barusan ini (23 Juli 2018) juga di telpon lho sama main dealer bogor, intinya masalahnya apa, biasa servis dimana, dan nanti bilang aja kalo udah di telpon sama main dealer bogor untuk segera melakukan pemeriksaan suspensi belakang ini. Dan rencananya sih saya sabtu mau ke AHASS deket rumah untuk melakukan pengecekan.

Kalo harapan saya sih bisa diperbaiki bentuk Visualnya ini, tapi kalo enggak termasuk garansi ya apa boleh buat. Pengalaman klaim ini jarang-jarang saya alami, karena saya percaya kalo sudah di jual produk sudah melewati banyak Quality Control atau QC, jadi tingkat kecacatanya bisa sedikit. Nah, karena kurang beruntung, saya dapat yang secara penampilan tidak sesuai dengan yang saya harapkan.

Bagaimana kelanjutanya? Nanti kita tunggu hari Sabtu ya.

Silahkan di follow blog-nya dengan mengiis alamat email di kanan atas, atau twitter di @awp_agni

Selasa, 17 Juli 2018

Apa BBM Bisa Basi?

Kira-kira BBM bisa basi enggak ya? Kalo basi jadi apa ya? Begitu kira-kira pertanyaan yang tiba-tiba muncul di benak saya di perjalanan tadi. Nah, setelah browsing-browsing, akhirnya ketemu nih artikel yang judulnya Does Gasoline Go Bad? Bisa langsung di klik judulnya buat ke artikel aselinya. Kata Pakde James Speight, seorang konsultan energi dan penulis buku "Handbook of Petroleum Refining", sangat sulit menggeneralisir. BBM dapat disimpan hingga berbulan-bulan bahkan tahunan tergantung pada lingkunganya, seperti panas, tingkat oksigen, dan kelembaban sangat mempengaruhi kualitas BBM. Lha kok yang ada di dalam bumi bisa tahan jutaan tahun? Itu blm diolah pakde, kalo udah beda banget sama yang diminum kendaraan.



Dalam pengolahanya, BBM ini dimurnikan, memisahkan bahan-bahan lain yang terkandung dalam minyak bumi. Kemudian ditambahkan substansi untuk meningkatkan oktan. Sudah dibahas ya tentang oktan di artikel Tentang Angka Oktan dan Kompresi di artikel kemarin-kemarin. Hasilnya, ada ratusan zat additive yang dicampurkan dalam BBM sehingga mencapai kualitas yang diinginkan untuk mesin kendaraan.

Masih di artikel yang sama, kata Richard Stanley, mantan insinyur kimia di Fluor Corporation, kalo BBM didiemin gitu aja, lama-lama enggak bekerja seperti yang kita pikirkan alias bahasa sini-nya basi. Ini lantaran zat hidrokarbon yang lebih ringan mulai menguap meninggalkan si cairan BBM ini. Lha kalo zat yang lebih ringan ini pada menguap, mesin mobil enggak bisa bekerja optimal dengan BBM yang tersisa ini kalo BBM didiemin terlalu lama. Masih kata Stanley, BBM ini kaya anggur, begitu dibuka dari botol, BBM akan mulai teroksidasi. Sebagian Hidrokarbon menguap yang lainya bereaksi dengan oksigen di udara, kemudian mulai memadat yang kita sebut sebagai gum. Kalo BBM basi ini masuk ke pipa-pipa, ini kaya kolesterol, mulai menyumbat saluran, misalnya saluran pompa bensin. Kesimpulanya, bensin harus disimpan di tempat yang dingin dengan oksigen yang rendah, yang kalo di SPBU biasanya disimpen di bawah tanah (tangkinya di tanam di bawah tanah).

Tapi, banyak banget faktor yang menentukan ini, jadi enggak bisa dibilang berapa lama BBM ini Basi, intinya sih, bukan hal yang bagus menyimpan BBM terlalu lama di tempat yang tidak disesuaikan untuk nyimpen BBM.

Nah, dari sini, coba pikir-pikir lagi, kalo di pertamini gitu kira-kira nyimpen BBM-nya dimana? Di jemur (kena panas), jangan-jangan botolnya tadinya lembab, atau udah berapa lama itu BBM disimpen di situ? Ya, BBM bisa basi, tapi variabel yang menentukan kebasi-anya itu banyak banget, enggak bisa kita nentuin 1 bulan, atau 1 tahun, tapi yang pasti, enggak baik nyimpen BBM di tempat yang tidak sesuai.

Senin, 16 Juli 2018

Batal Ngefans Gara-gara Oktan

Judulnya rada-rada click-bait ya, jadi tak jelasin di paragraf pertama, ini gara-gara browsing buku manual KTM yang ternyata butuh oktan ROM 95 atau PON 91, jadi batal ngefans KTM.

Awal cerita ketika liat-liat youtube, di sarankan buat nonton video KTM adventure 1290 baru. Agak kurang sreg sih sama model lampunya, tapi cukup unik... tapi emang biasanya motor-motor adventure itu unik-unik sih. Dalam hati bilang 'wah keren ya, suatu saat kalo ada rejeki jadi pengen punya motor sport KTM ah' setelah lihat produk KTM yang lain termasuk Duke dan RC.

Sebenernya sih dulu pernah pengen, tapi harganya mahal bianget, terus sekarang harganya kan turun tuh, jadi mahal aja (enggak bianget), jadi adalah kepengen buat nyobain seperempat liter kalo ada rejekinya. Sayangnya waktu itu inget kalo KTM itu minimal RON 95, tapi waktu itu lihat di halaman web KTM untuk pasar eropa sih, nah barang kali kan beda tuh untuk pasar sana dan asia tenggara. Tapi sayangnya enggak.


Performa Tinggi Oktan Tinggi

Tentunya motor performa tinggi perlu oktan tinggi juga, pastinya kan kompresinya tinggi. Kalo enggak oktan tinggi, bisa terjadi knocking kan, bikin mesin terlalu panas, ujung-ujungnya mesin enggak awet. Makanya penggunaan bahan bakar yang cocok ini penting.

Biasanya oktan yang tinggi berhubungan dengan performa mesin yang tinggi. Dengan kompresi tinggi dan volumetrik efisiensi yang tinggi menyebabkan kompresi mesin riil tinggi, memerlukan oktan yang tinggi juga. Jadi maklum lah kalau mesin dengan power luar biasa besar dengan kapasitas mesin yang relatif kecil memerlukan oktan yang relatif lebih tinggi.

Jadi harusnya biasa donk, klo KTM pake oktan tinggi? Ya, tapi paling enggak lebih tinggi dari premium dan bisa pake pertamax. Tapi nyatanya enggak gitu.

RON (Research Octane Number)

RON 95 ini susah lho di cari. Saya belum survey sih, tapi paling enggak dalam 50 km perjalanan luar kota, susah buat dapetin RON 95 ini, khususnya di Pantura. Bahkan sepanjang perjalanan mudik kemarin cuma ada 1 tempat sepanjang Indramayu-Cirebon yang jual oktan diatas 95 (RON98), itu pun cuma di sisi sebelah kiri (dari arah Indramayu). Mungkin ada yang lain, tapi enggak ngeh mungkin.

Jadi kalo pake motor dengan minimal RON 95, cuma bisa dipake di dalam kota. Lah terus kalo lagi jarak jauh enggak bisa dipake nih motor... waaah, moso motornya udah bagus, tapi langsung pensiun motoran jauh-nya. Akhirnya motor mahal banget yang sekarang jadi mahal aja itu jadi enggak bisa masuk dalam impian punya motor sport seperempat liter lagi.

Dan sepertinya semua mesin motor sport eropa seperti ini. BMW G310R juga ternyata punya oktan minimal 95. Motor eropa enggak bisa jalan jauh di Indonesia berarti nih, kecuali direncanakan nanti isi BBM-nya di titik-titik tertentu karena enggak semua SPBU sedia ron diatas 95. Karena masalah ini, pilihanya jadi balik lagi ke Jepang nih.

Sebagai acuan, Honda masih ngasih minimum RON 88 hampir di setiap motornya, sayang kejadian kemarin bikin ill-feel. Untuk Suzuki, juga sebagian besar lineupnya masih diatas RON 88 lho. Kalo Yamaha saya enggak tahu. Ini satu-satunya produk yang masih alien buat saya, belum pernah punya... Untuk kawasaki, beberapa produknya minimal ron 91, jadi harus pertamax. Pertamax cukup banyak kok sepanjang pantura sampe Prambanan, jadi masih ga masalah.

Kembali ke Jepang, Eropa masih jauuuh...


Sabtu, 14 Juli 2018

Pengukur kecepatan yang lebih presisi: Speedo, GPS atau dihitung?

Banyak yang ngetes top speed di jalanan, bahaya bro! Lagian penggunaan speedometer enggak presisi-presisi amat lho. Bisa sampe selisih 20 km/jam dari pengukuran GPS. Nah, apa pengukuran GPS paling presisi? Enggak juga sih. Pengkuran paling presisi adalah dengan dihitung, dari RPM mesin diterjemahkan ke km/jam. Gimana caranya? Gampang, nih tak kasih tau caranya. Eh, mungkin udah pernah ada di artikelnya motogokil.com, soalnya saya juga tau gara-gara lihat rumus yang dikasih om motogokil.com di excel buat ngitung power motor di artikel sebelumnya.

Nah, gimana caranya?

Presisi Speedo vs GPS

Speedometer mengukur kecepatan dalam KMPH dengan mengukur putaran, entah itu di roda atau di sprocket. Dengan begitu, pergantian ban akan mempengaruhi akurasi, semakin kecil total ukuran ban, semakin cepat poros yang dikur berputar. Belum lagi biasanya pabrikan sengaja menampilkan kecepatan yang sedikit lebih tinggi di speedometer dibanding kecepatan sebenarnya (atau biasanya sih dibandingin sama GPS). Mengukur kecepatan pada speedo, tentu butuh tempat. Entah di mesin dyno (kalo sensornya di sprocket), standar tengah, atau harus dilarikan riil di jalanan.



Sementara GPS menggunakan satelit penunjuk posisi yang kemudian komputer menghitungkan kecepatanya dengan mengukur perubahan posisi dan dibandingkan dengan waktu sehingga diperoleh kecepatan pergerakan pengguna GPS-nya. Lebih presisi? Tentu saja sangat tergantung dengan satelit, perangkat penerima sinyal GPS-nya dan kecepatan komputasi dari perangkatnya. Kalo hari terang, langit cerah, tidak ada gedung tinggi, bisa sangat presisi pengukuranya. Kalo mendung, ya tergantung alat penerimanya, kalo ada delay, tentunya penghitungan kecepatan jadi terganggu. Apa lagi kalo pengukuran melewati terowongan panjang, bisa dipastikan perangkat tidak akan menerima sinyal GPS.

Selain menggunakan ponsel pintar, pengukuran kecepatan menggunakan satelit ini biasanya juga menggunakan perangkat khusus agar penerimaan sinyal GPS lebih baik. Perangkat yang dikhususkan untuk mengukur kecepatan biasanya dapat menerima sinyal GPS lebih baik dari pada perangkat pada ponsel pintar.

Pengukuran menggunakan GPS mau tidak mau dilakukan secara langsung, artinya memerlukan jalur panjang. Kalo bisa sih kosong, tapi banyak juga yang ngetes di jalanan umum ya. Selain berbahaya untuk penguji-nya, berbahaya juga untuk pengguna jalan lain.

Nah, untuk melihat topspeed ada juga sih caranya tanpa melakukan pengetesan di jalanan dan presisinya jauh lebih tinggi. Yaitu menghitung langsung dengan mengkonversi RPM mesin ke kecepatan dibandingkan dengan kecepatan putar roda belakang.

Menghitung Kecepatan melalu RPM

Seperti yang kita tahu, penunjuk RPM pasti presisi donk, karena menggunakan sensor dan menjadi patokan pengapian ECU (iya kan ya?). Nah, RPM pada mesin ini akan kita konversikan ke RPM pada roda. Kalo diketahui rpm pada roda, dihitung keliling rodanya, maka kita bisa tahu berapa jarak yang ditempuh si roda dalam 1 jam kan.

Misalnya kita ambil contoh CBR150R Streetfire ya. Diketahui sepert ini spek-nya:



Dari data diatas, yang dilingkari merah adalah ukuran ban, dan yang akan kita ukur ban belakang ya. 17 inci adalah diameter, jadi rumusnya π *d, tapi ini belum keliling terluar ya, kan masih ada roda yang belum di hitung. Keliling keseluruhan perlu ditambah dua kali ketepalan roda. Nah, mengukur ketebalan roda untuk kasus ini berarti 70% dari 130mm yaitu 90mm atau dua kalinya jadi 180 mm. Ukuran velg juga kita ubah ke mm jadi 431,8 mm. Dengan demikian keliling ban adalah 1929,1 mm.

Nah, sekarang kita akan ukur ketika mesin berputar 1000 kali, berapa kali roda berputar? Caranya dengan menghitung reduksi atau penguranganya. Misal kita hitung pada gigi 6 1000 RPM, maka untuk mencari kecepatanya 1000 rpm dibagi reduksi primer, dibagi reduksi akhir, dan dibagi reduksi gigi ke 6, hasilnya 3,7 km/jam hampir 4 km/jam Nah, kalo dibuatkan rumusnya di excel hasilnya seperti tabel di bawah nih.


Nah, tinggal dilihat deh tuh, kalo RPM mentok di 9000 berarti kecepatan di gigi 6 ya 112,92 km/jam di speedo pasti lebih tinggi kan.

Klo dari sini, mau naikin topspeed, gampang, tinggal ganti aja gir belakang ke yang lebih kecil. Masalah mesinya sampe apa enggak ke RPM yang sama, ya beda lagi. Kalo enggak sampe, gampang,  tambahin aja powernya. Pake ECU programmable, sendalpot resing, gampang... (gampang nulisnya, prakteknya kalo enggak terukur ya bisa bikin mesin jebol)

Yah, sekian artikel enggak jelas ini, jangan lupa follow blog (belum ada yang follow T_T) dan twitter di @awp_agni

Oh iya, mungkin artikel ini ada yang mirip di motogokil.com karena emang aslinya file yang ada pengukuran ini dari om motogokil. Makasih ya om. :D

Kunjungi Postingan Lainya